The Big Boss For A Countess

The Big Boss For A Countess
Pahlawan Kesiangan



"Pak, bantu amankan dia Pak," seru Contessa ke jajaran sekuriti di Lobby bawah,"


"Dia tawanan Artemis, Mbak. Kami tak berani," kata salah satu sekuriti.


"Hah?!" dengus Contessa kaget, "Kenapa nggak berani?! Tugas kalian kan mengamankan!"


"Kami dilarang ikut campur ke kegiatan yang dilakukan Artemis dan lainnya,"


"Karyawan macam apa kalian?!" seru Contessa semakin panik sambil menerobos sekuriti dan menghampiri si ODGJ.


"Mbak, jangan Mbak! Nanti malah jadi masalah!" Contessa dapat mendengar salah satu sekuriti berseru begitu. Tapi Contessa tidak mengindahkannya.


Di pikirannya hanya mencoba untuk berusaha membuat si tawanan tenang dulu, lalu membawa si ODGJ untuk ke kantor polisi dengan tenang atau mungkin dinas sosial.


"Pak," desis Contessa, "Tolong tenang dulu ya Pak,"


Tapi si ODGJ malah menjerit-jerit histeris. Lalu ia mengobrak-abrik semua furniture di Lobby.


Bahkan berlari ke sana kemari dan memukuli orang-orang yang menontonnya.


Pengunjung gedung tak ayal berlarian ke tempat aman, sebagian langsung menuju tangga darurat, menuju ke restoran di Lobby dan owner restoran sampai mengunci pintunya karena di ODGJ berusaha mendobrak pintu demi pintu restoran di sana.


Kejadian itu berlangsung selama satu jam lamanya.


Si ODGJ, entah dari mana kekuatannya, menghancurkan banyak barang.


Contessa yang berusaha menenangkan sangat kewalahan. Sampai akhirnya salah satu sekuriti tak tahan lagi dan berujar ke rekan-rekannya, "demi keselamatan kita, kita tunjukan saja pintu keluar!" serunya Ke teman-temannya.


Mereka berinisiatif untuk menggiring ODGJ itu keluar dari gedung agar polisi di jalan bisa mengamankannya. Yang penting pengunjung dan tenant yang kini terancam bagai disandera bisa bebas dulu dari ketakutan.


"WoyWoy! Tuh pintu keluarnya Mas!!" seru sekuriti sambil menunjuk-nunjuk pintu kaca besar di ujung.


"Anj**ng lo semua! Dasar setan!! Antek Damaskus!!" si ODGJ masih menjerit-jerit sambil melempari mereka dengan meja kopi.


Tapi berikutnya,


Si ODGJ pun melihat ke arah pintu keluar.


Ia pun berlari menuju ke sana.


Dan Akhirnya,


BRAKK!!


Si ODGJ terpental masuk lagi, sampai membentur dinding granit bagaikan sebuah kapas ditiup angin topan.


“KYAA!!” Contessa berteriak karena kaget dan ketakutan, menunduk sambil menutup kedua telinganya.


Sementara orang-orang di sekitarnya sebagian melakukan hal yang sama, menunduk dan sebagian lagi berteriak karena di hadapan mereka peristiwa mengerikan telah terjadi.


Dari kepala si ODGJ muncrat darah segar, dan tubuh itu pun lunglai terkapar di lantai.


Tangannya gemetar karena menahan sakit, dan matanya terbelalak karena kaget.


Mungkin dia juga tidak menyadari apa yang baru saja terjadi pada dirinya.


Dan dari arah pintu keluar, pintu yang tadi dicoba untuk dilalui si ODGJ, semua bisa melihat Artemis masuk dari sana.


“Mau lari ke mana, Bangsat?” desis Artemis ke arah ODGJ.


Di belakang Artemis, Damaskus dan cangklongnya, kacamata hitam dan gayanya yang sok, masuk ke gedung sambil membalik salah satu sofa yang terlungkup dengan sebelah tangannya dengan entengnya, lalu langsung duduk di sofa lobby gedung sambil melipat kakinya.


“Jangan tanggung-tanggung kalau mau nyiksa orang,” desisnya ke Artemis.


Contessa ternganga melihat tingkah Damaskus.


