
“Jadi pihak sana sudah tahu kalau Rania dikerjai?” seorang pria dengan setelan mahal duduk di depan Widiyanti yang tegang. Siang ini ia mendapat kunjungan dari seseorang yang paling ingin dia hindari. Nyatanya penjagaan seketat di lapas ini juga tidak menghindarkannya dari bertemu dengan Iblis ini.
“Kamu mainnya nggak rapi sih,” desis pria itu lagi.
“Hm...” Widiyanti mengernyit sambil menunduk. Ia memang benci dengan Rania karena ia menganggap wanita itu pengacau hubungannya dengan Damaskus. Namun sebatas itu saja. Ia tidak bermaksud membunuh wanita itu sebenanrya. Obat yang ia campurkan ke minuman Rania hanya berfungsi untuk memperlemah kondisi wanita itu. Bisa jadi ia akan mengalami hiper-emesis, atau bisa juga ia keguguran. Tapi tidak sampai membunuh.
Kematian Rania di luar perkiraannya, namun ia tahu hal itu bukannya tidak disengaja.
Ada orang-orang yang diam-diam melakukan tindakan itu tanpa diminta.
Mungkin sekaligus untuk mengancam Damaskus supaya tidak macam-macam lagi.
Dan seperti yang telah di duganya, Pria di depannya inilah dalang utamanya.
Sang Ayah. Ranujoyo.
Ranujoyo hampir saja membunuh Anthony kala mantan suami Widiyanti itu ketahuan menjalin hubungan dengan Nadine, putri Damaskus. Saat ini bahkan Ranujoyo sedang merencanakan untuk menyusup ke Eterny untuk membunuh anak Nadine setelah dilahirkan. Bisa jadi nyawa Nadine sedang terancam saat ini. Eterny berbaik hati untuk menyembunyikan Anthony karena pria itu adalah ayah biologis janin di kandungan Nadine.
Widiyanti tahu hal ini, tapi ia masih menimbang-nimbang apakah akan ia tonton saja pagelaran ini, atau kah ia akan berbaik hati untuk memberitahukan ke Damaskus sebagai permintaan maaf atas kematian Rania.
Tapi sepertinya... The Great Kingdom of Eterny akan memperketat penjagaan untuk Nadine dan anaknya, jadi kecil kemungkinan hal itu akan terjadi.
Namun yang dikhawatirkan Widiyanti...
“Begini saja, kamu istirahat saja dulu di sini. Ayah akan usahakan kamu diperlakukan dengan baik di sini. Hidup saja sebentar dengan sederhana, tanpa memikirkan bisnis dan harta dunia. Sementara, ayah akan menyusun rencana baru untuk Damaskus,”
“Rencana apalagi Ayah?”
“Orang-orang terdekat Damaskus memang sudah tidak bisa kita jangkau lagi. Ali sudah meninggal, Nadine jadi Ratu di Eterny dengan penjagaan ketat sudah pasti tidak bisa kita dekati. Tapi mata-mata Ayah mengatakan ada orang baru yang datang,”
“Orang baru? Wanita?!” Widiyanti mengernyit tidak suka.
“Jangan cemburu dulu, Wid. Belum tentu perasaan Damaskus timbul terhadap yang satu ini. Tapi menurut laporan yang ayah terima, gadis ini memang pernah menjalin kasih dengan Damaskus dulu. Kini dia bekerja di kantor Damaskus. Jadi ayah akan melakukan pengamatan intensif terhadapnya,”
“Siapa?”
“Namanya Contessa,”
“Apa yang akan ayah lakukan?”
“Hm... seperti awal rencana yang gagal. Sakit hatimu dibayar dengan nyawa. Damaskus memperistrimu, atau semua wanita di sekelilingnya mati,”
Dengan wajah yang berubah cerah, Widiyanti Ega menyeringai licik. Ia mengangguk dengan penuh harapan. Baginya usia bukan masalah, ayahnya melakukan segala cara untuk membalaskan dendamnya sekaligus mengabulkan semua permohonannya.
“Kamu santai-santai dulu saja di sini, sebagai alibi. Tidak akan ada yang mencurigai ayah, siapa yang akan berani mengusik konglomerat tua yang pajak dari usahanya bisa membantu perekonomian negara? Mereka bisa menangkap kamu saja karena desakan netizen,”
“Kalau kejahatanku hanya korupsi, aku pasti lolos ayah...” dengus Widiyanti.
“Ya kamu membunuh juga soalnya. Makanya ayah bilang, kamu mainnya tidak rapi. Terlalu terbawa emosi. Jangan pernah membunuh dengan tanganmu sendiri. Seperti Damaskus dan para asistennya,”
**
Hal serumit itu tentu saja di luar nalar Contessa yang manis.
