
--
*
"Ngapain?"
"Gak mau, ya?" Aisyah mendengus kesal. Suaminya itu sungguh tidak peka, kan, dirinya hampir setiap hari dilanda kebosanan.
"Ngapain dulu?" cecar Yusuf mendesak.
"Jemput si kembarlah, ngapain lagi?!" Telanjur geram Aisyah membuang plastik di tangan ke lantai. Lalu keluar begitu saja. Menghiraukan Yusuf yang terus memanggil namanya.
Pria itu mengusap kasar wajahnya, entah kenapa pikirannya merujuk kata cerai. Menundukkan kepala seraya beristighfar sampai dirasa benar-benar tenang.
Setelah siap Yusuf turun ke lantai bawah, lalu berhenti ketika menemukan Aisyah tengah tidur di paha umi. Sesekali wanita paruh baya itu mengelus lembut rambut panjangnya.
Tersenyum lebar, Yusuf melangkah mendekati mereka.
"Mau ke mana udah rapi gitu?" tanya Umi, menatap heran Yusuf yang mengenakan kemeja dengan rambut masih basah.
"Aisyah bilang mau jemput Tara dan Tari." Yusuf berdiri tepat depan mereka.
Umi menepuk jidat "Oh, iya. Umi malah lupa. Tapi, jemput di tempat Kakek kamu kerja, ya?"
Yusuf mengangguk, tapi tatapannya terpaku pada sang istri yang justru menyembunyikan wajah di perut umi. Tersenyum miris mengingat Aisyah tak pernah sekali pun bermanja dengannya.
Entah apa yang dibisikan Sari pada menantunya hingga membuat Aisyah langsung bangun, lantas memakai kerudung coklat yang tergeletak di meja.
"Umi ... kita pergi dulu, ya," pamit Aisyah mencium punggung tangan Sari disambut kecupan di pipi.
Lagi-lagi Yusuf menyaksikan pemandangan yang membuatnya naik pitam. Ia memilih keluar lebih dulu dan menunggu Aisyah di mobil.
Hening
Seolah tak berpenghuni dalam mobil, sepasang suami-istri itu tenggelam di pikirannya masing-masing.
"Syah ...."
"Hmm ...."
"Kamu marah?" Yusuf menengok sebentar sebelum kembali fokus pada ramainya jalalan.
"Bukannya tadi kamu yang marah."
Menghela napas, Mobil Yusuf parkirkan di pinggir jalan. Aisyah bergeming walau sedikit bingung.
Ditariknya lengan Aisyah membawa jemarinya dalam genggaman. "Saya gak marah, tadi cuma terkejut aja, saya pikir kamu mau minta---"
"Minta apa?" ketus Aisyah.
"Bukan apa-apa. Saya minta maaf, tadi hampir marah sama kamu."
"Hmm ...."
Keduanya saling diam dalam kesunyian yang menyiksa.
--
*
"Yusuuuuf!" pekik kencang Aisyah lari terbirit-birit mencari keberadaan sang suami.
Di dalam kamar mandi Yusuf langsung menyambar handuk, secepat mungkin keluar.
"Kenapa?" Dipandanginya Aisyah dari atas hingga bawah.
Dengan berbinar-binar Aisyah menunjukkan sertifikat milik suaminya.
"Kamu bisa puisi?"
Yusuf menyengir malu sambil menggaruk tengkuknya. "Dulu ... jaman SMA."
Aisyah mengapit lengan Yusuf lantas bergelayut manja.
"Buatin aku dong!" pintanya antusias.
Tangan Yusuf mencubit gemas pipinya. "Iya, tapi setalah saya ganti baju dulu."
Disentakkan kasar, Aisyah refleks mundur menyadari suaminya bertelanjang dada dengan lilitan handuk di pinggang.
"Ih, dasar porno!"
Setelahnya Aisyah ngacir meninggalkan Yusuf yang tertawa bahagia.
"Ah, gadis itu."
--
*
"Cuma bisa segitu aja. Udah lupa gimana cara merangkai kata," ucap Yusuf seraya menyerahkan secarik kertas.
Segera disambut gembira oleh Aisyah. Bibirnya lincah membaca setiap kata, meskipun sedikit. Namun, rasa puas terlaksana.
"Hilang
Rasa sakit itu telah menguap saat kamu datang
Mengisi keseharian yang sudah lama usang. Aku petang dan kamu bintang
Bersamamu, kini aku tenang."
Aisyah menunjukkan gigi putihnya, mata berkedip-kedip lalu tertawa riang. Persis cacing kepanasan.
"Makasih, ya, sayangku cintaku muah-muah," kata Aisyah seraya memonyongkan bibirnya.
Tawa Yusuf berderai.
"Sekarang coba nyanyi." Aisyah bersedekap dada duduk menyilang menghadap Yusuf yang masih berdiri di samping ranjang.
