
Menatap kosong ruangan yang terlihat usang penuh debu, Aisyah sudah tidak bisa lagi menangis. Mungkin dalam tubuhnya sudah nggak ada tempat penampungan air barang setetes pun.
"Ayah ...."
"Babaaa ...."
"Bunda ...."
Aisyah terus merapal nama-nama itu, berharap perasaannya lebih tenang. Meskipun kepala terus merasa pening, ditambah pula menahan detak jantung yang kian mengencang.
Ikatan tali yang melilit badannya tidak begitu menyiksa. Namun ia begitu marah kepada dirinya sendiri, mengapa tidak berdaya seperti ini. Seharusnya, sekarang ia sibuk mengurus rumah tangga dan berbahagia layaknya pengantin baru pada umumnya.
Menghentak-hentakkan kaki sekuat yang dibisa, meluapkan kekesalan yang tak kunjung berkesudahan. Menyebalkan!
"Abel sialan ...! Nggak tau diri ...!" umpatnya sebal.
Keadaan sunyi, membuat bulu kuduknya berdiri. Ada rasa takut menyangkut, tapi siapa yang akan membebaskannya. Sedangkan tidak ada satu pun manusia yang mengetahui keberadaanya.
Ponsel Aisyah bergetar, ingin sekali mengangkatnya, tapi bagaimana. Sementara benda persegi itu ada di saku gamisnya dan tangan diikat dibelakang.
"Ya Allah ... nikah bukannya fresh malah bawaannya strees ...!" pekiknya lantang. Persetan dengan beberapa penjaga pintu depan jika mendengar teriakannya.
Drtt ....
Semakin terasa gentarannya hingga, membuat sedikit geli.
"Astaghfirullah ... hamba lelah, sungguh lelah," lirihnya pasrah. Mau semeronta apapun bukannya lepas tali itu malah kian menjerat badan.
Letih, Aisyah memilih melelapkan diri, semoga bermimpi indah lalu tidak kembali ke lingkaran dunia yang penuh duka lara.
--
*
Keluar mobil, lantas lari tergesa-gesa. Tanpa salam langsung masuk dan memanggil si pemilik rumah berkali-kali. Sampai terdengar sahutan dari lantai atas yang juga turun terbirit-birit, panik.
"Kenapa Bunda?" tanya Yusuf saat sudah berhadapan dengan wanita paruh baya tersebut.
Di belakang mereka, Sari dan Yazis tampak ikut cemas pun merasakan ketegangan yang tiba-tiba menyeruak di seluruh penjuru rumah.
"Ayah ... Ayah ... suamiku ...." Perlahan Ratna terduduk, lututnya melemas sekadar melanjutkan ucapan saja tidak sanggup.
"Ada apa, Rat?" Sari hendak menghampiri besannya. Namun ditahan sang suami.
Lelaki itu menggeleng. "Dengarkan mereka dulu. Sabar, Sar."
Yusuf mensejajarkan tubuhnya dengan Ratna. Diangkatnya pelan dagu wanita itu.
"Ada apa, Bun?"
"Ayah hilang ...." Tangis Ratna langsung mengalir deras.
"Hilang?"
"Bukan hilang biasa, Suf. Tapi, hilang ... nyawanya," katanya di sela tangis yang masih setia mendera.
Mata Yusuf membulat sempurna, genggaman Yazis melonggar seketika dan Sari pingsan.
"Mbaak ...!" teriak Ratna, tangannya meremas baju yang ia kenakan, ingin berdiri, tapi sudah tidak kuat lagi.
Dengan sigap Yasiz membopong Sari, membaringkan tubuh itu di kursi sofa terdekat.
"Ayah di mana sekarang?" tanya Yusuf berusaha lembut, walau hati sebenarnya kalut.
"Polisi telpon bunda, katanya Ayah ditemukan di sebuah rumah kecil dekat jurang, sudah tidak bernyawa," jelasnya sesekali menyeka kasar sudut mata.
"Di mana lokasinya, Bun?"
"Bunda eggak tau, Nak. Bunda gak mau tahu ...."
"Pergilah, Suf. Temui jasad mertuamu. Biarkan Ratna bersama Umi di rumah. Setelah Umi sadar, abi akan segera menyusul," timpal Yazis sambil mengolesi minyak kayu putih di tepi hidung istrinya.
Ratna mengangguk setuju. "Pergilah, Nak. Dan cari juga Aisyah."
"Aisyah?" Netra Yusuf terbelalak mendengar nama istrinya yang sudah seminggu lebih tidak ia temui.
Menegakkan badan, Yusuf menyambar kunci yang disodorkan Abinya. Lalu mengedarai mobil dengan kecepatan tinggi menuju lokasi yang ia dapatkan dari berita diponselnya.
Tangan cekatan mencari nomer Ahmad, tanpa perhitungan langsung menelepon nomer tujuan.
"Gue udah sharelok, cepet ke sana!" titah Yusuf tanpa menunggu jawaban, dibuangnya ponsel di dasboard. Kembali fokus membelah jalanan.
