The Big Boss For A Countess

The Big Boss For A Countess
Lagi-Lagi Kecerobohan Contessa



Contessa mengintip dari balik pilar sambil memicingkan mata menajamkan pendengaran dan telinganya.


Ia toleh ke kiri, ke kanan, tidak ada tanda-tanda keributan. Karena di mana ada keributan, di sana ada Damaskus.


Lalu Contessa beralih ke ruang Presdir, mengendap-endap ia mendekati ruangan itu, ingin mengambil tasnya yang tadi ia letakkan entah di mana, sembarang saja karena keburu panik ngeliat Artemis hampir ‘koit’ ditendangin Boss Besar.


Tak ada siapa-siapa di ruangan itu.


Contessa menoleh ke belakang, di belakangnya juga tak ada siapa-siapa, sepi.


Karena ini sudah lewat jam pulang, sepertinya. Jam dinding raksasa menunjukkan pukul 19, jadi tidak banyak karyawan yang standby.


“Aman, kayaknya...” gumam gadis itu pelan.


Dan ia pun memberanikan diri masuk ke ruangan Presdir.


AC masih dinyalakan, lampu masih terang benderang. Pertanda Big Boss masih ada di satu tempat di gedung ini. Tapi entahlah ada di mana, yang jelas Contessa berencana akan turun ke lobby lewat lift barang lalu mengendap-endap keluar lewat basement saja. Itu effort yang luar biasa sebenarnya, saking jauh jalannya dan harus memutari gedung dulu. Belum dia harus berdiri di Transjakarta untuk pulang ke rumah. Terbayang capeknya.


Tapi daripada ketemu Big Boss, sudah pasti dia akan-


Bau busuk tercium, bau kotoran manusia.


Aroma memuakkan yang sama saat terakhir Contessa cium adalah waktu ia dengan bodohnya membebaskan si ODGJ.


Contessa mendengar suara obrolan di ruang Sekretaris yang pintunya terhubung dengan ruangan Damaskus.


Masih ada orang di sana.


Apakah Baron? Atau Griffin dan Ivander sudah pulang?


Tapi sepertinya ia tidak melihat Ivander atau Griffin pulang. Dan sepertinya Baron sedang sibuk dengan Artemis di klinik.


Apakah Damaskus?


Dengan takut-takut, Contessa memegang gagang pintu yang terkunci. Kunci sensor akan terbuka apabila sidik jari Contessa terbaca alat deteksi. Sebelum ada orang yang sidik jarinya terdaftar membuka pintu itu, tidak akan ada yang bisa masuk atau keluar.


Ruangan Sekretaris bagaikan penjara mewah di dalam gedung besar. Berbahaya sebenarnya, karena kalau tahanan keluar dari sana bisa mengancam nyawa banyak orang. Tapi bisa jadi itu adalah taktiknya. Menyamarkan penjara terlarang berada di tengah khalayak ramai agar tidak ada yang mengendus keanehan.


Lalu ia pun berpikir, perlukah ia melihat ke dalam?


Terus terang saja ia trauma menginjakkan kaki ke sana. Pertama saat ia melepaskan si ODGJ, kedua karena ia melihat Artemis berdarah-darah.


“Lihat sedikit saja, lalu apa pun yang terjadi, laporkan lalu pulang!” desisnya memantapkan hatinya.


Jadi Contessa menekan tombol kunci, sensor berbunyi ‘Pip’ tanda menerima respon sidik jari Contessa, dan ia intip sedikit.


Sebuah mata manusia dan seringai mengerikan tepat di depan matanya.


BRAKKK!!


Pintu itu terdobrak keluar, Contessa terjungkal ke lantai dan terseret sampai menabrak meja kerja Damaskus.


“GYAHAHAHAHAHA!!” suara tawa terbahak memekakkan telinga. Seseorang yang berlumur kotoran manusia dan darah berlari keluar dari ruang sekretaris.


“Bebaaaas!! Bebaaaas!!” seru orang itu senang. Kelakuannya mengindikasikan ia kelainan jiwa.


“Wih ada cewek cantik, suguhan pertama nih cuy!” ada seseorang lagi di belakangnya. Lebih bersih namun wajahnya babak belur.


“Makanan enak. Pasti orang berpengaruh sampai bisa buka ruangan. Kita garap aja dulu mumpung sepi!” Seseorang bertubuh gempal dan besar, ia hanya mengenakan ****** *****, Sekujur tubuhnya penuh luka sayatan dan darah. Tapi cara jalannya tegap dan terlihat kuat.


“Uhuk!” Contessa terbatuk sambil membalik tubuhnya sehingga ia bisa merangkak mencoba membebaskan diri dan setidaknya bangkit untuk lari secepatnya dari sana. Gadis itu merasa dadanya sangat sesak dan kepalanya berkunang-kunang. Ia terbentur cukup keras barusan.


“Yah, ini sih sekali dorong udah mati!” Contessa bisa mendengar salah satunya berbicara begitu. Contessa masih berusaha merangkak sekuat tenaga, namun entah bagaimana ia terseok-seok seakan tidak bertenaga.


“Sekali dorong? Emang segede apa lu?” tanya yang lain.


“Ya pakai tangan lah... gue bunuh anak yang kemarin juga pake tangan, gue tarik semuanya sampai-“


“Tolooong!!!” Jerit Contessa sekuat tenaganya. Ia sangat ketakutan.


