
Dengan ragu Contessa melangkahkan kaki keluar dari kamar Damaskus dan mencari keberadaan pria itu. Terlihat asap dari cangklong membumbung ke udara. Damaskus berada di ruang makan, duduk membelakangi Contessa dengan tubuh menghadap ke arah jendela.
Di sebelah Damaskus, tampak layar besar menunjukkan grafik saham, visualisasi dari naik dan turunnya pergerakan harga saham itu menunjukkan rentang waktu mingguan.
“Trennya sedang turun, property sedang lesu,” gumam Damaskus melalui earpod yang tersemat di telinganya. Kelihatannya ia sedang berbicara dengan seseorang melalui sambungan telepon. “Closing price hanya beda 50 poin dari opening, walaupun mereka mengakalinya dengan stock split, tetap tidak ada gunanya. Saya akan beralih ke batu bara untuk saat ini. Sudah 5 tahun pekerjaan saya hold karena pasar lesu, Suhu di Eropa saat ini sedang ekstrim dinginnya. Pasir hitam tidak akan mampu menopang kebutuhan mereka, dan pasokan gas sedang langka. Batubara akan dinilai lebih efisien,” Damaskus berbicara dengan tenang sambil mengubah-ubah chart menjadi candlestik.
Contessa mendekatinya dengan berhati-hati dan duduk di sebelahnya, lalu mengamatinya dengan tenang.
Terus terang saja, ia memang penasaran dengan teknik kerja yang diterapkan Damaskus selama ini. Bagaimana seorang pembunuh bayaran yang anak buahnya preman semua masih bisa memiliki gedung tinggi dan kekayaan triliunan.
“Saya akan bicara dengan Menteri Perekonomian dan Energi di Jerman, daerah itu sedang rentan mengenai Pasokan Gas. Kemungkinan Kanselir juga akan dilibatkan. Setelah kerjasama terbentuk, naikkan harga saham kita 250% untuk opening Praba Minerals Megah,” kata Damaskus sambil menekan tombol di ponselnya, tanda pembicaraan akan berakhir.
“Contessa,”
“I-i-iya Boss?” Contessa agak kaget mendnegar panggilan Damaskus padanya.
“Hari Rabu, kami akan mengosongkan ruang sekretaris, hari Kamis kami akan ke Eterny untuk menghadiri acara Nadine,”
“Oh, Nadine anak Bapak ya?”
“Iya, kandungannya menginjak 7 bulan, jadi mereka mengadakan pesta,”
“Hm, ternyata di Eterny juga sama seperti di sini ya, ada mitoni juga,”
“Sebenarnya tidak juga sih, tapi Nadine-nya saja yang ingin. Anak itu memang suka pesta dari dulu, tapi karena aturan Kerajaan di Eterny cukup ketat dan Raja termasuk yang tidak suka pesta, jadi dia cari alasan tradisi untuk bisa pesta-pesta,”
“Hm... kenapa Raja Eterny ikut campur segala mengatur-atur acara rakyat biasa?”
Damaskus terdiam mendengar pertanyaan Contessa.
“Kamu...” Dan Damaskus pun menggelengkan kepalanya, menyeringai sambil dengan meremehkan ketidaktahuan Contessa. “Sekian lama kamu tahu kalau saya eksis di bumi, tapi kamu tidak tahu menahu mengenai keluarga saya?”
“Eh? Saya hanya tahu sekilas, Pak. Waktu anak pertama bapak meninggal, beritanya dimana-mana. Katanya karena diserang sekelompok orang ya, demi kepentingan politik. Tersangkanya Widiyanti Ega kan ya Pak? Tapi ya sebatas itu saja,”
Damaskus mengangguk lagi, “Sebatas itu saja,” dan ia pun kembali membaca grafik yang tertera di layar televisi. “Nadine termasuk yang paling ingin saya menikah lagi. Dia berpikir kalau sikap beringas saya ini akibat terlalu lama sendirian,”
“Ah ya, saya setuju dengannya,”
“Apa kita percepat saja pernikahan kita?”
Contessa diam dan agak lama mencerna kalimat itu.
“Pernikahan siapa?” tanya gadis itu setelahnya.
“Pernikahan kita,”
“Kita itu siapa Pak?”
“Kamu dan saya,”
Contessa diam lagi.
Beberapa detik kemudian, dia pun berujar, “Apa yang membuat bapak ini berpikiran kalau saya mau menikahi Bapak?” ia mengelus kedua lengannya yang merinding.
