The Big Boss For A Countess

The Big Boss For A Countess
Adiwilaga Yang Malang



Sore itu Adiwilaga, ayah tiri Contessa, baru saja kembali dari kantornya. Ruko tiga lantai yang menjalankan usaha creative design dan perangkat komputer. Hal yang sebenarnya digemarinya sejak ia remaja.


Di era teknologi seperti saat ini, usahanya berkembang pesat. Sehingga lambat laun profitnya semakin menjanjikan. Saat melihat laporan keuangan dan menyerahkannya ke Damaskus, pria itu mengangguk puas. Adiwilaga dianggap capable untuk melunasi hutang. Jadi nyawanya masih selamat sampai sekarang.


Apalagi, Ivander pelanggan tetapnya. Pria penggila perangkat komputer itu kerap berjam-jam merakit alat aneh di ruko milik Adiwilaga sejak toko ini didirikan.


Adiwilaga sebenarnya tidak bermaksud jahat dulu. Ia jatuh cinta ke seorang wanita cantik yang usianya lebih tua 18 tahun, Ibu Contessa, janda anak satu dengan senyum mempesona. Contessa anaknya, juga sangat cantik menurutnya.


Semakin lama ia berpikir ada baiknya istri dan anaknya dihiasi dengan barang-barang mewah dan rumah megah. Tidak pantas kalau makhluk secantik mereka tinggal di tempat kumuh.


Jadi pria itu bertekad akan semakin rajin bekerja.


Adiwilaga saat itu terdaftar menjadi karyawan di PT. Argadhing Corporation. Perusahaan induk Praba Grup. Sejak fresh graduate Adiwilaga sudah kerja di sana. Sebagai Kepala Divisi Treasury, tugasnya memantau fluktuasi ekonomi yang berkenaan dengan saham dan memutuskan hal-hal penting. Selama ini di bawah kendalinya, 3 saham dari anak usaha Praba Grup yang merambah ke IPO (sebutan untuk perusahaan yang capable untuk menjual sahamnya ke publik) menduduki posisi blue chip. 10 besar pula. Saham yang dianggap aman dibeli karena fluktuasinya tidak terlalu ekstrim dan selalu menguntungkan.


Sudah cukup lama Adiwilaga bekerja dengan Damaskus, jadi pria itu mempercayakan investasi seluruh perusahaannya ke Adiwilaga. Tentu saja Adi kenal dengan Empat Berandal. Karena dirinya lah Artemis dan teman-temannya bisa bebas bergerak mengurusi hal teknis di luar sana. Karena sudah ada 'seorang Adiwilaga' di kantor.


Tapi,


Seorang teman menjanjikan pemasukan berlipat ganda beratus-ratus persen masuk ke kantong pribadinya pada usaha tambang batubara yang terlantar milik Damaskus.


Temannya itu berhasil membuatnya menggadaikan tambang batubara milik Damaskus yang terlantar karena kondisi ekonomi kurang mendukung, orang mulai merambah ke bahan bakar lain dan batubara dinilai mencemari lingkungan. Dana hasil penjualan ia investasikan ke saham.


Rencana awalnya, setelah investasi menguntungkan, Adiwilaga dapat membeli kembali tambang itu, dan keuntungan dapat masuk ke kantong pribadinya.


Sampai bulan ke enam pemasukan lancar. Bulan ketujuh… mimpi buruk melandanya.


Ia mempersiapkan hati menghadap Damaskus.


Ia sadar semua kesalahannya.


Niatnya jadi kaya, menyenangkan hati istri dan anaknya, namun semua hancur lebur.


Damaskus mengamuk, namun herannya Adiwilaga tidak diapa-apakan. Padahal pria 35 tahun itu sudah bersiap mati. Lebih baik mati di tangan Damaskus dari pada bunuh diri. Begitu pikirannya. Toh, itu semua memang salahnya.


