
Kantor sudah sepi manusia malam itu. Namun di Gedung Praba Grup ada satu lantai yang terang benderang. Lantai letak PT. Arghading Corporation beroperasi masih dihiasi lampu-lampu menandakan masih ada karyawan yang bekerja malam ini.
Keempat anak buah Damaskus masih berjaga di kantor mereka untuk bersiap menguburkan jenazah orang gila yang berkeliaran akibat tingkah Contessa. Sementara Damaskus setelah tadi dari ruangannya dan menemukan dompet Contessa, kini meeting tengah malam bersama beberapa petinggi perusahaan.
“Agamanya apa nih?” tanya Baron sambil berjongkok di mayat si ODGJ yang habis dikerjai Artemis.
“Yang beginian nanya-nanya agama,” gumam Griffin
“Ya gue harus nyolatin atau didoain aja sama Ivan?”
“Cap cip cup aja tebak,” kekeh Griffin.
“Lagian dikuburinnya harus gimana?” tanya Baron.
“Lo anggap aja Islam,” desis Ivander sambil lewat. “Keyakinan mayoritas negara ini,”
“Biar lo nggak susah-susah mandiin dan ngurusin yaaa,” gerutu Baron ke Ivander.
“Udah lah seperti biasa itu urusan lo,”
Baron berdiri dan menatap Artemis. Artemis yang dari tadi ngaca. Iya dia ngaca dari tadi karena masih sebal mukanya ditonjokin si Boss. Sambil sesekali bibirnya misuh-misuh ngomel mengumpati Contessa. Merasa dilihatin sama Baron dan mengernyit.
“Apa?!” tantangnya ke Baron.
“Bantuin lah. Kerjaan lo nih,” desis Baron.
Artemis melirik jenazah itu dan mengernyit. “Nggak ah, bau,”
“Laaaah! Makanya kalo bunuh orang pikir panjang dong!”
“Nggak bisa kita potong-potong aja terus kita semen ya?”
“Nggak! Kuburin yang layak. Sejahat-jahatnya dia perlakuan seperti itu adalah haknya dia! Se-dosa apa pun lo, pasti lo bakal gue perlakukan sama, Tem,”
“Iya, iya Pak Ustaaaad,”
“Gue bukan Ustad, kemaren gue mabok dan kepala gue masih sisa hangover kemaren. Lagian Tem, mandi-in dia lebih gampang dari pada potong-potong,”
Artemis mengerang dan mengeluh, “Duh, banyak banget kerjaan hari ini! Mana laporan tambang belum gue urusin!” akhirnya ia pun bergerak dan membantu Baron mengurusi jenazah si ODGJ.
“Oh iya jangan lupa... besok lu UTS,” kata Baron mengingatkan Artemis.
“Hah?”
“Iya,”
“Mam-pus! Gue belom baca jurnal,” keluh Artemis.
Ya, pria... Pemuda berusia 21 tahun itu masih terdaftar sebagai mahasiswa di sebuah kampus swasta terkenal di Jakarta Barat. Dan mulai besok adalah minggu-minggu penuh kesibukan Ujian Tengah Semester. Damaskus sudah mengultimatumnya kalau IPKnya nasakom lagi, dia akan dimasukan ke samsak seminggu, jadi objek latihan pria besar berambut silver itu.
Paling tidak, semester ini dukomsel lah sampai lulus. (Dukomsel, Dua Koma Selamanya). Soalnya yang bayarin kuliah Pak Damaskus.
Damaskus pun masuk ke dalam ruangan itu sambil menggenggam binder di tangannya, lalu melempar map tebal itu ke meja Artemis. “Laporan tambang, nggak usah ungkit soal pencuri. Fokus saja ke Crusher,”
Artemis mengenakan sarung tangan karet sambil mengangguk mengiyakan perintah Bossnya. “Ivan, besok kamu bantu Artemis bikin laporan. Artemis, Sebelum ke kampus kamu jemput Contessa dulu ke kantor,”
“Heh? Jemput Boss?” desis Artemis sambil ternganga.
