
“Boss,” Artemis menunduk sekilas untuk menyapa Damaskus sambil melepaskan rangkulannya dari Contessa .
“Gimana ujiannya? Bisa ngerjainnya?” tanya Damaskus masih dengan wajah masam.
“Yang pagi tak yakin, tapi yang sore lumayan gampang. Sudah dikasih privat sama Tessi, eh Contessa,” kata Artemis.
Damaskus mengernyit sambil memiringkan kepalanya menatap Artemis dan Contessa dengan lebih seksama, “Sudah akrab kalian,”
“Akrab apanya Boss?” Artemis balik bertanya.
“Pake rangkul-rangkulan segala,”
“Eh?” Artemis dan Contessa saling bertatapan. Seketika mereka sadar kalau Damaskus tidak menyukai tingkah mereka. “Em... Contessa ternyata teman saya sejak kecil,”
Alis Damaskus terangkat, “Masa?”
“Iya, kami kenal sejak kecil...” Artemis lalu menghentikan kalimatnya dan menunduk salah tingkah karena tatapan Damaskus menghujam sanubarinya.
"Sejak kapan? Sudah tahu dari awal atau baru tahu akhir-akhir ini? Kok tidak cerita?"
Artemis diam sejenak menelaah pertanyaan Bossnya itu. Ia bahkan menelan ludah karena tiba-tiba saja menjadi sangat gugup. Kekesalan Bossnya sangat terasa, menusuk sampai ke hatinya. Ia langsung menunduk untuk menghindari tatapan Bossnya.
Salah apa lagi gue? Pertanyaan itu berkecamuk di pikirannya.
Damaskus sering marah, sering teriak, sering ngamuk, tapi ternyata semua itu masih lebih baik daripada saat ini. Saat pria besar itu memendam kekesalan dalam ketenangan, jauh lebih mengerikan. Artemis merasa bagai diincar macan lapar, yang memergokinya telanjang bulat tanpa pakaian di tengah hutan. Astaga, begitu mencekamnya suasana! Begitu pikir pria muda bertato itu.
"Baru tahu tadi pagi… Waktu jemput Contessa di rumah temannya. Temannya satu gang dengan rumah ibu saya waktu saya kecil," gumam Artemis pelan sambil menatap lantai.
Dia bahkan tidak berani menapak anak tangga.
"Boss? Kok urusannya cepat? Akhirnya jadi ke Eterny minggu depan?" dengan polosnya Contessa bertanya ke si Boss yang masih memandangi Artemis dengan mata mengernyit.
"Jadi," jawaban singkat Damaskus. Tanpa berbicara lagi, pria itu naik tangga dan memasuki lobby.
Di belakang, Baron mengikutinya sambil menggelengkan kepala menatap Artemis. "Salut gue sama kebegoan lo," desis Baron.
Mata Artemis membulat menanggapi Baron. Mereka semua tahu kalau ketertarikan Damaskus terhadap Contessa sangat besar, tapi masa sampai berlebihan seperti ini?! Walau pun Damaskus sering bilang kalau Contessa 'miliknya' tapi pada dasarnya tidak ada ikatan apa pun yang terjalin di antara mereka.
Apalagi perasaan Artemis terhadap Contessa hanya sejauh teman kecil.
"Gue ngapain? Salah apa?" Artemis menyejajarkan langkahnya ke dekat Baron dan berbisik sambil mengikuti Bossnya. Contessa berjalan di belakang mereka.
"Dari tadi Boss tuh sensitif banget, badmood abis, bro! Lo tambah-tambahin lagi pake meluk-meluk ceweknya. Pamali tingkat tinggi itu sih!!" Baron berbisik dengan suara rendah tapi nadanya sarkas.
" 'Ceweknya' gimana maksudnya? Memang dia ngomong tentang hubungan resminya sama Contessa?! Tu cewek aja planga plongo kalo ditanya tentang si Boss,"
"Errgh! Peka dong Boi ! Hoy!" Baron menoyor dahi Artemis, "Kita semua tahu kalau Boss suka sama Contessa ! Cuma dia nggak bisa langsung ngedeket aja! Ungkapan : Jangan Sentuh Cewek Gue, itu udah tertulis di jidatnya Boss. Itu udah peraturan tak tertulis!"
Artemis diam sesaat, dan akhirnya dengan wajah pucat dia berujar, "Gue harus gimana?" sepertinya dia sudah tahu salahnya di mana.
"Berdoa!" sungut Baron sambil mempercepat langkahnya mengejar Damaskus.
"Ih jalannya kenapa pada cepet-cepet sih? Saya nyusul aja lah belakangan, capek…" kata Contessa sambil merengut dan berhenti.
“Tess! Contessa!” Tapi Contessa mendengar suara seorang wanita memanggilnya. Ia menoleh dan melihat Arini melambaikan tangan padanya. Wanita dengan gaya selangit itu sedang nongkrong di salah satu cafe di lobby gedung bersama teman-temannya.
