THE FIRST SIGHT

THE FIRST SIGHT
BAGIAN 25



 


Ada hampa menelusup dada, kemana gerangan sang pemilik jiwa. Pergi menoreh lara, menyisakan kenangan saat bersama. Lelaki itu meringkuk, menatap nanar deretan kata, sebagai bukti bahwa kekasih hatinya telah benar-benar meninggalkan dirinya.


"Aisyah ... sebegitu tidak percayakah kamu pada saya? Lagi dan lagi pergi dadakan. Meninggalkan sepotong hati yang hancur berantakan," gumamnya, tubuh bergetar, perlahan cairan bening membasahi pipi.


"Kasih tahu baba, Sayang. Dimana kamu sekarang?"


"Baba jemput, ya ...."


"Baba laper, Sayang."


"Baba mau berangkat kerja, pasangin dasinya, ya? Ayo pulang, Sayang. Pulang ...."


Dia terus meracau di sela sedu-sedan yang kian kacau.


Mengacak kasar rambut, pikiran kian kalut. Merana, debaran dada direnggut paksa. Ada apa dengan garis takdir hidupnya. Mengapa seakan semesta kerap mempermainkan situasi hatinya. Sedikit-sedikit melayang bahagia, lalu tanpa aba-aba terjun jauh dalam pusaran duka.


Adakah yang lebih menyakitkan dari ditanggal pas lagi sayang-sayangnya?


--


*


Usapan lembut di kepala mengusik tidur lelap gadis berjilbab hijau tosca. Mata mengerjap, menyesuaikan pancaran sinar yang menyelinap ke pupilnya.


"Ayo, Nak. Kita pergi sekarang," ajak Ratna pada anak semata wayangnya.


"Kemana, Bun?" tanya Aisyah parau.


"Ke Singapura."


Aisyah sedikit terhenyak. "Ngapain?"


Menghela napas, Ratna memberi tahu mengenai perjanjian dengan Abel. Masalah perceraian biarlah urusan wanita itu. Sedang tugas mereka hanya angkat kaki dari Indonesia, selamanya.


"Tidak ada pilihan lagi, Bun?" Sepasang mata Aisyah berkaca-kaca, ada sesuatu dalam diri yang masih enggan berpisah dengan suami.


Ratna paham, pasti segala yang terjadi teramat berat untuk Aisyah. Namun cara terbaik yang harus dipilih adalah pergi, lalu membuka lembaran baru.


"Kenapa kebahagian nggak bisa melekat lebih lama pada Aisyah, Bun?"


Ratna mengukir senyum, seakan berkata semua akan baik-baik saja.


"Kadang, menuruti keinginan seseorang demi membuatnya bahagia, meski kita yang terluka. Ada baiknya. Jangan melulu merasa putus asa, ingatlah bunda akan ada untukmu selamanya. Kita berjuang bersama, ya? Bunda juga rindu kebersamaan kita."


Kedua-nya tersakiti, tapi tidak dapat memberontak sama sekali.


"Bersiaplah, satu jam lagi kalian akan berangkat!" Suara pria mengintruksi dari ambang pintu.


Anak dan ibu itu saling melempar tatapan, lantas mengangguk serentak.


"Kita pasti bisa melewati sengsara ini berdua. Semangat!"


"Tentu, Sayang. Tentu ...."


Tersenyum getir, Aisyah harus tegar. Semenderita apapun mereka, wanita itu harus di sisi sang bunda, selalu.


--


*


Ponsel berbunyi, segera disambar benda pipih tersebut. Dilihatnya sejenak, 'Ahmad'. Ada rasa lega dalam dada, sepupunya itu seolah memiliki ikatan dengannya.


"Hallo ...," kata Ahmad saat panggilan terhubung.


"Mad gue--"


"Ada masalah, dan gue minta maaf," sela Ahmad cepat.


Yusuf mengerutkan kening. "Untuk?"


"Ternyata ...."


"Jangan bikin penasaran, langsung to the point."


