The Big Boss For A Countess

The Big Boss For A Countess
Gosip Toilet



Jadi Contessa kesulitan untuk fokus dengan pekerjaannya, ia sibuk meringkuk di balik layar komputer Damaskus sambil mendengarkan pria itu marah-marah ke karyawan-karyawannya. Mengenai mesin, mengenai pencurian, mengenai deal dengan Bank, mengenai tender. Semua dibahas selama satu jam yang penuh ketegangan.


Contessa bahkan tidak mengerti apa saja yang ia baca di komputer Damaskus. Yang jelas ia merasa sangat iba melihat karyawan Damaskus yang tertekan dengan wajah pucat pasi mendengarkan omelan Big Boss.


Dan tentunya, karena profesi sampingan Damaskus adalah seorang eksekutor, sudah pasti kalimat terakhir dipenuhi ancaman ‘kalau kalian tidak mencapai target yang kalian ajukan sendiri sampai akhir tahun, saya akan membuat kalian menyesal sudah mengenal saya. Jelas?’


Dan kalimat itu sebagai penutup kalau meeting saat ini sudah berakhir.


Damaskus melempar map yang ada di tangannya sembarangan, lalu menghampiri Contessa.


Contessa masih terpaku di tempatnya. Dengan postur tubuh menghadap komputer dan jarinya yang kaku di atas keyboard. Ia bahkan lupa mau mengetik apa.


Terbayang di benaknya, ayahnya, Adiwilaga, disiksa habis-habisan oleh Damaskus kalau hutang ini sampai due date-nya namun belum bisa terbayar.


Namun yang paling membuat Contessa seketika membeku lebih lanjut, adalah... saat Damaskus menunduk dan meletakkan dagunya di puncak kepala Contessa, dengan tangannya yang besar mengelus lengan gadis itu.


Contessa terdiam.


Yang ia rasakan hanya kulit kasar membelai sepanjang lengannya.


Ia tidak merasakan apa pun selain itu.


Ia sadar tapi ia malah enggan menghindar.


Dengan berat, ia menelan ludahnya. Tenggorokannya sangat kering. Perih tanpa dialiri cairan.


“Jadi,” terdengar geraman Damaskus dari atas, “Dari tadi kamu ngapain?”


Arrgh! Sial! Erang Contessa dalam hati sambil memejamkan mata.


“Tadinya... mau mengetik kata pembuka karena akan mengirimkan email balasan untuk Kementerian ESDM,” desis Contessa. Ia bisa mendengar suaranya agak gemetar.


“Jadi dari sejam yang lalu, tulisannya hanya ‘Kepada Yth,’ ?!” desis Damaskus.


Tangan pria itu merambat naik ke bahu Contessa, lalu ke leher kurus gadis itu, dan menyampirkan rambut panjangnya ke belakang punggung.


Sungguh mengherankan tangan sebesar itu, dengan kulit sekasar itu, bisa berbuat selembut ini ke rambut Contessa.


Entah bagaimana, Contessa terpaku di tempatnya. Malah ia tidak ingin lari ke mana pun. Di pikirannya hanya ada rasa penasaran, dan rasa... rindu.


Rindu akan belaian pria itu di atas kulitnya, seperti masa lalu yang mereka pernah hadapi.


Damaskus yang kasar terhadap orang lain, namun lembut dan memperlakukan Contessa seperti benda rapuh.


Bibir pria itu mendarat di lehernya, helaian jambang bergesekkan dengan kulit Contessa yang terbuka. Contessa menarik nafas panjang, mencoba menguasai dirinya.


Namun ia tidak berhasil.


Bagai dihipnotis oleh sentuhan pria ini, ia hanya bisa diam seperti boneka.


Sesaat ia menyadari kalau...


Ini tidak benar!


“Pak,” Contessa berkelit dan berdiri. Lalu mengelus kedua lengannya yang langsung merinding, “Kalau bapak pikir dengan 100 juta bapak bisa seenaknya sentuh-sentuh saya, bapak salah sangka!” desisnya sambil keluar dari ruangan itu.


**


Contessa memasuki kamar mandi, lalu membuka salah satu bilik di sana dan masuk. Ia duduk di atas toilet sambil menggigil.


Ia meringkuk di sana sambil memeluk dirinya sendiri dengan gemetaran.


Bagaimana bisa…


Bagaimana bisa pikirannya tidak sejalan dengan isi gerak tubuhnya.


Di saat tubuhnya begitu merindukan pria itu, pikirannya berkata kalau hal itu tidak masuk akal!


