
Sambil merengut Contessa kembali ke ruangan Direktur.
Ia merasa sendirian di sini.
Tak ada teman, tak ada yang mendukungnya. Tak ada tempat bertanya...
Ia bahkan tidak tahu apa yang harus ia lakukan di sini. Pekerjaannya berantakan, sehari-harinya hanya mondar-mandir tak jelas, sekedar menuliskan kata pembuka di email saja ia tak becus.
Dan Arini terlihat di ujung sana dengan dress merah ketatnya membawa bantex yang kelihatannya isinya tidak terlalu penting. Contessa menarik nafas panjang dan menghembuskannya, untuk mengurangi beban pikiran yang menghiasi isi kepalanya.
“Contessaaaaaaa,” sapa Arini dengan gaya yang berlebihan, “Apa kabar shaaaaay? Ih, aku syuka baju kamu, simple!”
Mungkin yang dimaksud Contessa dengan simple itu berarti ‘kampungan’ ya. Kalau dibandingkan dengan dress dengan logo C bolak-balik yang dikenakan Arini sih, jelas bumi dan langit! Setelan yang dikenakan Contessa dibeli di Mal Ambassador soalnya, jadi jelas tanpa merk dan tanpa kualitas. Asal bisa dipakai, nyaman, dan sopan saja judulnya.
“Mbak Arini, kabar baik,” kata Contessa, “Udah berapa banyak orang yang ngomongin saya hari ini? Puluhan? Ratusan?”
“Iiiih Ge-Er ah kamyuuu. Ya tapi emang pada menghujat sih, hahahahah!” seru Arini dengan gaya congkaknya.
Setidaknya dia apa-adanya.
“Mau tahu yang paling menyebalkannya Mbak?” tanya Contessa.
“Apa? Apa?” Arini menghampiri Contessa sambil mencondongkan tubuhnya seakan bersiap menerima gosip baru.
“Ternyata, saya itu temannya Artemis sejak kecil. Dia itu suka malakin saya dulu. Saya baru tahu tadi malam kalau dia itu preman gang di perumahan saya,”
“OMG! OMG! OMGeeeeeeeee!! Serius kamuuuu?! Arrrgh kereeeen!”
“Nggak keren, Mbak! Dia itu preman!” sahut Contessa sambil memperlihatkan mimik khawatir, “Bisa-bisa Mbak Arini diapa-apain sama dia! Dia itu tukang pukul, pemeras, pecinta kekerasan dan-“
“Aaaw!! Mau dong dikerasin sama Artemiiiis!” seru Arini melompat-lompat kegirangan.
Contessa terdiam sambil mencibir. Di pikirannya : “Dunia sudah gila!”
“Kalau tiba-tiba Mbak Arini diketemukan tak bernyawa di dalam koper, saya udah nggak heran lagi ya Mbak,”
“Iiiih kamu salah sangka dengan Artemis! Dia itu kalau dengan wanita pujaan pasti sikapnya lembut!”
Dan ingatan Contessa langsung beralih ke tadi pagi, saat Artemis dengan entengnya memeluk Ella. Sekilas pandangan Artemis ke Ella sumringah, bagaikan kangen sudah lama tidak bertemu sahabat. Dia bahkan berhenti bersikap kasar saat Ella memintanya.
“Tapi kan kita tak tahu siapa wanita pujaannya,” desis Contessa sambil mengamati penampilan Arini. Karena tidak mungkin Arini adalah tipe wanita kesukaan Artemis. Kalau iya, mungkin sudah dari lama mereka berhubungan.
“Wanita tercantik di gedung ini adalah aku, jadi sudah pasti senggol dikit dia akan luluh! Setuju nggak? Iya kaaaan?!” Arini menoel pipi Contessa dengan genit. Lalu dengan menggerakkan bokongnya yang besar itu dia berjalan masuk ke dalam area Direksi untuk menitipkan bantex yang dari tadi ditentengnya ke operator.
Tapi belum sampai dia masuk ke dalam, Damaskus dan para anak buahnya keluar dari ruangan sekretaris.
Contessa memekik kaget namun sudah terlambat baginya untuk bersembunyi. Damaskus sudah menatapnya lekat-lekat. “Sudah semedinya? Lama amat kamu!” gerutunya ke arah Contessa.
“Maaf Pak,” Contessa agak menunduk sambil memasang wajah datar.
“Kamu mau apa?!” tanya Damaskus ke arah Arini.