“Iya, jemput,”
“Rumahnya di mana?”
“Tanyakan ke Contessa dong, masa saya lagi-saya lagi?”
“Udah jadi tukang pukul, sekarang jadi sopir juga?”
“Karena kalau Griffin yang jemput pasti nyasar, dan Baron pagi-pagi harus harus ke lapas,”
Artemis berkacak pinggang sambil mencibir, menatap teman-temannya satu persatu yang sedang cekikikan geli. “Saya nggak bisa tukar tugas sama Baron?”
“Di Lapas itu seharian Tem, kamu bisa ketinggalan ujian. Ingat, IPK kamu kecil lagi, tongkat golf saya melayang,”
“Boss...” keluh Artemis.
**
Pagi hari yang gerimis,
“Heh Blo’on, lokasi kamu di mana?” gumam Artemis sambil menelpon Contessa.
“SIAPA SIH NIH PAGI-PAGI NGATAIN SAYA BLO’ON?!” Seru Contessa kesal.
“Artemis,” jawab Artemis.
Belum ada jawaban dari Contessa. Kemungkinan gadis itu baru saja bangun tidur dan masih otaknya masih buffer.
“Mau apa telpon saya?” terdengar keluhan dari seberang.
“Mau apa tanya lokasi saya?”
“Saya diperintah Boss untuk jemput kamu. Jangan nolak, saya juga sebel harus jemput cewek gila pagi-pagi. Tapi kalau saya nggak bawa kamu ke kantor dengan selamat, bisa-bisa nyawa saya melayang,”
“Bisa melayang saja tidak, nyawa kamu. Daripada harus jemput saya. Siapa tahu kamu reinkarnasi menjadi Makhluk yang lebih baik,”
“Saya nggak percaya reinkarnasi,” desis Artemis, “Nggak usah bantah ya Non, kalau nggak mau saya cari lokasi via GPS dan berbuat keributan di gang rumah kamu,”
Lalu terdengaran erangan sebal dari seberang.
“Saya di rumah teman,”
“Share lock aja, nggak usah banyak tanya,” gerutu Artemis.
Pagi itu langit mendung dengan gerimis sedikit. Artemis tidak bisa mengendarai Royal Enfieldnya, dan jadilah ia beralih ke BMW. Yang mana hal itu cukup membuat moodnya langsung jatuh. Ia tidak bisa merasakan hembusan angin segar pagi hari menerpa wajahnya dan harus berada di dalam kotak mesin beroda sepanjang perjalanan. Belum masalah cari-cari alamat yang ia paling sebal.
“Harusnya gue beli Jeep,” desis Artemis sambil memandangi sedan mewah putihnya dengan menyesal. Karena ia merasa jalanan komplek yang harus dilaluinya pasti banyak Speed Bump, alias Polisi Tidur, alias jeglongan. Sungguh ia tak tega melihat list sedannya yang harus terantuk tonjolan aspal.
**
“Ella?” Artemis menatap lekat-lekat ke arah wanita muda yang sedang menggendong bayi di pelukannya. Ella memang mendampingi Contessa keluar dari rumahnya saat tahu salah satu anak buah Damaskus ditugaskan untuk menjemput Contessa. Ia merasa aneh terhadap perhatian yang diberikan Boss baru Contessa jadi karena khawatir ia memutuskan untuk mengantarkan Contessa ke depan teras.
Betapa terkejutnya ia saat mendapati kalau yang ada di depannya adalah...
“Dennis?” Ella mengernyit sambil melihat pria di depannya.
“Ella kan Ya? Anaknya Pak Basri?” seru Artemis sambil membuka pintu mobilnya dan menghampiri Ella.
“Astaga, Dennis? Kamu terakhir ditangkap polisi!”
“Aku bebas 5 tahun yang lalu,” Artemis mendekati Ella dan ajaibnya, langsung memeluk wanita itu.
