
Semu, beberapa minggu terakhir berlalu. kebahagian yang biasa menggelitik kalbu. Segalanya berubah pilu. Ada banyak rindu, tapi tak kunjung bertemu. Pria itu hanya menikmati sayatan demi sayatan sembilu.
[Pagi ....]
[Apa kabar, Syah?]
[Jangan lupa sarapan, ya]
[Saya rindu kamu]
Meletakkan ponsel di meja, Yusuf menunduk dengan pikiran berkecamuk, sudah menjadi rutinitas mengirimi Aisyah pesan. Meski hanya dua centang biru tanpa balasan. Entah usaha apalagi yang harus ia perbuat, rasa-rasanya semua berujung sia-sia.
Bunyi ketukan pintu terdengar, Yusuf menegakkan badan hendak melihat sesiapa yang datang. Namun, gadis berdress soft pink telah berdiri di ambang pintu dengan senyum lebar.
"Abel?" cicitnya.
"Hay?" sapa Abel sambil melambaikan tangan berjalan santai, lantas duduk tepat di depan Yusuf.
"Ngapain?" tanya Yusuf memalingkan wajah ke jendela.
Abel menaruh plastik di meja, lalu mengeluarkan sebuah kotak nasi.
"Ini dari Aisyah!" katanya seraya melipat lengan di dada.
Mendengar nama istrinya disebut refleks Yusuf menoleh, matanya tertuju pada benda persegi tersebut.
"Aisyah takut lu sakit, makanya nyuruh gue ke sini," jelasnya menyibakkan rambut.
"Kenapa bukan dia sendiri yang antar?" tanya Yusuf dengan mimik wajah datar.
"Lu tau sendirilah Bunda kaya gimana."
"Oh," singkat Yusuf, kemudian melihat isi kotak itu. Sebentar ia melihat ke arah Abel yang masih setia menatapnya.
"Gak ada urusan lagi, kan?"
Abel mengangguk samar.
"Keluar!" usir Yusuf setengah membentak.
Mengerling malas, Abel berdiri dan berlalu begitu saja. Adakah yang lebih memalukan dari dibenci secara terang-terangan.
--
*
Menyambut pagi tanpa penghangat hati, terasa menyiksa nurani, tapi sekadar mengungkapkan rindu nggak berani. Amarah dan kecewa masih tertata rapi.
"Mengapa percaya tak semudah jatuh cinta," ucap Aisyah mencengkram kuat stir menatap nanar jalanan.
Kini, sesuai keinginan, wanita itu kembali
menghirup udara bebas. Mengendarai mobil sesuka hati, ke sana ke mari tanpa rasa takut ada yang mencari.
"Bunda mau kalian cerai, Bunda gak mau Aisyah gak ada yang ngurus!"
Masih terngiang jelas pernyataan bundanya pada Yusuf, hari kali terakhir suaminya berkunjung. Tampak lelaki itu hanya diam tanpa berniat memprotes.
"Sial! Kenapa bidadari kaya aku harus jadi janda muda ...," umpatnya frustasi.
Ada rasa bahagia dan sesak yang muncul bersamaan.
Tiba-tiba ponsel berdering, secepat kilat ia menyambar bernda pipih berlogo apple tersebut.
"Kenapa?" tanyanya setelah tersambung.
"Maafin gue, Syah." Tersedu sedan Abel dari seberang.
Aisyah mengernyit bingung.
"Gue baper sama suami lu," lanjutnya bertambah sesegukan.
"Maksudnya?" Hati-hati Aisyah bertanya, meski ada rasa sakit menggebu tak rela.
"Suami lu baik dan dengan mudahnya gue jatuh cinta."
Deg
"Lu jadi cerai, kan?"
Lagi, Abel membuat Aisyah naik pitam.
"Lu mau rebut suami gue, Bel?" Aisyah berusaha menahan emosi yang kian meninggi.
"Jangan salah paham dulu, Syah. Gue yakin lu pasti ngira kalo gue gak tau diri, jahat atau lainnya. Tapi, gue berani bilang gini karena lu satu-satunya orang yang gak pernah nolak permintaan gue. Lu tau betul gimana menderitanya gue selama ini. Laki-laki banyak di luar sana dan lo cantik bisa cari pengganti," jelas Abel panjang lebar dengan sesekali menghapus airmatanya.
Ponsel terjatuh, cairan bening meluruh, pertahanan Aisyah goyah. Nggak ada alasan lagi mengikat sang suami sedangkan saudara sendiri merasa sepi.
--
*
Menunggu di tengah temaram malam, lebih indah dari suramnya harapan, saat ini. Yusuf menyenderkan punggung di kursi kemudi.
"Woy!" teriak seorang lelaki dari luar jendela membuat sudut bibir Yusuf terangkat membentuk senyum tipis.
"Cepetan! Capek gue," kata lelaki itu sembari menyelipkan diri ke mobil.
