
“Kita mau ke mana, bu Arini?” tanya Artemis berusaha sopan.
“Ke mana saja yang kamu mau,”
“Ke mana saja yang aku mau,” ulang Artemis sambil berusaha duduk dengan lebih santai. “Kalau aku ke S pa plus kamu ikut juga?!”
“Kan kubilang ke mana saja asal sama kamu,” jawaban Arini masih sama.
Artemis menatap jam digital di dashboard mobilnya, pukul 9.45 pagi. Lalu dengan sinis ia melihat ke arah penampilan Arini. Seperti biasa wanita itu berpakaian sangat seksi untuk menarik perhatian cowok badboy ini, tapi sayangnya Artemis sudah terlalu terbiasa melihat penampilan semacam itu. Jadi si cowok badboy terus terang saja tidak terlalu antusias menanggapi.
Seperti niatnya dari awal, adalah membuat Arini mundur dengan merasa ilfeel ke Artemis.
Kira-kira, kegiatan seperti apa yang membuat Arini langsung down?
“Hm... Ke Masjid aja gimana? Sholat Dhuha,”
Senyum Arini menghilang, lalu ia menunduk untuk melihat penampilannya. Dress lengan buntung dengan belahan ke mana-mana. Roknya mini pula.
Lagi pula kalau di masjid mana bisa ia dekat-dekat Artemis.
“Anuuuu...”
Artemis diam menunggu jawabannya sambil membelokkan mobil ke daerah Sunter.
“Sebelum ke Masjid bagaimana kalau aku beli pakaian yang lebih sopan dulu? Di sana ada pasar pagi, aku beli gamis dulu,”
Artemis mengernyit sambil menatap Arini yang masih menatapnya dengan polos. Tapi dia mulai merasa perbincangan ini menarik, jadi ia benar-benar membelokkan mobilnya ke arah Pasar Sunter.
Untungnya tanpa turun dari mobil, di pinggir jalan ada yang menjual baju muslim, dengan cepat Arini memilih salah satunya dari jendelanya yang terbuka, membayarnya, lalu berujar “Yuk, di dekat sini ada Masjid Ramli Musofa. Bagus banget loh masjidnya!” kata Arini ceria.
Sekarang gantian Artemis yang membeku.
Bagaimana ini... batinnya.
Gimana nih?
Gimana? Gimana? Gimana?!
Gerakan sholat yang gue hafal cuma sholat jenazah itu pun karena sering bantuin Baron nguburin mayat!
Kalau sholat lain rukunya berapa? Sujudnya berapa? Tunggu, tunggu, si Baron tuh kalo sholat Duha rakaatnya berapa yak? Kadang dua kadang empat katanya. Nah sekarang gue pake yang mana?
Terus bacaannya apa’an ya? Niat solat Dhuha tuh apa sih?! Bacaan tahiyat aja gue nggak hafal! Mampus dah guaaaa!
Begitu isi hati Artemis.
“Yuk?” tanya Arini.
“Jadi kita berjamaah nih?” tanya Artemis sambil tetap berpikir keras.
Arini mengernyit, “Solat Dhuha kan solat sunnah, lazimnya sih dilakukan sendiri-sendiri,”
Artemis diam sambil membatin bilang : sialan, kena gue!
Tapi karena tidak ingin malu akhirnya dia bilang, “Kamu tahu juga gitu-gituan,”
“Walau pun aku begini tapi yang gitu-gituan aku concern,”
“Oh, dulu anak pesantren kayaknya kamu,”
“Eh? Kok tahu?”
“Hah?”
“Aku pernah di pesantren waktu SMP, tapi aku sering kabur, pulang,”
“Hah?”
“Teruuus, akhirnya aku dikeluarin dari sana soalnya aku ketahuan pacaran sama anak kampung sebelah,”
Artemis hanya mengernyit sambil menggaruk belakang kepalanya. Entah lah mau menanggapi seperti apa situasi semacam ini.
Dan setelah mereka tiba di Masjid dengan bangunan besar, mewah dan serba putih itu, Arini melapis baju seksinya dengan baju muslim, lalu mengenakan hijabnya.
Artemis menatapnya dengan lekat-lekat.
Saking seriusnya dia memandang Arini, sampai-sampai wanita itu salah tingkah. “Tem? Temmy?” panggilnya
“Hah?” Artemis tersadar karena teguran Arini.
“Nggak cocok ya?” tanya Arini ragu.
Dalam hati dia bilang, ‘Kenapa ni cewek berubah drastis jadi cantik jelita begini?!’ pikirnya bingung.
Tapi dia berjaga-jaga agar kalimat itu tidak keluar dari bibirnya dan berusaha pasang tampang sedatar mungkin.