Saat itu, beberapa pengacara diterjunkan, semua asetnya disita pengadilan, kecuali rumah tinggalnya yang sudah ia masukan ke Akta Pisah Harta, harta gono-gini menjadi milik istrinya. Hal yang terakhir sangat disyukurinya karena setidaknya mereka masih punya tempat tinggal.


Milik istrinya tidak bisa disentuh pengadilan. Perjanjian pisah harta semacam ini mungkin dianggap ejekan untuk banyak pihak terkait perselingkuhan atau poligami. Tapi bagi seorang pengusaha, nyatanya sangat penting. Karena sang istri tidak ikut campur ke tindakan yang dilakukannya selama tidak menandatangi kontrak apa pun. Sudah tertulis di akta itu, disahkan notaris.


Setelah itu, Damaskus mendapatkan kembali lahan tambangnya, dengan cara yang tidak diketahui Adiwilaga, namun dengan harga sangat mahal karena sudah terlanjur dibeli pihak ketiga. Jumlahnya 250miliar.


Jumlah yang harus Adiwilaga ganti.


Dijadikan hutang oleh Damaskus.


Keheranan kedua, Damaskus memberinya modal untuk menjalankan usaha kecil. Perusahaan yang sampai sekarang dijalani Adiwilaga ini, diharapkan mencapai profit tertentu untuk kepentingan pembayaran hutangnya.


Yang Adiwilaga tidak bisa prediksi adalah istri yang baru setahun dinikahinya harus meninggal dunia karena sakit komplikasi. Saat heboh penangkapannya, sang istri sangat terpukul. Mungkin itu penyebab kondisinya melemah.


Saat Adiwilaga dibebaskan dari tahanan, masih dalam suasana berduka, ia diberitahu Damaskus kalau Contessa menjual diri sebagai ganti hutangnya dan kebebasannya.


Sakit hati rasanya mendengarnya, sekaligus sangat sedih. Contessa bukan anak kandungnya, untuk apa gadis itu harus bertindak sejauh itu, apalagi bertindak sendiri seperti itu.


Ia memang sangat marah ke Contessa tapi ia juga terharu ke dedikasi gadis itu untuk keluarga. Tapi karena hubungan mereka ayah dan anak tiri, jadi komunikasi senantiasa kurang lancar.


Selalu terjadi miskomunikasi dan mereka selalu bertengkar sejak istri Adiwilaga yang juga ibu kandung Contessa meninggal.


Dulu masih ada sang ibu yang menengahi, tapi sekarang Adiwilaga harus bekerja keras menekan urat sabarnya karena kelakuan Contessa yang ternyata lebih ceroboh dibanding dirinya.


Saat ini, yang mampu ia lakukan hanya bekerja semampunya dan sekaligus mengamati Contessa dari kejauhan. Adiwilaga tahu persis sifat Bossnya terhadap wanita. Dia memang terlihat sangar, namun ia sebenarnya introvert dan gentleman sejati.


Saat Damaskus meminta Contessa jadi miliknya, Adiwilaga hanya bisa bilang, "Restu dari saya. Tapi syaratnya, Contessa harus ikhlas,"


Adi berdiri di depan konter dapur sambil menegak air mineral dingin dari kulkas. Cuaca akhir-akhir ini ekstrim, udara jadi sumpek dan panas. Pria dengan tinggi 188/70kg itu membuka tiga kancing teratas kemeja putihnya dan mengibas-ngibaskan agar angin dapat sedikit masuk ke dadanya.


"Pindah tinggal di ruko aja kali ya, daripada bolak balik gini…" desisnya ke dirinya sendiri. "Double pengeluaran pula,"


Rumah ini ia beli dari hasil tabungannya, sebelum menikah. Dulu iia beli murah, hanya ratusan juta. Sekarang di sekitar sini sudah banyak kantor dan ruko, jadi harga jual rumahnya bisa milyaran. "Eh, tapi sayang ya, sudah SHM. Kalau ruko kan SHGB. Apa… Kantor aja yang pindah ke sini ya?" Adiwilaga mengamati sekelilingnya. Rumah itu lumayan luas sebenarnya. Lahannya 500m2. Tinggal ditingkat 2 lantai lagi, jadilah lebih luas dari ruko. Apalagi lokasinya ada di depan jalan besar.


