
“Emh...” Contessa memeluk bantalnya sambil meringkuk, ia menekuk tubuhnya karena merasa kedinginan. Sebelah tangannya mencoba menggapai-gapai selimut, lalu ia tarik agar menutupi tubuhnya sampai batas leher.
Dan ia pun menghembuskan nafas lega, lalu berencana kembali melanjutkan tidurnya.
Hari apa ya ini? Kok alarm hapeku nggak bunyi? Pikirnya bertanya-tanya sambil membenamkan wajahnya di bantal.
Bantalnya Lembut, empuk, hangat dan memiliki aroma menenangkan yang ia suka. Wangi wood dan oat. Lembut dan maskulin, seperti seseorang yang ia kenal.
Ohiya, ini hari Sabtu, weekend. Pantas alarm nggak bunyi. Tidur sampai siang aja lah ya. Ayah nggak sibuk kan ya hari ini? Nggak usah masak deh nanti beli Mie ayam aja. Paling kalau lapar dia bangunkan aku. Sebelum diganggu, tidur lagi aaah! Pikir Contessa.
Gadis itu memeluk bantalnya lebih erat.
“Hm...” gumamnya karena merasa aneh.
Ini kenapa badanku pegel-pegel luar biasa begini ya? Kayak habis lari marathon! Terakhir begini tuh pas outbond waktu training masuk Praba Grup. Salep pereda nyeriku habis pula ! harus ke apotik dulu. Coba kemarin sempatkan beli sebelum pulang!
Lalu ia berusaha membuka matanya. Rencananya mau bangun karena mau beli salep. Tapi sesaat kemudian, sambil mengangkat kepalanya ia menyadari sesuatu.
Pulang? Kemarin itu aku pulang ke rumah atau ke rumah Ella? Kok aku nggak ingat ya? Tunggu... aku kan seharusnya ke ruangan Pak Boss untuk ambil tas, habis itu setelah ambil tas itu aku-
BRAKK!!
Aku di mana?
Contessa mengusap mukanya dengan agak kasar, lalu berusaha sekuat tenaga membuat kesadarannya pulih dan mengucek-ngucek matanya yang sembab.
Ini bukan kamarku.
Contessa mengerutkan kening sambil menatap ke segala arah.
"Aku kesasar di museum ya?!" gumamnya heran.
Masalahnya, ruangan yang sekarang ia lihat bergaya klasik, dengan banyak lukisan kuno, dinding kayu yang ukirannya sangat indah dan di depannya ada perapian raksasa. Khas eropa dengan langit-langit tinggi dan lampu kristal besar.
Contessa memicingkan mata, perapian di depannya ada TV di atasnya. Bukti kalau ini bukan museum. Dan setelah dilihat-lihat ada laptop di atas nakas di samping sofa dekat jendela.
Pemandangan di luar jendela…
Awan?
Banyak awan
Langit?
Yang jelas bentuknya bukan halaman atau parkiran.
"Buset!!" desis Contessa sambil menggeser posisi tubuhnya untuk menuju jendela, memastikan dia saat ini berada di mana. Bagaimana bisa ada awan di depan jendela?! Apakah ini khayangan?!
Tapi saat kakinya menyentuh lantai marmer hitam, ia menyadari kalau, "Kok aku…"
Tanpa pakaian.
Sehelai pun.
"Astaga!" Contessa meraih bantal raksasa di dekatnya untuk menutupi tubuhnya. Karena selimutnya ternyata quilt yang tebal dan besar, jadi agak berat kalau ia angkat.
Dengan keheranan ia hampiri jendela besar di depannya, dan mengintip ke bawah.
Seketika ia langsung pusing, karena tidak melihat daratan.
"Anjir ini di manaaaa?!" keluhnya merinding.
“Di rumah saya,” suara berat seorang laki-laki dari arah belakang Contessa.
“Rumah? Di atas gedung?”
“tepatnya ini condominium. Jenis Penthouse, jadi letaknya di lantai paling atas gedung,”
“Apartemen ya Pak?”
“Kalau di negara berkembang ini, semua dipukul rata ya namanya apartemen. Kalau pengusaha seperti saya, apartemen dan condominium itu beda,” terdapat nada sinis dalam ucapan Damaskus.
“Bedanya apa Pak? Sama aja bangunan vertikal kan?”