Tapi yang terdengar dari mulutnya malah, “Bagusan begini daripada terbuka ngumbar-ngumbar body kayak murah,”
Arini terdiam sesaat lalu tersenyum masam. “Oooh, gitu?” begitu katanya. Membuat Artemis menipiskan bibirnya karena ia sendiri tidak terlalu mengerti apa kata-kata yang dikeluarkan oleh bibirnya. Semua terucapkan secara otomatis.
“Ya udah, Yuk?” ajak Arini sambil mulai berjalan ke area Akhwat. Sementara Artemis mengikutinya dari belakang. Dan setelah Arini menghilang ke balik pintu area berwudhu, Artemis... menyelinap ke halaman belakang masjid dan merokok di sana.
Sambil memikirkan, apa yang ia sedang lakukan di sana.
**
Contessa terbangun dengan kaget di kamarnya.
Ia menoleh ke kanan dan ke kiri.
Hanya satu yang dicarinya namun tak ada di mana-mana.
Bagaimana mungkin tubuh tinggi besar bagai raksasa tidak terlihat di mana pun?! Begitu pikirnya.
Gadis itu melihat ke dalam kamar mandinya, kosong juga.
Lalu ia pun memutuskan untuk memeriksa keluar kamar setelah mengenakan pakaian selayaknya.
Ia toleh ke kanan dan kiri, sayup-sayup ia mendengar suara anak-anak.
Mimpikah ia? Atau itu suara anak tetangga?
Lalu ia mendengar suara tawa Adiwilaga yang renyah.
Dan juga suara ...
“Ella?” gumam Contessa sambil mengernyit merasa aneh.
Contessa berjalan dengan ragu, dan tibalah ia di ruang keluarga.
Benar saja di sana ada Adi yang sedang menggendong Isa, Anak bungsu Ella, sambil menerbangkan pesawat kertas.
Isa tampak antusias dan melonjak-lonjak di gendongan Adi, namun pesawat itu terbang ke arah Contessa dan akhirnya terantuk dahi gadis itu.
“Eh, Sang Putri sudah bangun,” sindir Adi.
“Ayah, Good Morning Selamat Pagi, Nasi kuning Suguhan Kopi,” gerutu Contessa sambil mengelus dahinya dan mengambil pesat kertas itu.
“Tuh kopi di meja, Ella yang bikinin,” sahut Adi.
“Dan kenapa ada Ella di sini?” tanya Contessa sambil berjalan ke arah meja makan sambil matanya tak lepas menatap Ella yang hanya mesem-mesem menanggapinya.
“Sebelumnya, menurut hierarki di rumah ini, seharusnya ayah dulu yang berhak bertanya, apa yang Pak Damaskus lakukan pagi-pagi di kamar kamu?” tanya Adiwilaga sambil tetap santai menerbangkan pesawat kertas.
Isa tampak senang dan berusaha turun dari gendongan Adi lalu berlari mengejar pesawat kertas itu.
Dan saat itu Contessa menyadari satu hal, “Isa giginya kenapa? Kok miring?” tanyanya sambil mengernyit. Ia pancing anak itu dengan pesawat kertas, dan otomatis Isa berlari ke arahnya. Lalu Contessa menggendong Isa dan memeriksa isi mulutnya, “Astaga... giginya patah? Isa kenapa sayang? Jatoh ya??”
Saking dekatnya Contessa dengan Ella, ia sampai tahu apa yang terjadi dengan Isa. Padahal kalau dilihat sekilas sudah pasti luka di gigi anak usia 18 bulan itu tak mungkin bisa terlihat.
Lalu Ibra pun berjalan ke arahnya tertatih-tatih sambil memamerkan mobil-mobilan barunya, “Liat, liat tante... baru nih baru!” seru Ibra ceria.
“Ibra kenapa? Kok jalannya pincang? Jatohnya bareng atau gimana, sayang?” tanya Contessa.
“Hum... kaka jatoh,” kata anak yang kosakatanya masih minim itu, “Pukul ayah...”
“Ha?”
“Itu, ibu,” kata Ibra sambil menunjuk Ella.
Contessa memandang Ella. Lalu Ella tersenyum tipis padanya. Saat itu Contessa menyadari, kalau Ella yang duduk di sebelah Adiwilaga, dalam kondisi tidak baik-baik saja. Ia duduk membelakangi matahari, jadi pantulan sinar tidak cukup menerpa wajahnya. Jadi, tadinya Contessa tidak menyadari ada yang berbeda di wajah Ella.
“Ella...? muka lo kenapa?”
“Lo tuh... harusnya lo sadar duluan kalau muka gue begini, jelas-jelas tandanya lebih kelihatan dibanding punya Isa,” kata Ella sambil terkekeh. Namun hal itu sudah bisa diprediksi Ella, karena memang Contessa sayang sekali ke kedua anak itu.
“Ini bukan waktunya bercanda, Ella, lo kenapa?!”
**