
“Bikin onar teroooos!!” seru Artemis saat pria itu keluar dari dalam kelas dan meneriaki Contessa. Gadis itu hanya merengut, masih dengan laptop Ivander, duduk di lantai koridor kampus dan melirik ke atas melihat ke arah Artemis.
“Nggak sengaja,” desis Contessa masih menunduk, kembali fokus ke layar laptopnya.
Artemis duduk di sebelahnya sambil menegak air mineral, lalu menyulut rokoknya. “Mau pecah pala gue,” gerutunya sambil menyandarkan kepalanya ke dinding dan menengadah ke atas, “Akuntansi bukan bidang gue, tapi gue harus belajar itu. Paling nggak gue harus tahu dasar-dasarnya biar nggak dibilang ‘bego’ lagi sama Boss,”
“Hm, sebenarnya lo bisa ambil jurusan yang lain, kan masih ada Manajemen atau Hukum,”
“Boss pingin gue ambil jurusan yang belum dikuasai yang lain,”
“Yang lain tuh siapa?”
“Almamater Ivander tuh di teknik komputer, Griffin barusan ambil magister di Manajemen. Kalau Baron, turun temurun keluarganya pengacara. Sebelum ketangkep karena kasus pembunuhan dia ambil jurusan itu di Jerman,”
“Hah?” Contessa membesarkan matanya sambil memiringkan kepalanya, menatap Artemis lekat-lekat.
“Yang gue bisa cuma mukulin orang, provokasi, modal bacot. Lainnya gue kalah telak!” gerutu Artemis.
“Hah? Lo yakin mereka sehebat itu?!”
“Mereka bertiga lebih dulu ikut Boss, gue direkrut di saat-saat terakhir karena gue kenal Baron waktu di lapas. Baron bebas, dan ikut Boss kerja jadi tukang pukul soalnya dia udah nggak diakuin keluarganya, udah nggak bisa pulang kemana-mana lagi. Pas gue bebas, gue ikut Baron dan sampai sekarang jadi anak buah Boss Dama,”
“Si Baron... kasus pembunuhan?”
“Iya, katanya awalnya membela diri. Tapi malah keterusan. Dia kan kayak... apa ya istilahnya? Dari keluarga terpandang di Jawa Timur. Leluhurnya semacam tumenggung gitu, tauk ah gue nggak terlalu ngeh sama ceritanya. Tapi banyak yang nggak suka sama keluarganya, dan bapaknya si Baron tuh suatu saat diculik. Baron berusaha bebasin, akhirnya malah berakhir dengan dia dituduh membunuh satu keluarga. Keluarga penculik sih. Bapaknya selamat tapi mirisnya karena desakan publik, Baron akhirnya dikeluarkan dari trah keluarga,”
“Astaga... demi nama baik sampai begitu?”
“Iya, kalau keluarga turunan kerajaan kan nama baik segala-galanya. Lebih baik kehilangan nyawa. Tau gitu kan cuekin aja si bokap diculik, padahal si Baron tuh pewaris loh,”
“Sampai sekarang mereka nggak mau kenal Baron?!”
“Bapaknya masih sering hubungin Baron diem-diem tuh. Bagaimana pun Baron anaknya. Dan selama Baron masih hidup, warisan tetap akan jatuh ke tangannya walau pun dia sudah tidak diaku keluarga. Baron bisa diincar pembunuh, banyak petrus yang ngincar dia untuk harta. Makanya identitas, termasuk nama dan bahkan tanggal lahir, kami samarkan,”
“Makanya namanya ‘Baron’ ya... gelar bangsawan. Karena dia memang bangsawan Jawa,”
“Betul,”
“Dasar anaknya Buk Sri... bisa aja lo tukang JasJus,” goda Contessa.
“Hehe, sampai sekarang gue masih suka nangis kalo liat kemasan Jasjus. Ngingetin gue ke Ibuk,”
“Iya, Den... sabar. Kan sekarang udah ada Boss Dama,”
“Iya...”
“Dan gue, enaknya manggil lo tetap Dennis atau Artemis?”
“Artemis... Keberadaan gue juga bahaya kalo sampai diketahui,”
“Okeee Bang Temmy, wakakak!”
“Bisa aje lu Tessi! Kenapa juga lo kepikiran pake cincin batu akik bokap lo sih dulu?”
“Katanya itu batunya pembawa keberuntungan, gue pake biar nilai ujian gue bagus,”
“Konyol bener lo,”
“Batunya udah dipalak sama preman gentong,”
“Duitnya dah gue pake buat judi,”
“Emang dasar lo kelainan dari orok!”
Lalu mereka terdiam sambil terkekeh.
Contessa kembali fokus ke pekerjaannya dan Artemis mengistirahatkan otaknya untuk menghadapi ujian selanjutnya dengan merokok.
“Ngomong-ngomong Tem...” desis Contessa sambil mengernyit, “Gue belom kenal sebagian besar pejabat di Praba Grup. Induk Perusahaannya kan Arghading Corporation, terus anak usahanya selain Praba Adidaya, apa lagi ya? Yang harus gue fokusin tuh ke perusahaan yang mana?”
“Gue cuma tahu teknis, kalau mau versi lengkapnya ke Arini aje,”
“Gue agak males berhubungan dengan Arini. Dia suka congkak,”
“Masa sih? Di depan gue biasa aja,”
“Biasa gimana?!”
“Biasa centilnya. Sama kayak sebagian besar cewek di kantor, centil, Kecuali lo, sengak!”
“Dih... bukannya lo yang kampret duluan? Kenapa jadi gue yang senga’...” gerutu Contessa. Lalu gadis itu menepuk-nepuk dagunya dengan telunjuk sambil berpikir.
