THE FIRST SIGHT

THE FIRST SIGHT
BAGIAN 26



Bunyi peluru melesat, dengan sigap lelaki itu memeluk sang istri erat. Membiarkan tubuh menjadi santapan empuk senjata api tersebut.


"Baba ...!" pekik histeris Aisyah dalam dekapan suami, tangan gemetar berusaha menyentuh punggung lelaki yang mulai bercucuran darah segar.


Salah sasaran, sang pelaku menggeram kesal, lantas meluncur pergi meninggalkan banyak pasang manusia yang terkejut bukan main menyaksikan kejadian tragis tepat di depan mata.


"Cepet telpon ambulan, Kak!" seru Salsa panik sembari menggoyang-goyangkan lengan Ahmad. Walau tangan bergetar hebat pria itu merogoh saku celana dengan tenaga yang masih tersisa.


"Siapa tadi? Ini bukan bagian dari rencana kita, kan?" bisik Abel pada Hans yang seakan enggan berkedip menatap keponakannya yang telah terbaring lemah tak berdaya di pangkuan Aisyah.


Mata Ratna memanas, tak sanggup lagi melangkah, tubuhnya membeku di tempat. Hanya dapat memandang nanar dua insan yang yang saling menggenggam.


"Bertahan, Sayang! Bertahanlah!" Tangan kanan Aisyah menepuk-nepuk pipi Yusuf agar suaminya itu tidak menutup mata.


Senyum Yusuf mengembang sempurna. "Akhirnya Ummah panggil baba dengan sebutan sayang juga."


Aisyah semakin tersedu mendengar betapa gembiranya sang suami hanya karena panggilan sepele.


"Ummah sayang ba-- baba, kan?" terbata Yusuf bertanya, lalu mulai terbatuk-batuk membuat Aisyah semakin kalang kabut.


"Tidak perlu bertanya, pasti kamu tau jawabannya, kan?"


Mengangguk samar, perlahan iris hitam lelaki itu menutup sempurna bersamaan muka menoleh ke samping.


Aisyah memekik histeris, seolah pembuluh darah menghimpit kuat dada. Rasanya teramat sakit, bahkan hanya untuk bernapas pun sulit.


"Aisyah ...." Perlahan Salsa menjatuhkan diri di sebelah gadis yang tengah meraung sesegukan itu.


"Suamiku, Sal! Suamiku ...!"


Lalu suara ambulan terdengar, Aisyah menarik napas lega, akhirnya paru-paru kembali mendapatkan pasokan udara.


Berselang menit, beberapa orang dengan gesit mengambil alih tubuh Yusuf dan mobil itu semakin mengecil ditelan jalanan.


--


*


"Aisyah ...!" panggil Salsa, wanita berjilbab navy itu menyungging senyum sembari berjalan terus mempersempit jarak.


Menoleh, bibir Aisyah terangkat membentuk seulas senyum hangat.


"Telat tiga puluh menit!" Aisyah langsung berkacak pinggang.


Salsa terkekeh geli. "Maaf, Nyonya. Aku terlambat, dan kau bisa menghukum pesuruhmu ini," kelakarnya, sontak tawa mereka berderai.


Bersyukur, di saat Aisyah terpuruk, tapi Salsa tidak pernah meninggalkan barang sedetik pun.


"Udah ah jangan lama-lama di sini. Yuk, masuk! Kasian Yusuf pasti merasa kesepian." Diseretnya lengan Salsa, lantas mengayun langkah ke ruang di mana sang suami dirawat.


Lelaki itu masih tertidur pulas, Aisyah memilih duduk di bibir bankar. Sementara Salsa mengenyakkan pinggul di kursi samping ranjang.


"Udah ada perkembangan?" tanya Salsa.


Aisyah menggeleng, setelah operasi berjalan lancar pria tersebut dinyatakan koma. Prediksi dokter dua atau tiga hari akan segera siuman. Namun sudah hampir seminggu pupil itu enggan terbuka juga.


"Sabar, ya, berdo'a makin dibanyakin," saran Salsa sembari meremas lembut punggung tangan sahabatnya.


"Aku bahkan nggak tau gimana cara mengeluh, Sal. Yang terasa hanya keputusasaan yang mengakar kuat dalam dada."


Aisyah menyeka sudut mata yang menganak sungai di pelupuk mata. Tersenyum miris, mengingat takdir yang seakan tidak berhenti menyiksa batin.


"Istighfar Syah--"


Suara pintu berderit, kemudian derap langkah semakin jkelas menusuk telinga. Lekas Aisyah menegakkan badan, Salsa pun langsung berdiri.


Wajah Aisyah berbinar senang, bola mata mengerjap girang. "Umi--"


Tangan Sari terangkat mengudara, sebagai petanda dirinya tidak minat mendengar celoteh menantunya.