"Nyanyi apa?"
Menggeleng, Yusuf tidak setuju. "Aisyah yang ini istri Yusuf," bantahnya.
Aisyah mengerling malas, kemudian berpikir lagi. Sambil menanti Yusuf ikut duduk memandang lekat Aisyah lebih dekat.
"Pura-pura lupa!" Aisyah menjentikkan jarinya semangat.
Kembali, Yusuf menolak.
"Aku gak bisa lupa sama kamu."
Aisyah melotot mendengar rayuan suaminya lantas menarik selimut dan terbenam di dalamnya.
Mengambil posisi yang sama, Yusuf menepuk-nepuk pelan bahu Aisyah lalu mulai mengalun suara lembutnya.
"Tidurlah Sayangku mentari t'lah menunggu sambutlah pagi nanti dengan hati tersenyum. Bermimpilah cinta dengan segenap rasa ...."
--
*
Bertos-ria dengan kolega bisnisnya sekaligus teman sedari jaman kuliah.
"Berseri amat itu muka, jatah lancar, ya?" celetuk Alka menyindir.
Senyum Yusuf menghilang. "Jatah? Haha sekali saja tidak pernah," batin Yusuf menggeram.
"Itu pacar gue!" seru Alka seraya merentangkan tangan menyambut sang kekasih.
Mereka berpelukan seraya berbisik-bisik pelan lalu berakhir mencium pipi Alka sekilas sebelum pergi.
Rahang Yusuf mengeras menyaksikan pemandangan menyebalkan yang tak pernah ia rasakan meski telah terjerat pernikahan.
"Suf mak--"
"Gue duluan," potong Yusuf langsung melenggang pergi.
--
*
Lupa bawa Al-Qur'an, Yusuf merutuki kelalaiannya. Dirogohnya ponsel dalam saku kemeja, membuka aplikasi qur'an di sana, lalu memilih surah Al-Khafi berniat mencicil beberapa ayat, mengingat esok sepulang jum'atan langsung ke Bandung melihat proses pembuatan proyek barunya.
Tiba-tiba layarnya berubah tertera nama Umi di dalamnya. Segera ia angkat.
"Assalamualaikum, Mi?"
"Waalaykumussalam, kerjaan udah beres?"
"Bentar lagi, ada apa emangnya?"
"Nanti jemput Aisyah di rumahnya, ya?"
Dahi Yusuf berkerut. "Rumahnya?" ulangnya bingung.
"Iya, rumah mertuamu."
Bahu Yusuf merosot, memejamkan mata menahan amarah yang belum mereka. Malah kian bertambah, Aisyah bahkan tak meminta izin padanya. Lantas dianggapnya apa suaminya ini.
"Suf, Yusuuuf!"
"Iya, Mi. Nanti Yusuf ke sana."
"Ya, udah. Assalamualaikum."
Sambungan mati, Yusuf langsung menyambar jas kemudian keluar ruangan dengan sorot mata tajam.
--
*
Si kembar berebut memeluk kakak iparnya, membuat Aisyah tertawa terpingkal-pingkal sampai kesusahan menahan keseimbangan tubuhnya.
"Cukup, ya, semua. Sekarang makan dulu," ajak Bunda sembari menaruh banyak makanan di atas meja ruang tengah.
"Yey, makan!" Tara lari duluan, sedangkan Tari merentangkan tangan minta digendong.
Segera Aisyah membawa adik kecilnya itu terbang. Terlihat dari kejauhan Tara mencebikkan bibirnya. Aisyah kembali tertawa.
"Non Aisyah ...," panggil asisten rumah tangganya tergesa-gesa.
Aisyah menurunkan badan Tari di pangkuan bunda. Menatap penasaran wanita tersebut.
"Ada Aden Yusuf di depan," katanya setelah mereka berhadapan.
"Kenapa gak disuruh masuk aja, Bik?" saut Bunda.
"Aden bilang mau nunggu di depan."
Aisyah mengangguk paham, kemudian melangkah menemui suaminya.
"Ayo masuk!" ajak Aisyah setengah berteriak melihat Yusuf di ambang pintu.
Yusuf mengalihkan pandangan ke luar, tak mau menatap sang istri. Bahkan amarahnya saja belum teredam.
"Yusuf ...." Disentuhnya bahu tegap pria yang wajahnya ditekuk itu.
"Gak mau masuk?" tanya Aisyah lagi.
"Kamu kenap-- hah!"
Hampir ia lepas kendali. Lalu menoleh menatap wajah Aisyah, dengan cepat mengecup singkat ujung bibir Aisyah yang setengah terbuka. Tanpa kata masuk ke dalam rumah.
--
*
SISAIN SATU AJA KAYA YUSUF, YA ALLAH.