
"Haduuuh," Contessa berdiri sambil bersandar di tepi wastafel, "Bego banget sih lo, Tess! Bego! Bego!" ia memarahi dirinya sendiri.
Karena perbuatannya barusan, ia tidak akan pernah bisa lepas dari Damaskus lagi.
Sebelumnya masih ada harapan untuk menjauh, paling tidak. Hutang lunas, ia menghilang menjalani hidupnya sendiri.
Tapi kini?!
Padahal perasaannya ke Damaskus bisa dibilang hampir nol. Alias hanya hubungan biasa saja, karyawan dan Bossnya, majikan dan pembantunya, debt collector dan nasabahnya. Ya hubungan semacam itu!
Tapi sekarang? Mana bisa dikategorikan Begitu!
Ini karena tubuhnya bereaksi berbeda dengan akal sehatnya.
Saat melihat Damaskus, seakan pria lain hilang. Fokusnya hanya ke laki-laki tinggi besar itu.
"Dia berbeda 30 tahun darimu Tess, bahkan ayahmu tidak setua itu," gumam Contessa mencoba mengembalikan keteguhan hatinya. "Dia pembunuh, penganiaya, tukang pukul, mafia, dan uangnya yang segambreng didapat dengan penuh dosa. Astaga! Apa sih yang kau pikirkan barusan Contessa!" seru Contessa gemas sambil menatap kaca di depannya.
Lalu menatap wajahnya.
Dan ingatan beberapa menit yang lalu langsung berkelibat di otaknya.
Wangi tembakau, bercampur parfum dengan aroma wood yang maskulin.
Janggut yang tampaknya kasar, nyatanya sangat lembut.
Leher yang kokoh bagai batu.
Dada ya-
"A-a-aku harus cuci muka! Tidak bisa begini!!" Contessa mengerang sambil mengarahkan tangannya mendekati sensor wastafel lalu membasahi mukanya dengan air.
Tapi setelah cuci muka, jadi semakin parah.
Bukannya membaik, bayangan ingatannya malah kembali ke masa lalu, saat beberapa tahun yang lalu, Contessa selesai berhubungan badan dengan Damaskus.
Gadis Itu yang keperawanannya sudah hilang, masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Ia tidak tahu harus apa, apakah harus menangis atau lega karena hutang ayahnya menjadi lebih kecil, ia hanya bisa berdiri di bawah shower dengan air hangat membasahi rambut dan punggungnya.
Sesaat ia menyadari, ada orang masuk ke sana.
Lalu memeluknya dari belakang saat ia dalam keadaan tidak siap.
Pria di belakangnya mengecup lehernya, tangannya yang besar merengkuh dadanya dan meremasnya dengan lembut.
Contessa mende sah karena sensasi refleknya. Tapi gadis itu tak melawan.
Ia memutuskan untuk berusaha menikmati setiap belaian, merespon baik walau dipaksakan. Karena menurutnya ia sangat beruntung, ia dihargai begitu tinggi oleh laki-laki ini.
Wanita lain belum tentu diperlakukan seperti ini. Belum tentu pengorbanan mereka diterima untuk seharga milyaran. Bahkan mirisnya, ratusan ribu saja sudah untung.
Jadi menurut Contessa saat itu, tak apalah berakting sedikit, setelah ini ia bebas.
Tapi nyatanya, itu hanya pikiran Contessa, karena tubuhnya waktu itu bergerak tidak sinkron dengan otaknya.
Untuk yang kedua kali, rasa sakit itu samar-samar , tidak seperih yang pertama. Setelah mandi mereka melakukannya lagi.
Bahkan keesokan harinya, selama seharian mereka melakukannya lagi. Contessa pulang 3 hari setelah ia pergi.
Dan saat itu, perasaannya sangat bahagia. Bukannya sedih.
Ia seharian senyum, merasa sebagai wanita seutuhnya.
Dicintai, dipuja, dimanja… apa ini perasaan pengantin baru?
Tapi malamnya, Contessa malah jadi gila! Tubuhnya mencandu sentuhan pria tua yang ia temui, tapi otaknya melarangnya bergerak.
Depresi langsung melandanya. Selama seminggu ia mengurung diri di kamar. Tidak kuliah, tidak bepergian. Makanan order dari aplikasi online, dimasukkan lewat jendela.
Contessa merasa kotor namun juga sangat menginginkan waktu yang telah ia tinggalkan kembali.
Perasaan candu itu kembali lagi. Perlahan tapi pasti, tubuhnya mulai mengingat, bereaksi seperti tertarik magnet, ke Damaskus!
