
"Sini kamu," Damaskus melambaikan tangannya ke arah Contessa saat gadis itu dengan langkah ragu memasuki ruangan sekretaris.
Contessa merunduk sambil masuk ke ruangan, di ujung ruangan, ia bisa melihat Artemis yang sebelah bibirnya berdarah dan dahinya lebam, entah kenapa, sedang menatap tajam padanya.
"Duduk," kata Damaskus sambil menunjuk dengan dagunya, sofa tunggal bergaya klasik di sebelahnya.
Contessa duduk sambil menunduk, merasa sangat bersalah.
"Artemis, bacakan," desis Damaskus memberi perintah.
Artemis menarik nafas panjang lalu menghembuskannya dengan terpaksa, "Angkat kepala lo, Non," desis Artemis.
"Pakai bahasa resmi, kamu- saya- kau- aku… jangan pakai lo-gue kalau bicara ke Wanita, dong," desis Damaskus.
Artemis mencebik penuh kekesalan, "Jadi dengarkan saya ya, Nona Manis Siapa Namanya, saya lupa," gumam Artemis. Lalu dia menunjuk ke arah samsak.
"Kami sudah pernah bilang ya, kecuali kamu tuli. Kalau samsak itu jangan disentuh. Bagian mana dari kalimat itu yang tidak kamu mengerti, Non? Apa perlu saya pakai bahasa ngapak agar kamu mengerti? Bilang saja!" geram Artemis sambil melotot ke arah Contessa.
Terdengar kekehan Damaskus.
"Gara-gara kamu gedung kantor jadi rusak, orang-orang di bawah terancam hidupnya, Griffin hampir mati digebukin Boss!"
"Nggak segitunya kali," bisik Griffin yang sekarang lehernya lagi di gips gara-gara salah urat kebentur meja melayang.
"Diem lo Fin!" potong Artemis
"Njir…" gumam Griffin.
"Dengar ya Non…hm, nama kamu siapa sih? Saya beneran lupa,"
"C-c-contessa," desis Contessa tergagap.
"Nama kamu susah banget,"
"Nama kamu lebih susah,"
"Nggak usah jawab, biang masalah!"
Contessa diam sambil menunduk. Ia melirik Damaskus.
Pria itu tidak membelanya.
Malah terlihat menikmati adegan Artemis ngomel-ngomel. Yang mana membuat Contessa semakin sendirian dan ketakutan.
"Kalau kamu bukan milik Boss, Mayat kamu udah ngambang di Ciliwung kali!"
Contessa memekik sambil mengangkat kepalanya, matanya membesar.
"Jadi mereka bukan hanya penjahat kan? Juga ada orang tak bersalah? Kebetulan saja saya membebaskan orang yang salah! Buktinya kamu mengancam saya yang bukan kriminal!" Contessa menunjuk ke arah samsak.
"Bisa saja di dalam sana ada wanita atau bahkan anak-anak yang kalian siksa! Saya harus laporkan ini ke polisi! Hidup dan mati manusia itu urusan Tuhan, bukan manusia! Kecuali saat ini kita dalam kondisi berperang!"
"Nggak usah sok memperingatkan ini-itu deh, kita nggak punya waktu untuk meladeni kamu!" desis Artemis sambil duduk di sofa dan mengangkat kakinya ke meja. "Tugas kamu ini hanya mengurusi Boss. Urusan teknis biar kami yang lakukan,"
"Tess, duduk dulu," gumam Damaskus akhirnya. Suara menggelegar pria itu membuat bulu kuduk Contessa meremang. Jadi gadis itu menuruti perintah atasannya.
"Pekerjaan saya yang lainnya adalah… Apa ya istilah awamnya? Tukang Pukul kayaknya hehe,"
"Penyalur Preman, Boss, wekekekek!" kekeh Baron.
"Yaaa, itu juga benar. Kami mengurusi para tahanan yang sangat berbahaya untuk dibebaskan. Sementara hukuman mati dianggap terlalu bertentangan dengan HAM. Aparat ingin membersihkan namanya, jadi tugas menghukum diserahkan kepada kami. Dalam hal ini…" Damaskus mencondongkan tubuhnya ke arah Contessa, "Masyarakat tidak boleh tahu. Atau akan menjadi polemik berkepanjangan. Setiap orang yang terindikasi membocorkan rahasia ini, akan kami bereskan. Mengerti kamu?"
Damaskus tidak seperti Artemis yang menjelaskan dengan penuh emosi. Ia berbicara dengan nada rendah dan tenang. Namun ancaman di dalamnya sangat jelas. Tajam dan menusuk pikiran.
Contessa hanya bisa terdiam ketakutan.
Ia menyadari sejak awal kalau ia terlibat dengan orang-orang yang salah. Baginya tidak terlalu mengerikan toh ayahnya sendiri juga termasuk orang yang salah di situasi yang salah pula.
Tapi ternyata… Yang di luar prediksi Contessa, mereka ini bukan orang. Tapi sekumpulan iblis.
"Ke ruangan saya," desis Damaskus sambil beranjak.
