THE FIRST SIGHT

THE FIRST SIGHT
BAGIAN 24



Mentari pagi mulai menyirami bumi dengan sinar khas kuning keemasan, menggugah semangat sesiapa yang merasakan hangat siluetnya. Begitu pun dengan gadis yang tengah menggantung pakaian depan jendela kontrakan, sesekali bershalawat. Membungkuk mengambil baju dalam ember lalu memerasnya erat.


"Sakitnya punggung, pasti encok deh sebulan kaya gini. Allahu Akbar, capek banget," gerutu Aisyah bermonolog.


Lelaki yang tidak jauh dari jangkauan Aisyah, hanya mengamati seraya tertawa kecil, melihat sang istri yang kesusahan. Belum lagi kerudung yang terus turun mengenai ember basah, padahal sudah disampirkan ke kanan dan kiri. Bahkan ditali kebelakang. Namun tampaknya jilbab tersebut terlalu licin.


"Ada yang bisa dibantu, Ummah?" tanya Yusuf menghentikan tawa.


Berdecak sinis, Aisyah yakin pria itu bukan sekadar bertanya melainkan meledek.


"Udah sana pergi. Jangan ganggu!"


Cengengesan, menggaruk kepala, Yusuf bingung mau berkata apa. Pasti sang belahan jiwanya itu merasa tersinggung dan berujung merajuk.


"Syah ...."


Menghentakkan kaki, Aisyah menenteng ember lalu buru-buru masuk menghindari sang suami.


"Kamu marah?" Yusuf berusaha mensejajarkan langkah.


Berhenti, Aisyah menoleh menatap datar pria menyebalkan di sampingnya. "Kenapa nggak siap-siap?" tanyanya menelisik seluruh tubuh suaminya.


Mengernyit bingung, Yusuf ikut melihat penampilannya. "Apanya?"


"Emang nggak kerja?"


"Oh, itu. Baba hari ini mau menghabiskan waktu seharian aja sama kamu."


Mata Aisyah menyipit penuh curiga. "Bohong, kan?"


Menggengam jemari Aisyah, Yusuf menatap lekat telaga bening yang selalu meneduhkan hati.


"Selama ini kita sering berpisah, atau sekalinya serumah selalu bertengkar. Tapi di kontrakan ini, kamu berbeda, Syah. Setiap perlakuan manismu berhasil membuat saya bahagia luar biasa. Saya merasa inilah pernikahan yang sesungguhnya. Saling berbagi segala hal, bercerita, tertawa, bermanja-manja, sampai menitikan airmata karena terlalu bahagia. Lalu ada yang salah, jika setiap embusan napas, saya tidak pernah absen merindukanmu. Meski saat raga tidak berjauhan sama sekali. Rasa itu tetap bersarang dalam hati."


Berdebar-debar dada Aisyah, tersipu akan penuturan panjang lebar suaminya. Namun tidak dapat dipungkiri, dalam hati merasa ada yang sedang ditutup-tutupi. Tapi, apa?


"Kamu enggak percaya?" sambung Yusuf bertanya.


"Percaya kok, tapi ...."


"Apa?"


"Alasan kamu rada-rada gimana gitu, ada hal lain yang enggak aku tahu?"


Berbalik, Yusuf mengayun langkah, lantas duduk di kasur dengan menumpuk bantal di pangkuan.


"Kamulah yang menyembunyikan sesuatu, Syah," lirihnya.


--


*


Kaki terasa lemas, tapi tetap harus bersikap tegar. WhatsApp dari Abel sungguh berpengaruh besar pada mood-nya. Saudari angkat itu terus meneror tanpa jeda, napas memburu tiap kali membaca berbagai pesan yang berisikan ancaman yang mengganggu pikiran.


[Gue tunggu di mobil]


[Gue depan gang kontrakan lu]


[Aisyah bodoh?!]


Dan yang terakhir gadis tersebut mengirim foto yang membuat Aisyah bergetar, ketakutan serta khawatir level teratas.


"Makan di luar, yuk!" ajak suaminya yang telah rapi, keluar dari kamar mandi sembari menyisir rambut tanpa melihat ekspresi pujaan hati.


Aisyah tergagap, lekas menghapus keringat yang mulai muncul di permukaan pelipis.


"Mau ya, Syah. Kita tidak pernah jalan-jalan atau dinner berdua, kan?" Senyum Yusuf mengembang.


Berusaha mencari ide, Aisyah memukul kepala. Mengapa tidak ada secercah alasan di otak pintarnya, supaya bisa menolak halus ajakkan Yusuf.


Hening


"Ummah?" Lelaki itu menoleh, terlihat Aisyah berbaring memegangi perut di kasur.


Menggeleng lemah, Aisyah meringis dibuat-buat. "Aku mau istirahat aja, ya."


"Oke, kamu tunggu sebentar, ya." Yusuf melangkah ke dapur hendak menyedu teh hangat.


