The Big Boss For A Countess

The Big Boss For A Countess
Kencan Artemis



Damaskus menoleh padanya dan menatapnya dengan kaget. Contessa sedang menatapnya. Gadis itu memiliki keyakinan yang mengejutkan.


Ia melihat lurus ke arah Damaskus.


Dan tanpa bersuara, sedikit menarik pria itu agar masuk.


Damaskus menarik nafas panjang untuk meredakan debar jantungnya yang bergemuruh.


Cinta-cintaan di usianya yang sudah 53 tahun... konyol tapi manis.


Setidaknya, kini ia tidak kesepian lagi.


**


Damaskus pun melangkahkan kakinya masuk kembali ke dalam rumah itu. Rumah ayah tiri Contessa, dan menuju ke kamar Contessa yang berada di area belakang. Ia berjalan seakan buta, ditarik lembut oleh bidadari di depannya ini, yang sesekali menoleh ke belakang dan menatapnya dengan matanya yang berbinar.


Pria besar itu terkesima dengan semuanya.


“Contessa...” desis Damaskus, “Kamu tahu setelah ini kamu tidak bisa mundur lagi,”


Tanpa di duga Contessa berhenti melangkah.


Lalu berbalik ke arahnya.


Gadis itu mendekat ke arahnya, mengangkat wajahnya, mengangkat kedua tangannya dan melingkari lehernya, lalu menarik kepala Damaskus.


Ciuman ringan yang manis memenuhi bibir Damaskus.


Aroma Vanilla yang manis kini bercampur dengan aroma tembakau yang kuat.


Ciuman itu semakin intens.


Menandakan, kali ini Contessa ingin memimpin semuanya, ingin mengendalikannya. Gadis itu tahu bagaimana memanfaatkan suasana.


Saking eratnya pelukan Contessa di lehernya, dan ciumannya yang memikat, Damaskus akhirnya mengangkat tubuh Contessa dan meletakkannya di pinggang. Kaki Contessa reflek melingkari pinggang pria itu.


“Kamarku di ujung...” bisik Contessa di sela-sela ciumannya.


Hanya ada kata ‘astaga’ di benak Damaskus.


Pria itu melangkah dengan langkah lebar, ia sudah tidak peduli akan membuka kamar yang mana.


Sampai di pintu ujung, ia buka dengan sebelah tangannya, karena tangan kanannya menopang tubuh Contessa, lalu ia lepaskan bibir mungil kemerahan itu sejenak, ia baringkan tubuh gadis itu di ranjang terdekat.


Contessa sambil terduduk membuka kemejanya ke atas, lalu melepas b ranya, dan tanpa menunggu Damaskus siap, ia kembali merengkuh tubuh pria itu dan menciumnya kembali.


Contessa yang liar, tidak pernah terbersit di benak Damaskus gadis ini akan berbuat sejauh itu.


Gadis itu melepaskan ciumannya lalu meloloskan roknya ke bawah sekaligus dengan panty nya. Kini ia sepenuhnya tanpa lapisan penutup. Polos dan terbuka.


Ia persembahkan semua untuk pria yang sejak lama memenuhi benaknya, sumber traumatisnya sekaligus penyebab dari kekacauan pikirannya akan laki-laki di dunia.


Sejak lama hanya ada Damaskus di kepalanya.


Secara tak sengaja, ia bandingkan semua pria dengan Damaskus. Dan tentu saja semua kalah.


Baginya, semua ada kurangnya.


Ia angkat kemeja yang menutupi tubuh Damaskus, lalu ia arahkan tangan pria itu untuk segera membuka celana jeansnya.


“Aku di atas,” 3rang Contessa, Gadis itu kini menciumi leher Damaskus. Pria itu hanya bisa mendesis menahan gairahnya.


“Aku terlalu besar untuk kamu, lebih baik-“


“Aku yang atur, sebisaku,” bisik Contessa sambil merayu Damaskus dengan ciuman-ciumannya.


Sang raksasa tunduk pada peri mungilnya.


Ia hanya mengeluarkan tubuhnya yang sudah siap sepenuhnya, selanjutnya Contessa yang menyesuaikan.


Gadis itu sempat ragu saat ujung tubuh Damaskus yang keras dan panas menyentuh cl1t-nya.


Astaga besar sekali... apa memang sebesar ini dulu? Batin Contessa berkecamuk.


Contessa tidak bisa mengingat  bentuknya. Karena mungkin dulu mereka dalam suasana terpaksa. Contessa hanya dapat mengingat rasa sakitnya.


Itu sebabnya kali ini Contessa ingin memimpin, karena ia yang bisa merasakan sejauh apa rasa perihnya. Ia ingin mengatur gerakannya, ia akan cari posisi ternyaman untuk merengkuh Damaskus. Kali ini mereka bercinta dalam keadaan saling menikmati satu dengan yang lain. Ia akan bergerak perlahan, semampunya dia. Tidak dalam keadaan tertekan.