Aisyah menggigit bibir kuat menyalurkan nyeri yang mengiris dalam relung hati.


"Lekas membaik, Nak. Umi menunggumu." Dikecupnya kening sang anak. Setelah itu melenggang pergi tanpa sepatah kata basa-basi.


Tangis Aisyah pecah seketika, secepat kilat ia menghambur memeluk putra tidur, membenamkan diri pada dada yang selalu menghangatkan hati.


"Cepatlah sadar, Sayang. Ummah sudah tidak tahan! Ummah lelah menjalani hari tanpamu," adu Aisyah tersedu-sedan.


"Allah ... sudah cukup penderitaan teramat melekat pada mereka. Putarlah cepat roda kehidupan yang Kau punya, lalu berhentikan mereka pada posisi bahagia," batin Salsa penuh harap.


--


*


"Mbak Aisyah ...!" teriak Dona kelewat gembira. Di depan kontakan Aisyah tengah berbincang dengan Jaenab.


Menengok, Aisyah tersenyum lebar. Lantas merentangkan tangan, bersiap menyambut pelukan Dona.


"Kangen banget, Mbak!" seru Dona memeluk wanita yang di rindukannya selama beberapa hari belakangan.


"Mbak kemana aja?"


Melerai pelukan, Aisyah meremas lembut bahu temannya.


"Suamiku masuk rumah sakit, Don. Sekarang koma, mungkin aku nggak akan kembali ke sini sampai waktu yang belum tentukan," jelas Aisyah.


Syok, Dona menutup mulut dengan telapak tangan, sementara Jaenab


sedari tadi sudah lemas.


"Gimana ceritanya, Mbak?" cicit Dona kaget.


Menghela napas panjang, berusaha menghalau kepingan hati yang berserakan dalam pertahanan atma.


"Biar Emak saja, ya, yang ngasih tahu kamu. Maaf, aku nggak bisa lama-lama di sini. Yusuf di sana sendiri. Dia butuh aku."


Dona mengangguk paham, lalu kembali berpelukan sebagai tanda perpisahan.


"Dona pasti bantu do'a, Mbak. Semoga Mas Yusuf segera bangun dan kalian balik lagi ke sini."


Lengkungan indah menghias bibir Aisyah, dengan menengadah ke atas takut-takut airmata jatuh.


"Aku rindu, Allah. Rindu kebahagiaan yang pernah tersemai," lirihnya menahan perih yang enggan mereda, justru kian meraja.


--


*


Merenung, Sari melipat baju di kamar si kembar yang sedang terlelap. Pikiran melayang jauh pada kejadian siang tadi, melihat sang menantu yang merana seorang diri. Ingin sekali merengkuh, memenangkan, atau sekedar menguatkan. Namun luka menganga dalam raga masih sangat terasa.


"Aisyah ...!" Spontan ia menggeram, emosi.


"Dasar tidak tahu diuntung! Yusuf-ku itu selalu memprioritaskan kamu di atas segalanya, meskipun sifat kekanak-kanakanmu selalu menjadi malapetaka, tapi lihatlah seberapa dasyatnya dia mencintaimu dengan sangat. Kenapa kamu nggak paham sama sekali tentang kata mempertahankan orang yang kamu sayang! Setelah ini kupastikan kalian benar-benar berpisah sesuai keinginanmu, Aisyah!" jerit Sari yang hanyut dalam kesedihan yang enggan meredam.


"Umi ...." Suara seseorang mengalun.


"Yusuf!"


Sari mengedarkan pandangan, dan berhenti di depan lemari.


"Kamu sudah sadar, Nak? Sudah bisa berjalan? Dan sudah diperbolehkan pulang?" Sari memborong pertanyaan.


"Kenapa malah diam? Ayo kemarilah, Nak! Umi kangen banget sama kamu," sambungnya mengulurkan tangan.


"Umi!" teriak Yazis mengguncang pundak sang istri.


"Istighfar!"


Tak ada sahutan, Yazis langsung mendekap Sari.


"Lepas! Lepas, Bi! Aku ingin memeluk anakku bukan dirimu!" Sari meronta-ronta.


"Sesuatu yang berlebihan bukan bagian syariat Islam. Sedihmu yang tidak berkesudahan membuat syaitan bersemangat mempermainkanmu dengan delusi yang mereka ciptakan."


Hening


"Ingatlah, laa tahzan innalaha ma'ana. Segelap apapun ujian pasti ada titik terang yang sedang menunggu untuk dijemput. Percayalah ...." tukas Yazis kemudian.


Diciumnya pucuk kepala Sari lama, tidak dipungkiri Yazis pun gundah memikirkan keselamatan sang putra. Namun jika mengumbar kelaraan yang sama, lalu siapa yang akan menjadi sumber pelindung mereka.


--


*