The Big Boss For A Countess

The Big Boss For A Countess
Suasana Klinik Kantor




Itu hanya pancingan…


Sadar Contessa, Damaskus hanya mencoba memancing kamu ke dalam jebakannya.


Jangan terayu. Tetap tolak dengan tenang, katakan kalau memilihmu sebagai istri, adalah sesuatu yang bodoh.


Katakan!


Kamu tidak siap dengan semua ini!


Katakan Contessa!


Suara-suara hatinya saling bersahut-sahutan memperingatkannya. Tapi sentuhan Damaskus di lengannya begitu hangat dan maskulin, membuatnya mencandu.


Ajaib! Hanya dengan sentuhan dan elusan lembut di kulit, ia bisa terlena. Contessa bagaikan berada di awang-awang!


Tapi…


Tiba-tiba ia teringat satu hal.


"Pak, orang yang kemarin itu bilang ke saya mengenai dimana ia menyimpan jenazah korban-korbannya. Bapak sudah tahu?"


"Eh?"


Contessa menoleh sampai hidung bersentuhan dengan hidung Damaskus. Tapi bukannya berada dalam suasana romantis, keadaan malah menjadi tegang.


"Bagaimana?" tanya Damaskus meminta pengulangan kalimat.


"Eh… Em… Yang giginya tonggos itu dan sebelah matanya buta itu bilang kalau dia mengubur mayat korban pertama di area xx lalu yang kedua dipisah-pisah antara-"


“Tahan dulu!”


“Eh?”


“Tahan dulu kalimat kamu, kita ke kantor sekarang,”


“Hah?”


“Cepat siap-siap!”


“Pakaian saya bagaimana? Ini punya istri bapak terlalu besar sampai saya ikat-ikat di bahunya!”


Damaskus berhenti dan menatap Contessa dari atas ke bawah, lalu mengelus janggutnya yang putih, “Kamu lumayan manis kok, pakai itu saja,”


“Hah?!”


**


Artemis duduk di ranjangnya sambil menggerutu. Dengan wajah sebal ia menatap… Arini yang sekarang sedang senyum-senyum di depannya. Wanita itu berpakaian seksi, sangat seksi dengan kemeja yang tidak dikancingkan dan bagian pinggangnya hanya diikat dengan ikat pinggang mahalnya, jadi bisa dibilang bagian dadanya setengah terbuka. Menantang dan membuat Artemis bukannya senang disuguhi pemandangan se vul gar itu tapi ia malah merasa muak.


“Pernah terpikirkan tidak, sayangku, kalau nama kita itu hampir mirip loh. sama-sama berawalan kata Ar- ya kaaaan? Jodoh banget nggak sih kita?!” celoteh Arini. “Terbayang nggak kalau kita kirim undangan pernikahan jadinya inisialnya Ar & Ar atau A & A. Aaaaw! Romantiiis!”


Artemis mencebik sambil merasa jijik.


Menikah dengan wanita genit di depannya ini sama sekali tidak terbayangkan, kasihan otaknya jadi terkotori jadi ia tidak tega membayangkannya demi kesehatan mentalnya. Tidur dengan Arini pun sama sekali tidak pernah terpikirkan. Lebih baik ia nekat tidur satu selimut sama Damaskus dibanding harus tidur dengan Arini.


Pasti si Tessi Blo’on biang sial itu udah bilang ke nih pec un kalo gue mau kencan sama dia! Bego nggak sih gue kalo iming-imingnya cuma biar gue ketemu Ella? Bukannya gue bisa ya ketemu Ella sendirian? Toh lakinya nggak pernah ada di rumah. Nekat aja kali… Lagian siapa yang mau ngegerebek gue kalo gue bertamu ke rumah Ella? Mana ada yang berani?


Begitu kata-kata yang ada di pikiran Artemis. Tapi berikutnya hati nuraninya berujar hal yang sebaliknya.


Kehormatan Ella.


Benar juga… Pikir Artemis selanjutnya.


Kalau gue sampai sendirian datang, mungkin nggak bakalan ada yang berani negur, tapi bagaimana setelah gue pergi? Si Ella pasti bakalan dicecar warga. Belom kalau suaminya dengar laporan warga, apa nggak amsyong si Ella. Yang paling bagus emang ke rumah Ella rame-rame bareng si Tessi sebagai kamuflase. Bisa gawat nggak sih kalo selanjutnya lakinya dateng pas gue ama Tessi ada di rumah? Apa gue ngaku aja pacarnya Tessi.


Bingung deh, mendingan gue mikirin ujian Rasio Keuangan deh! Gini-gian bikin otak gue buntu!


“Heh, Pe cun,” tegur Artemis ke Arini, “Pertama, nama lo bukan Arini. Nama lo di KTP tuh Narti Artini! Lo bagus-bagusin aja minta dipanggil Arini, bego dasar! Terus nama gue juga bukan nama asli, kalo lo tahu bisa-bisa lo nggak hidup lagi kali!” seru Artemis kesal. “Kedua, gue mau kencan sama lo 24 jam aja yah! satu hari aje! Habis itu kita nggak ada hubungan apa-apa lagi. Gue lakuin karena gue hutang budi ke Contessa, ngerti nggak lo? Jadi lo terima kasih tuh ke dia!”


