The Big Boss For A Countess

The Big Boss For A Countess
Lagi-lagi Bikin Heboh




Contessa mengamati papan besar yang penuh berisi potongan pamflet lowongan kerja. Yang dibutuhkan rata-rata berhubungan dengan teknologi. Programer atau digital creator menempati urutan teratas daftar pencarian tenaga kerja.


Karena data entry seperti pekerjaan Contessa sekarang, sudah bisa digantikan oleh AI. Dalam sekali klik dan di waktu yang sudah di setting, pengiriman email bisa dilakukan serentak.


"Kayaknya harus belajar sama Ivander soal gini-ginian," gumam Contessa dengan penuh keseriusan. Ia berharap dirinya tidak jadi beban di perusahaan Damaskus. Lalu sesaat ia berpikir, harus rajin bekerja agar berpengalaman. Setidaknya kalau urusan ke kedutaan, ia bisa mengurusi. Tidak harus Damaskus yang kesana langsung kecuali memang ada urusan personal yang harus diselesaikan Damaskus dengan duta besar. Atau kalau urusan administrasi antar perusahaan, Contessa bisa bantu membereskannya, tidak harus Baron atau Ivander yang deal sama vendor.


Ya tapi cara mereka menyelesaikannya itu yang Contessa kurang paham. Apa dengan cara profesional, atau dengan cara kekerasan. Mereka itu preman loh. Tidak terbayang di benak Contessa soal mereka duduk kalem di ruang meeting sambil melihat slide presentasi.


Yang ada Artemis mondar mandir sambil mengayun-ngayunkan tongkat baseballnya, Ivander melap Katana, Baron ngaji di sudut, dan Griffin memukul-mukul samsak dengan membabi buta. Dan Sepertinya yang paling mencolok memang Damaskus yang sudah pasti angkat kaki ke meja sambil cangklongan.


Contessa menatap ke arah koridor. Beberapa mahasiswa tampak duduk di lantai sambil mengetik. Sementara kelas di sekitarnya ada perkuliahan. Kelas Artemis ada Ujian, tampak cowok itu menempati tempat duduk paling depan sambil memutar-mutar pulpennya. Matanya yang sayu jadi makin terlihat mengantuk, sudah malas-malasan menatap lembaran ujian di atas meja di depannya.



"Kalo kalem gitu kan ganteng. Asal jangan buka mulut aja, udah paling Dajjal kelakuannya," gerutu Contessa pelan.


Lalu gadis itu pun memutuskan untuk membereskan pekerjaannya di koridor depan ruang kelas Artemis.


Ia sudah diberitahu cara me-remote komputer BigBoss melalui laptop oleh Ivander. Jadi saat ini Contessa cukup percaya diri.


(Istilah me-remote ini adalah cara mengoperasikan dan mengendalikan komputer lain dari jarak jauh. Untuk me-remote dibutuhkan kode IP, yang berupa angka identitas dari sistem komputer, kalau di ponsel namanya IMEI, dan juga membutuhkan jaringan internet).


Koridor itu sunyi senyap dengan mahasiswa yang fokus ke tugas masing-masing. Musim ujian sudah di mulai. Walau pun sunyi, sebenarnya di sana banyak orang, namun kebanyakan diam karena memikirkan materi pembelajaran.


Contessa pun duduk di samping segerombolan mahasiswa, dan membuka laptopnya.


Ia tekan tombol start, menunggu komputer loading sebentar, dan…


"You're so Sexy! More honey more! Ah! Ah! Moreeee! Ah! Ah!!!"


Contessa langsung menutup layar laptopnya.


Semua manusia diam menatapnya.


Hening.


Sedetik


Dua detik


"Guuobbbblooook!" terdengar teriakan Artemis dari dalam ruangan.


Dan semua tertawa "Gilaaaa opening sound lepi-nya greget banget Mbaaaak!"


"Hahahahahahaha!!"


Contessa menarik nafas panjang dan mengeluh malu.


Baru juga buka laptop, dia sudah diketawain. Kenapa juga si Ivander nonton video biru nggak ditutup dulu sih! Minimal di minimize dong! Mana suaranya kenceng banget pula!


Kan jadi dia yang dituduh nonton!


Belom tahu apa yang harus ia lakukan, ponselnya bergetar tanda panggilan masuk.


Dari Ivander.


"Ivan!! Lepi lo bikin harga diri gue anjlok!!" teriak Contessa sebal.


"Huahahahahahah!!" Terdengar Ivander cekakakan dari seberang telepon. "Padahal gue nelpon buat memperingatkan lo, kalau gue lupa nutup xn**! Kebuka otomatis yaaaa! Telat dong gue ngasih taunya! Yaaah, selamat deh yaaa Hahahahah!!"


Dan sambungan telepon pun tertutup.