Damaskus menghela nafas tampak malas dan meremehkan, ia akhirnya menghampiri Contessa. Contessa reflek melipir mepet tembok untuk menutupi bagian belakangnya yang polos tanpa tertutup , “Apartemen itu bentuk gedungnya tinggi, terdiri dari banyak unit yang disewakan, jadi unitnya tidak bisa dimiliki oleh yang tinggal di sana. Mirip kos-kosan eksklusif tapi lebih luas. Memangnya kamu bisa buat sertifikat kepemilikan untuk kamas kos? Kan tidak,,,”
“Em... gitu?” Contessa bahkan tidak bisa berkonsentrasi mendengarkan pria itu.
“Kamu pernah nonton drama Korea kan? Biasanya ada landlord yang punya bangunan besar, lalu dia bangun unit-unit sampai tinggi, dan unit-unitnya disewakan ke orang? Nah itu apartemen,”
“Kalau condominium bagaimana pak?”
“Sama, gedung tinggi yang terdiri dari banyak unit, biasanya di atas 20 lantai. Dan setiap unitnya bisa memiliki sertifikat kepemilikan unit. Bahasa kerennya, strata title. Itulah condominium yang sebenarnya. Di Negara ini orang-orang cenderung salah kaprah. Apartemen dia sebut kos-kosan, condominium dia sebut apartemen. Kalau ke luar negeri bingung sendiri, payah ah...”
“Yah bagaimana kita kan orang kampung, mana ngerti gitu-gituan,”
“Kamu akan jadi istri konglomerat, jadi sudah waktunya kamu belajar gitu-gituan,”
“Ih, saya kan-“ dan Contessa pun terdiam, lalu memiringkan kepalanya karena ia merasa ada yang aneh di kalimat Damaskus barusan.
“Anuuu, Pak? Saya akan jadi apa barusan bapak bilang?”
Damaskus menegak isi gelasnya dan berdecak menatap Contessa dengan lirikannya yang tajam, “Kamu jangan pura-pura tuli,” katanya sinis.
“Konglomeratnya siapa? Maksudnya Bapak sendiri gitu?” nada suara Contessa berubah panik, “Memangnya apa yang membuat bapak ini dengan pedenya berani bilang kalau saya mau jadi istri bapak?!”
“Kamu tahu apa yang sudah kita lakukan semalam?”
“Hah?!” Contessa terbelalak, “Apa yang sudah kita lakukan semalam?”
Damaskus menyeringai, “Ya sudah kalau tidak ingat,” ujarnya sambil berjalan keluar dari kamar.
“Apa yang kita lakukan semalam pak?!” seru Contessa semakin panik.
“Sana mandi, baju kamu di lemari, pilih saja punya almarhum istri saya,” dan pintu kamar pun tertutup.
Sebenarnya... tidak ada apa pun yang terjadi semalam.
Damaskus hanya membuka pakaian Contessa yang penuh darah, dan karena ia malas memakaikan baju pada Contessa yang sudah tertidur karena kecapekan, dia biarkan saja gadis itu tel anjang, hanya ditutupi saja dengan selimut.
Saat mandi, Contessa berpikir keras. Ia mencoba merasakan tubuhnya. Tidak terasa apa pun kecuali pegal-pegal akibat didorong oleh tahanan semalam.
Tapi bagian bawah tubuhnya tidak terasa aneh, tidak perih dan tidak risih.
“Aku nggak mabok kan ya?” gumamnya ke dirinya sendiri. Rasanya ia tidak ingat. Setelah melihat Damaskus datang, dan membereskan semuanya, ia hanya merasa sangat lega, setelah itu tiba-tiba ia mengantuk.
Setelah mandi, Contessa membuka lemari pakaian dan menemukan banyak baju-baju wanita tergantung rapi. Istri pertama Damaskus sudah meninggal 24 tahun lalu, tapi pakaiannya tetap dirawat dengan baik. Contessa bisa menghirup wangi parfum laundry di setiap helainya.
Dan bagusnya, kebanyakan modelnya sepanjang jaman. Untung saja Almarhum istri tidak menyukai gaya yang aneh-aneh.
Masalahnya...
“Laaah, kok kegedean sih?! Gue kurusan apa gimana nih?!” Contessa sewot sambil cemberut menatap cermin.
Rania, istri Damaskus memiliki postur 175cm / 55kg. Jelas jauh kalau dibandingkan Contessa yang hanya 155cm/45kg.