THE FIRST SIGHT

THE FIRST SIGHT
BAGIAN 13



Selepas shalat subuh, Aisyah mengayun langkah ke sana ke mari seraya memegang erat ponselnya, ingin sekali menghubungi Salsa, tapi ragu. Rasa hati berminat mengambil tawaran tersebut. Namun, lagi-lagi ia bingung bagaimana cara meminta izin pada suami dan mertuanya. Kalau pun Yusuf nanti memperbolehkan, lalu bagaimana dengan Sari. Pasti wanita itu merasa sedih lagi, ia tak ingin membuat diri bahagia sedang ada airmata yang jatuh akibatnya.


Menggeleng kuat, Aisyah mengambil jilbab di lemari, lalu menaruh handphone di kasur. Mungkin dengan ia berberes rumah bisa menghilangkan perasaan yang dirundung gelisah.


"Lho, Umi sudah turun duluan?" tanya Aisyah kaget melihat Sari sedang menyapu ruang tengah.


Cepat Aisyah menuruni anak tangga. "Umi, biar aku saja."


Sari menggeleng pelan seraya tersenyum simpul. "Bukannya kamu lebih suka masak? Hmm?"


Aisyah menunduk, tersipu malu, sebenarnya bukan hobby, tapi akhir-akhir ini entah mengapa rasa ingin memasak selalu melanda. Setiap kali ke dapur bawaannya pasti hendak membuat sesuatu.


"Sepertinya masakan Umi sudah kalah, ya?" goda Yazis dari belakang Aisyah.


Telanjur malu, Aisyah langsung ke dapur. Membiarkan kedua mertuanya itu bercanda.


"Apaan sih, bisa-bisanya Abi kaya gitu, eh tadi itu ngeledek atau muji, ya?" gumam Aisyah menerka-nerka seraya memotong berbagai macam sayuran untuk dibuat sop.


Dipukulnya kepala. "Auk ah, males mikir. Otak udah sering bermasalah malah makin parah!" gerutunya, kesal sendiri sembari tangan tak henti bergerak-gerak.


"Ummah ... ada yang bisa baba bantu?"


Aisyah menegang seketika, matanya gencar mencari sumber suara. Saat kedua iris hitam itu bertemu, pisau dalam genggeman langsung dilepas. Berlari cepat ke arah sang suami.


Ditutupnya rapat-rapat mulut pria itu, meski dengan susah payah harus berjinjit-jinjit.


"Stop ...! Jangan aneh-aneh, aku marah pokoknya!" Netra lentik Aisyah mendelik, sesekali menatap sekitar takut-takut ada yang mendengar.


Yusuf bergeming menikmati kedekatan yang jarang terjadi.


"Diem, gak?!" kata Aisyah lagi penuh penekanan.


Dirasa aman, Aisyah menarik kembali lengannya dan berbalik hendak melanjutkan aktivitas yang sempat tertunda. Baru beberapa langkah, tangannya diraih seseorang membuat tubuhnya berputar.


"Yusuf ...!" geramnya menahan emosi.


"Boleh baba bantu?" tanya Yusuf santai, seakan tak membuat kesalahan sedikit pun.


"Yusuf, pliis ...."


"Sekali saja," pinta Yusuf memasang wajah memelas.


Tidak bisa menolak, Aisyah hanya pasrah. Terserah apa mau suaminya itu yang penting ia kembali berselancar di dapur.


"Ummah ... segini cukup?" Yusuf memasukkan sebungkus tepung ke baskom berukuran sedang, tapi tak digubris sama sekali oleh sang istri.


Namun, Yusuf tak kehabisan akal, ia mencari cara yang lain agar perhatian Aisyah tertuju padanya.


"Ummah, garamnya di mana, ya?"


Hening


"Ummah, mata baba kelilipan tepung, Ummah!"


Hening


Yusuf berdecak sebal, bagaimana bisa wanita itu mengacuhkannya terus-menerus.


Tiba-tiba menyeringai, terbesit ide yang sekiranya akan berhasil. Menahan perih Yusuf mengiris sedikit ujung jarinya.


"Ummaaaah ...! Periiiih!" jerit Yusuf kesakitan.


Aisyah yang tadi sibuk mengaduk sop langsung tergesa-gesa ingin melihat kondisi pria tersebut.


"Sakiit, Ummah ...," adunya pada Aisyah sembari menunjukkan jarinya yang berdarah.


Dengan sigap Aisyah merobek ujung kerudung perseginya itu. Melilitkan pada jari Yusuf, berharap agar darahnya berhenti mengalir.


"Dramaaa ...!" sindir Sari tak jauh dari mereka sambil bersedekap dada.