“Den, Dennis, aku sampai gemetaran waktu Bu Sri meninggal dengan cara seperti itu Den. Bahkan aku nggak sempat ketemu kamu! Aku turut berduka cita...” terdengar desisan Ella di pelukan Artemis.
“Mereka menggunakan kecanduanku untuk menangkapku. Padahal awalnya aku dinyatakan membela diri,”
“Kami warga tahu apa yang terjadi Den, bapak kamu kan memang jahat! Berkat kamu syukurlah dia sekarang sudah nggak ada, kami bahkan melupakan di mana ia dikubur, Tapi kalau puasa kami masih sering ziarah ke makam ibu kamu, Bu Sri kan orangnya baik banget Den,”
Dan Contessa pun sampai-sampai melongo melihat adegan itu.
“Hah?” desahnya kaget. Karena ia adalah teman main Ella sejak SD, dan sama sekali tidak mengenal Artemis sebelumnya. Apalagi punya teman yang tampangnya macam Artemis. Tapi memang dulu ia kenal sama tetangga Ella yang namanya Dennis. Orangnya gemuk banget dan sering berantem. Usianya beda 2 tahun dengan ia dan Ella tapi badannya bongsor kayak anak SMA.
Karena ia teman main Ella, tapi beda perumahan. Setahu Contessa, si Dennis ini tidak bersekolah dan kerjanya hanya makan, berantem, nyuri, malak. Seseorang yang jelas Contessa hindari. Jadi ia tidak terlalu kenal.
Lebih tepatnya, ia menghindar sebisa mungkin dari Dennis ini.
Mungkinkah Artemis dan Dennis orang yang sama? Dari bentuk mukanya sudah beda, apalagi tubuhnya.
“Tess! Kamu masa nggak kenal dia? Ini loh Dennis, anaknya Bu Sri yang punya warung itu loh! Yang bapaknya orang Taiwan!”
“Yang mana? Bu Sri yang sering kita datengin buat beli JasJus itu bukan sih?”
“Iya! Bu Sri yang itu!”
“Nggak Mongkeeeeennn!!” jerit Contessa sewot.
“Kamu sama si Countess ini temenan La? Sejak kapan?” sahut Artemis.
“Dia ini si Tessi loh,”
“Hah?”
“Ya ampun jangan lagi-lagi gue dipanggil nama itu!” dengus Contessa. “Gue Cuma sekali pake cincin akik bokap, udah dikata-katain ‘Tessi’ sama preman gendut! Mana cincinnya dipalak pula!”
“Cincinnya udah gue jual buat beli amer,” desis Artemis.
“Parah Lo!!” seru Contessa sambil melempar botol susu bayi yang ada di dekatnya.
Artemis menangkapnya dengan sigap. “Lo Tessi toh ternyata, nggak terlalu kenal sih. Nggak peduli juga gue, sama keberadaan lo,”
“Kata Boss, ngomong sama saya musti pakai aku-kau-saya,” desis Contessa mengingatkan.
“Mana Boss? Mana dia? Tak ada di sini tuh!” Artemis berlagak tengok kiri-kanan, “Kecuali...” ia menarik dagu Contessa dan mengangkatnya dengan kasar, “Kecuali mulut lo ember!”
“Ih, Dennis. Jangan kasar di depan anak gue dong,” keluh Ella sambil menyenggol-nyenggol lengan Artemis.
Artemis melepaskan Contessa dengan enggan, “Gara-gara Ella, lo selamat ya! Sial banget gue bisa ketemu lo,”
“Nama Artemis tuh beneran diadaptasi dari nama nyokap lo ya... Dewi Sri versi eropa gitu? Beneran nggak cocok sama lo!”
“Ngomong sama saya harus pake kamu-aku-saya, panggilan resmi, karena siapa tahu kamu bakal jadi... istri Boss. Atasan saya dong ya. Khehehehehe!” kekeh Artemis menggoda Contessa.
Contessa langsung merinding mendengarnya.