THE FIRST SIGHT

THE FIRST SIGHT
BAGIAN 11



Setengah jam lebih pria itu menunggu dengan bosan sembari menyandarkan punggung di kepala mobil. Beberapa kali mengedarkan pandangan ke seluruh sudut sekolah, tidak ada tanda-tanda sang istri ada di sana. Sebentar ia melirik arloji yang sudah menunjukkan pukul sebelas lebih. Biasanya, kedua adiknya itu akan pulang sebelum waktu jam sebelas. Namun, kenapa kali ini mereka belum muncul juga.


Menghela napas, Yusuf menghubungi Aisyah. Niat hati ingin memberi kejutan malah terbalik, jadi ia yang kebingungan.


Setelah tersambung ponsel diletakkan di telinga. "Assalamu--"


"Yusuf cepat ke sini ...!" Panik suara Aisyah.


Menegakkan tubuh, Yusuf menoleh ke kanan dan kiri dengan perasaan membuncah tidak karuan.


"Kamu dimana?" tanya Yusuf tak kalah khawatir.


"Di kantor polisi, tolong ke sini, Suf. Ak-- aku mohon ...," jawab Aisyah lemah sedikit tercekat akibat tangis yang makin pecah.


Tanpa kata pangilan dimatikan.


Mengacak rambut gusar, Yusuf segera masuk ke mobil, men-scroll handphone untuk mencari titik lokasi Aisyah saat ini. Beruntung layanan applikasi wanita itu aktif, membuatnya dengan mudah menemukan dimana keberadaan sang istri.


Memarkirkan mobil dengan bebas di depan sebuah gedung aparat kepolisian, segera berlari mencari keberadaan sang pujaan.


Yusuf men-stop salah satu petugas. "Maaf, Pak. Apaka--"


"Abaaaang!"


Teriakan Tara mengalihkan pandangannya, ditinggalkan polisi yang tadi diajak bicara. Lantas tergesa menghampiri ketiga perempuan yang terlihat gelisah di dalam sana.


Mata Yusuf langsung tertuju pada Aisyah yang duduk di kursi, sementara si kembar memeluk erat perut kakaknya.


"Syah ...." Tangannya menyentuh pundak Aisyah yang bergetar.


Perlahan lelaki itu memisahkan adiknya dari Aisyah, lalu menarik jemari yang menutupi wajah istrinya.


"Syah ... liat saya, Syah."


Aisyah menggeleng kuat.


Yusuf berlutut lalu menarik Tara dan Tari dalam pelukan, dua perempuan kecil itu tampak ketakutan. Namun, hebatnya tidak menangis sama sekali.


Diciumnya puncak kepala Tara kemudian bertanya. "Kenapa bisa sampai sini, hmm?"


Si bungsu mendongak matanya jelas terlihat kebingungan. "Kakak nabrak ibu-ibu hamil, tapi gapapa kok kata Dokter. Cuman Kak Ai mau main ke penjara aja," jelas Tara dengan wajah polosnya.


"Kita ikut Kak Ai," sahut Tari.


Mengembuskan napas, ada kelegaan setelah mendengarnya. Akan tetapi, apa yang membuat Aisyah tersedu sedan seperti itu, bukankah ia telah bertanggung jawab. Lagipula semua sudah baik-baik saja.


Yusuf berdiri, menatap polisi yang sedari tadi hanya menyaksikan mereka.


"Pak--"


Seolah mengerti Bapak berbadan sedikit gemuk dan tinggi itu menjelaskan dengan tegas.


"Tidak ada tuntutan atau apapun sebenarnya, hanya ibu ini tiba-tiba datang menyerahkan diri. Semua sudah tuntas, korban hanya memar di kaki."


Bibir Yusuf tertarik ke atas mengukir senyum tipis, kemudian memapah Aisyah dengan Tari dan Tari bergandengan di sebelahnya.


--


*


Suara melengking membuat Yusuf terkejut bukan main. Dari arah dapur terlihat wanita setengah baya meneriakinya dengan berbagai pertanyaan yang sulit dicerna.


"Yusuf ...!"


"Kenapa lama? Nasi goreng Umi kan jadi dingin!" oceh Sari berkacak pinggang.


Hening


Saat hendak memaki lebih jauh lagi, mata Sari membulat memandang Aisyah dan dua gadis kecilnya sama-sama pucat. Lekas ia berlari memegang pundak menantunya.


"Kamu kenapa, Nak?" tanya Sari seraya menempelkan punggung tangan di dahi Aisyah.


Aisyah menggeleng, kepalanya benar-benar pusing. Airmata semakin luruh meski sudah mati-matian ditahan.


Sari beralih menatap putranya. "Tolong bawa adikmu ke kamar, biar Aisyah sama Umi."


