
"Abi nga---" Perkataan Yusuf terpotong kala mata menangkap sosok wanita di belakang abinya.
Aisyah mencengkram erat bajunya seraya memalingkan muka. Perasaan menjadi kacau balau, harus bagaimana ia menyelesaikan drama berkepanjangan ini.
"Kamu kah itu, Nak?" ulang Abi karena belum mendengar menantunya menjawab.
Melirik sekilas, Aisyah berapalkan dedoa dalam hati, mengenyakkan rasa takut yang tiba-tiba menyergap.
"Aku mau pulang, Suf," lirih Aisyah meminta.
Dicekalnya pergelangan tangan sang istri, menariknya pelan melewati dua orang yang menatap heran.
"Sebentar, ya, Bi," pamit Yusuf sebelum menghilang di balik pintu.
Mengangguk, meski Yazis penasaran, tapi ditahan. Ia harus tahu batasan, sepasang insan itu juga memiliki privasi tersendiri.
"Mereka mau kemana?" tanya Abel sambil cemberut.
"Pulanglah, Nak." Yazis tersenyum tipis, lalu mengayun langkah.
Berdecak sinis, Abel mengepalkan tangan dengan napas memburu kesal.
"Cemburu ini semakin gila, terlalu sesak memekik lara. Tidak bisa menunggu lama, harus bergerak lebih cepat merebutnya," tekatnya menyeringai.
--
*
Menekuk tengkuk, Aisyah berusaha menetralkan detak menyentak dalam dada. Tidak ada tangis seperti biasa hanya panas dingin yang mendera.
Lelaki itu mengusap punggung sang istri, berharap dengan begitu bisa membuat Aisyah lebih tenang dan baikan. Sekeluarnya dari kantor, wanita tersebut tidak bicara banyak hanya meminta supaya cepat sampai kontrakan.
Mendengar bunyi ketukan dari pintu, refleks Aisyah mendongak, kemudian Yusuf beranjak membuka pintu.
"Mbak ikut, yuk!" ajak seorang gadis berusia dua puluh dua tahun itu dengan antusias.
Perlahan senyum tercetak mulus di bibir Aisyah, ia berdiri lalu mengecup pipi sang suami.
"Aku pamit, jangan nakal, ya." Aisyah terkekeh.
"Hati-hati," balas Yusuf.
"Tentu saja, Baba." Aisyah nyengir kuda.
Dona melongo, pemandangan apa yang sedang disaksikannya.
"Sabar, ya, jomblo," batinnya mengelus dada.
"Duh, maaf, ya. Lupa kalo ada kamu." Tawa Aisyah tambah membahana, pantas menyeret lengan Dona meninggalkan pekarangan kontrakannya.
Mengehela napas lega. Yusuf ersyukur ketika tidak bisa menghibur sang pujaan. Namun ada seseorang lainnya yang bisa membentuk senyum gembira di sana.
"Mungkin sekarang saya memang bukan suami yang mengerti dirimu, Syah. Tapi bukan berarti tidak berusaha, percayalah, semua akan baik-baik saja. Saya pastikan tidak ada lagi guratan kesedihan yang menekan hidupmu," ujarnya penuh keyakinan.
--
*
"Eh ... udah dateng si tetangga baru. Sini-sini masuk, Neng." Sumi menyambut dua wanita muda yang baru memasuki dapur.
Aisyah mengedarkan pandangan sambil tersenyum simpul melihat ibu-ibu yang sibuk memasak. Ada yang menggoreng kerupuk, ada yang memetik sayur-suyuran dan ada juga yang lagi menunggu kue dalam panggangan.
"Neng, kalian bisakan nata-nata kue di toples?" tanya Emaknya Dona, Jaenab.
Menyengir, Aisyah berpikir sejenak. Benar mertuanya suka membuat kue, tapi selama ini ia hanya bantu makan saja.
"Kalo nggak bisa, gak apa-apa kok, Mbak. Kita coba aja dulu," ucap Dona menangkap gelagat salah tingkah teman barunya itu.
"Nanti kalo rusak gimana?" tanya Aisyah dengan polosnya.
Semua tergelak.
"Ya Allah, Neng. Enggak bakalan dapet dosa meski semua amburadul!" sahut perempuan berbaju kaos oblong coklat itu di sela tawanya.
"Haduh-haduh. Kok ya kamu lucu bener to, Neng!" Gemas Sumi tak berhenti terpingkal sembari menghapus sudut mata yang mulai berair.
Aisyah menggigit bibir, menatap Dona yang masih setia tertawa tanpa suara.
"Udah kalo nggak bisa itu, mending bantu Bude motongin jagung," suruh Jaenab menggeser beberapa buah jagung yang masih dalam balutan pelastik dan bahan mentah beningan.
"Oke, Bos!" jawab Dona dengan lirikan mata meng-kode Aisyah supaya lekas duduk di tikar samping ibunya.
