
“Tess, sini!” Adiwilaga melambaikan tangan saat ia di ruang kerja, tempat yang terpisah dari Ella dan anak-anak.
“Ayah, aku-“
“Kamu apa-apa’an sih?”
Contessa terdiam.
“Kamu tidur sama Damaskus? Kamu serius melakukan itu dengan sadar? Kok ya jadi cewek bego banget sih?!”
Contessa makin ciut.
“Kamu tahu tidak akan jadi apa diri kamu kalau sampai berhubungan lebih jauh dengan beliau? Cukup aku saja yang menderita, Tess. Kamu sudah memberikan segalanya padanya!”
“Ayah, kali ini berbeda,”
“Bagaimana mungkin?! Kamu jadi baby-nya atau bagaimana?! Jangan bilang ini masih masalah hutang ayah!”
“Bukan, kali ini, masalah perasaan,”
Adiwilaga menurunkan tangannya dan menatap Contessa dengan kaget, lebih ke sedih dan tertekan, sebenarnya. “Kamu gila?”
“Kita bicarakan ini baik-baik, jangan emosi dulu. Kali ini ayah harus mengerti kalau aku anak perempuan ayah yang sedang terserang cinta lokasi. Aku juga masih labil, tapi aku benar-benar....” Contessa menatap ke samping, ia melihat Ella berdiri sambil menggendong si bungsu yang sudah mengantuk.
“Anak perempuanku...” gumam Adiwilaga. “Aku nggak ngerti perempuan,”
“Dari awal kita nggak bonding, jadi aku dianggap hanya gadis yang tinggal serumah, anak istrimu. Sudah itu saja,”
“Aku sudah berusaha memberikan segalanya yang terbaik,”
“Aku tahu kok ayah, ayah sampai salah jalan karena berusaha terlalu keras. Tapi sekali lagi, aku anak mu Ayah, aku tadinya berusaha membantumu. Bagaimanapun, yah... ayah satu-satunya keluargaku. Aku sendirian di sini. Dan Pak Dama... semakin aku mengenalnya, sosoknya jadi berbeda di mataku.”
Contessa tampak kebingungan bagaimana menjelaskan. Gadis itu tampak mengelus kedua lengannya yang merinding karena perasaan saat Damaskus memeluknya kembali terasa.
Astaga... otot itu, rengkuhan tangannya yang besar itu... bahkan jemarinya itu sudah cukup memuaskan apalagi bagian tubuhnya yang lain.
Gila! Fokus Tess!! Fokus!! Contessa memarahi dirinya sendiri.
Adiwilaga menjentik dahi Contessa, “Benar-benar terhipnotis kamu,” omelnya.
“Tapi... kita sama,” desis Adiwilaga lagi.
Contessa mengangkat wajahnya dan menatap ayah tirinya itu. “Maksudnya?”
“Saat itu, saat aku sadar kalau aku berbuat kesalahan... sadar kalau aku sudah ditipu, yang pertama kupikirkan adalah wajah kecewanya. Aku masih berpikiran positif, dia begitu baiknya hanya memasukkanku ke penjara, padahal seharusnya penderitaan yang kuterima lebih dari itu. Kurasa dia juga memikirkan pihak lain, karena kalau aku tidak dipenjara, yang lain pasti akan berbuat hal yang sama. Perusahaan itu dasarnya adalah organisasi preman, para tukang pukul terselubung yang tidak ingin terendus masyarakat, mereka memakai dasi untuk penyamaran, membawa diktat padahal isinya pistol,”
“Ayah bisa jadi lebih buruk kalau melihat tawanan yang mereka kurung di...” Contessa hanya mengangkat tangannya dan mengibaskannya lagi, tidak melanjutkan kalimatnya. Seketika hatinya bergemuruh dan mual karena masih trauma.
“Samsak,” gumam Adiwilaga.
“Ayah juga tahu yang itu?”
“Ayah ini senior Raden, jelas tahu. Dia bagian lapangan, ayah bagian administrasi,”
“Raden?”
“Raden Aryaguna Ranggasadono, alias Baron,”
“Astagaaaa namanya kenapa keren bangeeeet!!”
“Si Pangeran yang terbuang. Dia anak buah inti yang direkrut pertama kali oleh Damaskus setelah menjadi anak buah Widiyanti Ega. Setelah itu Damaskus merekrut Ivander, ahli peretas yang konon berhasil membobol sistem keamanan Pentagon. Gara-gara itu negara ini sampai diusut oleh pihak sana beberapa saat. Baru Griffin masuk karena dia sepupu Ivander,”
“Artemis?”
“Baron yang merekrutnya, Artemis dan Baron bertemu di penjara.”
“Mereka seram-seram, ayah...”
“Tidak, mereka bisa jadi manusia paling masuk akal yang pernah ayah temui. Juga... kamu tahu saat putusan ayah dibacakan?”
“Apa?”
Contessa semakin merinding.
