
Malam itu Damaskus berjalan masuk ke dalam ruangan kantornya sambil melonggarkan kancing bagian atas kemejanya.
Udara AC sangat dingin, seperti layaknya gedung perkantoran mewah. Sentral dipasang maksimal untuk menjaga suhu mesin-mesin komputer tetap stabil, namun mereka lupa mempertimbangkan kalau manusia lebih nyaman menghadapi suhu yang hangat.
Namun pria besar hampir 2 meter itu malah merasa kepanasan.
Di usianya yang senja seharusnya dia bermalas-malasan di rumah dengan teh dan bubur kacang ijo. Mungkin ditemani beberapa Sugar Baby yang membantunya menghabiskan uang.
Tapi Damaskus adalah seorang pekerja keras dengan emosi yang labil. Puber keduanya malah membuatnya tersiksa. Ia harus bekerja atau pikirannya bisa kemana-mana.
Pria itu melepas vestnya, lalu kancing kemejanya. Berniat untuk mengganti bajunya dengan bahan yang lebih lembut.
Namun di situ ia melihat dompet wanita. Tergeletak di atas meja kerjanya.
"Si ceroboh," desis Damaskus sambil mengangkat benda pink itu dan membuka resletingnya. Ada beberapa lembar uang lima ribuan dan beberapa kartu.
Damaskus mengernyit.
"Duitnya cuma dua puluh lima ribu?" ia membolak balik dompet mungil itu. Tapi yang didapat hanya struk belanja dan recehan koin dua ratusan. "Terus dia tadi pulang pakai apa?"
Damaskus memeriksa CCTV dan mendapati jam 18 malam Contessa pulang naik ojek online. Jadi lewat aplikasi, tidak butuh uang tunai.
Tetap saja pasti besok paginya akan cari-cari dompetnya, mau sarapan pakai apa coba? Daun?
Jadi Damaskus pun menelpon Contessa.
Gadis itu…
Yah, sedang di rumah Ella. Menangis meratapi nasibnya, sepuasnya.
Selayaknya gadis GenZ, kalau hape bagaikan sudah melekat di tangan. Bahkan lebih ingat ponsel dibandingkan pakaian.
Dan benar saja, Contessa dalam kondisi kebingungan mencari dompetnya karena pulsa ojek onlinenya habis dan atmnya kosong.
"Dompet gue dimana ya?" Contessa masih sibuk-sibuk mengaduk tasnya yang kecil. Diaduk sebagaimana pun tas sekecil itu, sekilas dilihat dari atas saja sudah bisa dipastikan kalau dompet itu tidak terlihat.
"Udah lah Tess, terima aja dulu duit gue buat biaya pulang,"
"Itu kan duit belanja lo! Mau makan pake apa si kakak dan ade kalau duit lo gue pinjem?Gue gajian masih 27 hari lagi!"
"Ya gue masih ada simpenan dari sisa duit belanja kemarin, kalau makan kan ortu gue biasanya ngasih rantangan sejak gue punya si adek,"
Contessa terdiam.
"La, Ini udah jam 11, kok Januar belom pulang?" tanya Contessa.
Pertanyaan sederhana. Bertanya mengenai keberadaan suami. Ella kerap sibuk sendiri dengan kedua anaknya yang masih kecil-kecil dan urusan rumah, tapi beberapa kali main ke sini, di weekend pun Januar tidak hadir di rumah.
Padahal pria itu saat ini hanya pegawai asuransi, perlakuan jam kerjanya 8 to 5. Bukannya supir truk antar pulau yang bisa berhari-hari tak pulang.
"Masih sibuk di kantor," Ella tampak memaksakan senyumnya.
"Si Januar naik pangkat jadi pejabat atau gimana? Kayak asistennya Pak Dama, jarang pulang,"
"Karyawan biasa saja kok, level Sales,"
Dan Contessa pun terdiam karena Ella beranjak dan menggendong Adek yang tidur di sofa. Adek masih 7 bulan, bayi mungil itu tertidur nyaman dengan posisi deep sleep. Tapi Ella menggendongnya seakan si Adek terbangun.
Tanda bagi Contessa kalau Ella tidak nyaman dengan cerita mengenai Januar, suaminya.
Contessa menatap Ella yang salah tingkah dengan tegang. Pikiran buruk langsung menghantuinya.
Sekaligus perasaan bersalah karena mengungkit urusan rumah tangga orang, pun itu sahabatnya sendiri.
Dan saat itu ponsel Contessa bergetar.
Panggilan dari Boss.