"Sejak kapan panggilan udah ganti?" tanya Yazis tersenyum penuh arti di samping sang istri.


Aisyah maju selangkah, membenamkan wajah pada dada bidang Yusuf.


"Kubur aku, Suf. Kubur!" Pasrahnya.


Yusuf tertawa kecil. Mengingat semalam ia memaksa Aisyah memanggilnya dengan sebutan baba, sementara Aisyah ummah.


--


*


Untuk kali pertama Aisyah mengantar Yusuf sampai depan pintu, membuat perasan pria itu bercampur aduk, antara bahagia dan terharu.


"Saya berangkat, ya?" pamitnya sebelum masuk mobil.


Aisyah bergeming, sembari memikirkan betapa asyiknya berkerja seperti sang suami. Ada kesibukkan yang takkan membosankan.


Yusuf membuka setengah kaca mobil, lalu melambai tangan tanda akan segera melesat jalan.


"Aisyah, mau ikut umi jalan-jalan?" ajak mertuanya.


Mengangguk antusias, Aisyah lekas bersiap-siap.


Aisyah mengenakan gamis pink polos dengan kerudung instan hitam dihiasi renda burkat di ujungnya. Memoles bedak sedikit, ditambah lipstik supaya nggak terlihat lebih cerah.


Dirasa sudah rapi, Aisyah mengambil ponsel yang tergeletak di ranjang, kemudian memposisikan diri depan jendela dan mulai berselfie-ria.


"Ayo, berangkat, Nak," ucap Umi menggedor pintu cukup keras.


Tangan Aisyah cekatan memilih foto terbaik, kemudian mengirimkan pada Yusuf dengan caption.


[Selamat bekerja. Aku mau jalan-jalan dulu. Pabye ....] Klik. Langsung terkirim.


"Iya, Umi," sahutnya mempercepat langkah.


--


*


"Dih, senyum-senyum. Udah kaya liat tespeck dari Aisyah aja!" sindir Ahmad kesal.


Bagaimana tidak, sedari tadi diacuhkan. Sedang lelaki itu hanya fokus menatap ponsel dengan wajah mesam-mesem.


"Jomblo mana tahu bahagia yang sesungguhnya!" balas Yusuf tertawa kecil, mata tak lepas memandang foto cantik yang baru masuk ke aplikasi whatsapnya.


"Emang udah hamil?"


Yusuf menggeleng.


"Kok lama banget sih!"


Yusuf menatap tajam sepupunya tersebut. "Lu pikir Aisyah apaan! Lagian kita belum pernah gituan."


Ahmad melotot tak percaya. "Gila ...! Udah dua bulan lebih lu nikah, Coy!"


Mengendikkan bahu, Yusuf juga bingung.


"Jantan stres lu!"


"Biarin."


"Serah lu dah."


"Biasa ajalah."


Ahmad menyipitkan mata setengah berpikir. "Bokap gue pernah bilang, wanita itu enggak akan memikirkan kata pisah jika telah dimiliki seorang lelaki."


"Aisyah kan emang udah jadi milik gue," jawab Yusuf santai.


Ahmad menggeram, lelaki di depannya ini tidak mengerti arah pembicaraan.


"Tapi, belum seutuhnya!" tukasnya kemudian, lantas berlalu menghilang di balik pintu. Menyisakan Yusuf yang tengah berpikir keras.


"Seutuhnya?"


--


*


"Hey? Ngapain di sini?" tanya seseorang berhasil mengalihkan pandangan Aisyah.


"Ngapain?" ulang pria tersebut.


Aisyah mengusap tengkuknya yang ditutupi hijab. Mendadak gugup.


"Aku, emm ...."


"Apa?" Pria itu semakin mempersempit jarak, tanpa sungkan menepuk pelan pundaknya.


Tersenyum kaku, Aisyah membeku.


"Emangnya Kakak gak boleh lagi tau urusan kamu?"


"Bukan gitu, Kak. Tapi ...."


Mata Aisyah menyusuri sekitar, lalu berhenti saat tatapannya bertemu dengan Sari yang terlihat kecewa. Ia gelagapan seketika, tangan yang bertengger di pundak refleks ditepis.


"Kak Bima ... maaf. Aku harus pergi."


Lekas ia berlari mengejar Sari yang sudah tenggelam diramainya pengunjung pasar.


"Syah ...! Mau ke mana?" Bima ikut menyusul ke mana arah Aisyah melangkah.


"Ya Allah, Umi ... di mana, Umi?" Aisyah terus tergesa-gesa membelah kerumunan manusia yang berlalu lalang. Tanpa peduli sudah berapa bahu yang ia tabrak pun banyak yang terang-terangan memaki dan mengumpat.


--


*