The Big Boss For A Countess

The Big Boss For A Countess
Oase



Dengan ragu Contessa menyuapkan sesendok sup ke dalam mulut mungilnya, lalu melirik Damaskus di depannya.


Pria besar ini tidak terlihat memasukkan apa pun ke dalam mulutnya kecuali wine di dekatnya. Udara Jakarta malam ini panas, kenapa juga si Boss malah minum wine? Bukankah tubuh akan jadi lebih hangat?


“Kenapa Pak?” gumam Contessa menegur Damaskus.


“Nggak apa-apa,” balas pria itu.


“Bapak nggak makan?”


“Nggak lapar,”


“Saya belum pernah liat bapak makan,”


“Nanti malam saya makan,” tapi saat mengatakan kalimat itu, Damaskus sambil terkekeh.


Ingatan Contessa langsung kembali ke masa lalu, masa ia mengenal lidah seorang pria menjilat bagian tubuhnya.


Dan Contessa menyadari bahwa ‘nanti malam’ itu Damaskus akan menyantapnya. Ia lah makan malamnya.


Contessa menelan ludahnya yang seketika kering.


Lalu melanjutkan makannya dalam diam, ia berpikir kalau ia tidak ingin terlalu banyak makan agar metabolisme tubuhnya tetap stabil. Ia tak ingin tiba-tiba sakit perut atau sakit kepala nanti.


Benaknya dipenuhi pikiran seperti ‘apa aku waxing kilat saja di mall? Perlu ke salon dulu tidak ya? Sempatkan ke supermarket di bawah untuk beli lotion pelembut, pewangi pribadi, ah jangan lupa antiseptik. Duh supnya mengandung bawang putih, beli juga pasta gigi yang wanginya nggak kaleng-kaleng!


Berikutnya pikiran tidak percaya diri mulai melandanya,


Kenapa Damaskus menginginkanku? Ada banyak wanita cantik di sekelilingnya. Dia laki-laki dengan kekuasaan dan kekayaan. Apa yang diharapkan dari gadis polos ceroboh sepertiku? Dia bisa dapat keperawanan banyak wanita alau ia mau, kenapa harus aku yang diikatnya? Apa sebenarnya yang ia lihat dari diriku?


Dan berbagai pertanyaan lain yang membuat Contessa berhenti sejenak dari acara makannya dan hanya duduk mematung menatap mangkuk sup.


“Contessa...”


Panggilan lembut Damaskus yang menggema menyadarkannya dari khayalan. Contessa mengangkat wajahnya yang gundah dan menatap Damaskus.


“Ya Pak?”


Wajah Damaskus kali ini berbeda dengan biasanya. Lebih lembut.


Matanya menatap Contessa dengan sendu, dan senyum tipis terurai di bibirnya yang sedikit tertutup jambang tebal. Kerutan khas pria lanjut usia yang mature menghiasi bawah matanya.


Ekspresi yang tidak pernah Contessa lihat.


“Kalau kamu tidak mau, saya akan mundur,”


Contessa sampai-sampai mengangkat alisnya. Tapi entah kenapa pikiran itu mengganggu pikirannya.


“Bagaimana Pak?” tanya Contessa bingung.


Damaskus meletakkan gelas winenya


“Saya juga tahu diri, Tess...” gumam pria itu sambil mengetuk-ngetuk pinggiran gelas kristalnya, “Pria seperti saya dengan gadis seistimewa kamu, yang mendekat karena memang ada urusan. Dari awal saya akui saya memang tertarik sama kamu, dan kesombongan mulai meliputi saya. Saya bisa mendapatkan segalanya, kenapa tidak saya manfaatkan saja moment ini,”


Lalu Damaskus terdiam sejenak dan memandang Contessa, “Dari awal kamu yang datang ke saya, saya penasaran dan saya coba untuk mendekati kamu. Tapi tanpa di duga kamu terus menerus mengirimkan sinyal hijau. Saya lumayan percaya diri sejak kamu mencium saya, walau pun saya tahu hal itu hanya untuk menghentikan saya berbuat lebih jauh,”


Sampai saat ini Contessa hanya bisa terdiam.


Ia memang dalam keadaan tertekan selama ini.


Budaya kerja yang keras dan sifat Damaskus yang tak terduga, hal ini membuatnya capek. Belum kejadian-kejadian aneh yang dialaminya.


“Baju yang saat ini kamu kenakan membuat saya sadar... kalau saya harus membiarkan kamu bebas. Itu memang baju istri saya, tapi lemari itu hanya berisi sekumpulan pakaian yang tak pernah dia kenakan. Makanya saya sanggup meletakkannya di depan. Sebagai pengingat, kalau saya pernah mengalami kisah cinta yang apa adanya, tanpa paksaan, tanpa tekanan, tanpa hubungan bisnis,”


Selanjutnya makan malam mereka terasa berbeda.