“Hey, Neng... mau tahu nggak? Gue nih udah bunuh ** orang. Yang satu gue kubur di ** yang satunya gue mut1la si dulu baru gue larung di sungai **...” Laki-laki itu terus bersuara, mengoceh membeberkan semua kejahatannya. Khas psikopat.


Contessa hanya bisa mendengarkannya sambil setengah melayang. Telinganya bagaikan gaung yang ber-echo, suara mereka terasa sangat mengerikan di telinganya.


Neraka dunia ada di depannya, para pembunuh yang sebenarnya. Satu persatu mereka menceritakan kejahatan mereka yang tidak masuk akal, lalu yang lain menimpalinya dengan bertepuk tangan seakan iitu suatu prestasi.


Sekumpulan iblis berwujud manusia, ada di depan Contessa.


“Pukulin dulu aja!” Contessa sadar kembali ke dunia realita saat salah satunya berujar begitu.


Akal sehatnya langsung mencerna kalau berikutnya ia akan jadi korban kegilaan mereka.


“Oke...” salah satunya menggenggam pedang panjang koleksi Artemis, Yang lain koleksi senjata milik anak buah Damaskus.


Semua yang melarikan diri adalah orang berbahaya yang tak pantas hidup, tak heran disekap di bawah otorita Damaskus. Dibawa ke penjara pun bisa-bisa membahayakan napi yang ada di sana. Sementara kalau diberikan hukuman mati harus melewati birokrasi yang rumit.


Empat sekawan adalah sipir penjara buatan Damaskus, dan ruangan mereka yang kedap suara, dengan dinding dari beton bercampur baja, terpisah dari ruangan lain di gedung ini, dengan lift khusus yang menggunakan kode sidik jari, dan hanya orang tertentu yang bisa menginjakkan kaki di area Presiden Direktur.


Gadis itu menyesal, kenapa sidik jarinya terdaftar di sana.


Contessa memekik histeris saat ia merasakan kakinya ditarik. Kukunya mencakar lantai granit mencoba menahan tarikan, namun percuma, lantai itu sangat licin dan dingin.


DORR!!


Darah muncrat ke tubuh Contessa.


Sebelum gadis itu tahu apa yang terjadi, di depan matanya, satu-satu manusia tumbang.


Bagaikan dalam adegan lambat, Contessa bisa melihat, para penjahat itu bahkan belum sadar situasinya, namun kepala mereka sudah meledak lebih dulu.


Tiga orang tumbang ke bawah, dalam sepersekian detik.


Dan di arah pintu masuk, Contessa bisa melihat... Damaskus berada di sana dengan SIG Sauer P228-nya. Senjata semi otomatis itu terasa sangat kecil di tangannya yang besar. Tangan besar pria itu masih terangkat lurus ke atas saat ia masuk ke dalam ruangannya. Tampak Damaskus berjaga-jaga seandainya ada tawanan yang masih lepas dan bersembunyi di sekitar mereka.


Pria itu masuk ke dalam ruang sekretaris, dan Contessa hanya bisa tertegun melihat mayat-mayat yang menggelepar di lantai, mereka meregang nyawa dengan tragis. Salah satu di antaranya, yang paling besar dan gempar tampak masih kejang-kejang, seakan tubuhnya belum menerima kenyataan kalau kepalanya sudah hancur dan nyawa sudah melayang.


Terdengar beberapa tembakan lagi dari dalam ruang sekretaris.


Contessa menutupi telinganya sambil memekik ketakutan.


Lalu Baron dan beberapa sekuriti masuk ke dalam ruangan dengan senjata laras panjang.


“Astaga...” desis Baron saat melihat situasi cukup kacau. Ia masuk ke dalam sambil mengambil ancang-ancang dan membidik senjatanya.


Setelahnya Contessa merasa situasinya sudah bisa dikendalikan, Gadis itu menyeret tubuhnya ke dekat pintu keluar. Setidaknya ia bisa menjauh dari mayat-mayat yang bermandikan darah segar.


Lalu ia membaringkan tubuhnya di lantai sambil mengatur nafasnya dan memejamkan matanya.


Dan setelahnya, dunianya terasa gelap.


**


“Lagi-lagi...” keluh Baron sambil memandang tubuh Contessa yang kini berada di pelukan Damaskus, dengan sinis.


Mereka berdua sedang berjalan ke arah parkiran mobil, menuju mobil Damaskus. Pria itu akan membawa Contessa ke rumahnya untuk beristirahat.


“Saksi kita semua mati, Boss,” desis Baron.


“Iya, lagi pula dengan kondisi kejiwaan seperti mereka, kecil kemungkinan mereka akan bersuara. Dari awal memang tidak berguna. Coba kita lenyapkan lebih cepat...” desis Damaskus.


“Tapi setidaknya kemarin kita masih ada harapan, setidaknya mengetahui di mana mereka menyimpan jenazah korban-korbannya, atau dengan cara apa mereka menangkap korbannya,”


“Yah, kita akan cari lagi saksi lain,” desis Damaskus.


“Emh...” gumam Contessa. Ia mengerjabkan matanya dan menatap Damaskus dengan sayu.


Lalu reflek melingkarkan kedua tangannya ke leher Damaskus dan ia pun kembali tertidur.