THE FIRST SIGHT

THE FIRST SIGHT
BAGIAN 17



Membanting kuat stir, meluapkan kekesalan yang semakin menambah. Pikiran pening entah harus kemana lagi mencari keberadaan sang istri.


Seminggu telah berlalu, tapi jejak Aisyah seakan ditekan bumi. Sekadar mengetahui terakhir kali gadis itu pergi sebelum menghilang pun tidak terdeteksi. Sudah menghubungi Salsa dan kerabat dekat lainnya, tapi nihil. Segala macam cara dilakukan, hasilnya tetap sama, sia-sia.


"Sabar, Suf." Ahmad menepuk pelan pundak sepupunya, ia sama bingungnya.


Yusuf memarkirkan dengan bebas mobil di basement. Kehabisan akal mengusut kasus Aisyah, tinggal satu cara yang mungkin membuahkan hasil yaitu bertanya langsung pada Abel.


"Lu yakin? Apa enggak terlalu bahaya?" tanya Ahmad ragu, kala melihat Yusuf akan turun.


Otak Yusuf hanya tertuju pada Aisyah, peduli apa dengan yang lain. Lekas ia melangkah ke apartement Abel.


Memencet bel, tidak ingin menunggu lama, Yusuf mengeraskan suara. "Gue tau lu di dalem. Keluar, Bel!"


Ahmad bungkam di belakangnya, terselip rasa takut akan bertemu mantan kekasihnya itu, terlebih setelah kejadian naas beberapa bulan lalu.


Pintu terbuka, Abel berjalan santai dengan mulut sibuk mengunyah sesuatu.


"Eh, ada tamu?" Senyum Abel mengembang melihat siapa yang datang.


"Gue enggak salah liat, itu bener Ahmad? Lu gimana kabar?" lanjutnya spontan menutup bibir dengan kedua tangannya, terkejut.


Mata Abel berbinar, sementara Ahmad justru menelan ludah susah payah.


"Di mana Aisyah?" tanya Yusuf masih bersikap sopan.


"Sebentar."


Abel masuk apartement, kemudian keluar dengan membawa map hitam dalam genggaman yang langsung disodorkan ke arah Yusuf.


"Aisyah kemarin ke sini, nitip ini buat lu."


Yusuf merampas benda tersebut, membuka tak sabaran, setelah dilihat pupilnya membesar. Menatap tak percaya dengan apa yang baru ia baca.


Secarik kertas berisikan gugatan cerai.


"Abel!" sentaknya menatap nyalang wanita yang kini mundur beberapa langkah itu.


Ahmad segera bergerak. Menyeret lengan Yusuf menjauh dari jangkauan Abel.


"Lepas!" Yusuf menghempaskan kaitan tangan mereka ketika telah sampai di parkiran.


Menggeram kesal, Ahmad mentap tajam pria di depannya. "Bodoh! Gue tau lu khawatir. Tapi jangan kaya tadi. Lu liat Abel? Dia aja bisa menyembunyikan semuanya dengan tenang. Kenapa lu malah gegabah. Udah gue bilang berulang kali mikir dengan rileks, mulai main halus, Suf!"


"Lu nggak tau yang gue rasain!" balas Yusuf tak kalah emosi.


"Iya, gue gak tahu. Tapi gue cuma mau bantu."


Yusuf memijat pangkal hidungnya, mengenyakkan rasa khawatir yang terus bersarang.


"Gue tahu lu takut sesuatu terjadi sama Aisyah. Tapi, jangan dulu nyerah," ucap Ahmad lagi.


Hening


Keduanya sibuk bergelut dengan pemikiran masing-masing.


"Lu tau Abel begitu naksir sama lu, kan?" tanya Ahmad kemudian.


Yusuf mengangguk.


Seringaian muncul di sudut bibir Ahmad. "Kenapa gak dimanfaatin?"


"Manfaatin?"


"He'em."


--


*


Ratna memandang miris isi kamarnya, hal yang meningkatkan segala tentang kisah kasih bersama Rama.


"Ikhlaskan saja, Rat," ucap Sari yang selama seminggu terahir menemani besannya itu.


"Semua masih kaya mimpi, Mbak. Rasanya---" Jatuh lagi bulir bening itu di pipi. Padahal sudah berusaha setegar mungkin agar terlihat baik-baik saja. Namun tidak berhasil, denyutan nyeri dalam hati lebih menyakiti.


"Istighfar, Rat. Jangan berlarut dalam ke sedihan. Kamu masih ada aku, Aisyah dan Yusuf." Sari mengelus lembut bahu Ratna.


"Mbak ... maafkan aku yang dulu. Hampir saja memisahkan putra-putri kita," sesal Ratna menatap malu wanita sabar di depannya.


Menghela napas, Sari tersenyum memenangkan. "Lupakan hal yang membuatmu sedih. Toh, Mbak tau yang kamu lakukan selama ini untuk menjaga keluargamu, kan?"


Ratna mengangguk sambil tersenyum tipis, lalu menghapus pipinya yang basah.


"Apa Aisyah belum ditemukan, Mbak?"


Menggeleng, Sari pun hampir putus asa setiap kali bertanya entah itu pada suami atau anaknya. Jawaban mereka selalu sama. 'Belum ada titik cerah'.


"Apa Aisyah tidak meminta izinmu saat ingin berpergian?"


