
Mengemasi beberapa pasang baju, Aisyah telah menyerah, tidak tahan lagi bersikap sok tegar. Sedangkan ada banyak perih yang mengiris sedalam-dalam dasar hati.
"Aku mau pulang, Yuf," ucap Aisyah saat melihat suaminya baru menginjakkan kaki di kamar.
"Pulang?"
"Iya."
Tangan Aisyah menyeret koper pink kecil miliknya.
"Ke rumah Bunda?" tanya Yusuf seraya menghalangi wanita itu yang hendak melangkah keluar.
"Minggir." Tangan Aisyah mendorong tubuh Yusuf sampai menggeser. Lalu berjalan santai menuruni tangga, meninggalkan sang suami yang menatap nanar kepergiannya.
"Entah harus dengan cara apa lagi, agar saya bisa menahan kamu, Syah. Apa kesabaran selama ini, masih kurang?" batinnya putus asa.
--
*
Aisyah menangis tersedu-sedu dalam rengkuhan sang bunda. Seusai menceritakan peristiwa di kantor itu, Aisyah tidak ingin kembali ke rumah mertuanya.
"Bunda tau ini berat, Syah. Tapi, bunda nggak bisa berbuat apa-apa." Ratna meletakkan dagu di kepala anaknya.
"Ini karena Abel, Bun. Karena dia ...."
"Kita lemah, Nak. Lemah."
Aisyah mendongak, menatap wajah sayu Ratna yang dibanjiri linangan airmata.
"Sebenarnya apa yang terjadi, Bun? Kenapa Ayah bilang kita dalam keadaan sulit?"
Terisak lagi Ratna, mengingat kejadian bulan lalu. Dimana Abel mengancam akan membuat perusahaan Rama bangkrut, awalnya dia pikir itu hanya akal-akalan putri angkatnya itu. Secara logika, dapat wewenang dari mana gadis belia sepertinya bisa berbuat hal di luar nalar. Namun, salah besar, memang bukan Abel yang bertindak, tetapi lelaki duda kaya raya yang notabenenya kekasih gelapnya itulah yang menginginkan kehancuran suaminya. Entah ada dendam apa, yang pasti mereka diambang kebimbangan.
"Bunda ... cepat urus perceraianku," mohon Aisyah membuyarkan lamunan wanita setengah baya tersebut.
"Bicarakan pada Ayah, Syah. Bunda tidak sanggup melihatmu semakin terpuruk."
Aisyah mengangguk. "Akhiri semua ini, Bun. Ayah akan baik-baik saja." Digenggamnya jari-jari Ratna, saling menguatkan.
"Berdo'a saja, Nak. Hanya itu yang bisa kita lakukan sekarang."
"Selalu, Bunda ...."
Aisyah memeluk erat bidadari buminya. "Babaaa ...!" jerit Aisyah dalam hati.
--
*
"Assalamualaikum ...."
"Waalaykumussalam."
Sari berlari ke ruang tamu, ingin menyambut sesiapa yang datang.
"Masya Allah, Ahmad!" serunya tersenyum senang, lalu dengan gerakan tangan mempersilahkan keponakannya itu duduk.
"Yusufnya ada, Tan?"
"Ada di kamar, tunggu sebentar, ya. Tante panggilkan dulu." Sari beranjak dari duduknya, lantas menaiki anak tangan dengan setengah berteriak menyebut nama putranya.
"Kenapa, Mi?" Yusuf membuka pintu, mengedarkan pandangan ke setiap sudut rumah.
"Turun, Nak. Ada Ahmad. Umi masih sibuk di dapur."
"Iya."
Lelaki itu turun dengan malas, jauh di lubuk hati terdalam perasaannya sungguh berkecamuk. Ingin menahan sesuatu yang tak mau dipertahankan, sama seperti mencoba meraih layangan yang terjerat di tiang listrik, sama-sama bisa membuat jigrak kepala.
"Eh, malah ngelamun!" celetuk Ahmad ketika melihat batang hidung sepupunya itu.
"Ngapain ke sini?" Yusuf masih berdiri di atas tangga, enggan menghampiri.
"Lu kenapa? Masalah lagi?"
Mengembuskan napas, Yusuf mengusap wajah. "Aisyah ...."
Ahmad langsung mendekat. "Ngajak pisah?" Terkanya cepat.
Yusuf menggeleng, "Lebih dari itu."
"Apaan?"
"Udah lupain, enggak usah dibahas."
Tangan besar Ahmad menyeret paksa Yusuf ke depan teras rumah. "Gue ke sini mau cerita tentang Abel."
Yusuf mengernyit, "Abel?"
Mengangguk, Ahmad menarik napas lalu membuangnya perlahan. "Dia psycopat!"
