The Big Boss For A Countess

The Big Boss For A Countess
Kesengsaraan Ella



Ipda Fauz mengernyitkan kening saat melihat luka yang diderita si sulung, anak pertama Ella itu masih berusia 5 tahun, namun memar keunguan yang dideritanya bisa lebih dari satu. Selain di pinggangnya, ada juga di punggung dan paha bagaikan didorong dan terbentur sesuatu atau bahkan dilempari sesuatu yang besar yang tidak dapat ditahan tubuh mungilnya.


“Hasil pemeriksaan kesehatannya baru hasil sementara, Pak,” kata Adiwilaga sambil menggendong si bungsu yang usianya 18 bulan. “Kami kemari untuk melapor dan meminta pengajuan Visum agar lebih mudah nanti diproses dokter,”


Sebagai anggota kepolisian dengan masa lalau kelam, Ipda Fauz sangat mengerti luka seperti apa yang diderita mereka. Kasus kekerasan dalam rumah tangga yang sudah diyakininya melanda wanita berwajah cantik yang duduk di depannya. Miris rasanya saat orang-orang tak berdaya malah menjadi korban kekerasan dari orang yang dipercaya menjadi pelindung mereka.


“Bapak ini siapa? Tanya Ipda Fauz.


“Saya teman keluarga ini. Ella datang ke rumah saya, niatnya mencari anak saya tapi dia belum pulang,” kata Adiwilaga.


Ipda Fauz memperhatikan si bungsu yang digendong Adi. Anak itu tertidur dengan suksesnya di gendongan. Suatu hal yang menurut Ipda Fauz aneh karena jarang ditemui. Umumnya anak usia segitu anti orang asing, atau seseorang yang menurutnya jarang bertemu. Mereka belum mampu mengingat wajah seseorang, jadi biasanya mereka kalem hanya saat digendong ibunya.


Tapi si bungsu tidur sampai mulutnya ternganga, jadi Pria tinggi di depannya ini pasti sudah sangat akrab dengan keluarga ini.


Tapi... Ipda Fauz seperti pernah melihat wajah Pria tinggi di depannya ini.


Wajah setampan ini sangat familiar di matanya.


“Bu... Ella?” panggil Ipda Fauz.


“Ya Pak?” suara bening Ella yang lembut membuat Ipda Fauz semakin merasa sedih. Bagaimana mungkin ada yang bisa menyakitit bidadari seindah ini? Memang apa yang dia lakukan sampai pantas dipukuli?


Sebaiknya aku percepat saja prosesnya karena mereka segera butuh perawatan. “Saya akan mengajukan surat permohonan Visum ke rumah sakit, dan karena kalian sudah lebih dulu ke sana, diharapkan prosesnya akan lebih singkat. Sudah dicek semuanya oleh dokter kan ya bu?”


“Sudah Pak, sampai CT Scan segala,” kata Ella.


Adiwilaga menyerahkan ponselnya yang berisi foto-foto detail luka di tubuh mereka bertiga.


“SI bungsu sampai patah ya giginya, padahal baru tumbuh,” Ipda Fauz sebenarnya bergumam sendiri. Sebagai polisi seharusnya dia tidak boleh bersimpati terhadap siapa pun, tapi kejadian ini mengiris hatinya.


“Saya dilempar ke lemari saat saya sedang menggendongnya, dia ikut terbentur bersama saya. Posisi seperti itu membuat saya limbung dan tak sempat memikirkan banyak hal untuk melindunginya,” kata Ella.


“Karena melihat Isa berdarah, saya tahu itu saatnya saya lari. Jadi setelah berhasil bangun, saya tarik Ibra dan saya langsung lari menggendong keduanya keluar dari rumah. Yang terpikir di benak saya hanya rumah Contessa,” gumam Ella.


“Contessa?”


“Anak saya, Pak. Mereka bersahabat sejak kecil,” kata Adiwilaga.


Ipda Fauz menelan ludahnya tanda kegeramannya. Untung saja bidadari ini masih memiliki kemampuan untuk lari. Entah apa jadinya kalau sampai terlambat.


Lalu ia bersiap mengetik kronologi, “Ceritakan semuanya, alat rekam akan aktif dalam 3 detik,”


**


Contessa duduk di kursi penumpang di sebelah Damaskus yang menyetir dengan gaya santai. Mereka duduk dalam mobil besar, sejenis Jeep, dengan eksterior merah yang tampak gahar. Dikala hampir semua mobil di kota memesan warna mobil putih dan abu, Damaskus malah memesan mobil dengan cat merah mentereng.


“Pak?” Contessa menoleh ke samping. Ia baru kali ini semobil berdua saja dengan Damaskus. Walau pun mobil ini luas tapi terasa sempit. Dan aura dominasinya lumayan kuat menghujam-hujam supaya Contessa semakin melipir ke samping pintu.


“Kok nggak beli Rubicon aja pak kayak pejabat-pejabat kaya itu?” tanya Contessa.


Damaskus meliriknya sekilas lalu terkekeh meremehkan.


“Mereka tidak tahu apa yang mereka beli, dengan cara apa mereka harus menghabiskan uangnya. Asal mahal mereka beli, padahal bukan pada tempatnya,” desis Damaskus.


“Bagaimana Pak?” Contessa lagi-lagi tak mengerti.