--
*
"Sal ...!"
Salsa menoleh, matanya memicing heran menatap Bima Muchtar yang seperti habis lari marathon, dibanjir peluh keringat.
"Ayahnya Aisyah," ucapnya ngos-ngosan.
Dahi Salsa berkerut. "Apaan?"
"Bokapnya meninggal."
Salsa menutup mulut dengan kedua telapak tangannya, syok. Paru-parunya bahkan seolah kehilangan pasokan udara.
Menggeleng, Salsa tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.
Meninggal? Hilang?
"Jangan becanda! Gue tau ini ulang tahun gue, tapi jangan nge-prank hal yang seserius ini, Bim!" Murka Salsa berdiri dari duduknya.
Bima merogoh kantong celananya, menunjukkan isi ponsel tersebut. "Ini, chat bejibun dari Tante."
Salsa merampasnya cepat, kemudia derai air mata mulai terjun.
"Aisyaaah ...."
--
*
Suara heels gadis di depan Aisyah sungguh membuatnya muak. Wanita itu berjalan santai ke arahnya dengan dua pria yang mengekor.
"Aisyah ... sudah mendengar berita?" tanya Abel terkekeh pelan sambil tangan menengadah ke udara, meminta sesuatu pada pengawalnya.
Lelaki berbadan tambun itu melangkah, meletakkan map hitam di tangan bosnya.
Abel menyeringai, lalu sedikit membungkuk menyetarakan tingginya dengan wanita yang duduk mengenaskan.
"Tinggal tanda tangan, Sayang," ujar Abel lembut.
Cuh ...!
Tanpa segan atau takut, Aisyah memberanikan diri meludahi saudari biadabnya itu.
Wajah Abel memanas, tangan mengepal, Ditendangnya kuat kaki Aisyah.
"Jangan banyak tingkah! Ayah lu udah tinggal kenangan."
Abel tergelak. Aisyah melongo.
"Apa yang terjadi dengan Rama, Der?" tanya Abel pada salah satu anak buahnya yang berbaju serba hitam itu.
"Sudah tewas, Nona!" Tegas pria itu berbicara.
Aisyah menegang, darahnya seakan berhenti mengalir. Dadanya bergemuruh, matanya mulai berkaca-kaca.
"Menangislah wahai Aisyah yang lemah! Semua tidak akan menghentikan penguburan Ayahmu itu."
Abel terbahak-bahak, puas dengan hasil yang ia dapatkan.
"Lu bukan manusia, Bel!" Mata Aisyah terpejam membiarkan gejolak sesak yang kian menekan.
Bersedekap dada, Abel berbalik. "Bener. Karena gue adalah bidadari ...."
Setelahnya Abel berjalan santai dan menghilang ditelan pintu. Menyisakan dua lelaki di hadapan Aisyah.
"Maafkan saya, Aisyah."
Mendongak, mata Aisyah menyipit melihat sesiapa yang menyebut namanya tadi. Detik berikutnya, iris hitam pekat berkabut air itu membesar.
"Pak supir?"
Pria itu bergeming, hanya menunduk.
"Apa yang terjadi pada Ayah, Pak supir?" tanya Aisyah, tidak tahu namanya. Namun, ingat bahwa lelaki itu adalah supir pribadi Rama yang sering mengantar bila ada pekerjaan ke luar kota.
"Sud-- sudah tidak ada, Non."
--
*
Ahmad mengusap kasar mukanya, menggeram emosi. Sementara Yusuf menelusuri sekujur tubuh mertuanya. Mencari petunjuk di sana.
"Bapak ini bunuh diri, dilihat dari banyaknya goresan di pergelangan tangannya," kata salah satu polisi seraya memegang lengan Rama.
Menggeleng, Yusuf tidak sependapat. "Coba lihat bekas tali di leher Ayah saya."
"Hanya memar sedikit, Pak. Tapi lebih mendomisili di tangan."
"Tidak, Pak! Mobil Ayah saya hampir masuk jurang karena kehilangan rem-nya. Apa Bapak pikir, dia akan berusaha bunuh diri setelah berhasil menyelamatkan diri dari kecelakaan maut itu?" Yusuf terus ngeyel dengan keyakinannya.
Polisi bernama Andre itu menghela napas. "Tenang la dulu, Pak. Nanti kami akan selidiki lebih dalam lagi," balasnya berusaha tidak tersulut perdebatan.
"Biar urusan mereka, Suf." Ahmad menengahi sembari menarik paksa Yusuf, menjauh dari tubuh Rama yang kembali ditutup dengan sehelai kain panjang.
"Lu percaya sama mereka?" Yusuf berdecak kesal.
Ahmad menggeleng. "Bukan gitu. Maksud gue, biar mereka menyusut secara tuntas peristiwa ini. Dan kita, cari Aisyah. Gak ada guna ngelawan mereka, buang-buang waktu."
"Aisyah?"
Dijambaknya rambut legam itu, Yusuf merasa tidak berguna karena gagal menjaga dan melindungi pujaan hatinya.
--
*