"Bukan lepi gue!" seru Contessa ke semua warga di koridor yang masih cengengesan. "Siap-siap backsound, mau gue buka lagi buat close window!" ujarnya.


Mau tak mau ia buka lagi laptop itu, bagaimana pun ia harus bekerja.


"Daddy! Daddy i want you inside meee! I looove your c0ck!!" seru si laptop sambil menayangkan adegan syur.


"Berisik lo, bayi kemanisan…" gumam Contessa kesal sambil menekan tombol 'X' yang berarti close.


Paling tidak, di tengah situasi tegang, Contessa sudah mencairkan suasana hati para mahasiswa yang tadinya khawatir akan masa depan IPK mereka.


Walaupun ia malu setengah mati.


Tapi…


Sesuatu mengganggu pikirannya.


Ia pun beralih ke tombol volume. Ia kecilkan suara laptop sampai 'mute', tak ada suara yang terdengar.


Hal yang mengganggu pikirannya.


Contessa membuka kembali video yang tadi ditonton Ivander. Lalu mengecilkan layarnya.


Pria yang tampaknya lebih tua, sedang menyetubuhi seorang wanita yang tampak jauh lebih muda.


Gaya bercinta mereka memang terkesan amburadul dan seenaknya.


Tapi adegan itu agak mirip dengan… Perlakuan Damaskus padanya dulu.


Saat pria itu mulai menarik lengannya dan me-mepetnya dinding, mengangkat dagu mungilnya dan menciumnya dalam-dalam.


Contessa yang tadinya hampir menyesal karena ia pikir pemilik perusahaan itu adalah pria muda, karena yang sering berhubungan dengan Adiwilaga adalah Artemis dan Griffin.


Melihat mereka yang tampan-tampan namun manipulatif, mereka menekan adiwilaga seakan mereka adalah pemilik perusahaan. Contessa berpikir, walau pun nantinya mereka akan bertindak kasar terhadapnya, paling tidak yang akan 'dekat' dengannya adalah pria tampan.


Betapa kagetnya gadis itu saat melihat Damaskus di depannya. Di matanya yang saat itu masih belia, bersama dengan pria sedewasa itu, dan perawakannya yang mengintimidasi, membuatnya hampir saja kabur karena ketakutan. Contessa saat itu belum pernah melihat Damaskus, walau pun Adiwilaga sering menyebut nama itu.


Ia mengira Damaskus bisa jadi hampir sama dengan Artemis dan Griffin, dengan usia yang terpaut tidak terlalu jauh.


Kalau dipikir sekarang…


Untung saja yang berhubungan dengannya adalah Damaskus.


Karena pria itu memiliki pemikiran matang dan dewasa, dengan segala perhitungannya. Di luar dugaan perlakuannya ke Contessa sangatlah lembut, di luar perkiraan gadis itu.


Tadinya ia pikir ia akan dihabisi karena di satu titik ia merasa sudah tidak tahan. Rasanya tubuhnya terbelah-belah, di satu pihak ada bagian yang ingin Damaskus tidak berhenti mengerjainya. Sesuatu yang misterius berkali-kali meledak keluar dari rahimnya, membuatnya melayang dan tak ingat apa-apa, tapi kesadarannya langsung dibangkitkan kembali dengan gerakan Damaskus yang cepat.


Justru, saat ia bangun di pagi harinya dalam keadaan bingung dan kelaparan… ia semakin bersyukur karena dia masih hidup. Sehat tanpa kurang suatu apa pun selain keperawanan.


Bisa jadi saat ia menyerahkan diri ke yang lain, Artemis, Griffin atau siapa pun itu, hutang tak selesai nyawanya pun melayang, dengan berbagai siksaan yang di luar nalar manusia.


Seperti korban mereka yang ada di dalam samsak.


Contessa merinding dan mengelus lengannya sendiri, lalu menutup video biru di laptop Ivander.


"Aku harus bangkit," desisnya. Menurutnya, bekerja serajin mungkin dengan hasil yang membanggakan akan bisa membuatnya berharga kembali.


*****


Damaskus berdiri bersandar ke taman luas di depannya sambil menatap nanar. Cuaca Jakarta hari ini masih mendung, namun ada sekilas matahari siang yang turun menambah indahnya langit.


Ampun deh, anak itu… Batin pria itu.


Semakin hari semakin cantik.


Dari awal sudah cantik, bahkan lebih cantik dari Rania saat muda dulu.


Begitu pikirnya.


Entah sejak kapan Damaskus tertarik pada Contessa.


Dulu,


Saat Contessa digiring ke dalam ruangan oleh Artemis dan Griffin, Damaskus yang tidak ingin kantornya ternoda oleh darah gadis belia yang tak bersalah, mencoba menghentikan mereka berbuat tak senonoh kepada Contessa.


Tindakannya itu tidak disesalinya, karena semakin ia mengenal Contessa, semakin bersemangat ia menjalani sisa hidupnya.