"Duh! Ini udah hampir tengah malam, loh! Apa gue pura-pura tidur aja ya?!" keluh Contessa langsung panik.
"Angkat aja dulu Tess. Jam segini pasti ada yang penting,"
Contessa menghela nafas panjang, lalu menekan tombol call.
"Dompet kamu di meja saya," gumam Damaskus dengan suaranya yang berat.
"Errrgh, Ya Boss. Pantas tak ada di tas,"
"Atm kamu ada isinya nggak?"
"Buat apa bapak tanya tentang atm saya?"
"Ada Pak,"
"Berapa?"
Contessa memiringkan kepalanya karena heran sekaligus terkejut. "Emmmm… 120ribu?" Contessa bahkan tak yakin mengenai saldonya.
"100ribu limit tabungan, 20 ribu yang bisa dipakai," tebak Damaskus.
Gadis itu hanya diam sambil mencibir.
"Dengan apa besok kamu ke kantor kalau begitu caranya?"
"Hm… Minta ayah saya antar,"
"Memang biasa begitu atau bagaimana?"
"Terus siangnya pas istirahat maksi ke tukang gadai, Biar ada transport buat besoknya,"
"Gitu terus siklus kamu sampai gajian?"
"Hm, kan nanti semua bisa saya tebus kalau gajian,"
"Kamu sudah dewasa, Contessa. Harusnya bisa atur pengeluaran,"
"Ini sudah yang paling hebat, Boss. Sejak training saya cuma pegang 100ribu, sampai sekarang masih sisa 25 ribu," kata Contessa membela diri, "Makan dan Transport kan sudah dijamin kantor waktu training,"
Belum ada suara lagi dari seberang.
Sampai sekitar 1 menit kemudian Damaskus bilang : "Cek rekening kamu. Donasi tak perlu dikembalikan,"
Dan menutup teleponnya.
Contessa mengangkat alisnya sambil menatap ke arah Ella.
Ella pun melihat ke arah Contessa dengan heran, lalu mendekat.
"Apa perlu gue cek saldo gue di e-banking?" Ada suara gemetar saat Contessa bicara begitu ke Ella.
"Tess, sekali lo cek dan sampai itu duit kepake, lo resmi jadi sugar babynya,"
"Kalau gajian gue balikin gimana?"
"Mana mau dia terima, tadi dia bilang itu donasi. Bisa ngamuk dia karena merasa harga dirinya lo koyak,"
"Iya ya bener juga malah makin ngeri. Nggak gue sangka ketinggalan dompet aja jadi dilema!"
"Tapi penasaran nggak sih isinya?" desis Ella jadi kompor.
"Pasti gede sih nominalnya. Masa Big Boss ngasih gue recehan?"
"Kalau nggak dicek ntar lo salah lagi,"
"Halah bener juga,"
Lalu mereka terdiam beberapa saat. Suara jangkrik jadi penanda malam itu semakin larut.
"Nginep di sini aja Tess, lebih dekat ke kantor dan lo nggak perlu nge-cek rekening. Udahlah lo ambil aja duit belanja gue. Ganti pas gajian," Kata Ella.
Mendengar itu, bukannya merasa terbantu, Contessa malah semakin iba ke Ella. Ia sangat yakin, seyakin-yakinnya kalau rumah tangga Ella tidak dalam keadaan baik-baik saja dan bisa jadi sudah lama tidak diberi nafkah oleh Januar. Padahal kebutuhan bayi dan balita sangat besar jumlahnya.
Dengan perasaan galau, Contessa kini beralih menatap Adek yang sudah terbangun karena digendong ibunya dan menggapai-gapai dada Ella untuk minta susu.
Lalu bayi itu menatap Contessa dengan mata besarnya dan reflek tertawa sambil minta gendong Contessa.
"Loh, adek kok bangun? Duh maaf ya… Mama berisik ya?" desis Ella lembut sambil langsung membuka kancing dasternya dan memberi adek minum.
Contessa langsung tidak tega melihat Ella.
"Biarin aja gue jadi Baby sekalian, kalau itu bisa bantu sahabat gue sendiri, gue rela!" gumam Contessa pelan.
"Apa Tess?" tanya Ella karena tidak mendengar gumaman Contessa.
"Nggak apa," Contessa pun mengecek rekeningnya lewat e-banking.
100juta.
"Donasi model apa ini? Nyesel banget gue. Mana bisa gaji gue cukup buat ganti beginian…" gerutu Contessa saat melihat jalinan nominal itu di ponselnya. "Yang ada gue dituduh punya rekening penampungan pencucian uang," desisnya sebal.
**