Menurut, Aisyah meraih pisau yang disodorkan Dona.
"Jangan ragu motongnya, atau enggak bayangin aja mantan kalian, kan nanti nambah tenaganya," canda Sumi seraya meniriskan kerupuk di serokan.
"Astaghfirullah, Bude. Inget umur atuh, masih ngebucin aja," gerutu Dona dengan tangan lihai mencincang-cincang berbagai macam sayuran.
Dona mengerling malas, "Entahlah, Bude. Pening pala aing."
Aisyah terkikik geli, yang lain hanya geleng-geleng menonton aksi debat mereka.
"Namamu Aisyah, kan?" tanya Ibu berkaos omblong tadi.
Aisyah mengangguk.
"Kenalin, aye Bu Haji Leha." Wanita paruh baya itu memperkenalkan diri.
"Aamiin-nin aja, Mbak. Kebanyakan halu dia mah," timpal Dona mencibir.
"Halu-halu bandung, ibu mertua Dona nggak tau kemana. Kayanya masuk karung!" sahut Sumi sengaja memancing emosi anak gadis tetangganya.
"Nggak denger, pokoknya Dona enggak denger apa-apa," jawab Dona mencebikkan bibir.
"Mbak, jangan temenan sama orang itu, ya. Nyebelin banget emang." Dona memberi tahu Aisyah.
Aisyah mengangguk, ingin sekali mengikuti alur pembicaraan menyenangkan mereka. Namun entah kenapa bibirnya mendadak kelu, sekadar menjawab 'iya' saja rasanya amat sungkan.
"Suamimu ke mana, Neng?" tanya Jaenad.
Menoleh, Aisyah tersenyum lebar. "Baru pulang kerja."
"Udah dapet kerjaan?"
"Alhamdulillah udah."
"Kerja apaan?"
Hening, Aisyah berpikir sejenak, bingung harus mengatakan apa. Bila jujur, tentu saja tidak mungkin memberi tahu orang-orang bahwa sang suami bekerja di perusahaan besar. Pasti tidak akan ada yang percaya.
"Lho, malah bengong," sindir Leha, kecewa karena telinga sudah dipasang lebar-lebar tapi tidak mendengar apapun.
Aisyah terperanjak, lantas segera menjawab, "Emm ... jadi cleaning servis," alibinya.
Terserah mau diejek atau bagaimana yang terpenting semua tentangnya dan suami tidak terbongkar. Biarlah dianggap miskin, asal masih banyak orang yang mau bertemenan dengan tulus tanpa pandang bulu.
"UMR nggak?" tanya Dona cepat.
Aisyah menggeleng. "Aku kurang tau kalo masalah itu."
Mematikan kompor, Jaenab spontan berdecak. "Sebaik-baiknya bendahara adalah seorang istri. Kamu kudu tau detail penghasilan suamimu, Neng. Kalo enggak tahu gimana mau ngelola kebutuhan rumah tangga," cerocosnya panjang pendek.
Menggaruk kepala yang dibungkus hijab, Aisyah merutuki kebodohan, bagaimana bisa selama menikah tidak tahu-menahu tentang apapun.
"Bukan bermaksud menggurui, tapi kita belajar dari pengalaman, Neng. Kamu harus pinter-pinter nyenengin suami. Bukan karena kita nggak percaya ama mereka, tapi rasa khawatir atau curiga pasti ada. Makanya kudu jaga-jaga." Sumi ikut menasehati.
Aisyah manggut-manggut, sehabis ini ia harus lebih ektra perhatian pada Yusuf.
Dona menepuk pundak Aisyah sambil tersenyum hangat. "Jangan berkecil hati, ya, Mbak. Mereka niatnya baik kok."
"Iya paham. Makasih, ya."
--
*
Sari berlari tergesa-gesa mendatangi sang suami yang baru pulang bekerja.
"Kenapa, Mi?" Heran Yazis melihat istrinya ngos-ngosan.
"Aisyah udah ketemu, ya?"
Tubuh Yazis menentang seketika.
"Jangan disembunyiin! Cepet bilang di mana anakku? Pasti Yusuf nggak ada proyek di luar kota, kan? Nipu, kan? Mereka tinggal dimana sekarang?" Sari mencecar banyak pertanyaan. Napasnya tersengal sembari menunggu penjelasan dari mulut suaminya.
Mengembuskan napas, Yasiz melirik belakang Sari, khawatir ada Ratna menguping.
"Iya, ben--"
"Jahat! Nggak ngasih tau, kalian anggap apa umi selama ini," sela Sari dramatis, menatap sinis pria di hadapannya.
"Ssstt ... dengerin dulu bentar, bisa?"
Sari mengangguk samar.
Lelaki setengah baya itu mulai menceritakan kejadian di kantor, dimana Aisyah yang terlihat ketakutan melihat Yazis dan Abel. Lalu tanpa kejelasan, langsung meninggalkan mereka yang dipenuhi tanda tanya.
--
*