“Tem... lo mau lebih sering ketemu Ella nggak?”
“Gimana?”
“Hm... kalau lo bersedia kencan sama Arini sehariiii aja, nanti gue bantuin ketemu Ella lebih sering,”
“Heh?”
“Biar Arini seneng, terus bersedia bantuin gue buat masalah perusahaan. Gue butuh ajarannya terutama untuk administrasi,”
“Gue disuruh nge-date sama Arini? Ih, ogah ah! Cewek binal gitu, sekali tunjuk juga dia rela bug1l di depan gue. Pec** nggak menarik ah,”
“Ya udah, gue nggak jadi ngomporin Ella untuk mempromosikan kebaikan-kebaikan lo ah!”
“Bentaaaar bentaaaaar,” Artemis menarik lengan Contessa supaya gadis itu condong ke arahnya, “Maksud lo apa Tessiiiiii? Ada akal bulus apa lagi loooo?! Awas merugikan gue, yak! Gue gibas lo sampe bengkok!” tapi terlihat seulas senyum di bibir Artemis.
“Serem amat sih ngancemnya... udah deal yak! Okee!”
“Eh, bentar Suster Ngesot! Gue belom nge-deal apa-apa!”
“Udah aaaah, terima aje nasib lo ah! Yuk makan!” Contessa berdiri sambil menepuk-nepuk celananya dari debu.
Artemis menyusul Contessa dan merangkul bahu gadis itu, “Hubungan pertemanan kita sebatas Ella aja ya. Sampai gue nggak dapet tuh cewek, awas lo gue ceburin ke kolam cebong!” bisik Artemis sambil memeluk bahu Contessa dengan remasan penuh ancaman di lengan kurus gadis itu.
“Makan siang lo yang bayar,” bisik Contessa tak acuh. “Sebagai gantinya, gue ajarin teori dasar Manajemen Perbankan. Habis ini mau lanjut ujian itu kan?”
“Widiiih! Gitu dooong! Lo mau makan apa gue traktir! Mau makan temen? Mau makan angin?! Gue beliin!!” seru Artemis senang sambil mengacak-ngacak puncak kepala Contessa dengan lembut.
Tanpa mereka sadari, semua mahasiswa yang melihat, kini men-cap mereka sebagai ‘pasangan kekasih’.
“Artemis jalan sama cewek!”
“Siapa tuh cewek?!”
“Baru kali ini gue liat Artemis deket sama cewek! Kayaknya bukan anak kampus sini,”
“Mesra banget perlakuannya! Lo tahu kan Artemis itu cowok paling beringas sekampus! Katanya dia tukang pukul loh!”
“Eh! Eh! Tu cewek kan suka nonton bok3p loh!”
“Masa?! Lo tahu darimana?!”
“Tadi gue di koridor, pas dia buka laptopnya, yang muncul video biru lengkap dengan volume maksimal! Bekas semalem lupa ditutup kayaknya!”
“Cakep-cakep gitu penyuka bok3p?! Iiih amit-amit!’
“Mungkin itu yang bikin Artemis suka! Servisnya! Tahu sendiri tipe badboy kayak Artemis...”
Dan berbagai pergibahan miring mengenai mereka berdua mulai tersebar ke seantero kampus.
**
Sorenya, mereka akhirnya tiba di kantor dengan kondisi tampang Artemis sumringah karena ujian terakhir selesai dengan selamat berkat pencerahan dari Contessa.
“Gue percaya diri bakalan naik IPK gue semester ini!” setelah menutup pintu mobilnya, dengan ceria Artemis kembali merangkul bahu Contessa.
“Jangan takabur lo! Habis ini gue mau tahu segala hal mengenai Januar. Mana aja itu foto-fotonya bareng cewek lain!”
“Lo siapin mental aka nggak usah terlalu kaget! Masa lo nggak pernah ngeliat gelagat mencurigakan sih?”
“Ya banyak, Tem. Banyak... sampai gue nggak sampai hati bilangnya ke Ella. Gue sering nginep di tempatnya juga adalah karena lakinya jarang di rumah. Hitung-hitung gue bantuin dia ngurusin dua anaknya lah. Habisnya keliatan banget kan dia repot sama urusan rumah,” kata Contessa sambil menarik nafas dengan gugup. Dia memang sangat prihatin dengan keadaan sahabatnya itu.
“Sejujurnya ya, lo diem-diem aja,” Artemis mempererat pelukannya di leher Contessa dan berbisik, “Baru kali ini gue ngeliat Ella pake daster, dengan kondisi berantakan ala ibu-ibu rumah tangga baru selesai masak,”
“Lo jangan macem-macem Tem, kendalikan birahi lo,” gerutu Contessa sambil memicingkan mata menatap Artemis dengan waspada.
“Dia seksi banget anjir...” desis Artemis dengan suara pelan.
“Bego bener lo Gentong!”
“Gentongnya udah berubah jadi alas springbed! Wakakakak!” balas Artemis.
“Hah? Alas spingbed?”
“Iya, kotak-kotak. Bego lu!!”
“Kata novel sebelah, itu jagung afrika,” gumam Contessa sambil menyeringai.
Dan di saat yang berbarengan, Damaskus pun tiba.
Jeepnya terparkir di depan Lobby, dan tampak ia sudah berdiri di atas anak tangga dan memandangi Contessa dan Artemis dengan wajah masam. Kedua tangan kekarnya terlipat di depan dada dan cangklongnya mengeluarkan asap tebal ke atas. Tanda kalau ia sedang berada dalam suasana hati yang sedang tak menentu.
Di sebelahnya, tampak Baron tersenyum sinis ke arah Artemis, “Cari mati tu bocah! Bentar lagi babak belur ini sih...”