Menuruti, Yusuf menggendong dua adiknya pergi.


Sari membimbing Aisyah duduk di ruang makan, lalu menuangkan segelas air putih.


"Minum dulu, Sayang. Biar lebih tenang." Disodorkannya gelas itu tepat di depan bibir Aisyah.


Pelan-pelan Aisyah meminumnya. "Makasih, Mi," balasnya tersenyum tipis.


"Ada apa sebenarnya?"


Aisyah menghela napas panjang, lalu menceritakan semua kejadian tadi.


"Aku takut, Umi ...."


"Bukankah semua telah terselesaikan?" Tangan Sari pindah menggenggam jemari Aisyah.


"Alhamdulillah, udah, Mi."


"Syah ...."


Suara Yusuf mengalun lembut memanggil istrinya. Mendengar itu Sari beranjak dari duduknya, melenggang pergi memilih mengurus si kembar.


Aisyah bergeming, dalam hati sangat ingin berbagi kisah pilunya hari ini. Namun, urung karena teringat janjinya pada Abel. Ia hanya pasrah dan Memejamkan mata menahan sesak di dada.


"Gak mau cerita sama saya?" tanya Yusuf menyelipkan badan di antara kursi dan meja tepat di depan istrinya.


Aisyah menutup rapat-rapat mulut. Situasi sekarang sungguh membuatnya semakin gila.


"Apa saya ada salah?" Lagi Yusuf bertanya. Tetapi sia-sia.


"Apapun itu, saya minta maaf, ya, Syah."


"Kamu mau honeymoon? Atau cuma jalan-jalan biasa? Saya bisa ambil cuti."


"Sepertinya kamu bosan di rumah terus-terusa--"


Yusuf berhenti mencecar banyak tawaran saat Aisyah mengangkat wajah, menatap intens dirinya.


"Aku mau kita pisah!" kata Aisyah sekali tarikan napas.


"Syah ...."


"Kalo kamu tanya alasan, jawabannya karena aku enggak pernah bahagia atas pernikahan ini!"


Setelahnya Aisyah pergi, meninggalkan Yusuf yang memegang dada, menikmati tusukan demi tusukan benda tak kasat mata yang pas mengenai relung hatinya.


Adakah yang lebih sulit dari mempertahankan keutuhan rumah tangga, sedang salah satunya terang-terangan mengajak pisah musabab tak bahagia.


--


*


Meng-scroll ponsel sang istri dengan sorot mata tajam tiap kali membaca pesan-pesan yang membuatnya tersulut emosi dengan sesekali memijit pelipis. Berusaha menahan amarah yang sudah di ubun-ubun mendesak ingin meledak.


"Ayah kenapa?" tanya wanita yang baru saja menutup pintu.


Rama menoleh sambil menekan-nekan dahinya.


"Pusing, Yah?" tanya Ratna lagi seraya memposiskan diri di samping suaminya di kasur.


"Jelasin, Rat!" Dilemparkannya benda pintar itu di atas pangkuan Ratra yang tengah menatap kebingungan.


Tangan Ratna bergetar menyentuh ponselnya, sedetik kemudian matanya membelalak.


"Tega kamu, Rat. Aisyah itu anak kita! Kamu malah ingin membuat dia menderita," tukas Rama penuh penekanan. Nggak menyangka dengan perilaku keji istrinya.


"Ini gak seperti yang kam--"


"Apa?! Semua jelas, Rat. Jelas!"


Ratna menitikan airmata, menurutnya tak ada yang salah jika seorang ibu menginginkan putrinya kembali tinggal bersama.


"Istighfar, Rat. Anakmu menderita akibat ulah bundanya sendiri." Rama mengusap kasar wajah. Pikirannya kalut bercampur frustasi.


"Coba bayangkan, kamu berada di posisi Yusuf. Apa kamu bahagia jika tiba-tiba saya meminta cerai?"


Iris coklat Ratna melebar dengan mulut terbuka, lalu hanya bisa menangis lagi. Hatinya terluka mendengar pernyataan suaminya.


"Hanya karena Abel kamu membuat putriku sengsara? Hidup dalam ketakutan, hidup tidak nyaman. Sekedar memeluk suaminya saja tidak boleh? Berpikirlah, Rat. Bagaimana bila Aisyah itu dirimu sendiri!" Tekan Rama memandang nyalang istrinya.


Muak dengan masalah yang berlarut-larut, Rama keluar kamar, tak lupa membanting keras pintu. Menyisakan Ratna yang meratapi nasib penuh penyesalan.


"Pintaku hanya ingin bersama Aisyah, Tuhan. Tidak lebih, pun tidak berniat sampai melukai batinnya."


--


*