Gadis itu buru-buru berlari ke depan si ODGJ yang sudah tak berdaya dan merentangkan tangannya, “Tunggu! Tunggu! Semua bisa dibicarakan! Tidak harus sampai seperti ini kan Pak?!” serunya berusaha mencegah semua kemungkinan yang tidak diinginkan terjadi.


“Harusnya malah dari kemarin dia mati,” desis Damaskus.


“Bapak anggap apa nyawa manusia?!”


“Udah deh lo jangan jadi pahlawan kesiangan Neng,” desis Artemis sambil mencengkeram lengan Contessa dan menggiring gadis itu ke samping Damaskus.


Tapi Contessa dengan sigap menepis tangan Artemis dengan berlari ke arah belakang punggung pria itu, sehingga tangan Artemis terpuntir dan cengkeramannya melonggar. Dan saat Artemis reflek berbalik untuk menangkap tubuh mungil Contessa, gadis itu...


PLAKK!!


menampar Artemis sampai terbentuk guratan merah tanda cakaran di pipi pria penuh tindik dan Tatto itu.


Artemis memang tak bergeming, tapi kepalanya sempat tertoleh ke samping karena reflek menghindar, namun terlambat dan malah tertampar kuku runcing Contessa.


Kini ia terbelalak ke arah Contessa dengan pandangan tak percaya.


Tak percaya karena Contessa berani melakukan hal itu.


Cewek terakhir yang menamparnya berakhir di rumah sakit karena patah tulang.


Dan kini apa yang harus ia lakukan ke gadis mungil berjiwa raksasa di depannya ini?


“Huahahahaha!! Ditampar brooo? Tampar balik lah kalo berani!” seru Baron dan Griffin yang tertawa terbahak melihat adegan itu.


Sementara Damaskus dengan tenang menghisap tembakau dari cangklongnya dan tak bergeming.


Kesabaran seperti apa yang diperlihatkan Badboy pemilik Royal Enfield ini?


Boy?


Yah, usia Artemis bahkan masih 21 tahun saat ini. Ia lebih muda 2 tahun dari Contessa. Tapi karena tubuhnya yang tinggi dan pikirannya yang lebih dewasa dari cowok seusianya, bahkan kalau dibandingkan dengan Griffin yang sudah 30 tahun, Artemis masih tampak lebih dewasa. Namun kalau masalah emosi, seperti anak 21 tahun lainnya, ia lumayan labil.


Jadi, ia jambak rambut Conteesa dan ia tarik. Lalu ia lempar gadis itu sampai tersungkur di sebelah sofa Damaskus.


“Kucing peliharaan duduk manis aja di situ sambil jilat-jilat kaki Boss sana,” dengus Artemis.


Contessa terpekik tak percaya dengan perlakuan sangat kasar yang baru saja diterimanya.


Damaskus menghela nafas dan membantu Contessa yang masih shock untuk berdiri, lalu membopong Gadis itu dan berjalan ke arah Lift.


“Hey Anjing,” geram Damaskus ke Artemis, “Habis ini menghadap saya,”


Artemis meludah ke samping sebagai reaksi kesalnya kepada si Boss, lalu berdecak sambil menatap ke arah si ODGJ yang kini kedua tangannya disatukan memohon ampunan.


“Gara-gara lo nih,” desis Artemis sambil menunduk ke arah si ODGJ.


“Tem, jangan di sini, bisa diproses lagi kita,” desis Ivander sambil berjalan melalui Artemis dan menyusul Big Boss ke arah Lift.


“Bodo amat, siapa yang berani lapor?” desisnya sambil mengayunkan tongkat baseballnya ke arah kepala si ODGJ.


**


"Pelecehan anak kecil?!" seru Contessa saat ia mengkompres kepalanya dengan plastik gel dingin.


Bu Lily menghembuskan nafas sebagai reaksinya atas rasa prihatin.


"Ya, tawanan yang tadi kamu bebaskan dari samsak itu. Dia sudah melecehkan 5 anak-anak jalanan, satu diantaranya meninggal karena masih bayi, 6 bulan sudah di… Saya saja sampai nangis dengarnya," Desis Bu Lily sambil gemetaran.