Mulut Yusuf menganga. Ahmad kembali melanjutkan perkataannya. "Kemaren gue denger ada keributan diruangan Nita, kan? Gue cari tau siapa itu Abel ternyata--"
"Mantan lu, kan?" sela Yusuf, mantap.
"Bener. Dan lu tau kenapa gue putus sama dia?"
Hening
Mata Ahmad mengelilingi sekitar, tidak ada orang sama sekali. Aman.
"Lu yakin?" tanya Yusuf, masih ragu.
"Awalnya gue gak percaya, tapi Shelinna temennya Ara, mantan gue. Dia sendiri yang ngerekam pembunuhan Ara."
"Terus?"
Napas Ahmad memburu, terselip rasa takut bahkan sekadar menceritakan bukan mengalami.
"Setelahnya kami putus, sampai sekarang gue gak pernah ketemu dia lagi."
Memejamkan mata, berusaha mengenyakkan pikiran-pikiran negatif yang mendadak menyerang. Yusuf tidak bisa tinggal diam.
"Sekarang kita temuin Abel!"
"Jangan!" cegah Ahmad.
"Kenapa? Gue pengen semua cepet selesai. Dan dia menjauh sejauh-jauhnya dari pernikahan gue."
"Lu belum tau dalang di belakang permainan sadis Abel, Suf. Tolong jangan gegabah."
Yusuf masuk ke rumah, menghempaskan pinggang di sofa depan TV.
"Begitu banyak cobaan dari-Mu, Allah," batinnya frustasi.
--
*
[Bagaimana harimu, saudariku?]
[Menyenangkan?]
[Kutunggu kabar baik darimu]
[Sayang Aisyah] Diakhiri banyak emot cium.
Aisyah bergetar ketakutan menerima pesan dari Abel. Sudah tiga hari dirinya terus mendapat teror dari gadis itu, entah berupa chat atau timpukan batu dari berbagai celah kaca rumahnya.
"Syah, Ayah ...." Ratna berlari terburu-buru, lalu berhenti di ambang pintu.
"Ke-- kenapa--"
"Ayah kecelakaan, Nak." Setelahnya Ratna jatuh pingsan.
"Bunda ...!" teriak Aisyah menghampiri sang bunda, pikirannya semakin kacau balau.
Kecelakaan dan pingsan, menggores trauma tersendiri untuknya.
--
*
"Kak Ai kapan pulang, Umi?" tanya Tara yang sedang mengerjakan PR.
Sari mencoel hidung putrinya dengan gemas. "Sebentar lagi. Kakak mungkin masih kangen sama keluarganya."
Tara manggut-manggut seolah paham maksud uminya.
"Selesai Umi." Tari menunjukkan bukunya.
--
*
Aisyah nekat singgah di apartement Abel. Ia tidak peduli jika nanti terjadi sesuatu padanya, yang terpenting sekarang, dimana keberadaan Ayahnya. Bunda bilang kecelakaan, tapi saat ke tempat kejadian perkara, Rama nggak ada di sana. Hanya mobil penyot yang teronggok di tepi jurang.
"Besar juga nyalimu, Nona." Pria di belakang Aisyah menyeringai, menatap punggungnya yang tengah membunyikan bel.
Pintu terbuka lebar, berdiri Abel dengan senyum sinisnya. Tanpa menunggu disuruh, Aisyah segera masuk.
"Dimana Ayah?" tanya Aisyah to the point.
"Bukan urusan gue," jawab Abel acuh tak acuh.
Napas Aisyah memburu, ingin rasanya meluapkan kekesalan dalam dada. Namun, ia begitu lemah, sekadar berbicara kasar nyalinya menciut.
"Bel ... gue mohon. Gue janji akan ngelakuin apapun, asal balikin Ayah." Aisyah menghiba, menatap penuh harap pada wanita angkuh di depannya.
Abel bergeming.
"Lu mau gue cerai, kan? Gue akan pisah, Bel. Bila perlu, lu yang urus semuanya. Supaya lu percaya. Gue gak ada niatan khianatin lu."
Abel mendekat lalu mencengkram kuat pipi Aisyah. "Gitu dong. Lebih cepat lebih baik!" Dihempaskannya muka itu.
Merintih sakit, Aisyah seakan bersikap biasa. "Dimana Ayah?"
"Lu mau ikut Ayah, kan? Di kuburan a.k.a neraka!"
Tawa Abel berderai.
Aisyah menahan diri agar tangisnya nggak pecah. Tiba-tiba ada tangan kekar menutup mulut, membuat wanita itu meronta-ronta minta dilepaskan. Namun sia-sia tenaganya tidak sebanding dengan pria hitam seram yang menarik paksa tubuhnya.
"Buang dia!"
--
*