"Bokap tiri gue, Suf," lirih Ahmad.


"Kenapa?!"


Terdengar helaan napas panjang, "Ternyata dia dalang dibalik hancurnya rumah tangga kalian."


Darah berdesir, dada bergemuruh, hawa panas menyergap seluruh inci tubuh, membuat Yusuf sungguh tidak nyaman.


"Cerita dengan jelas, Mad!" sentaknya mulai tersulut emosi.


"Papa Hans, lelaki berondong yang dulu dinikahi Mama gue. Dialah kekasih Abel sekarang, yang ngebantu merusak pernikahan lu."


Rahang mengeras, Yusuf semakin geram. "Sekarang lu di mana?"


"Gue di rumah."


"Jangan kemana-mana, gue temui lu sekarang juga!" titah Yusuf tak terbantahkan.


--


*


Lelaki yang sedang diselimuti amarah itu turun dari mobil, dada kembang kempis menahan gejolak dalam raga yang kian membara. Sorot iris hitam pekat menatap nyalang bangunan mewah dengan pintu yang sudah terbuka lebar, seolah si tuan rumah memang tengah menunggunya. Memburu langkah, lekas ia menerobos masuk.


"Duduk sini." Ahmad dengan santai menepuk bangku kosong di sebelahnya.


Malas memprotes, segera Yusuf menghempaskan pinggul di sana.


"Sebelumnya, gue minta maaf atas nama Papa Hans." Ahmad mengawali pembicaraan, ada rasa malu dan kecewa menusuk secara bersamaan.


Yusuf mengangguk. "Lanjutkan."


"Tiga hari lalu, Mama minta bantuan gue buat gantiin Papa ngisi rapat. Sebenernya cuma membicarakan visi misi dan tujuan pembuatan produk pangan baru. Gue juga nggak begitu tahu, tapi hanya disuruh datang ke situ."


Alis Yusuf terangkat satu. "Apa hubungannya?"


"Dengerin dulu."


"Oke!"


"Dipertemuan pertama dan kedua lancar semua. Saat keluar kantor, gue liat Abel masuk mobil bokap. Awalnya gue ragu mau ngikuti, tapi juga penasaran. Dari situ gue tahu sesuatu."


"Apa?"


"Gue liat mertua lu keluar dari mobil yang sama. Mereka masuk ke hotel Bharata yang nggak jauh dari apartemen Abel."


Yusuf terbelalak. "Bunda diculik?"


Menggeleng, Ahmad meletakkan hape di meja, kemudian memutar sebuah video dengan volume paling keras.


"Mendingan juga Singapur, Bun," kata Abel dari dalam ponsel tersebut.


"Bukan malaysia?" tanya Ratna masih menimang-nimang keputusan.


Sementara Hans diam, mengamati kedua wanita yang sibuk bernegoisasi-ria.


"Pliis, Singapur aja, ya. Kan kalo di sana aku bisa tinggal sama kalian, juga sekaligus lanjutin S2." Abel merengek sembari bergelayut manja di lengan sang bunda.


"Oke, atur saja kalau gitu." Pasrah Ratna, seperti biasa dia tidak akan bisa menolak permintaan putrinya.


"Hore ... selanjutnya tinggal jemput Aisyah." Bersorak gembira, Abel langsung memeluk Ratna dengan mata berbinar bahagia.


Hans menggeleng menyaksikan tingkah manja kekasihnya.


Video berakhir, tubuh Yusuf melemas seketika. Abel dan Bunda? Kolaborasi drama apa yang sedang mereka perankan.


Ahmad menepuk pundak sepupunya, menguatkan.


"Video ini, gue dapet dari cctv hotel itu."


"Gue harus gimana, Mad? Mereka pasang konspirasi gila, gue udah nggak berdaya." Yusuf menunduk gusar, pening dengan keadaan.


"Tapi Aisyah nggak tau apapun, Suf. Jangan salahkan dia."