"Tidak, Mbak. Waktu itu setelah saya bilang Rama kecelakaan, saya langsung pingsan. Pas sadar Aisyah sudah tidak ada," jelas Ratna menerawang kejadian minggu lalu.


"Jangan-jangan Aisyah ke sana!"


"Ke TKP, maksudnya?"


Sari mengangguk mantap.


--


*


Berdiri di depan rumah seseorang, ketiga pria itu harap-harap cemas menunggu pintu dibuka. Sudah hampir setengah jam di sana, tapi seakan tidak ada manusia di dalamnya.


"Maaf ya lama. Ada something tadi," kata wanita itu merasa tidak enak hati.


"Enggak masalah, Shel," Bima menimpali.


"Oke, bicaranya di dalam aja, ya." Shellina memasukan kunci lalu memutar knop pintu.


"Yuk, masuk," ajaknya sembari membuka pintu lebih lebar.


"Jadi ...?" Shellina memulai obrolan setelah semuanya telah duduk di sofa.


"Abel punya target baru!" Tanpa basa-basi Yusuf berkata.


"Abel?" Netra hazel wanita itu mengerjap berulang kali dengan mulut sedikit terbuka.


"Lu pasti tau maksud kita, Shel!" sahut Ahmad menatap penuh harap pada gadis tersebut.


Shellina mengangguk samar, kepala terasa memutar ulang tepat saat pembunuhan sahabat karibnya terjadi.


Wanita itu menunduk, berusaha keras melupakan pembantaian mengenaskan setengah tahun lalu.


Ahmad yang khawatir lekas berpindah posisi, duduk tepat di sebelah Shelinna. "Hey, lu gapapa? Jangan bilang trauma itu belum hilang?"


Shellina mengangkat wajah, bibirnya berubah pucat. "Gue mau jawab, tapi kalian semua harus bawa gue ke terapist," lirihnya pelan.


"Terapist?" ulang Yusuf dan Bima serentak.


"Maaf belum ngasih tau kalian, sebenernya semenjak kematian Ara, Shellina selalu rutin ke psykiater. Trauma itu bener-bener membekas di otaknya," terang Ahmad seraya membantu tubuh wanita itu supaya berdiri lalu dipapahnya.


Meski kebingungan, dua lelaki lainnya tetap menurut.


--


*


"Salsa kenal Abel, kan, Nak?" tanya Ratna dari seberang telephone.


"Iya, Tante. Kita bertiga Aisyah kan pas SMA akrab," jawab Salsa.


Ratna mengembuskan napas lega, Sari yang ikut menguping pun merasakan hal yang sama.


Tak kunjung ada sahutan, Salsa kembali bersuara. "Memangnya ada apa, ya, Tan?"


Ratna sedikit tergagap. "Emm, kamu mau tidak menolong tente."


"Tentu saja."


Lagi Ratna bungkam, ada binar terang tertahan.


"Kamu tau tempat Abel tinggal?"


"Iya, Tan. Tidak jauh dari rumah Salsa kok."


"Baiklah, Nak. Coba kau iseng main ke sana. Seakan meminta bantuan Abel menemukan Aisyah. Bisa?"


Hening


"Salsa ... Nak?" panggil Ratna merasa ada yang aneh, mengapa Salsa diam.


"Aku tahu arah pembicaraan Tante, tapi maaf, Salsa takut," ungkap gadis itu.


Kebahagian yang sempat mengisi, tiba-tiba terenggut lagi. "Kamu tahu sesuatu, kah?"


Salsa mengingat ucapan Bima tempo hari. "Sedikit, Kak Bima bilang Abel itu seorang psyco."


"Benar."


"Maaf, Tante. Tapi, jangan khawatir. Kak Bima, suami Aisyah dan sepupunya sedang ke rumah Shellina." Cepat-cepat Salsa memberi tahu.


Saling pandang, Ratna dan Sari menautkan alis. "Shellina siapa?" tanya Ratna.


"Salsa nggak begitu tahu jelas, tapi Kak Bima bilang dia satu-satunya jalan menemukan Aisyah."


"Benar, kah?" Senyum wanita paruh baya itu kembali terukir.


"Iya, Tan. Bersabarlah, insya Allah sebentar lagi semuanya selesai."


Berkali-kali Sari merapalkan dedoa, mengaminkan apa yang Salsa bilang.


"Do'akan, ya, Nak. Terimakasih informasinya. Maaf juga tadi hampir membuatmu dalam bahaya." Ratna sedikit malu mengutarakannya.


"Tidak masalah," jawab Salsa enteng.


"Yasudah kalau begitu, Tante tutup, ya." Ratna mengakhiri.


"Baiklah. Assalamualaikum."


"Waalaykumussalam."


Salsa bergeming, memikirkan sesuatu. Hatinya membenarkan permintaan Ratna barusan. Pun Abel tidak mengetahui bila dirinya sedikit banyak telah tahu kebusukkan gadis tersebut. Dari pada hanya berdiam diri tanpa bertindak. Setidaknya sekadar sedikit bermain peran, ia harus ikut serta menyelam di dalamnya.


Yakin, Salsa membuka pola hapenya lalu menekan kolom chat pada nomer Abel, secepat kilat mengirim pesan.


[Bel, gue ke apartemen lu, ya] send.


--


*


S.A.L.S.A ...!


Jangan ***** elah😪