THE FIRST SIGHT

THE FIRST SIGHT
BAGIAN 20



Silau, sinar matahari menyelinap melalui celah jendela yang sedikit terbuka. Tangan lelaki itu meraba-raba sampingnya, tapi tidak menemukan apapun. Perlahan mata terbuka, menyipit menelusuri sekitar. Namun, tidak ada siapa-siapa, lantas ia duduk.


"Ummah ...," panggilnya dengan suara serak khas orang bangun tidur.


"Sayang ... dimana?" ucapnya lagi sambil menggosok-gosok iris hitam yang masih setengah buram.


Ada yang mendorong pintu, menciptakan suara sedikit nyaring.


"Ummah ...."


Aisyah masuk dengan langkah tertatih, tangan meneteng ember dalam genggaman.


"Udah bangun?" tanyanya, lalu menutup pintu.


"Duduk sini, Sayang ...." Yusuf menepuk karpet kosong depannya.


Meletakkan benda berbentuk tabung di sembarang tempat, lekas Aisyah menghempaskan pinggul.


"Kenapa nggak bangungin?" tanya Yusuf.


Aisyah tersenyum, lengan terulur menata rambut sang suami yang berantakan.


"Sengaja, biar kamu istirahat."


"Udah makan?" Mengalihkan pembicaraan, Yusuf merebahkan kepala di pangkuan Aisyah.


Aisyah menggeleng.


"Mau delivery?"


"Aku udah masak, Suf," balas Aisyah, telapak tangan mengangkat kepala sang suami supaya menyingkir. Namun, sebentuk lengan telah melingkar sempurna di perutnya


"Sepuluh menit lagi, plis, masih betah, Ummah," mohon lelaki itu semakin membenamkan wajah.


Mengangguk, Aisyah mengusap lembut rambut hitam legam suaminya.


"Ummah milik baba seutuhnya," cicit Yusuf.


Mengangguk, Aisyah cepat menyeka pelupuk mata, takut ada sesuatu yang membasahi pipi.


"Maaf, hampir nggak percaya sama kamu."


Menghela napas, Aisyah tidak ingin menyia-nyiakan moment minggu terakhir ini, tidak boleh ada duka meski secuil debu saja.


"Bangun, ya. Kamu mandi. Aku siapin sarapan."


"Bentar lagi. Jangan buru-buru, hari ini saya libur," balas Yusuf enggan melepas posisi yang sedang nyaman-nyamannya.


"Kamu mau aku mati kelaperan, ya?" sungut Aisyah cemberut.


Mendongak, pria itu mendadak lesu, lalu beranjak tanpa memprotes, kemudian mencari handuk dan segera masuk kamar mandi, membasuh diri.


Aisyah mengulum senyum, mengamati tingkah menggemaskan sang suami.


"Apa ini yang namanya, suami takut istri? Ada-ada aja."


Aisyah terkikik geli.


--


*


Menatap nanar pesan yang baru ia terima. Tubuh bergetar hebat, hati sedang dalam tahap waspada, akan ada banyak selaksa sakit yang mendera.


[Enam hari lagi Sayang!]


[Nikmatilah]


[Sebentar lagi akan retak, duh, apa ya yang retak? Oh, iya. Lupa. Hati Aisyah kan, ya? Haha]


[Bales dong, jangan bikin gemes deh]


Dari nomer baru. Namun bisa ditebak pasti dalang dibaliknya adalah Abel, yang tengah mempermainkan keutuhan rumah tangga seseorang.


"Ummah ...."


Suara pria membahana membuat Aisyah terkesiap, lalu pura-pura merapikan baju yang menggantung di depan kontrakan.


Kepala lelaki itu menyembul di sela pintu yang terbuka setengah.


"Ayo makan," ajaknya.


Aisyah tersenyum tipis, berusaha menepis sesak yang kian menghimpit dada.


--


*


Aisyah sibuk berbalas chat dengan Salsa, mengabarkan bahwa dia sekarang baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dicemaskan. Sementara pria yang tidur terlentang di sebelah, hanya diam, bingung harus melakukan apa.


"Syah ...."


"Hmm."


"Nggak enak lho dicuekin gini," keluhnya.


Tangan terangkat lalu mendarat di perut Aisyah. Menepuknya pelan berulang-ulang.


Aisyah membiarkan, ia sedang fokus mengetik di smartphone.


"Pasti asyik deh. Kalo perut kamu buncit," kata Yusuf terkekeh pelan, sesekali mencuri cium di pipi sang istri.


Aisyah meletakkan benda persegi itu di kasur, lantas menatap tajam sang suami.


"Kamu doain aku cacingan?" tanyanya sebal.


Menelan saliva, Yusuf gelagapan. "Bukan, maksudnya buncit karena hamil, Syah."


"Ooo ...."


"Syah ...."


"Apa?"


"Cium." Yusuf memonyongkan bibir.


