THE FIRST SIGHT

THE FIRST SIGHT
BAGIAN 7



Tangan mengeringkan rambut, tapi mata nggak lepas menatap Aisyah yang sedang terlungkap, sibuk berkutat dengan laptopnya. Sedari pulang, Yusuf menunggu Aisyah menjelaskan prihal mengapa pergi tanpa mengabari. Namun, sepertinya wanita itu enggan menceritakan apapun.


Menghela napas, Yusuf menghampiri sang istri lalu duduk tepat di sebelahnya.


"Kenapa gak kasih tau dulu sebelum ke rumah Bunda?" tanya Yusuf langsung ke intinya.


Jemari lentik Aisyah berhenti mengetik, beralih menatap lekat pria di depannya yang terlihat kesal.


"Bunda nelpon ngasih tau Abel balik ke Indonesia, ya udah deh aku langsung ke sana," jelasnya acuh tak acuh.


"Abel?" Yusuf menaikkan satu alisnya.


"Temen SD dulu, dia udah yatim dari kecil, terus tinggal sama neneknya. Tapi semenjak neneknya meninggal, Bunda jadiin dia anak angkat. Makanya sekarang tinggal di rumah aku."


"Tapi pas acara pernikahan kita, dia kenapa gak dateng?" tanya Yusuf heran.


"Oh, itu. Dia sibuk ngurus skripsi."


Yusuf ber-oh-ria sembari mengambil laptop Aisyah lalu menaruhnya di nakas.


"Udah malem, tidur gih," suruhnya sambil membantu Aisyah berbaring dan menyelimutinya.


Setelahnya Yusuf hendak menyembul keluar. Namun terhenti ketika mendengar suara sang istri.


"Mau ke mana?" tanyanya menyelidik.


Yusuf berbalik. "Ada urusan sama Abi," jawabnya sambil menutup pintu melangkah ke tempat tujuan.


Pintu ruang kerja Yasiz terbuka lebar, terlihat pria paruh baya tersebut tengah menumpuk beberapa map di pangkuannya.


"Bi ...." Yusuf masuk dengan bibir menyunggingkan senyum.


"Lama banget, Suf. Ini tolong anterin ke rumah Om Hans, ya. " Abi menyodorkan dua map berwarna hitam dengan sigap Yusuf menerimanya.


--


*


"Gak masuk dulu, Suf," ajak Om Hans, papa sepupunya, Ahmad.


Yusuf menggeleng, "maaf Om. Tapi udah terlalu malem," tolaknya seramah mungkin, takut menyinggung.


Ponsel Yusuf berdering, refleks langsung merogoh kantung celana Jeansnya. Sebentar ia memandang Hans seolah minta izin.


"Angkat aja," kata Hans santai.


"Sebentar, ya, Om." Yusuf segera melangkah agak menjauh.


"Yusuf ...." Suara Aisyah bergetar seperti menahan sesuatu.


"Ada apa, Syah?" Panik Yusuf dengan suara lebih dikeraskan.


"Sak-- sakit," lirihnya sebelum hilang kesadaran.


"Sakit apa?" tanyanya tak sabaran.


Yusuf semakin khawatir tatkala istrinya itu tak kunjung menyahut.


"Syah! Aisyaaah!"


Tak ada jawaban.


Yusuf berbalik memandang Hans yang sama bingungnya dengan dia.


"Saya pulang dulu, Om." Kaki Yusuf berlari, cepat memasuki mobil dan meluncur dengan kecepatan tinggi agar cepat sampai ke rumah. Rasa khawatir membuat ia tak peduli pada lampu merah, beruntung hari sudah larut jadi jalanan tak begitu ramai.


Didobrak kasar pintu kamarnya, Yusuf terkejut melihat sang istri terkulai lemah di lantai dengan tangan menggenggam ponsel.


Tangannya cekatan membawa Aisyah dalam gendongan, kemudian segera turun ke lantai bawah.


"Aisyah kenapa, Suf?" tanya Abi bingung.


Keringat terus bercucur sambil tersengal Yusuf menjawab, "pingsan, Bi. Tolong anterin ke rumah sakit, ya," mintanya lalu terburu-buru keluar rumah sementara Abi mengekor dengan pikiran resah.


--


*


Menggenggam erat tangan Aisyah, matanya memanas, ada hancur dalam sini sebongkah daging bernama hati. Rasanya sesak sekali.


"Kenapa gak bilang, Syah," sesalnya membenamkan wajah di lengan Aisyah.


Yusuf benar-benar merutuki kebodohannya, bagaimana bisa ia tidak tahu jika istrinya itu mengidap maag kronis. Sebegitu kurang perhatiannyakah ia selama ini.


Brak!


Pintu terbuka kasar, Yusuf tersentak kaget melihat seorang wanita sedang menatap nyalang ke arahnya.


Yusuf langsung menegakkan badan, "Bun--"


"Keluar!" titah Ratna tak terbantahkan tangannya mengayun di udara.


"Tapi--"


"Teruti saja, Suf," sela Rama di belakang istrinya.