"Gue cinta sama Aisyah, untuk marah aja nggak berani. Mana mungkin gue buat dia ngerasa bersalah, sedangkan selama ini dia yang paling menderita."


Ahmad melirik arloji di pergelangan tanga, pupilnya melebar melihat jarum pendek hampir menunjuk angka dua.


"Satu jam lagi mereka terbang!" seru Ahmad panik, secepat kilat menarik Yusuf keluar rumah.


"Dari mana lu tahu?!" tanya Yusuf ketika mereka sudah masuk mobil, Ahmad yang mengemudi.


Dilemparnya ponsel di pangkuan Yusuf. "Buka chat grup sama Bima dan Salsa."


Mobil menderu membelah jalanan dengan kecepatan tinggi. Menghiraukan banyak klakson yang memekakkan telinga akibat ulah Ahmad yang melaju ugal-ugalan. Lampu merah pun tidak dipedulikan. Lelaki di sebelah, menatap fokus isi chat dari kedua sahabat istrinya tersebut.


[Jam tiga mereka semua ke Singapura!] Pesan dari nomer Salsa.


Bima menimpali. [Bener, Mad. Gue dapet info, dari mantan supir pribadi Om Rama dulu]


[Buruan kasih tahu Kak Yusuf, ya. Aku nggak punya nomernya]


[Gue percayakan semua sama lu, Mad]


[Aku juga]


Meremas kuat ponsel dalam genggaman, lelaki itu semakin murka.


"Sabar, bentar lagi sampe," ucap Ahmad, merasakan keadaan kian menegang.


Menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Yusuf harus mengontrol diri dan menjernihkan pikiran kembali.


"Itu mereka!" Mata Ahmad langsung menangkap keberadaan Aisyah dan yang lainnya, ketika mobil memasuki area bandara.


Terlihat beberapa orang lelaki bak bodyguard membantu menurunkan beberapa koper dari bagasi.


Mobil berdecit tepat di belakang mereka. Lekas kedua pria itu beringsut keluar.


"Ummah ...," panggil Yusuf dengan suara lantang, spontan membuat banyak orang yang menoleh.


"Baba," sebut Aisyah nyaris tanpa suara.


Abel, Hans dan Ratna membeku di tempat, melihat dua pria tegap mulai mendekat.


Ingin rasanya berlari, dan memeluk suami. Namun urung, teringat janji sang bunda. Kini hanya lelehan buliran airmata yang meluapkan segalanya.


"Aisyah!" teriak Salsa dari kejauhan berlari sekuat tenaga diiringi Bima.


Terharu, Aisyah tersedu memandang orang-orang terkasihnya datang. Salsa ... Bima ... dan Yusuf. Aisyah sangat merindu.


Ratna meremas baju yang Aisyah kenakan. "Jangan pedulikan, kita harus berangkat sekarang," bisik Bunda berharap supaya anaknya tidak terkecoh.


Aisyah bergeming, menatap Yusuf yang semakin mempersempit jarak.


"Peluk baba, Sayang. Baba nggak bisa tidur tanpa kamu, baba nggak bisa makan tanpa masakan kamu. Baba nggak bisa kerja tanpa cium kening kamu dulu. Kita kembali ke kontrakan, ya, Sayang. Kemarilah ... Baba kesepian, takut sendirian." Yusuf merentangkan tangan di depan Aisyah, pelupuk mata telah mengajak sungai mendesak ingin segera ditumpahkan.


Salsa dan Bima berhenti di samping mobil dengan ngos-ngosan. Sedang Ahmad menatap bengis papa tirinya, yang hanya bungkam di sisi mantan pacarnya, Abel.


Aisyah maju selangkah, seraya menyeka airmata. "Aku--"


"Aisyah Awas ...!" pekik Salsa, saat melihat wanita berkulit putih dalam mobil dengan jendela terbuka, mengarahkan pistol tepat ke arah sahabatnya.


Refleks Bima dan Yusuf berlari secara bersamaan, untuk melindungi sang pujaan. Kemudian ....


Dor ...!