The Big Boss For A Countess

The Big Boss For A Countess
Kecurigaan Damaskus



Lapas IA, Jawa Barat.


Dengan sinis Widiyanti Ega menatap Baron yang sedang duduk di depannya. Ruang kunjungan bertema outdoor dengan penjagaan ketat itu tidak mampu menyembunyikan kebenciannya terhadap Damaskus dan antek-anteknya.


Sungguh, ia menjalani kehidupan di dalam penjara dengan sederhana dan segala keterbatasan, padahal Widi dibesarkan seperti Ratu di rumahnya sejak kecil.


Sudah satu tahun lamanya ia mendekam, dan kini Baron mengunjunginya atas perintah Damaskus...


Untuk memberikan suatu penawaran.


“Sudah berapa orang yang bicara dengan kamu?” tanya Widiyanti.


“Beberapa,” jawab Baron sambil menyeringai.


“Siapa saja?”


“Ibu pasti tahu siapa saja yang saya ajak bicara. Yang jelas semua menyetujui penawaran kami,”


“Memangnya Boss kamu mau ikut pemilihan umum atau bagaimana sampai butuh dukungan kami?”


“Jangan salah bu, tidak mungkin Boss saya akan ikut pemilihan apa pun. Hal ini kami lakukan karena Pak Damaskus merasa berhutang budi kepada ibu di masa mudanya. Tapi sebatas itu saja. Kalau dihitung-hitung lebih rinci sih sebenarnya yang lebih banyak berhutang padanya malah Ibu dan mantan suami,”


Widiyanti tersenyum kecut mendengar perkataan Baron. Dalam hati kecilnya sebenarnya ia setuju, tapi egonya berkata sebaliknya, “Apa yang akan kalian tawarkan kepada kami?”


“Sebuah nama, dengan balasannya adalah pengurangan masa tahanan,”


“Nama untuk apa?”


“Siapa yang membunuh Istri Pak Damaskus?”


“Huh!” Widiyanti Ega mendengus sinis, “Masih saja kalian penasaran dengan hal itu? Rania sudah meninggal 24 tahun yang lalu! Sebelum melahirkan Nadine kondisinya memang sudah melemah!”


“Ibu tahu dari mana?”


Widiyanti Ega terdiam.


Seketika ia sadar kalau salah bicara.


Baron tersenyum prihatin, “Terima kasih atas waktunya, Bu. Maaf mengganggu aktivitas Bu Widi,” kata pria itu sambil beranjak dan berpamitan.


Widiyanti menatap punggung Baron dari kejauhan dengan tegang.


Ia mengenal Damaskus sejak awal karier pria itu. Dari mulai dipekerjakan sebagai tukang pukul, sampai disekolahkan dan dibukakan jalan untuk meniti karier sebagai pengusaha, Damaskus menunjukkan kemajuan yang pesat di bidang strategi. Banyak pesaing dan orang-orang menyebalkan di sekitar Widiyanti yang ‘disingkirkan’ Damaskus, terutama orang-orang yang dianggap ancaman bagi kariernya di dunia politik.


Dan saat Damaskus mulai menjalin hubungan dengan Rania, semua berubah. Cinta Widiyanti Ega kandas dan harus menikah dengan pria pilihan orang tuanya bernama Anthony. Sambil berperan menjadi istri yang baik bagi Anthony untuk menyembunyikan perasaannya kepada Damaskus, Widiyanti tetap memanfaatkan pengaruh Damaskus. Metode pria itu untuk ‘pendekatan persuasif’ bagi para korbannya lumayan efektif. Semua yang melawan Widiyanti dibuat tertangkap karena berbagai kasus, atau bahkan dihabisi secara misterius. Kebanyakan dijebak untuk menjalani masa tahanan beberapa belas tahun.


Saat Rania melahirkan anak pertamanya, diberi nama Ali, Widiyanti patah hati yang kedua kalinya. Berbagai cara ia lakukan untuk menggoda Damaskus agar berpaling padanya. Bertahun-tahun ia lakukan namun Rania malah hamil anak keduanya, semua usahanya menggoda Damaskus sia-sia. Sementara Widiyanti dan suaminya malah belum dikaruniai satu pun anak.


Saat itu setan mulai menguasai pikiran Widiyanti, ia tidak mau diam saja mengorbankan hatinya. Setidaknya, ia berencana salah satu anak Damaskus ‘tak selamat’ untuk sedikit menghibur hati wanita setan itu. Jadi...


Gedung Praba Grup.


“Bagaimana?” tanya Damaskus sambil duduk santai di kursi kerjanya dan menghisap tembakau dari cangklongnya. Di dalam ruangan ber AC. Walau pun ada blower tetap saja asapnya kemana-mana.


Di belakang Damaskus ada Artemis yang sibuk dengan buku tebal bertuliskan ‘Sistem Informasi Akuntansi’ yang melegenda di kalangan mahasiswa jurusan akuntansi. Lalu ada Griffin yang sedang berdiri menghadap ke arah jendela dan Ivander yang seperti biasa sibuk dengan kegiatan codingnya.


Baron menghela nafas dengan tegang.


“Sepertinya kita harus mencurigai siapa saja yang merawat Bu Rania waktu melahirkan Nadine, Pak,” kata Baron.


Damaskus diam menatap Baron. Ia sebenarnya sudah mencium gelagat tak beres sejak awal. Kasus ini terbuka lagi karena sejak Widiyanti Ega dipenjara karena kasus korupsi, berbagai hal aneh mulai timbul dan akhirnya Damaskus mulai membuka kembali laporan dokter mengenai kematian istrinya saat melahirkan Nadine.