Contessa benar-benar tak enak hati.


Itu sebabnya Damaskus hanya minum wine kali ini.


Gejolak percintaan memang berurusan dengan hati. Hati mempengaruhi pikiran dan fisik. Orang sekuat dan sebesar Damaskus pun belum tentu selamat kalau sudah berkaitan dengan perasaan.


“Pak...” desis Contessa selanjutnya. “Boleh antarkan saya pulang? Ke rumah ayah tiri saya,”


**


Rumah itu sepi dan mobil Adiwilaga tidak ada di garasi.


Gerbangnya terkunci, namun tanpa gembok.


Contessa memutar anak kunci ke pintu depan sambil berpikir, Mungkin ayah kembali ke kantor, dia memang biasa begitu, pulang sebentar lalu balik lagi ke kantor.


“Kemana Adi?” tanya Damaskus sambil mengamati sekitarnya.


“Dia tidak mengabari, Pak. Mungkin di kantor. Tapi biasanya dia pulang kok. Yang jarang pulang kan saya, hehe,” kata Contessa sambil membuka pintu rumahnya.


“Bapak mau masuk dulu? Minum kopi atau santai dulu? Siapa tahu ayah saya pulang,”


Damaskus melirik ke dalam. Rumah itu tampak rapi dengan interior yang sederhana. Khas Adiwilaga. Cermat dan tertata, sejak dulu ia begitu. Makanya Damaskus merasa Adi bisa mengimbangi dirinya yang berantakan soal administrasi.


“Contessa,” Damaskus berdiri besandari di tiang besar penyangga garasi, “Saya tidak benar-benar menginginkan Adi mengalami semua ini,”


Contessa menunduk sambil mengangguk sekilas, “Dulu saya memang menganggap Bapak ini begitu. Tapi sekarang setelah saya mengenal Bapak...” Contessa menghela nafas, “Setelah saya dalami kasusnya, memang semua salah ayah saya. Ia agak ceroboh. Bukannya saya membela diri, tapi seingat saya, kami sebagai keluarganya juga tidak pernah meminta dia memberi hadiah yang mahal-mahal atau nafkah yang mentereng. Saya dan Ibu saya dulu sudah hidup berkecukupan dari hasil warisan ayah kandung saya. Ibu saya juga lumayan bisa investasi, makanya saya tertarik mempelajari ekonomi,”


Damaskus mengangguk mendengar penjelasan Contessa.


“Saya masih berharap ayah kamu bisa memulihkan bisnisnya dan bergabung kembali bersama kami di perusahaan,” kata Damaskus.


“Sudah saya duga, makanya bapak selalu membantunya, walau pun lewat orang lain. Tipikal Pak Dama, tidak ikut campur dengan tangan sendiri, tapi nyuruh-nyuruh orang buat terjun bebas,”


“Kamu tampaknya cukup baik mengenal saya,”


Contessa hanya diam sambil tersenyum tipis.


“Saya pamit ya, sampaikan salam ke Adi. Mulai besok, kalau kamu mau, saya akan pindahkan posisi kamu ke ruangan Arini saja. Terlalu banyak hal berbahaya di atas,”


Itu hanya salam perpisahan biasa.


Tapi hal itu malah terasa aneh.


Seakan ada yang tidak sesuai.


Contessa tidak ingin pria ini pergi, atau pun sekedar membalikkan tubuhnya membelakanginya.


Gadis itu sadar, ia sudah kecanduan.


Bukan masalah kemapanan, bukan masalah seksualitas, bukan masalah kekuasaan dan kekayaan. Tapi ini masalah sosok Damaskus yang angkuh dan otoriter, tapi memiliki hati lembut yang hanya untuk Contessa. Bersedia memberikan apa pun untuknya. Bersedia memberikan dunianya untuk Contessa.


Contessa merasa dihargai.


Gadis itu merasa diperlukan.


Dari rasa empati yang timbul, berubah menjadi rasa sayang. Dari rasa tertekan, berubah menjadi ketergantungan.


Keterpaksaan yang berubah menjadi ketertarikan.


Semua tidak akan sama lagi kalau Damaskus pergi.


Jadi...


Contessa maju selangkah, dan mengambil tangan Damaskus. Lalu menggenggamnya jemarinya yang besar.


Sekali lagi, ia rela terjun ke jurang.


Karena ia tahu di bawah jurang itu... ada Oase.