Aisyah mencibir.


Hening


Lelaki itu menekuk wajah.


"Di bengkel," jawab Yusuf malas.


"Deket sini?"


"Iya."


Tersenyum senang, Aisyah menarik kemeja Yusuf supaya ikut berdiri.


"Kenapa?" Yusuf mengernyit heran. Namun hanya menurut.


Aisyah menyengir.


"Libur, kan?"


"Iya."


"Jalan-jalan, yuk!" serunya antusias.


Terkekeh, lelaki tersebut menunjuk pipi. Aisyah yang peka langsung mengecupnya.


Baru selangkah di pekarangan, bisik-bisik tetangga berterbangan. Ada pula yang terang-terangan basa-basi, membuat Aisyah tersenyum simpul. Tinggal di kontrak kecil, bisa dibilang kumuh, tapi ada kegembiraan tersendiri.


"Pengantin baru, Neng?"


"Cakep lakik-nya."


"Sini ngerumpi ama Emak!"


"Tadi masak mie, ya? Baunya menggugah selera."


Tawa orang-orang sekitar berderai.


Seakan beranggapan, bila sepasang suami-istri tersebut tidak memiliki uang yang cukup untuk membeli makanan yang lebih enak.


"Ayo, Mbak!"


Lengan Aisyah diseret anak kecil sekitar umur tujuh tahunan. Ia melirik sekilas seolah meminta persetujuan.


Mengangguk, Yusuf tetap diam di ambang pintu, berniat mengejar, tapi dia bukanlah sosok yang mudah bergaul, tidak pandai pula dalam urusan mengobrol.


"Neng udah makan?" tanya salah seorang ibu berdaster batik kecoklatan.


Aisyah duduk di tikar bersama mereka, agak kikuk mengobrol dengan emak-emak dan satu orang gadis yang tengah mengupas bawang.


"Nggak denger Jaenab tadi ngomong, dia abis masak mie?" sahut perempuan setengah baya yang sedang menggingit jambu air.


Lagi, gelak tawa menggema.


"Maaf, ya, Neng. Hidup tetanggaan ama Emak-Emak emang gini, berisik, ya kan Mpok Sum?" jelas wanita bernama Jaenab tadi.


"Bener itu. Neng jangan canggung-canggung, yak. Kita baek-baek kok orangnya, apalagi kalo suamimu buat anak Emak," kelakar Sumi menimpali.


Aisyah menoleh ke arah kontrakan. Namun, suaminya itu sudah tidak terlihat di sana.


"Udah, Mbak. Mereka emang suka becanda, jangan dimasukin hati, ya," ucap gadis berjilbab moca sambil mengiris bawang.


Mengangguk, meskipun Aisyah jarang merumpi, tapi sedikit banyak mengerti sikap ibu-ibu masa kini.


"Namanya siapa, Mbak?"


"Aisyah, kalo kamu?"


"Dona ... maaf, ya, ndak bisa salaman. Tanganku kotor soalnya."


Dona tertawa. Aisyah juga.


"Kalo butuh sesuatu atau ada keperluan, ngomong aja, Mbak. Jangan sungkan. Tapi, kalau nggak bisa bantu ya ... jangan marah," sambungnya, kemudian terpingkal.


Aisyah tersenyum lebar, ternyata memilih menatap di kontrakan bukan ide yang buruk. Setidaknya, dengan begitu beban dalam tanggungan sedikit berkurang.


--


*


"Nggak jadi jalan-jalan, nih?" tanya Yusuf, ketika melihat Aisyah memasukan sepasang sendal.


Menggeleng, Aisyah memilih duduk bersandarkan pintu.


"Udah capek," tolaknya.


"Abis ngapain?"


Bibir Aisyah terangkat, sembari memejamkan mata.


"Melakukan banyak hal."


"Apa aja?" tanya Yusuf penasaran. Bagaimana tidak, istrinya itu dari luhur sampai ashar baru pulang.


"Ngerumpi, ngerujak sama main congklak."


"Main congklak?"


Aisyah membuka netra.


"Suf?"


"Hmm."


"Kalo punya anak pasti seru, ya. Kaya tadi aku main sama merek--" Suara Aisyah tiba-tiba tercekat, mengingat usia pernikahan yang hanya tinggal menghitung hari. Tentu saja, harapan-harapan dalam angan akan menjelma bayangan yang dengan mudah ditelan kegelapan.


"Kamu baik-baik aja?" Panik, Yusuf langsung menghampiri sang istri. Meremas lembut bahunya.


"Kenapa?"


"Aisyah?"


"Hey ...."


Memaksakan senyum, kepala Aisyah berdenyut nyeri.


"Ummah, Baba. Bukan Aisyah," kilahnya bersikap tenang, kemudian berhambur memeluk sang suami.


"Iya, Ummah Aisyah."


--


*


Lanjut?