“24 jam itu… kita kayak pacaran kan ya, bukan cuma kencan? hehe,”


“Terserah lo bawel,”


“Waaah,” Mata Arini terlihat berbinar. Di benaknya terbayang banyak hal, cara untuk menundukkan si dingin Artemis, dalam satu hari. Dia bilang tadi 24 jam, jadi sebenarnya waktunya cukup banyak.


Oke, sebelum kencan gue bakal yoga dulu biar lebih lentur, begitu pikir Arini.


BRAKK!


Pintu klinik dibuka dengan kasar. Hampir saja Artemis mengomel karena suara benturan pintu dengan tembok membuat berisik, tapi dia langsung menutup mulutnya saat melihat Bossnya masuk.


Tampak Damaskus dengan pakaian casual, kaos oblong putih dan celana selutut, pakai sandal jepit pula. Walau pun sudah pasti harganya selangit dan merknya bukan Swallow, tapi tetap saja itu sandal jepit.


Damaskus langsung menatap ke arah Arini dengan memicingkan mata karenamelihat gaya pakaian wanita itu, “Habis jual diri di mana kamu? Atau kamu lagi transaksi sama Artemis?”


“Eh? B-b-Boss...” Arini berdiri sambil mengancingkan bajunya sampai batas leher, lalu berdiri menunduk menghormat, “Siang Pak, rajin sekali bapak ini hari Sabtu ke kantor,” ia mencoba beramah tamah ke ‘Titisan Genghis Khan’.


“Mau saya tinggal di sini, itu bukan urusan kamu,” Lalu Damaskus tampak terdiam karena teringat suatu hal, “Rini, kamu sudah mengajarkan Contessa apa saja? Kok dia terlihat kagok kalau kerja? Kau sudah ajarkan dia AutoCad? Jadwal saya dan para asisten sudah di share semua kan? Kamu sudah mengenalkan dia masing-masing karakter pejabat di sini? Kalau dengan relasi dan rekanan bagaimana? Ruangan Contessa terpisah dengan yang lain jadi dia akan jarang berinteraksi dengan kalian,”


Arini diam saja sambil menggigit bibirnya, ia tampak bingung mendengar kalimat Damaskus yang panjang dan bernada menekan. Semua yang dibilang oleh Damaskus adalah hal-hal yang memang diminta Contessa tempo hari ke Arini dengan iming-iming berkencan dengan Artemis.


“A-anuuu,” gumam Arini. Dia sedang memikirkan apa yang harus dia ucapkan ke Boss Besar. Kan tak mungkin kalau bilang ‘belum Pak’. Bisa-bisa dia diamuk. Hampir saja dia bilang kalau itu seharusnya tanggung jawab Contessa sendiri untuk tahu hal-hal remeh, tapi tetap saja tidak bisa mengatakan hal itu ke si Boss.


“Contessa akan jadi penengah saya dan kalian semua, semua saran darinya akan saya pertimbangkan, termasuk kalau dia bilang saya harus memecat seseorang, akan saya pertimbangkan. Jadi penting baginya untuk tahu semua hal di kantor. Kamu kan di sini senior, jadi sudah tugas kamu untuk sounding hal itu ke dia,”


Saat itu Arini mengangkat alisnya sambil menatap Bossnya.


Bagaimana mungkin anak baru semacam Contessa diserahi tanggung jawab setinggi itu. Apalagi tadi Damaskus bilang, semua saran dari Contessa akan dipertimbangkan? Itu Sekretaris atau Istri?!


Mencurigakan.


Tapi apa bisa protes?!


“Kamu ajarkan semuanya ke Contessa ya, wajib! Saya akan review kerja kamu dengan hal itu,”


“Jadi nggak usah nge-date ama gue dong? Yess...” gumam Artemis pelan.


“Hah?” dengus Damaskus.


“Nggak Boss,” Artemis langsung pasang tampang biasa.


“Den-eh, Artemis!” Contessa masuk ke ruangan. Ia langsung mengubah cara bicaranya karena sifat Damaskus yang sensitif. Apalagi di sana ada Arini. Dengan jengah, Contessa berdiri agak jauh dari Artemis dan berlindung di balik punggung Damaskus.


“Bagaimana kabar Anda, wahai Pak Sekretaris asisten Pak Boss Besar?” tanya Contessa.


Artemis mau menjawab malah memandang Contessa dengan malas, “Lebay lo, Kabul Basuki!”


(Kabul Basuki adalah nama asli komedian Tessi).


“Apakah sekujur tubuh Anda masih sakit? Nyeri? Sesak Nafas? Anda butuh apa, saya akan coba mencari keperluan Anda sekiranya saya bisa,” desis Contessa.


“Biasa aja kali Tessi, gue lembar tiang infus lo!” Artemis sewot.


“Saya akan coba memaklumi,” dengus Damaskus sambil berdiri bersandar ke konter.


“Benar Pak? Kalem ya Pak?” tanya Contessa tak yakin.


“Ya kamu kan milik saya, jadi saya bisa tenang,”


“Eh? Saya milik... ehem!” Contessa berdehem, “Benar juga, saya sekretaris bapak, jadi saya milik bapak, bukan milik pejabat lainya Pak, Begitu kan Pak? hehehe,” Contessa berusaha agar Arini tidak curiga.