"Orang yang berbahaya seperti itu... Kenapa ditawan di sini?! Harusnya diserahkan ke polisi saja!"


"Karena mereka… Apa yah istilahnya… Jadi penjara di negara ini sudah penuh, Tess. Orang seperti yang tadi itu hanya merugikan masyarakat, tapi di penjara pun bikin sesak. Orang-orang seperti Pak Dama dan Para asistennya itu dibayar untuk jadi pengeksekusi. Sebagai gantinya bisnis mereka dilancarkan. Kalau ada kesalahan, yang akan menanggung akibatnya ya Pak Dama, yang lain cuci tangan saja. Tapi paling viral-viralnya 3 bulanan setelah itu beritanya tenggelam. Pak Dama dan asistennya juga diberi kekebalan hukum apabila beritanya menyebar di masyarakat,"


"Astaga…" desis Contessa sambil tertegun, "Karena kita butuh sesama preman untuk mengeksekusi pelaku kriminal dari jalanan…"


"Betul, kalau kejahatannya seperti ini, ditangkap polisi pun mereka akan berulah lagi. Tak akan ada habisnya Tess. Termasuk… Perampok dan pencuri di area tambang, saking banyaknya,"


"Tapi tetap saja itu tidak benar, bu,"


"Hukum rimba berlaku di sini Tess, karena itu setiap pagi sebelum bekerja saya selalu berdoa sungguh-sungguh supaya tidak berurusan dengan hal-hal semacam itu. Biarlah itu jadi pekerjaan Artemis dan gengnya,"


"Jadi, yang merekrut mereka bukan Bu Lily?"


"Bukan, dari awal mereka itu orang-orangnya Pak Dama, tapi diperbantukan di kantor. Di rumah Pak Damaskus ada puluhan jumlahnya yang seperti itu,"


"Pak Damaskus itu… Mafia?"


Bu Lily tersenyum penuh arti, "Saya tidak akan menjawabnya, Tess. Kamu simpulkan saja sendiri," bahkan Bu Lily tidak berani berbicara.


Pantas tadi Artemis bilang kalau aku ini pahlawan kesiangan, begitu pikir Contessa merasa bersalah.


"Ah, Bu… satu lagi. Artemis itu apakah nama aslinya?"


Bu Lily menyeringai, "Bukanlah," jawabnya. "Masa ada cowok dikasih nama Artemis. Itu kan nama Dewi Kesuburan di Yunani,"


"Kenapa dia ambil nama Artemis?"


"Kalau tak salah dulu itu mereka cerita ke saya… Kalau Artemis itu diambil dari nama Almarhum ibunya. Nama ibunya Sri. Itu artinya Dewi Kesuburan di Jawa. Biar keren dia ambil nama Dewi Kesuburan di Yunani,"


"Hm, gitu ya,"


"Kalau Baron, dia itu sebenarnya keturunan keraton, tapi tingkahnya kayak kriminal. Baron itu kan panggilan untuk bangsawan Eropa,"


"Okeee masuk akal,"


"Kalau Griffin, dulu waktu dia kecil, kakeknya di desa memelihara burung elang dan kucing hutan. Tapi mati diracun orang. Griffin bilang dia sempat nangis meraung-raung waktu tahu binatang itu mati berbarengan. Untuk mengenangnya, dia ingin dipanggil Griffin. Makhluk mitologi yang tubuhnya dari singa, tapi kepalanya dari Rajawali,"


"Heh? Singa dan Rajawali versus Elang dan kucing hutan,"


"Yaaah beda tipis lah ya, walau pun sebenarnya nggak sejenis,"


"Kalau Ivander?"


"Itu nama belakangnya,"


"Owh,"


"Kamu cari aja di google, hacker dengan nama belakang Ivander. Ya itulah dia. Sempet viral kok waktu dia menyebarkan data rekening suap pejabat yang di Bank Swiss. Tadinya dia direkrut tim Siber, tapi dia resign dan akhirnya ikut Pak Dama,"


"Kenapa dia resign?"


"Katanya sih bosan,"


"Hah?! Bosan gimana?!"


"Lah mana saya tahu motifnya,"


Contessa dan Bu Lily kini sama-sama menghela nafas panjang.