
Menikmati semilir angin, dua wanita itu tampak bahagia di tengah temaram bintang malam. Berjalan seiringan, saat ada kendaraan bahu langsung bertabrakan. Lalu gelak tawa mewarnai perjalanan.
"Akhirnya aku punya temen juga. Selama ini setiap ada penghuni kontrakan baru, pasti ibu-ibu atau enggak seusiaku, tapi sibuk bolak-balik kerja. Jadi nggak pernah ada waktu buat ngobrol. Sekarang aku bahagia banget punya temen kaya, Mbak," kata Dona bersorak gembira.
Tersenyum lebar, Aisyah pun sama, hadirnya gadis itu seakan mengisi lakuna dalam sepinya.
"Oh, iya. Mbak mau kerja, nggak?" tanya Dona seraya memperlambat langkah.
"Emang ada lowongan buat aku? Aku nggak punya ijasah lho," balas Aisyah menyengir.
"Nggak perlu ijasah, kerjanya kaya aku aja di toko baju atau nganter-nganter pesanan kue, gimana?"
"Trening, nggak?"
Dona menggeleng. "Enggak perlu, Mbak. Lagian karyawannya cuma aku sama Lilis doang."
"Aku tanya suami dulu, ya, Don."
"Santuy, Mbak."
Sepasang mata Aisyah berkaca-kaca, terharu. Padahal dia dan Dona belum genap seminggu berteman. Namun, gadis itu seakan menunjukkan bahwa dia tulus ingin membantu.
"Makasih, ya, kamu baik banget," lirih Aisyah.
Menoleh, Dona menatap bingung. "Mbak ... nangis?" tanyanya ragu.
Disapunya sudut mata, lalu menyunggingkan senyum. "Aku bahagia, Dona."
"Eh, belok sini, Mbak. Kelewatan nanti." Dona sedikit mendorong tubuh Aisyah memasuki gang kecil yang hanya bisa dilewati dua orang beriringan.
"Jangan sedih lagi, oke?" sambung Dona sambil terkekeh.
Aisyah mengangguk mantap.
"Kamu kenapa nggak kerja yang gajinya lebih besar, Don? Semacam PT atau yang lainnya, gitu?" tanya Aisyah penasaran.
"Kadang juga mikir gitu, tapi kalo aku milih kerja jauh. Kasian Emak, udah single parent cuma punya anak satu. Masak iya harus jarang ketemu juga," jelas Dona lesu.
Aisyah menepuk pundak temannya itu. "Lho, kok kamu yang sekarang sedih? Kamu nggak sendiri, aku juga sekarang cuma ada Bunda."
"Serius, Mbak?" tanya Dona terkejut.
"Iya, malah baru aja Ayah meninggal dunia."
Dipeluknya Aisyah, Dona jadi merasa bersalah. "Yang tabah, ya, Mbak. Kalau kata anak jaman now, kita lewati susah-senang duka-lara ini bersama-sama, mau?"
Aisyah terpingkal. "Kamu kok ngelawak."
"Ngilangin galau." Dona ikut tergelak.
--
*
Membawa mangkuk berukuran sedang di tangan, Dona berniat membagi sedikit tumis terong masakannya pada Aisyah. Namun gadis itu berhenti di ambang pintu, bola matanya membulat sempurna dengan mulut terbuka.
Diujung kontrakan, sahabat barunya itu berusaha menghindari dua pria yang hendak menarik paksa tubuhnya.
"Masih tiga hari, Pak! Kumohon jangan sekarang ...." Suara Aisyah bergetar menghiba pada pria tua di sana.
Dona ingin segera menolong, tapi di sisi lain ada rasa penasaran, mengapa wanita tersebut diperlukan seperti itu.
"Tidak bisa. Bos kami sudah tidak mentolerir lagi. Menurut sajalah, jangan makin mempersulit perkerjaan kami!" bentak pria berjaket hitam seraya berusaha mencekal lengan Aisyah. Namun dengan cepat pula wanita itu menghindar.
Dona menggeram kesal, matanya mengelilingi sekitar, tidak tampak satu orang pun di dekat kontrakan.
"Nggak bisa di biarin!"
Tidak ingin menunggu lagi, lekas Dona menghampiri mereka, seakan sungguh berani dengan mengesampingkan rasa takut yang memekik dalam hati.