“Jadi... sejak awal tidak ada ancaman terhadap diri ayah?”
“Tidak. Ayah memang pantas dipenjara karena keteledoran. Dana sebesar itu tidak bisa ditutupi, Tess. Publik pasti akan tahu. Cukup aneh kalau ayah tidak dipenjara,”
“Jadi... saat aku datang ke Pak Dama saat itu... astaga!”
“Ya, kamu merasa bodoh? Harusnya memang begitu. Kamu bodoh sekali karena maju tanpa memberitahu ayah. Aku ini ayahmu, di belahan bumi mana aku berada dalam kondisi apa pun, yang paling berhak atas kamu itu adalah aku. Udah nggak tahu apa-apa, malah ngomel nggak jelas...” gerutu Adiwilaga.
Sekilas ia menatap ke arah belakang Contessa, lalu ia kembali menatap ’anaknya’ itu dengan senyum sinis.
Contessa sudah berjongkok di lantai sambil menyembunyikan wajahnya yang merah.
Adiwilaga menghela nafas dan melipat kedua tangannya di dada, “Bagaimana pun semua salah ayah. Membiarkan kamu sendirian menghadapi dunia. Kalau boleh... untuk kali ini, karena sudah terlanjur, ayah berharap kamu bisa berdamai sejenak dengan ayahmu ini,”
“Berdamai...” gumam Contessa. Adiwilaga tahu kalau Contessa tidak pernah merasa kalau ia memiliki seorang ayah. Saat seorang anak perempuan belum menikah, seluruh kewajiban atas hidupnya masih ditanggung ayahnya. “
“Baiklah, walau pun sulit,”
“Apa sulitnya?”
“Aduh ayah... masa tak mengerti juga?” Contessa berdiri sambil mengernyit, “Teman-temanku itu berulang kali menggodaku, bilang ‘bentar lagi turun ranjang bla bla’. Makanya aku risih kalau dekat-dekat ayah, kita tuh suka digosipin tetangga!”
“Kenapa di gosipin?”
“Masa nggak ngerti?”
“Nggak.”
“Ayah Ih,” gerutu Contessa.
“Usia kalian terlalu dekat. Jadi seperti pasangan pacaran. Kalau sama saya sih jadi seperti kakek sama cucunya ya?” terdengar suara Damaskus dari arah belakang.
Contessa sampai-sampai terlonjak mendengar suara berat pria itu. Ia reflek lari ke arah Adiwilaga dan bersembunyi ke belakang ayahnya.
Damaskus berdiri bersandar di ambang pintu sambil menggendong Isa, anak bungsu Ella. Bayi 18 bulan itu kini sukses tertidur di dadanya.
“Akung... main ayunan lagi, ayunan dooong,” rengek Ibra sambi menarik-narik celana Damaskus.
“Sejak kapan semua jadi akrab?”
“Sejak semalam, kamu tidur melulu sih,” desis Damaskus.
“AKu kecapekan,” gerutu Contessa sekaligus menggoda Damaskus.
Adiwilaga sampai mengernyit merasa terganggu dengan obrolan itu. “Sekalian mumpung Boss di sini. Saya mau bilang, sesuai kapasitas sebagai seorang ayah,”
“Sejak kapan dia di sini?”
“Sejak cerita soal Baron. Kan kamu yang panggil,” tuduh Adiwilaga.
“Aku cuma bilang, nanti siang pingin makan sushi, ini masih pagi!”
“Ini sudah jam 11, Tess,” desis Adiwilaga. Dan pria itu menatap Damaskus dengan muram. Banyak hal berseliweran di pikirannya, semua hal-hal buruk. Karena sepanjang hidupnya ia mengenal Damaskus, kegiatan pria besar itu selalu diisi dengan adegan kekerasan.
“Boss,” gumam Adiwilaga, “Tolong jaga Contessa. Jangan libatkan dia ke... berbagai masalah,”
Adiwilaga tidak tahu kalau selama ini kehidupan Contessa sudah berbalik 180 derajat sejak ia menjadi karyawan Damaskus.
“Saya belum bisa janji...” kata Damaskus, “Terus terang saja, Adi. Kamu tahu sendiri kegiatan saya. Belakangan kami menemukan pejabat yang berkongsi menjual lahan batu bara yang kamu jadikan masalah itu, dan kami membuatnya bunuh diri di penjara. Masalah saya bagai tak berujung. Belum kemungkinan Rania mati dibunuh, sudah pasti akan ada lagi yang mengincar nyawa saya,”
“Kalau mereka mengendus Pak Dama ada hubungan dengan Contessa, maka nyawanya bisa terancam,”
“Ya pasti. Makanya... saya datang sekarang untuk bertanya. Mumpung ada kamu sebagai walinya... apakah Contessa siap berhubungan dengan saya?”
“Setelah semalam kita... kamu baru bertanya hal itu sekarang? Aku sudah cenderung sulit berpisah denganmu.” Gerutu Contessa.