Contessa mengikuti Damaskus dengan langkah terburu-buru. Ingin sekali ia menghilang dari sana! Kalau bukan karena terpaksa membantu ayahnya melunasi hutang. Terbayang di benaknya, seandainya ayahnya masih berhutang bisa jadi ia salah satu 'Korban Samsak' Artemis dan kawan-kawannya.
"Tem, jadwal kita ke Eterny kapan ya?" tanya Ivander sambil menurunkan kacamatanya.
"Hm? Sabtu depan. Sampai sabtu depannya lagi. Jadi seminggu kita di sana," jawab Artemis sambil meraih kaca dan memeriksa luka robek di pelipisnya. Damaskus menghantamnya berkali-kali, dengan tongkat baseballnya sendiri. Yang tak pernah ia gunakan untuk bermain di lapangan tapi untuk memukuli korban.
Artemis langsung menoleh ke arah Ivander yang ternyata sedang menyeringai padanya, "Kiyut? Apanya? Tampang blo'on gitu lo bilang cute udah gila kali lu!" seru Artemis sewot.
"Ih, justru yang gitu yang manis banget kaaan?!"
"Ya tipe lo emang yang wibu gitu!"
"Tipe gue sama dong sama Big Boss!"
"Gue menolak keras dia diajak! Cuma nyusahin doang! Pasti bakalan ada kekacauan lainnya!" seru Artemis sebal.
"Laaah terserah si Boss dong! Tapi seru juga sih kalo dia diajak. Kebayang satu istana diobrak-abrik hahahah!"
"Lagian si Nadine ngapain sih hamil 7 bulanan pake ngadain pesta segala! Kerjaan lagi banyak gini, mana gue harus ikut, nggak boleh di kantor ngadem," gerutu Artemis sambil kembali memeriksa lukanya.
"Yeilaaaa Nadine kan anaknya Bis Boss ya udah pasti bapaknya diundang dong! Gimana sih lo… lagian lo kan sohib banget sama Raja Eterny. Mam-pus aja lo kalo nggak ikut!" desis Ivander sambil kembali mengutak atik laptopnya.
"Sohib apanya… Waktu si Putra belom jadi Raja gue digebukin habis-habisan. Liat aja ntar kalo ketemu gue lempar kulkas biar viral…" bisik Artemis misuh-misuh sambil memeriksa lukanya.
**
"Gimana Tess? Betah kerja di sini?" dengan seringai di bibirnya yang terbalut jambang tebal, mata Damaskus berkilat mengejek Contessa.
"Tidak Pak," desis Contessa.
"Mau ayah kamu dibereskan Artemis?"
"Tidak Pak,"
"Atau kamu saja yang saya bereskan?"
Contessa terdiam sejenak. Mencerna kalimat Damaskus.
"Saya sudah pernah dibereskan oleh Bapak," desis Contessa dengan suara pelan.
"Mau lagi, kamu?"
"Tidak Pak,"
"Ya sudah, betah-betahin saja kerja di sini. Asal kamu tidak mengganggu mereka," Damaskus menunjuk ruangan sebelah dengan dagunya dan memutar kursinya.
"Sampai kapan hutang Ayah saya dianggap lunas Pak?"
"Sampai saya dapat istri,"
Dalam hati Contessa langsung berpikir kalau ia harus mencarikan Damaskus calon istri, maka ia akan terbebas.
"Bapak suka tipe wanita yang seperti apa? Siapa tahu saya ada kenalan," desis Contessa dengan nada suara datar.
Damaskus terdiam, "Kalau saya suka ya ambil, kalau tak suka ya diamkan,"
Contessa semakin bingung.
"Itu type yang semacam apa?" gumamnya perlahan Sambil mengerutkan kening. Sebenarnya ia bicara dengan dirinya sendiri, namun terdengar oleh Damaskus.
Dan pria besar dengan janggut panjang putih itu pun berdiri. Ia berjalan menghampiri Contessa.
tahu dirinya sedang diincar predator, insting melarikan dirinya timbul. Ia mundur selangkah ke belakang untuk ancang-ancang melarikan diri.
Tapi di langkah ke empat sebelum ia balik badan, ternyata di belakangnya ada lemari besar. Membentur punggung mungilnya yang kurus.
Contessa menarik nafas panjang dengan gugup, lalu reflek menunduk.
Wangi parfum Damakus menggelitik hidungnya. Dahi Contessa tepat berada di depan ulu hati Damaskus. Contessa bisa melihat betapa dekat tubuh itu di depannya. Sebelah tangan Damaskus menekan pintu lemari di belakang Contessa, sebelahnya lagi dimasukkan ke dalam kantong celananya.
Contessa bisa merasakan Damaskus menunduk sampai dagu pria itu menempel di atas kepala gadis itu. Dan Damaskus berbisik,
"Saya tidak pernah bisa melupakan seperti apa sosok cantik kamu, saat saya mengambil kegadisanmu,"
**
"Ya Ampun Tess…" Ella membuka pintu rumahnya malam itu dan mendapati Contessa terisak di depan pintu gerbangnya.
Saat wanita itu membuka gerbang, Contessa langsung memeluk dirinya, "Gue takut…" isak Contessa.