"Jangan ikut campur!" sentak lelaki gemuk itu saat Dona menabrak bahu salah satu mereka, kemudian berdiri tepat di samping Aisyah seraya mengangkat dagu, menantang.
"Apa ini masalah hutang? Rentenir dari mana kalian?" tanya Dona menatap tajam mereka bergantian.
Aisyah bergeming, menggeser sedikit badan berusaha melindungi diri dibalik tubuh Dona yang lebih tinggi.
"Kau tidak tau apa-apa, lebih baik menyingkirlah, sebelum sesuatu terjadi padamu," geram lelaki tambun tersebut.
"Ya Allah, ada apa ini?" teriak Jaenab panik sambil lari terbirit-birit dari kejauhan.
Malas urusan semakin melebar luas, dua pria tua seram itu meninggalkan mereka tanpa sepatah kata pun.
Aisyah menghela napas lega, Dona berbalik dengan cepat memeluk temannya itu.
"Kenapa, Don? Mereka tadi siapa?" tanya Jaenab dengan tersengal.
Dona membimbing Aisyah masuk kontrakan, Jaenab mengambil air putih.
"Minum dulu, Neng." Disodorkannya gelas kaca tepat di depan Aisyah yang kini duduk bersila di karpet.
Aisyah meneguknya.
"Ada apa sih sebenernya?" tanya wanita paruh baya itu lagi, rasa penasarannya belum terobati.
"Masalah hutang, Mak," sahut Dona, karena pasti Aisyah takkan mau membahasnya.
Jaenab terbelalak. "Kamu punya utang, Neng? Utang siapa? Berapa?"
Aisyah menggeleng.
"Jangan ditanya-tanya mulu, Mak. Biar dia tenang dulu." Dona menengahi.
"Yaudah, emak mau ke pasar ajadah. Kamu langsung telpon suamimu, ya, Neng."
Setelahnya Jaenab melenggang pergi. Menyisakan dua wanita yang saling bungkam dengan pikiran masing-masing.
--
*
"Assalamualaikum. Ummah ... baba pulang, Sayang." Yusuf mengetuk pintu berkali-kali, tapi tidak ada sahutan dari dalam.
Menghela napas, lelaki itu merogoh saku kemeja, mengambil kunci duplikat kontraknya. Bukan manja atau gimana, hanya saja ia lebih bahagia jika disambut sang istri saat baru pulang kerja.
Perlahan tangan kokoh itu menekan daun pintu, lalu didorong.
"Aisyah ...."
"Kamu dimana?"
Hening
Ternyata Aisyah sedang tertidur sambil meringkuk menghadap tembok. Tersenyum simpul, Yusuf ikut berbaring, tubuhnya amat lelah sehabis pulang pergi Bandung mengurusi proyek yang belum juga terselesaikan.
Ada getaran ponsel dari bawah bantal yang dipakai Aisyah. Yusuf memangkas jarak dengan sedikit mengangkat benda berbulu tersebut. Pelan-pelan tangan menyusup meraba-raba dimana letak benda pipih itu. Setelah ketemu masuk dalam genggaman, cepat ditariknya kembali lengan.
Dahi Yusuf mengerut, ada panggilan dari nomer tidak dikenal membuat rasa penasaran menyeruak, lantas langsung diterima.
"Kenapa baru angkat, hah?!" sentak seorang wanita dari seberang telepon, pria itu sedikit menjauhkan smartphone dari telinganya.
Tidak menyahut, Yusuf hanya ingin mendengar kelanjutannya.
"Jawab, Syah! Jangan sok dungu. Oh atau lu lagi nangis tersedu-sedu sekarang, iya? Dasar lemah!"
"Aisyah ...!"
"Budeg jawab gue!"
"Oke, gue nggak akan kasih ampun lagi buat lu. Besok tanpa bantuan siapapun gue akan jemput lu sendiri."
"Camkan itu!"
"Sialan!" umpat Abel mengakhiri sambungan.
Bergeming, pria tersebut memutar otak, ada perjanjian apa sang istri dengan wanita kejam tadi. Lalu mengapa pula Abel membentak bahkan sampai berkata kasar.
Apa yang dia dengar barusan? Abel akan menjemput Aisyah? Untuk apa?
"Astaghfirullah, hal apa yang telah saya lewatkan selama ini," keluhnya menatap nanar punggung sang pujaan yang masih setia terlelap dengan nyaman.
--
*