
Bola mata mengabur, berulang kali menyeka lelehan cairan bening di pipi. Menghiraukan banyak pasang mata yang menatap heran padanya. Ia tak peduli, saat ini wanita itu hanya ingin bertemu sang suami, menceritakan apa yang terjadi tadi. Ketika sudah di ambang pintu, samar-samar mendengar suara Abel dari dalam, membuat kakinya melemas dan luruh di tempat. Genangan di pelupuk mata semakin bertambah pun meleleh lebih deras.
"Astaga ... kau kenapa?" Panik salah satu pekerja di sana segera menghampiri Aisyah yang terduduk tak berdaya bersandarkan pintu.
Aisyah tersenyum di sela isaknya. "Kamu tau ini ruangan siapa?" tanya Aisyah pelan.
Wanita beralmamater biru dongker itu mengangguk sembari membantu Aisyah berdiri.
"Boleh aku minta tolong?"
"Tentu saja, Nona."
"Katakan pada Pak Yusuf di dalam, jika Ummah sedang menunggunya di luar, tapi bisikan saja, ya. Jangan sampai ada yang mendengar."
"Baiklah, tapi kau akan menunggu di mana?"
Aisyah menelusuri sekitar, bingung juga mau menanti di mana. Sepertinya tak ada tempat yang cocok.
"Bagaimana jika di ruanganku saja?" tawar wanita itu.
Aisyah tersenyum senang, perlahan dengan sedikit tertatih dirinya dibimbing wanita bersepatu heels tinggi tersebut.
"Jangan ke mana-mana, aku segera datang bersama Pak Yusuf. Oh iya, ini." Dia menunjuk aqua gelas dan beberapa buah di meja kerjanya.
"Minumlah dulu atau makan apel supaya lebih fresh, jangan menangis lagi," lanjutnya, kemudian berlalu menghilang ditelan pintu.
Bersyukur Aisyah masih dipertemukan dengan karyawan yang baik di sini, bila tidak entah bagaimana nasibnya. Menghela napas lalu menusuk logo aqua dengan pipet ukuran sedang. Menyedotnya hingga tandas tak berbekas.
--
*
"Siapa, Nit?" ulang Yusuf meyakinkan indera pendengarannya.
Wanita yang disapa Nita itu kembali mendekatkan diri, membungkuk lantas berbisik sepelan mungkin, was-wa wanita anggun berdress hijau tosca yang tak jauh dari jangkauan mereka akan mencuri pembicaraan.
"Gadis tadi hanya bilang, Ummah saja."
Iris hitam Yusuf berbinar terang, seakan pasokan udara menerobos paksa kepalanya yang sempat naik pitam.
"Di mana dia sekarang?"
"Ikutlah denganku." Nita menegakkan badan melangkah cepat, sementara Yusuf mengekor di belakang, tanpa memedulikan wanita nggak tahu malu yang masih duduk santai di sofa ruangannya.
"Mau kemana?" tanya Abel mata bergerak-gerak penasaran.
Brak!
Pintu dibanting kencang menimbulkan suara nyaring memekikkan telinga, membuat Abel terlonjak kaget.
"Ummah ...!" Yusuf menerobos ruang kerja Nita setelah dipersilahkan, tentunya. Sedang wanita itu menjaga di depan khawatir Abel akan mengikuti lalu masuk dan membuat keributan.
Aisyah diam sembari menunggu Yusuf mendekatinya.
"Ummah ngapain di sini?" Yusuf berlutut mensejajarkan diri dengan sang istri yang duduk di kursi.
"Umi ...," adunya.
"Kenapa?"
"Marah sama aku, Suf, aku gak berani pulang," renggek Aisyah manja.
Pria itu bukannya terkejut malah tertawa.
Aisyah mendelik lalu memalingkan wajah. "Males nih!" dengkusnya sebal.
"Oke-oke, maaf. Terus baba harus gimana?" Yusuf menghentikan tawanya.
Mencebikkan biri Aisyah menangkup kedua pipinya. "Gak tau!"
"Coba cerita dulu."
Aisyah menatap manik mata suaminya, lantas bercerita kejadian di pasar beberapa jam yang lalu, dimana sang umi tiba-tiba berlari setelah memergokinya bersama pria lain.