Arini melambaikan tangan ke arah Contessa, memintanya untuk bergabung. Namun Contessa melihat teman-teman Arini menatapnya dengan sinis dan malas-malasan. Contessa tahu ia tidak diinginkan berada di sana. Namun gadis itu berkepentingan ke Arini.
Jadi Contessa melenggangkan kakinya ke arah cafe, berencana untuk mendekati Arini untuk belajar mengenai kegiatan sekretarisnya, termasuk metode data entry di perusahaan itu dan dunia gosip-gosip. Sebagai gantinya, seperti yang sudah disepakati dengan Artemis, imbalan untuk Arini adalah berkencan dengan cowok fakboi itu.
“Mauuuu!!!” jerit Arini kesenangan.
Dan akhirnya, Contessa menunda perjalanannya ke lantai atas, tanpa ia tahu kalau di ruang Presdir, tepatnya di ruangan Sekretaris, telah terjadi keributan.
**
“OHOK! OHOKK!” Artemis terjatuh ke lantai yang sudah retak karena bantingan tubuhnya. Damaskus menjatuhkannya dengan beberapa kali pukulan, dan pria besar itu bahkan dengan mudah membuat Artemis tak berdaya.
Darah keluar dari mulut Artemis, tulang hidungnya retak, dan beberapa bagian rusuknya terasa nyeri. Artemis terbatuk mengeluarkan darah yang menyangkut di tenggorokannya, dadanya terasa sangat sesak dan pandangan matanya berkunang-kunang.
Tapi dia masih sempat berpikir, bagaimana bisa Damaskus di usianya yang sudah senja, memiliki kekuatan sebesar itu? Ya kalau ukuran tubuh memang Artemis kalah jauh, tapi kan seharusnya kalau soal kondisi prima, Artemis lebih handal karena ia berlatih setiap hari.
“Ugh...” erang Artemis kesakitan. Ia bahkan tidak sempat melawan, menangkis pun tidak.
“Boss, tolonglah...” keluh Baron yang menonton kejadian itu dengan tegang. Ia berniat membantu Artemis tapi ia menunggu saat yang tepat. Bagaimana pun melawan Damaskus adalah tindakan bodoh. Maju mundur kena istilahnya.
“Sebentar, saya belum puas,” desis Damaskus dengan nada tenang. Ia berjalan mengitari Artemis sambil menyulut rokoknya.
Damaskus sebenarnya lebih suka tembakau asli yang dibakar lewat cangklong. Tapi saat itu pikirannya sedang kacau. Rokok filter yang nyaman digenggam lebih pas untuknya saat ini. Tapi tetap saja ia termasuk pemilih kalau urusan itu, Treasurer Aluminium Gold dengan lapisan foil berwarna emas yang mewah menjadi pilihannya .Jenis yang kalau sampai bisa masuk ke Indonesia, Bea Cukai akan kebanjiran cuan.
“Ini salahnya,” gumam Damaskus lagi.
“Contessa teman masa kecilnya Boss, dan mereka baru bertemu kembali dengan kondisi sebelumnya tak sadar kalau pernah mengenal. Mungkin saja itu memang hal yang biasa bagi mereka dulu,” kata Baron berusaha membela Artemis.
“Jangan bodohi saya,” gumam Damaskus, “Si Curut ini dulunya preman, mana dia punya teman?!”
Benar juga sih ucapan Bossnya.
“Pembelaan kamu apa Dennis?” Damaskus menunduk sambil merendahkan suaranya. Ia memanggil Artemis dengan nama kecilnya. “Saya kasih kesempatan sebentar sebelum kamu saya bikin lumpuh tak bisa bergerak, bahkan tidak bisa bicara lagi,”
Tapi Artemis hanya mengeluh karena belum bisa menguasai dirinya.
“Waktu habis,” desis Damaskus sambil menarik katana di meja Ivander dari sarungnya.
“Boss,” Baron akhirnya mengambil senjata laras panjang dari meja di sebelahnya untuk berjaga-jaga. Kalau Damaksus macam-macam, ia akan menarik pelatuk untuk melumpuhkan pria itu, “Ayolah Boss, sabar sedikit,” Baron mencoba bersabar sambil mengokang senjatanya untuk mengancam Damaskus.
“Sudah berani kamu?” tantang Damaskus ke Baron.
“Cinta ke seorang wanita tidak sebanding dengan nyawa seseorang. Belum tentu juga Contessa menyukai kondisi yang terjadi saat ia tahu yang sebenarnya terjadi,”
“Ya jangan ngomong-ngomong, bilang saja si Dennis jatuh dari atap,” Damaskus memutar Katana-nya dan menyampirkan di bahunya. Lalu kembali menunduk untuk berbisik ke Artemis, “Saya sudah bilang kalau ‘dia’ punya saya. Apa yang membuat kamu berpikir kalau kamu boleh menyentuhnya? Dasar bodoh...”