Memikirkan cara menyortir surat yang dalam satu jam jumlahnya ribuan saja sudah merupakan hal yang bisa bikin kepalanya panas, apalagi hal-hal seperti menghilangkan nyawa orang lain. Tidak terpikirkan sama sekali di benak Contessa.
Baginya, pekerjaannya yang sekarang membutuhkan fokus tinggi yang harus dijalaninya karena hutang. Sudah pasti merupakan beban baginya. Apalagi donasi yang diberikan Damaskus, membuat Contessa merasa sekali lagi menjual dirinya ke Damaskus.
Dengan jengah, Contessa menatap sekelilingnya.
Kantor Damaskus yang luas, dan dingin. Dengan perabotan klasik yang sebagian besar adalah koleksi senjata dan benda tajam yang disepuh emas, kemewahan yang tidak ia mengerti. Botol-botol minuman keras yang terpajang di atas kabinet seakan memperlihatkan sifat Damaskus yang sebenarnya, juga sebuah pedang yang berada di depannya. Sarungnya yang bersepuh emas bagaikan memperlihatkan kegagahan pemiliknya, pegangannya yang terbuat dari kayu berkualitas, dan dihiasi zamrut hijau yang tampak elegan. Pedang itu diletakkan di atas meja mewah bertutupkan kaca.
Sebuah Replika yang dibuat dengan kecanggihan teknologi sehingga 90% mirip dengan aslinya.
Replika dari pedang termasyhur di dunia, digunakan oleh seorang panglima Muslim bernama Salahuddin Al-Ayyubi dan digunakan saat menghadapi serangan tentara Richard the Lion Heart selama Perang Salib Ketiga. Pedang ini dinamai Damaskus.
Ksatria jaman dahulu memang sering menamai senjata kesayangannya.
Dan orang tua Damaskus memang menamainya mirip dengan pedang itu dengan doa agar pria itu memiliki kemasyhuran seperti Damaskus.
Dalam diam, Contessa memandangi pedang itu.
Gagah, dengan lengkungan yang tegas. Bagaikan tak tertandingi menebas apa pun yang menghalaunya.
Seperti... pemiliknya.
Dan sosok yang dipikirkan Contessa tiba-tiba muncul dari arah pintu, yang berada tepat di sebelah pajangan pedang itu. Sosok itu tinggi besar, dengan otot yang tersamar dari balik kemejanya yang ditekuk sampai siku. Contessa bisa mengingat dengan jelas, kemeja itu sangat besar saat dikenakannya sampai-sampai area lehernya melorot sampai bahu Contessa padahal sudah dikancingkan sampai atas. Contessa harus mengancingkannya sampai batas leher agar bisa menutupi seluruh tubuhnya.
Damaskus kini mengenakan celana jeans, di belakangnya ada beberapa pejabat yang mengikutinya bagai anak bebek mengikuti induknya.
Contessa langsung berdiri karena merasa jengah. Ia memang belum mendapatkan meja baru dan Damaskus tidak mengizinkannya memakai salah satu meja di ruangan sekretaris, mungkin takut Contessa mengacau lagi. Jadi untuk sementara Contessa memakai komputer Damaskus.
Para karyawan di belakang Damaskus menatap Contessa lekat-lekat. Beberapa bahkan menaikkan alisnya dan mengernyit merasa aneh. Mungkin mereka tidak menyangka kalau gadis itu bisa dengan lancangnya duduk di kursi Presdir. Yang mana tidak ada orang yang tidak takut kepada Damaskus. Pria itu bisa menjadi bom waktu bagi siapa saja, dan di waktu kapan pun dia mau. Jadi pergerakannya tidak terduga. Apalgi sikapnya yang kasar menjadikannya disegani.
Jangankan duduk di kursinya, memasuki pintu ruangan kantornya saja harus menyiapkan mental 3 hari sebelumnya. Tak jarang di saat menghadapi panggilan mendadak, para karyawan sangat gugup dan tidak bisa berkata apa pun saat dihardik Damaskus. Setelah keluar dari ruangan panas itu, mereka bisa saja langsung mual dan muntah-muntah di WC.
“Duduk saja, saya hanya meeting sebentar,” desis Damaskus sambil berjalan ke arah Contessa. Gadis itu kembali duduk dengan ragu, tapi dia menyadari banyak mata dengan sinis mengarah kepadanya. Jadi dia berdiri lagi, “Saya pinjam komputer operator saja Pak,”
“Duduk, saya bilang,” Damaskus berujar padanya setengah mengeram. “Tempat kamu di sini, bukan di ruangan lain. Mengerti?”
Tempat kamu di sini...
Kalimat yang mengundang banyak pertanyaan.
Padahal jelas-jelas ruangan sebelahnya tertera huruf besar-besar ‘Corporate Secretary’. Kenapa dia harus menempati meja Damaskus dan bukannya ada di sebelah?! Mungkin begitu pikiran orang-orang.