"Alhamdulillah, berhasil," ucap Aisyah tanpa suara.


Kembali wanita itu membuka hape, memandang nyeri pada gambar seorang perempuan yang berdiri dengan tangan diborgol kedepan.


"Bunda ...." Netra terpejam, ingin menangis, tapi airmata enggan meluruh. Mungkin stok cairan bening di iris hitamnya telah surut.


"Sampai kapan, Tuhan. Masih sanggupkah aku bertahan? Sebegitu kuatkah aku, sampai cobaan semakin berlika-liku?" batin Aisyah bertanya-tanya.


Apalagi yang akan terjadi setelah ini, tubuh Aisyah sudah teramat lelah bersandiwara setiap detiknya.


--


*


Pukul dua dini hari ponsel Apple itu terus bergetar, Aisyah melirik hape dalam genggaman dan wajah sang suami bergantian. Perlahan tapi pasti wanita itu beranjak, lalu menulis note di tembok menggunakan spidol hitam.


'Jangan dicari, Aisyah sudah pergi. Semoga takdir mempersatukan kita kembali'.


Membaca ulang tulisan tersebut, lalu menatap Yusuf yang masih pulas.


"Aisyah sayang kamu ... Muhammad Yusuf Braja Putra."


Mengayun langkah, Aisyah benar-benar meninggalkan sepotong hati, yang pasti setelah bangun akan ada sesak yang menyiksa diri.


"Maaf, Suf. Aku terlalu egois. Tapi Bunda dalam bahaya. Bunda butuh aku, siapa lagi yang akan menolong dia. Sedang hidup kami hanya tinggal berdua. Maafin aku yang sungguh tidak lagi berdaya ...."


Sepanjang perjalanan Aisyah menyalahkan diri sendiri, seakan semua balada yang terjadi adalah ulahnya.


"Upik abu, cepetan ...!" pekik Abel saat melihat Aisyah keluar dari gang yang sempit.


Segera Aisyah berlari menghampiri wanita angkuh yang bersandar di kepala mobil.


"Bunda diman--"


"Jangan banyak bacot! Ngikut aja dulu." Abel langsung masuk mobil.


Mengembuskan napas, Aisyah harus sabar. "Ingat, demi Bunda," batinnya, lantas memilih duduk di samping Abel.


Mobil menderu, perlahan mulai membelah jalan raya yang terlihat sedikit pendar cahaya kendaraan berlalu lalang.


"Boleh aku tanya sesuatu?" Aisyah membuka percakapan.


Padangan Abel masih fokus ke depan. "Apa?" singkatnya.


"Kenapa kamu melakukan semua ini sama aku? Apa aku buat kesalahan besar hingga membuat kamu menjadi sekejam ini?"


Aku? Kamu? Mengingat sapaan itu, kepala Abel mendadak berputar-putar. Sekelebat kisah masa kecil mereka mengelilingi isi kepala. Dimana dia dan Aisyah beberapa tahun silam selalu ber-aku kamu-ria, dengan pertemanan dan persaudaraan yang tulus mengikat di dalamnya.


"Hentikan, Syah!" Abel menggeram, mencengkram kuat stir, kemudian menambah kecepatan.


"Jawab, setidaknya beri tahu aku, apa alasan semua ini. Kenapa kamu bunuh Ayah dan kenapa juga aku harus bercerai? Lalu sekarang, kenapa Bunda ikut kamu siksa. Ada kesalahan fatalkah yang kami lakukan terhadap kamu, Bel?" Aisyah mencecar berbagai pertanyaan, meluapkan rasa penasaran yang terpendam.


Wanita tersebut telah lelah mengorbankan perasaan, pikiran dan seluruh sumber kebahagian. Bisa jadi benar dia akan menjanda sama seperti sang bunda. Namun sebelum semua terjadi, Aisyah harus mengetahui apa maksud dan tujuan kesengsaraan yang selama ini ia alami.


"Gue hanya bertahan hidup, meski harus memakai cara kotor sekali pun."


Tersenyum miris, Aisyah tidak menyangka gadis itu sungguh egois. "Untuk kebaikanmu, tapi merusak kebahagianku? Luar biasa, Bel. Contrast, ya, kamu berhasil."


Pikiran Abel kalut, melajukan mobil lebih ngebut. "Tutup mulut lu, yang suka basa-basi busuk itu!" teriaknya gusar.


Malas berdebat, Aisyah melempar jauh pandangan ke luar jendela. Mengelus dada, berharap gelenyar nyeri lekas pulih kembali. Lalu bagaimana sang suami yang nanti bangun dan menyadari sang kekasih sanubari menghilang lagi.


"Baba, kali ini ummah yang rindu, ada banyak getar halus dalam jiwa yang menginginkan dekapan hangatmu. Baba ... peluk ummahmu," Aisyah membatin.


--


*