Ya, semua tahunya Rania meninggal karena melahirkan Nadine. Penyakit darah tinggi dan komplikasi.


Namun, Widiyanti Ega mengatakan kalimat yang cukup aneh.


‘Sebelum melahirkan Nadine kondisinya memang sudah melemah.’


Bahkan Damaskus yang suaminya saja tidak menyadari hal itu. Rania begitu rapi menyembunyikan kenyataan kalau ia bahkan sudah sakit sejak usia kandungannya 6 bulan. Yang bilang malah ARTnya yang sudah disumpah oleh Rania untuk tidak bilang siapa-siapa agar Damaskus tidak khawatir dan fokus ke pekerjaannya yang berbahaya itu.


Jadi, kalau Widiyanti Ega tahu hal itu...


Semua mendengarkan dengan tegang, dan mereka pun saling menatap.


“Yang lain bilang : pembunuhan apa? Bu Rania meninggal karena preeklampsia kan? Berita di TV bilang begitu, karena memang katanya kondisi Bu Rania sebelum hari H ‘tampak’ baik-baik saja,”


“Hm,” geram Damaskus sambil menghisap cangklongnya.


“Kayaknya... Boss harus menghubungi beberapa orang untuk hal ini,”


“Hm, cari Anthony Ega. Masih hidup kan dia?” Damaskus menoleh ke Artemis.


“Masih, Pak. Kita kan butuh restunya seandainya anaknya Nadine nanti menikah. Jadi dia harus dibiarkan hidup,”


“Sepertinya dia tahu sesuatu,” desis Damaskus sambil mengelus janggutnya yang berwarna keabuan.


Ya...


Tragisnya setelah semua ini, saat Nadine, anak kedua Damaskus beranjak dewasa, ia malah jadi selingkuhan Anthony Ega... bahkan sampai hamil dan melahirkan anak Anthony. (Selengkapnya bisa dibaca di Pewaris Yang Tertindas, hehe).


**


Contessa sampai-sampai mengernyit saat menatap Artemis yang sedang menggaruk kepalanya sambil menatap buku tebal di atas mejanya.


Sambil membawakan baki berisi kopi ia bolak-balik melirik ke arah Artemis.


“Jangan diganggu Non, nanti sore ada UTS lagi, yang tadi pagi kayaknya nggak lancar ngerjainnya, kheheheheh,” desis Ivander sambil cekikikan.


Sementara pemandangan tak kalah mengagetkan berada di pojok ruangan, di mana Baron sedang mengenakan baju kokonya dan mengaji di sebelah ladang samsak. Dan seingat Contessa kemarin ada 4 samsak, kenapa sekarang jumlahnya jadi 7?! Apa di sini berlaku ungkapan ‘apa pun dosamu, jangan tingalkan Sholat’ ? Ya tapi bukannya lebih baik tobat sekalian daripada mereka juga membunuh dan mabok-mabokan? Aneh rasanya melihat ada cowok bertato di sekujur tubuh tapi pakai baju koko.


Baron menghentikan lantunan ngajinya, menatap Contessa, dan mengacungkan jari tengah ke arah Gadis itu.


“Sialan...” gerutu Contessa sambil balik badan. Di sini adanya orang-orang brengsek semua.


Lalu gadis itu beralih kembali ke arah Artemis, “Salah tuh Den,”


Artemis mengangkat kepalanya, “Hah?”


“Itu salah postingnya.  Aktiva lancar adalah jenis aset yang dapat dengan mudah dicairkan (diuangkan), dengan jangka waktu tidak lebih dari 1 tahun, jadi Persediaan Barang Dagang masuk ke sana, bukan ke Aset Tetap,” kata Contessa.


Artemis hanya diam sambil memandanginya.


Contessa jengah sendiri. “Sori saya ganggu,” desisnya sambil menegakkan tubuh dan berniat pergi. Tak lupa dia berbalik ke arah Artemis sejenak sambil bilang “Bego banget sih lo gitu aja salah, dasar preman gentong!”


Dan Contessa langsung banting pintu terus kabur.


Artemis sampai melongo melihat tingkah Contessa, “*njing tu cewek! Lama-lama gue garap aja sekalian!!” seru Artemis sambil membanting jurnalnya.


“Sejak kapan Yang Mulia Putri O’on tahu nama asli lo Tem?” tanya Ivander waspada.


“Ternyata kita kenal sejak kecil,” keluh Artemis.


“Buset! Serius?! Sial banget lo...”tapi Ivander setengah tertawa. “Temen main gitu jatohnya?”


“Bukan temen main sih, gue pernah malakin dia,”


“Kenapa lo bisa nggak inget? Dia juga nggak inget?”


“Gue nggak terlalu peduli sama dia, gue itu dulu suka sama temennya, namanya Ella. Dia itu Cuma gue anggap sebagai ‘temennya Ella’ jadi gue nggak perhatian-perhatian amat. Terus kalo si Tessi bilang, katanya karena tampang gue pas gede sama pas kecil nggak mirip, jadi dia nggak ngeh,”


“Nggak mirip gimana?”


“Dulu pas kecil... di usia 12 tahunan tuh berat gue aja udah 70kg...”


“Buset, gembul banget,”


“Kebanyakan alkohol kayaknya, jadi ber-gas. Khehehehehe,” desis Artemis, “Kenal olahraga itu pas di lapas,”


“Ck,” Ivander hanya menatapnya sambil mencibir.