Ada tamu? Pikirnya merasa aneh. Karena Contessa tidak mungkin membunyikan bel.


Adiwilaga mengintip sedikit ke jendela, dan ia melihat Ella, teman Contessa, dan kedua anaknya


**


Dengan wajah kaget dan mata membelalak, Adiwilaga membuka pintu rumahnya dan menyambut Ella di depan pintu. Pria itu menarik nafas saat menyadari kalau pelipis Ella lebam dan sudut bibirnya membiru. Kedua anak Ella memeluk ibunya dengan erat, dan ketakutan saat melihat Adi.


“O-Om... Contessa ada?” suara Ella terdengar gemetaran menahan tangis, dan juga mungkin rasa takut yang amat sangat.


“Masuk dulu saja, masuk dulu...” Adiwilaga menggelengkan kepalanya sambil meraih bahu kurus Ella dan menggiringnya masuk ke dalam.


Dari balik gendongan jarik batiknya yang digunakan menggendong bayinya, Adi bisa melihat kalau Ella masih mengenakan daster, dan robek-robek.


Adiwilaga langsung tahu apa yang baru saja terjadi.


“Contessa sedang pergi, dia menginap beberapa hari di rumah temannya. Saya pikir temannya itu kamu," desis Adiwilaga sambil mengernyit menatap Ella.


"Dia memang sedang menginap di rumah saya dari kemarin Om, tapi hari ini dia belum kembali. Dan… Untunglah dia tidak datang. Makanya saya pikir dia pulang ke sini,"


"Kamu ke sini naik apa?” tanya Adi.


“Naik ojek Om,”


“Mana ojeknya? Sudah bayar?”


“Katanya gratis saja Om, mungkin dia kasihan melihat saya,”


Adiwilaga menarik nafas panjang dan bergegas mengambil minum.


“Anak-anak tidak apa-apa kan?”


Ella menerima gelas kaca berisi air mineral dengan gemetaran, anak sulungnya masih terisak dan memeluk pinggang ibunya, dan anak bungsunya menggenggam erat-erat leher Ella. “Pinggul kakak mungkin agak keseleo, dia terjat- uhuk!” isak tangis Ella mulai pecah.


Adiwilaga langsung memeriksa area pinggang anak sulung Ella, lalu mendapati ada memar ungu di sana. Anak itu meronta mencoba menghindar tapi Adiwilaga segera menyadari kalau sebenarnya anak itu memaksakan diri untuk tetap berdiri. Laki-laki kecil yang mencoba kuat.


"Nggak apa, kak. Om mau periksa dulu lukanya," Ella mengelus kepala anak itu dengan lembut, menenangkannya.


Adiwilaga mengerti sepenuhnya kalau wajar ada trauma serius pada anak itu saat melihat laki-laki, karena mungkin saja kekerasan yang dialami Ella dan anak-anak dilakukan oleh pria yang sepantaran dengannya.


"Terbentur… Ini bukan luka jatuh, Ella," kata Adiwilaga sambil mengernyit.


Ella hanya diam.


Adiwilaga menganggap diamnya Ella adalah kebenaran.


"Januar?" tebak Adi sambil menatap Ella.


Lagi-lagi Ella hanya diam sambil menatapnya nanar.


Ini menjadi semakin serius.


“Saya antar ke rumah sakit ya, kita minta visum sekalian, lalu kita ke kantor polisi,” kata Adiwilaga sambil menyambar ponsel dan dompetnya.


Ella mengangguk lemah.


**


Wanita butuh Gentleman, yang dengan romantis membukakan pintu untuknya, dan memberikannya perhatian. Tapi juga butuh Badboy yang bisa mendesaknya ke dinding dan ********** dengan brutal.


Sexy quote, Septira 2023.