Ini Contessa yang inginkan sendiri.


Sekaligus menunjukkan bahwa Damaskus salah mengenainya.


Mereka saling menginginkan.


Bukan bertepuk sebelah tangan.


Pelan-pelan, Contessa akan dalami mengenai cintanya.


”Ah...” de sahh Contessa saat setengah bagian Damaskus memasuki tubuhnya. Lalu ia memposisikan pinggulnya agar naik sedikit untuk merenggangkan otonya yang masih asing terhadap kehadiran pria itu. Lalu ia pun turun sedikit demi sedikit.


Tubuhnya bagai dirobek-robek. Tapi hanya sebentar. Sesat kemudian, yang ada hanya kenyamanan.


“Hehe,” dalam erangan, dalam de sahhan, Contessa tertawa. Pencapaiannya dalam beberapa menit yang rasanya terasa sangat lama, dengan keringat di dahi dan punggungnya, bolak-balik ia atur tubuhnya agar kondusif dan pas dengan tubuh Damaskus.


“Sudah?” bisik Damaskus sambil menyampirkan rambut Contessa ke belakang punggung gadis itu.


Contessa mengangguk malu-malu, lalu ia kembali melingkarkan lengannya di leher Damaskus, “Cium aku...” desis Contessa.


Sambil berciuman, Damaskus mulai bergerak dari bawah.


**


Pagi hari yang sayangnya, keluh Artemis, cerah berawan yang membuat hati ini ceria.


Artemis menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya dengan kesal. Ia duduk di belakang stir dan menatap lurus ke depan. Di sebelahnya ada Arini yang sedang duduk di kursi penumpang, menatapnya lekat-lekat, memperhatikannya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Walau pun kaki Artemis tersembunyi di bawah kemudi.


Dari sekian banyak manusia di muka bumi, hanya ada satu wanita yang sering kali memandangnya lekat-lekat secara terang-terangan, dan dilakukannya tanpa malu-malu.


Arini memang unik, walau pun menyebalkan. Dia bagaikan tokoh antagonis di sinetron-sinetron receh yang terobsesi akan satu pria. Sebelum nyawanya melayang, obsesinya akan terus ada.


Karena Contessa, Artemis bersedia bersama Arini, hanya 24 jam saja, Arini boleh melakukan semua yang menjadi obsesinya, kecuali hal yang membahayakan nyawa Artemis.


Pria bertato itu akan mengerjai Arini seharian, hal-hal yang dirasa akan membuat Arini tidak menyukainya lagi. Efeknya, setelah ini Arini akan mundur dan berhenti mengejarnya, atau malah sebaliknya.


Arini tertarik pada Artemis karena pria itu badboy. Artemis lugas dan pejantan tangguh. Ia juga sadis dan kasar.  Biasa, sindrom cewek alay, suka sama cowok berandal kalau kena batunya menganggap pria di dunia ini brengsek padahal dia sendiri yang tidak sayang dirinya.


Nyatanya, laki-laki tidak akan berubah untuk seorang wanita. Dengan terjun ke dalam khayalan novel, bahwa terdapat kata-kata ’demi kamu aku akan berubah jadi lebih baik’ yang nyatanya jarang terjadi di realita.


Laki-laki akan berubah dengan keinginannya sendiri. Biasanya saat dia terserang penyakit mematikan dan nyawanya diujung tanduk, atau rasa traumatis tertentu. Hanya Tuhan yang bisa membolak-balik hati manusia.


Dan wanita bukan Tuhan.


Mungkin itu yang diharapkan Arini.


Jadi tokoh novel.


Banyak laki-laki baik yang mendekati Arini, CEO-CEO besar yang mengirimkannya bingkisan dan makanan, atau dana ke rekening untuk jajannya. Arini cantik dan tangguh, walau pun menyebalkan. Makanya dia tak gentar terhadap teguran Damaskus.


Wanita-wanita yang tahan terhadap didikan Damaskus kerap menjadi incaran para laki-laki karena dianggap sempurna, dari segi fisik dan mental. Saking sempurnanya, mereka tampak seakan tidak butuh laki-laki.


Semua pria yang menjanjikannya hidup nyaman ,ia tolak. Ia lebih memilih Artemis yang beda usianya 5 tahun darinya, bergaya hidup semau-gue, dan penuh kekerasan. Besok nyawanya masih nyantol di badan saja sudah merupakan keajaiban.


Strategi Artemis kali ini... adalah menjadi pria baik-baik, pasif, tidak menarik, dan introvert.


Rencana menyebalkan, tapi pada dasarnya Artemis memang lebih suka menyendiri dibanding harus tergabung di dalam ruangan beramai-ramai. Jadi menurutnya tidak sulit lah kalau berakting sebentar jadi Goodboy.


Masalahnya cuma satu.


Artemis itu ganteng.


Mau kalem, mau beringas, dia akan selalu mempesona.