Contessa menarik nafas dan menghembuskannya.
Ia bingung harus bagaimana.
"Sudah terlanjur…" gumamnya.
"Sudah tidak bisa mundur lagi. Aku harus meneruskan yang kumulai,"
Contessa menarik tissue untuk melap mukanya.
"Kalau aku menolaknya, entah apa jadinya nasib ayah. Mengecewakan raja lalim, seakan aku mempermainkan hatinya, bisa-bisa aku terbelah jadi dua!"
Jadi… Contessa memutuskan untuk bersikap mengalir saja seperti air. Maju namun perlahan. Walau pun enggan, setidaknya semua akan selamat.
Ia akan melihat reaksi Damaskus dulu setelah ini. Apakah pria itu mendekat atau menghindar.
Semua tahu perasaan Damaskus ke Contessa.
Tapi semua tidak tahu bagaimana Damaskus akan mengendalikan dirinya.
Pria itu sulit ditebak. Artemis yang sudah lama berjasa baginya saja dengan mudahnya akan ia singkirkan hanya karena kesalahan kecil.
Bagaimana dengan 'seonggok' Contessa? Sudah pasti kerikil di antara beras putih. Tercipta untuk diambil dan dibuang.
**
"Saya tidak bermaksud membunuh Dennis, Contessa-nya saja yang panik duluan," gerutu Damaskus saat ia menengok keadaan Artemis di klinik kantor.
Tepatnya di belakang ruang HRD, dengan Lily yang sudah terbiasa menangani 'anak-anak Damaskus' yang datang dengan terburu-buru dan berdarah-darah.
"Boss, katana-nya sudah di atas, tinggal ngayun aja kepenggal nih kepala gobblok si Dennis!" gumam Baron sambil mencebik. Ia kini sedang dalam kondisi sangat waspada terhadap Damaskus, "Hanya karena gadis kurus yang tingkahnya random, Boss bisa mengorbankan Dennis, bagaimana dengan nasib kami? Kami rela mati demi pekerjaan! Apakah itu tak ada harganya?!" dengan emosi Baron berbicara, tapi nada suaranya agak ditekan karena Artemis masih tertidur di ruangan sebelah. Cowok itu disuntik morfin agar sakit tubuhnya bisa teratasi sedikit.
"Raden, kamu berlebihan," kata Damaskus sambil mengelus janggutnya.
"Bagian mana yang saya berlebihan? Boss yang bersikap kekanakan! Hanya karena cewek naif itu!" kini Baron bahkan tidak bisa kalem lagi.
"Kamu lihat tidak sih, waktu terangkat, katana-nya saya balik?" desis Damaskus.
"Hah?" Baron mengangkat alisnya.
Damaskus mengangkat bahunya, "Saya bermaksud menggertak Dennis, kalau bisa sampai tuh bocah pingsan. Makanya Katananya saya balik, yang akan terkena leher Dennis adalah bagian tumpulnya, punggung pedang. Tapi saya keburu diserang dengan tindakan tak terduga, padahal keren itu kalau Dennis kelojotan kaget… Kheheheh, "
"Boss…" gumam Baron lemas, "ini beneran nih?" ia tidak yakin.
"Ya kamu lihat saja, yang saya ambil di meja Ivander itu Katana Replika yang belum diasah, yang baru datang dari supplier kemarin, yang masih tumpul pinggirnya. Sebenarnya mau dibolak balik tetap saja nggak bisa bunuh orang sih, hehehehehe,"
"Masa sih Boss? Kok kelihatannya meyakinkan waktu Boss angkat katana itu ke atas, mukul dan nendangnya juga beneran loh,"
"Ya memang beneran, tapi Dennis dalam kondisi prima. Dia tidak mungkin terbunuh hanya dengan hal begitu. Kecuali Tuhan berkata lain,"
"Itu juga keterlaluan, Boss," gumam Baron masih waspada.
"Raden, kamu ikut saya lebih lama dari yang lain. Masa masih tidak bisa menebak tindakan saya?" Damaskus tersenyum tipis sambil membalik tubuhnya dan berniat kembali ke ruangannya.
Hari sudah semakin malam, dan dia harus membicarakan hal serius bersama Contessa.
Kalau ia bisa menangkap Contessa.
Gadis itu pasti sedang berusaha menyembunyikan dirinya. Menghindarinya.
"Enak saja mau kabur semudah itu. Mau lari sampai ke ujung planet, sampai ke dalam tanah, ke beda dimensi, akan kukejar kalau sudah begini..." gerutu Damaskus.
**