Yusuf menggeleng pelan lantas meluncur membelah jalan raya.
"Muka lu kecut amat," ucap Ahmad membuka percakapan.
Hening
"Ada masalah?" tanyanya lagi.
Yusuf menarik napas lalu membuangnya kasar, "entahlah!"
"Gue denger lu sama Aisyah---"
"Cukup. Gak usah dibahas," potong Yusuf malas berdebat.
"Oke, sorry kalo gue terlalu ikut campur urusan lu."
"Suf?"
"Hmm ...."
"Gue gak bisa diem aja liat lu kaya gini."
"Terus?"
"Lu cinta banget sama Aisyah?" Ahmad sedikit mencondongkan badan berniat melihat ekspresi sepupunya itu.
Mobil mendadak berhenti, Yusuf menoleh dengan napas memburu.
"Menurut lu gue main-main?"
"Bukan gitu, Suf. Tapi kalo lu beneran sayang ya bawa dia pulang."
"Udah usaha dan sia-sia." Yusuf menggeram sambil meremas stir.
"Gue ada satu cara yang pasti bikin Aisyah beratus kali buat mikirin perpisahan kalian." Mantap Ahmad berkata, seolah idenya benar-benar akan berjalan lancar.
Yusuf sedikit menggeser posisi, menatap serius Ahmad.
"Dengan cara?"
Ahmad mendekatkan bibir di telinga Yusuf dan berbisik.
"Hamilin Aisyah!"
Yusuf menganga.
--
*
Gerbang terbuka menampilkan Rama yang terlihat masih mengantuk. Jika bukan karena menantunya meminta bantuan tidak mungkin ia keluar sepagi ini.
"Ayo masuk!" suruhnya setengah berteriak.
Yusuf yang tengah bersender di kepala mobil langsung menegakkan badan. Lantas berlari cepat menghampiri Rama.
"Kamu tau jalan ke kamar Aisyah, kan?"
Yusuf mengangguk paham.
"Ayah jaga-jaga di depan kamar Bundamu, dan kamu langsung masuk."
Setelahnya mereka berpencar, Yusuf mengendap-endap masuk ke rumah dan berusaha sehati-hati mungkin menyelinap ke kamar istrinya. Sementara Rama di ambang pintu merasa was-was dan gelisah.
Wajah yang semula khawatir berubah menjadi berseri. Terlihat Aisyah tidur lelap dengan mulut sedikit terbuka. Yusuf melangkah lalu duduk di tepi kasur, mengusap lembut pipi yang jarang ia sentuh.
"Syah ...." Digoyang-goyangkannya pelan bahu Aisyah.
Namun, Aisyah malah berbalik memunggungi.
"Sayang ...."
Membungkuk lalu mengecup kening Aisyah berulang kali, membuat wanita itu menggeliat, perlahan matanya terbuka dan langsung membulat.
"Yus---"
Hampir saja Aisyah berteriak, bersyukur Yusuf lebih cepat membekap mulutnya.
"Tenang dulu, pliis," pinta Yusuf pelan.
Aisyah mengedipkan mata berkali-kali sambil menghempaskan lengan sang suami.
"Ngapain?" tanyanya nyaris tanpa suara.
Yusuf menghela napas. "Jemput kamu. Apalagi?"
"Nanti ketauan Bunda ...!" Aisyah mengubah posisi menjadi duduk menatap tajam lelaki itu.
"Saya rindu, Syaaah," rengeknya hendak merengkuh Aisyah, tapi Aisyah lebih dulu mengelak.
Aisyah memutar bola. "Stop omong kosong!Kita akan bercerai!" tekan Aisyah memalingkan wajah menahan sesuatu yang meronta-ronta di dalam dada.
Yusuf menggeleng kuat, menolak mentah-mentah.
"Kasih saya kesempatan ...," pintanya.
"Atau beri waktu tiga bulan, saya akan lebih perhatian dari sebelum-sebelumnya," sambungnya terus memohon.
Hening
"Aisyah .... Tolong jangan seperti menebar garam pada luka yang menganga."
Aisyah menengok. "Nggak, Suf. Enggak!"
Yusuf berpikir sejenak.
"Kita tinggal di apartement ... berdua."
"Se-- serius?" terbata Aisyah dengan senyum merekah.
Yusuf mengangguk.
"Tapi, Bunda ...."
Pikirannya melayang pada berapa hari lalu, di mana Bunda dan Abel mati-matian membujuk supaya berpisah dengan Yusuf. Ditambah lagi ternyata Abel menyukai suaminya, dari dulu ia nggak pernah menolak permintaan saudaranya itu. Selain karena sayang ia juga kasihan melihat hidup sebatang kara dan kurang kasih.
"Saya akan coba bicara sama Bunda, percayalah ...." Yusuf menggenggam tangan Aisyah mencoba meyakinkan.
"Maaf, Suf. Tapi---"
"Tapi apa?" Yusuf menyela.
--
*
Dah gitu aja.