“Ciuman itu suatu lampu hijau,”
Contessa menatapnya dengan tegang.
Contessa hanya bisa diam dan menatap pasta di depannya, lalu ia menatap Damaskus lagi, lalu pasta itu lagi, dan akhirnya ia memilih menegak air mineral di depannya. Tenggorokannya langsung terasa kering mendengar kalau ia sedang berhadapan dengan seseorang yang sangat kuat, tidak hanya fisik tapi juga latar belakangnya. Tak heran sekelas Widiyanti Ega saja bisa ia penjarakan.
Bagaimana nasibnya yang rakyat jelitamanja, coba?
**
Setelah sarapan, Contessa berdiri di dalam closet, luasnya sekitar 5 x 5. Itu hanya closet, semacam ruangan dengan banyak lemari. Di bagian kecil di kanan-nya ada dua lemari yang penuh dengan pakaian dan aksesoris yang sering dikenakan Damaskus.
Lalu Contessa menatap ke luar, ke arah lemari pakaian kecil di samping tempat tidur.
“Kalau closetnya di sini, kenapa lemari itu terpisah di sana? Apa karena milik almarhum istrinya?”
Dan Contessa lalu menatap dirinya.
“Aku... tidak siap dengan semua ini. Aku bisa pingsan dengan tekanannya. Aku ingin hidup yang biasa saja,” gumam Contessa sambil merengut. Ia berkata begitu tapi sejujurnya, ia tahu, sejak ia menyerahkan diri ke Damaskus, dan sejak ia menciumnya kemarin, ia tidak bisa mundur lagi.
Pertunjukan harus tetap berjalan.
Hanya...
Ia tidak menyangka kalau prosesnya sangat cepat seperti ini.
Damaskus lewat di belakangnya dan berdiri sambil memandangi mereka berdua di depan cermin raksasa.
“Pak?”
“Hm?”
“Bapak bisa mencari wanita lain, masih banyak yang-“
“Yang perawan waktu sama saya, hanya kamu,”
Contessa langsung menunduk. Wajahnya merah karenamalu.
“Sebenarnya, tidak ada yang segamblang kamu. Datang sendirian langsung memaksa menemui saya. Biasanya saat mereka melihat saya, nyali mereka langsung ciut. Takut saya obrak-abrik kali,”
“O-o-obrak-abrik itu maksudnya apa?!” ujar Contessa tidak suka dengan istilah itu.
Damaskus menunduk dan berbicara tepat di sebelah telinga Contessa, “Kamu tahu maksud saya,”
Contessa menunduk lagi.
“Lagipula, saya ini termasuk pria yang pemilih. Biasanya saya serahkan urusan ke Artemis atau Griffin,”
Dan saat itu Contessa mengerti, dari sekian banyak wanita yang menyerahkan dirinya ke Damaskus untuk pelunasan hutang atau permohonan ampunan, saat diserahkan ke Artemis atau Griffin, sudah pasti ujungnya tidak baik-baik saja.
“Saya benci penipu, dan pencuri,” ujar Damaskus. “Alasan saya mau mengampuni Adiwilaga, adalah karena pria itu datang langsung ke saya, tidak saya tangkap, tidak saya tuduh. Ia datang langsung ke kantor saya, menghadap, dan bilang kalau ia telah menggunakan dana untuk bermain saham di perusahaan milik rekanannya, dan ternyata rugi puluhan juta dollar, tanpa sepengetahuan kami. Saya anggap itu pencurian karena tanpa izin saya. Mungkin Adiwilaga dijanjikan keuntungan berlipat. Tapi ternyata dia sendiri ditipu oleh temannya itu,”
Contessa menarik nafas dengan gugup, “Ya, itu yang ibu ceritakan pada saya. Katanya saya tidak boleh benci ayah setelah ini, karena itu semua bukan salahnya,”
“Kesalahannya, adalah dia itu terlalu bodoh. Uang tidak mengenal teman, saudara, bahkan orang tua...” Damaskus mengangkat tangannya dan mengelus kedua lengan Contessa dari belakang, “Sekarang katakan...”
Suara Damaskus yang rendah dan dalam, terasa memenuhi kepala Contessa. Sebagai orang lain diluar keluarga, suara semacam ini, bisa jadi hanya Contessa yang mendengarnya. Suara lembut Damaskus kerap menghiasi hidupnya akhir-akhir ini.
“Katakan pada saya, apakah saya cukup bodoh untuk mengajak kamu menikah?”