“E-e-eh.. A-anu Pak, ini penawaran dari suplier soal mesin crusher yang baru-“
“Saya sudah tak butuh, sudah tunjuk suku cadang punya C-Corp!” sahut Damaskus sambil merebut bantex yang dibawa Arini dan melemparnya ke tempat sampah.
“Contessa,” panggil Damaskus.
“Ya P-Pak?” gumam Contessa pelan karena ketakutan.
“Saya dan Baron mau urus administrasi di Kedutaan Eterny untuk persiapan minggu depan, Artemis mau ujian, Griffin dan Ivander akan mengecek suku cadang,”
“Baik Pak, saya akan jaga kantor-“
“Hah? Boss! Jangan disuruh jaga kantor lagi dong! Mendingan saya rela nggak ikut ujian dipukulin Boss daripada dia jaga kantor! Bisa rubuh gedung kita!” protes Artemis yang langsung maju dan menatap Damaskus dengan mimik khawatir.
“Lebay kamu!” gerutu Damaskus.
“Boss kan tahu berapa yang harus kita keluarkan dan apa yang harus kita lalui untuk meredam massa yang bertanya-tanya mengenai kasus kemarin. Mana di tengah lobi pula kejadiannya!” sahut Artemis, “Walau pun dia istimewa tapi tetap saja saya ogah ninggalin dia sendirian!”
Contessa hanya mencibir mendengarnya. Sebal juga ia dianggap nggak becus bekerja. Walau pun ia sendiri mengakui hal itu, tapi rasanya kesal kalau mendengarnya dari mulut Artemis.
Karena ia mengenal Artemis sejak kecil, yang selalu meremahkan orang-orang di sekitarnya.
“Lalu dia harus berada di mana Tem? Dia harus bekerja sesuai porsinya dan tidak mungkin dibawa-bawa ke tambang atau kedutaan,”
“Ikut saya aja lah, pinjam laptop Van, buat ni cewek sortir email sambil nungguin gue ujian,” kata Artemis.
“Hah? Ikut kamu?!” Damaskus terdengar sewot.
“Ya kan paling aman di kampus, Boss. Paling mentok-mentok kalau bosan dia pulang ke rumah,”
“Rasanya kok ada yang salah ya,” gumam Damaskus sambil mengernyit.
“Saya setuju juga, Boss,” Kata Ivander sambil menyerahkan laptopnya ke Contessa, “Mending dia sama Temmy daripada sendirian. Hitung-hitung biar dia fokus kerja juga di perpus kampus. Kalau di sini dia kayaknya keganggu sama aktivitas Boss, ya gak Tess?!” sambil terkekeh Ivander berujar ke arah Contessa.
Contessa diam, tapi ia menipiskan bibirnya, tanda kalau Ivander sepenuhnya benar.
Saat Big Boss dengan enggan akhirnya melanjutkan perjalanan, Artemis menarik lengan Contessa mendekat dan bilang, “Habis gue ujian, temenin ke rumah Ella. Biar gue ada alasan!” bisiknya
“Kampret lu! Dah punya suami tuh dia! Enak aja lu goda-goda bini orang...”
“Gue tahu, O’on, gue barusan cari siapa suaminya. Laki kayak gitu ngapain dipertahanin sih. Ignya pake fake account isinya foto mesra sama cewek beda-beda pula. Nggak ada tuh foto Ella di sana,”
“Hah?” Contessa menatap Artemis sambil membesarkan matanya yang agak sipit, “Pake fake account? Januar bukannya ada ig sendiri? Nggak ada tuh foto kaya gitu! Lo serius? Fitnah nggak nih?!”
“Lo mau liat buktinya? Namanya Januar kan?!”
“Ya bener sih itu namanya. Tapi...” Contessa memicingkan mata dengan curiga, “Ngapain lo sampai stalking ig lakinya Ella? Kepentingan lo apa?!”
Artemis diam sambil mencebik, “Bawel lo, dah diem aja!”
“Laaah, gue bener dong nanya begini! Lo mau ngapain coba, ikut campur urusan rumah tangga orang?!”
“Cepetan ambil tas lo! Gue tunggu di parkiran!” seru Artemis kesal sendiri.
“Awas lo ya macem-macem! Tetep aja preman penyuka kekerasan macam lo nggk cocok buat Ella. Brengsek!” Contessa mengomel-ngomel sendiri sambil masuk ke dalam ruangan Big Boss untuk mengambil tasnya.
Sementara Arini? Dari tadi dia terpaku di sana, menelaah apa yang terjadi. Tapi tetap saja dia kebingungan. Yang jelas, Artemis sama sekali tidak memperhatikannya walau pun Arini udah nangkring di depan mata.