Yusuf mengangguk lalu melangkah, saat ia dan Ratna berpapasan wanita tersebut menyindir. "Jangan dinikahin kalo gak bisa jagain!" serunya penuh penekanan.


Yusuf berhenti hendak menjelaskan. Namun, tangannya lebih dulu ditarik Rama.


"Jangan diambil hati, ya, Nak." Rama tersenyum menguatkan menantunya itu. Terselip rasa iba melihat raut wajah yang jelas tergambar gusar.


"Memang saya yang salah, Yah," pasrahnya menundukkan kepala.


Ditepuk-tepuk pelan punggung Yusuf. "Gak ada yang meningingkan semua ini terjadi. Jangan merasa bersalah, lagi pula sebelum kalian bersama memang Aisyah sudah sering bolak balik rumah sakit." Panjang lebar Rama berkata.


Yusuf mendongak lalu mengembuskan napas panjang. "Ya Allah, betapa tidak bergunanya saya sebagai seorang suami."


"Sekali lagi Ayah bilang, ini bukan salah kamu," balas Rama terus berusaha menenangkan pikiran kalut putranya.


"Semoga," tukas Yusuf seraya mengusap wajah. Berharap yang terbaik.


"Ayah ...!" teriak seorang perempuan berlari menuju dua lelaki tersebut.


Rama berdiri menyambut gadis yang berlari dengan napas memburu.


"Aisyah di mana?" tanyanya cepat sembari memegang dada.


"Duduk dulu," suruh Rama agar putrinya itu menetralkan detak jantungnya.


Abel menurut, tapi saat ingin menghempaskan pinggul di kursi keningnya berkerut memandang wajah yang nggak asing di sampingnya.


"Kak Yusuf Mahardika, kan?" tebaknya menatap tak percaya pada sesosok pria tampan di dekatnya.


"Anda kenal saya?" balasnya bingung dengan wajah datar.


Wanita yang menggerai rambutnya itu mengangguk antusias.


"Aku Abel." Dia mengulurkan tangan.


Yusuf refleks mundur lalu mengatupkan tangan.


Ditarik kembali lengan Abel, sedikit malu mendapat penolakan secara terang-terangan.


"Kamu kenal suami Aisyah?" timpal Rama setengah penasaran.


"He'em. Dulu pas Kak Yusuf wisuda, pertama kali lihat," jelasnya sambil menyilang kaki.


"Langsung tau namanya, gitu?" tanya Rama lagi, masih ragu.


"Iya, kan waktu itu aku pacarnya Ahmad." Abel merapikan poninya yang sempat berantakan.


"Ahmad?"


"Sepupu saya, Yah," saut Yusuf. Ia jengah melihat sikap centil saudara istrinya itu.


Yusuf berdiri, "maaf, saya harus menemani Aisyah lagi," pamitnya sebelum melenggang pergi.


"Ikuut ...!" seru Abel mengejar Yusuf lantas tanpa malu mengapit lengannya.


Kaget setengah mati, Yusuf menghempaskan tangan wanita nggak tau diri itu, membuat si empunya terhuyung.


"Jangan kurang ajar!" tekan Yusuf dingin. Kemudian melanjutkan langkah.


Abel menghentak-hentakkan kaki kesal.


"Awas aja!" tekatnya mengepalkan tangan.


--


*


Sesuai permintaan Ratna, akhirnya Aisyah dirawat di rumah orang tuanya. Beberapa kali Sari dan Yazis menjenguk atau sekadar membujuk supaya Aisyah cepat pulang ke rumah mereka. Namun, Ratna selalu menolak dengan berbagai alasan.


Jangankan membiarkan anaknya kembali ke sana, Yusuf saja tidak diperbolehkan bertemu Aisyah, barang sekali pun.


"Lu kangen suami, gak?" tanya Abel sambil mencomot kentang goreng.


Aisyah mengendikkan bahu. "Entahlah. Lagian gue nyamannya di sini," jawabnya, mengingat di sana ia seperti tak bernapas harus selalu di dalam rumah. Jalan-jalan saja tidak pernah.


Tawa Abel berderai. "Siapa suruh nikah kecepetan!" ejeknya menjulurkan lidah.


Aisyah mengerling malas seraya bersedekap dada. "Namanya udah ketemu jodoh!" sungutnya sebal.


Abel tambah terbahak. "Eh btw, suami lu ramah, ya."


"Ramah?" Aisyah membeo.


"Beneran deh. Waktu di rumah sakit kaki gue tergilir."


"Terus ...?"


"Maaf, ya. Gue gandeng suami lu deh buat pegangan," jelasnya seolah tak enak hati.


"Dia mau?"


Abel mengangguk.


"Masak sih?" Aisyah tak percaya. Pasalnya pertama kali mereka bertemu wajah Yusuf benar-benar menunjukkan bahwa dia memang tak tersentuh. Terbukti sampai saat ini suaminya tak pernah dekat dengan wanita mana pun, kecuali dia. Tapi cerita kali ini ....


"Serius. Ya kali gue bohong," balas Abel meyakinkan dengan bibir menyeringai.


--


*


Jangan komen next atau lanjut, mual gue😪