Menghilang senyum merekah Yusuf. "Bima? Siapa dia?"
"Temen aku."
"Kan ak---"
Aisyah menggigit bibir kuat-kuat, suaranya tercekat tak berani membantah lagi. Rasa takut mendadak menggerayangi seluruh isi badannya.
Yusuf berdiri mengusap kasar mukanya, lalu memijit pelan pangkal hidung.
Pintu terbuka, tampak Abel di ambang pintu dengan gaya khas angkuhnya, melipat lengan di dada.
Suami-istri tersebut hanya menatap bungkam wanita itu.
"Sudah aktingnya, Syah?" sindirnya tersenyum sinis.
"Maksud kamu ap--"
"Apa?! Gue tau lu nggak mau lepasin Yusuf, kan?" potong Abel cepat, tanpa berminat mendengar alasan Aisyah.
"Cukup, perempuan kurang ajar!" hardik Yusuf nggak tahan lagi dengan drama yang membuat dirinya dirundung kesedihan melulu.
Abel berdecih. "Tau apa lu tentang Aisyah dan Bima? Lu gak mau gimana hubungan mereka. Aisyah yang polos ... katanya. Tapi pernah kabur dan tidur di hotel dengan seorang pria. Haha."
Aisyah menggeleng bersamaan dengan bulir crystal yang kembali membasahi pipi. "Kamu tidak tahu apapun, Bel."
Abel mendekat. "Coba bilang, apa yang gak gue tau tentang masalalu kelam lu itu?"
"Syah ...." Yusuf bersuara, terdengar dingin dan kecewa yang terasa.
"Aku nggak seperti itu ...." Aisyah berusaha membela diri, meski yang diungkapkan Abel benar adanya. Namun, tidak seliar yang dibayangkan saudaranya itu.
"Kita pulang." Yusuf menarik lembut pergelangan tangan sang istri.
Aisyah pasrah sekarang, bagaimana takdirnya ke depan ia tak akan menyesali apapun, semua telah digariskan Tuhan.
--
*
"Aku bisa jelasin semuanya, Suf. Jangan langsung percaya dia. Aku-- aku gak kaya gitu ...." Aisyah terus meracau di tengah sedu-sedannya yang kian kacau.
"Hey ... Syah ...." Yusuf menangkap tangan istrinya yang terus melambai-lambai cepat. Seolah menghalau sesuatu.
"Kita bicarakan lagi, setelah kamu tenang, oke?" sambungnya.
Hening
Yusuf berusaha menyimpan baik-baik emosi yang sedang mengambang. Ia tidak boleh kalut dan hilang kendali, apalagi sampai menghakimi tanpa tahu-menahu sejarah yang sebenarnya.
"Kak Ai ...! Dicariin Umi, Kak." teriak Tara dan Tari berbarengan.
Sebentar Yusuf mengelus pucuk kepala Aisyah, mencium keningnya lama, lalu menghapus jejak-jejak bening yang menempel di permukaan wajah sang pujaan.
"Tunggu di sini, ya."
--
*
Si kembar menghambur dalam pelukan Sari, wanita paruh baya itu terlihat cemas dengan banyak keringat bercucur.
"Aisyah dimana?" tanya Sari tak sabaran.
"Itu ada di kamar." Yusuf ikut duduk dekat mereka bertiga.
Menghela napas panjang, ada keplongan dalam dada. "Dia ditelpon gak bisa, Umi jadi takut dia ilang."
"Ilang?"
"Iya, tadi kami ke pasar, pas Umi tinggal Aisyah lagi ngobrol entah sama siapa, penjual sayur mungkin. Umi gak begitu lihat, terus ada bunyi toa yang jualan prabotan promo gitu. Ya, udah Umi cepet mau beli, takut kehabisan. Eh pas mau nyamperin Aisyah lagi. Dianya udah gak ada. Umi cari berjam-jam sama sekali gak ketemu," cerocos Sari panjang pendek sambil mengibas kerudung lebarnya.
Putranya tersenyum lega, ternyata hanya salah paham belaka. "Udah, itu aja?"
Sari mendelik, menatap bengis putra semata wayangnya. Sementara si kembar terpingkal-pingkal menyaksikan abangnya yang berlari ketakutan.
--
*