BRAKK!! terdengar pintu ruang sekretaris dibuka paksa. Dengan panik Contessa menghambur masuk ke dalam. Rupanya gadis itu mendengar ribut-ribut dari luar dan situasinya lumayan serius.
“Boss!! Ya Ampun Boss!!” terdengar jeritan histeris Contessa. Gadis itu berusaha menggapai Artemis.
“Kamu mendekat dia mati,” ujar Damaskus sambil menegakkan tubuhnya dan menatap Contessa.
“Memang apa masalahnya sampai mudah sekali membunuh manusia?! Dasar gila kamu!!” jerit Contessa.
“Ini jadi pertama kalinya saya membunuh orang dengan tangan saya sendiri, loh,”
“Ya jangan sebrengsek itu!!” seru Contessa lagi.
“Kamu ada hubungan apa dengannya?” Damaskus malah bertanya begitu ke Contessa. Gadis itu sampai melongo mendengar kalimatnya dialihkan dengan mudah.
“Kami teman kecil! Kan tadi sudah dibilang!!” seru Gadis itu.
“Pernah ada masalah hati?”
“Hati?” Contessa bingung, “Maksudnya hati tuh apa, Pak?! Cinta-cintaan gitu? Ya ampun Pak, kita temenan pas masih SD! Mana ada gitu-gituan!! Yang ada dia suka malakin saya!!”
Damaskus menatap Contessa sambil mengangkat alisnya. “Alasan konyol,” desisnya. Dan ia pun mengangkat katana-nya ke atas.
Apa kira-kira yang bisa menghentikan Damaskus?! Jelas tidak mungkin kalau Contessa menghalanginya dengan tubuh kurusnya, bisa-bisa ia ikut tertebas juga!
Di situasi begitu hanya ada satu hal yang bisa terlintas dibenak Contessa.
Tanpa pikir panjang, Contessa maju menghalangi Damaskus, melingkarkan kedua lengannya yang kurus ke leher pria besar itu.
Lalu mencium bibirnya.
Hanya menempel beberapa saat, namun hal itu cukup membuat Damaskus membeku. Dan menjatuhkan Katana-nya ke lantai.
“Widih...” gumam Baron sambil kembali mengunci senapannya. Situasi yang tidak akan disia-siakannya, ia langsung menarik Artemis yang hampir pingsan ke luar ruangan.
Damaskus bisa jadi tahu perbuatan Baron, tapi ia sibuk dengan Contessa.
Dan reaksi yang diberikan Damaskus berbeda. Ya, dia memang berhenti memukuli Artemis.
Contessa kira Damaskus akan balas menciumnya. Tapi saat gadis itu melepaskan bibirnya, yang ada hanya tatapan memicing terlihat curiga, dari Damaskus.
Damaskus berkacak pinggang dan tidak balas memeluk Contessa, ia malah merasa jengkel dengan gadis itu. "Sampai sebegitu kamu membela Artemis? Sejauh apa hubungan kalian sebenarnya?"
Contessa terdiam.
Sekali lagi ia merasa direndahkan.
Lagi-lagi, oleh orang yang sama, ia dianggap menjual diri.
"Tidak boleh ada nyawa melayang karena kecerobohan saya lagi. Cukup satu saja yang kemarin," desis Contessa sambil menatap tajam Damaskus.
Seketika ia membenci pria ini.
Ia melirik ke belakang, Baron dan Artemis sudah tak ada, semua sudah keluar dari ruangan. Mungkin Baron langsung menyeret Artemis keluar saat ada kesempatan. Bbegitu pikir Contessa.
Lalu Contessa melepaskan pelukannya ke pria besar itu dan menghela nafas panjang. "Maaf kalau saya lancang, tapi saya tak bisa terpikir cara apa pun yang bisa dilakukan untuk menghentikan bapak," kata Contessa sambil merapikan rambutnya.
"Hanya tadi yang terpikir… Karena bapak sudah pernah mencoba untuk-" tenggorokan Contessa terasa tercekat. Gadis itu mau mengucapkan kalimat 'pernah mencoba untuk mencium saya tadi pagi' namun rasanya tidak bisa. Rasa malunya jauh lebih besar untuk bisa mengucapkan kalimat itu.
"Hm," hanya gumaman itu yang diucapkan Damaskus. Setelah itu tidak ada perbincangan apa pun.
Hening selama beberapa saat.
Sampai Contessa salah tingkah sendiri karena Damaskus hanya terpaku di tempatnya berdiri tadi. Tatapan pria itu kepadanya tidak dapat ditebak.
Akhirnya karena Contessa merasa jengah, ia pun tanpa kata-kata pergi dari ruangan itu.
Meninggalkan Damaskus sendirian dalam diamnya.