Ia hanya ingin mempermainkanmu, menganggapmu bonekanya!


Ia pikir setelah membayarmu, dia bisa berbuat sesukanya padamu!


Hati-hati! Kabur saja!


Toh, Adiwilaga bukan ayah kandungmu. Biar saja dia yang mengusahakan semuanya akibat kesalahannya sendiri. Ini semua bukan tanggung jawabmu!


Semua kata-kata itu berkecamuk di kepalanya, berusaha menyingkirkan kenyataan kalau tubuhnya menerima semua perlakuan tak senonoh Damaskus padanya.


Contessa merasa murah.


Sangat murah sampai terasa tak pantas dihargai.


Ia sudah pernah menyerahkan dirinya kepada Damaskus, yang tersisa darinya hanya rasa malu.


Perlahan tapi pasti Contessa mulai bisa melupakan trauma itu, namun nyatanya saat ia kembali dipertemukan dengan Damaskus, dan melihat pria itu memperlakukannya dengan sama seperti dulu kala saat mereka berdua beradu kasih di atas ranjang...


Ia malah terlena.


“Tidak... tidak boleh!” bisiknya gemetaran. “Tidak boleh terjadi lagi!” bisiknya.


Di lengannya yang kurus masih terasa belaian Damaskus. Rasanya seperti sensasi euforia yang membuat kecanduan. Tubuhnya bereaksi secara aneh, gugup yang terasa tak berujung bercampur dengan adrenalin yang cepat. Detak jantungnya tak teratur dan ia kini sesak nafas.


Nuraninya merespon sebuah keinginan untuk bisa menerima,


Tapi logika dan egonya mengatakan sebaliknya.


Kini, Contessa kebingungan, raut muka semacam apa yang harus diperlihatkannya ke Damaskus saat ia kembali nanti?!


“Aku lebih baik sendirian dulu di sini,” gumamnya sambil menekuk lututnya ke atas dan kembali meringkuk.


Ia mendengar beberapa wanita masuk ke toilet, ramai-ramai mengobrol dan bersenda gurau di depan wastafel.


Contessa masih dengan kegalauannya, sampai salah satu wanita tiba-tiba menyebut namanya,


“Kata Boss gue, Contessa itu dikasih meja Pak Big Boss! Gue heran deh, ada hubungan apa sih dia sama Big Boss?! Sampai-sampai dia dapat akses ke ruangan sekretaris! Ke ruangan Artemis!!”


“Iya, tadi pagi Boss gue juga bilang gitu, Contessa ngetik di meja kerja Pak Dama! Gila lancang banget nggak sih! DI depan dia Boss gue dimaki-maki! Gue yakin tuh cewek juga nggak ngerti yang diomongin, karena kata Boss gue mukanya kebingungan,”


“Seumur-umur gue baru liat Pak Dama punya asisten cewek, gue penasaran sehebat apa dia sampai Pak Dama mau rekrut dia,”


“Kayaknya nggak hebat-hebat amat ya, karena gue denger dari sekuriti, kejadian kemarin itu si Contessa yang ngelepasin orang gila itu,”


“Nah iya tuh, katanya itu sanderanya Artemis ya, nggak bayar hutang kayaknya terus ditawan. Bener nggak tuh?”


“Ssssst! Kita disuruh tutup mulut! Mau nggak lo di -dor kayak si ODGJ kemarin? Nggak usah bahas yang itu!”


“Bener juga... duh, jangan sampe gue keceplosan! Bisa-bisa keluarga gue juga jadi korban!”


“Gue takut sih sebenarnya kerja di sini, tapi gaji di sini gede banget dan bonusnya banyak! Sisa cicilan rumah gue aja bisa sampe lunas 6 bulan gue kerja di sini,”


“Makanya nggak usah bahas-bahas kerjaan Artemis dan temen-temennya, pamali! Ini tembok bisa dengerin rumpian lo!”


Ckittt!


Dan Contessa keluar dari bilik toilet.


Ia berjalan menelusuri bilik, dengan anggun ia menegakkan tubuhnya dan mencuci tangannya. Lalu menatap semua wanita di sana.


Dan tersenyum dengan manis, “Ayah saya dan Pak Damaskus teman lama, Saya juga teman kecil Artemis, jadi saya dipercaya menduduki jabatan ini,” ujar Contessa dengan tenang.


“Tapi tidak usah berharap jadi saya, ya mbak-mbak. Setiap harinya hidup saya diwarnai dengan ketakutan,” kata Contessa lagi, “Selamat siang semuanya,” dan ia pun berpamitan untuk keluar dari toilet.


**