“Rubicon itu diciptakan dengan konsep beralih mode fungsi dari penggunaan aktivitas sehari-hari di perkotaan ke mode adventure. Mobil itu bahkan diklaim mampu digunakan saat berkendara di atas medan dengan traksi minimum, seperti kerikil, pasir, salju, dan es. Kecuali kita tinggal di Lampung atau Papua, jenis yang begitu nggak akan saya bawa jalan-jalan di tengah kota seperti ini, apalagi ke Mall,”


“Mobil bapak yang ini juga besar,”


“Kamu ini jangan nilai dari chasingnya, Tess. Mobil yang saya gunakan ini diciptakan untuk konsep sebaliknya dari Rubicon. Cherokee sejatinya adalah mobil offroad. Namun mobil ini mengusung konsep yang dapat beralih fungsi dari mode trek offroad ke stylish ala perkotaan. Kelihatan bedanya?”


“Hem... memang tampilan Rubicon itu macam orang dari gunung turun ke kota sih pak. Kalau di jalan seperti mengancam mobil-mobil kecil untuk ‘minggir lo gue mau lewat’. Kalau Cherokee yang bapak pakai ini tipe yang orang kota mau iseng ke puncak sambil bilang ‘misi mas saya numpang lewat yaaa, badan saya gede nih, awas kesenggol’,”


“HAHAHAHAHAHAH!!” tawa Damaskus menggelegar ke seluruh ruang mobil. “Lucu kamu,”


“Bapak udah bilang saya lucu 2 x pak,”


“Ya memang kamu sekonyol itu,”


“Kesombongan seseorang bisa dilihat dari barang yang dibelinya sih,” gumam Contessa pelan.


Tapi Damaskus masih bisa mendengarnya.


“Jadi kamu memuji saya nih?”


“Saya sedang mengejek orang lain kok,”


“Ngejek orang lain tapi muji saya,”


“Itu hanya sekedar teori tidak berdasar cewek innocent kok,”


Sekali lagi Damaskus terbahak.


Di matanya Contessa begitu menyenangkan.


Cherokee merah itu berbelok ke arah area SCBD, dan memasuki area salah satu landmark besar.


“Kita makan saja kan Pak di sini? Setelah itu bapak janji mau antar saya pulang ya,” kata Contessa sambil memeriksa dandanannya di kaca kecil yang ia keluarkan dari dalam tasnya.


“Pulangnya mau kemana? Ke rumah saya atau ke rumah Adi?” goda Damaskus


Contessa mendengus, “Tau gitu saya nekat nyicil rumah aja pake pinjaman kantor, biar bisa bilang ‘rumah saya’,”


“Ngapain kamu beli rumah sendiri,”


“Kalau bapak ditangkap KPK setidaknya kita masih punya rumah. Yaitu rumah saya,”


“Kamu telat, saya udah pernah ditangkap,”


Contessa menarik nafas untuk menahan emosinya lalu ia menyibakkan rambut panjangnya ke punggung.


“Kamu... pakai parfum apa sih?” tanya Damaskus.


“Eneg ya pak wanginya?” Contessa menatap Damaskus dengan mata bulatnya yang bersinar khawatir.


“Malah sebaliknya, beda dari wangi parfum wanita kebanyakan,”


“Ini saya beli di minimarket sejuta umat, cuma 30ribuan loh. Tipe kulit saya ini yang pakai sabun warung aja wanginya tahan lama seharian. Ayah saya saja suka curiga dikiranya saya terjun ke dalam mesin cuci, sekalian nyuci baju sekalian mandi.”


“Waaah, ternyata memang kamu cantiknya dari dalam ya.” Sahut Damaskus sambil menyeringai. “Sepertinya kamu lumayan akrab dengan Adiwilaga,”


Topik lain yang bernada sarkas.


“Bapak ini salah sangka, seperti kebanyakan orang lain. Seperti di dunia ini tidak ada lelaki lain saja,” balas Contessa mulai kesal.


“Hm, begitu ya? Jadi saya harus senang atau tidak?” desis Damaskus.


“Tidak keduanya,” gumam Contessa.


“Mereka yang berusaha menggoda hubungan saya dengan ayah tiri saya, atau menjodoh-jodohkan saya dengan laki-laki lain,  tidak tahu kalau sejak dua tahun yang lalu hati saya terus menerus mengkhianati logika saya dengan menunjukkan reaksi berbeda saat saya mengingat laki-laki yang merebut keperawanan saya,”


Mendengar itu, Damaskus terdiam.


Lalu ia menghentikan mobilnya di sekitar area pejalan kaki, 100 meter dari lobby gedung mall mewah di depan mereka.


Tangannya menarik leher Contessa dengan lembut, lalu mencium bibir gadis itu.


Sesapan yang ringan, hanya karena ia merasa kalau Contessa begitu manis.


Dan gadis itu memang terasa manis.


“Selesai makan, kamu pulang ke tempat saya. Ya?” itu bukan pertanyaan, itu sebuah perintah.


Mobil berhenti di lobby gedung, di area valet, dan seorang petugas membukakan pintu untuk Contessa.


Masih dengan tangan gemetar dan jantung berderu kencang, Contessa keluar dari mobil itu dan melangkahkan kaki menaiki lobby gedung. Damaskus di belakangnya, meraih pinggang mungilnya dan menuntunnya berjalan.