The Big Boss For A Countess

The Big Boss For A Countess
Rania



Dama... kamu lihat orang di seberang itu?


Sayang, firasatku tidak enak, kamu segera saja resign dari sana. Kita hidup miskin tak apa, aku masih ada sisa tabungan untuk hidup kita.


Sayang, adek janin gerak-gerak.... ih lucu!


Aku kok merasa tidak enak badan ya akhir-akhir ini? Sejak aku keenakan pakai perawat malah makin males sepertinya, aku mungkin harus banyak olahraga ya sayang ya?


Dama, sayangku, aku tak apa-apa... tolong jaga anak-anak kita. Juga, kalau ada yang bisa menggantikan posisiku untuk mendampingimu yang ceroboh ini, aku merelakannya.


**


Damaskus masih bisa mendengar suara tawa almarhum istrinya, Rania. Sudah 24 tahun ia meninggal. Nadine bahkan tidak sempat mengingat wajah ibunya. Sejak lama Nadine hanya bisa mengenal ibunya melalui foto, saat Rania mengecup dahinya yang masih berusia seminggu.


Tapi kalau dirunut kejadiannya, dari awal Rania memang sudah merasa ada yang tidak beres dengan keadaan di sekeliling mereka. Ada orang tak dikenal yang memperhatikan mereka, terutama Rania, juga kehadiran seorang perawat yang direkomendasikan Widiyanti.


Kini setelah ditelusuri, bahkan si perawat itu hanya lulusan sekolah kebidanan. Belum menempati posisi di Rumah Sakit. Memang setelah mengetahui kalau Rania hamil anak ke dua, yaitu Nadine, Widiyanti Ega menampakkan gelagat yang berbeda. Ia mengakrabkan diri dengan keluarga Damaskus.


Widiyanti sering datang untuk mengobrol dengan Rania, bahkan sampai shoping bareng. Widiyanti juga sering menghadiahi Ali mainan. Dan akhirnya karena Widiyanti bilang kalau kondisi Rania di usianya yang menjelang 35 tapi harus hamil anak kedua sepertinya agak kepayahan, bagaimana kalau disewakan suster saja agar dapat memantau kondisinya, Damaskus setuju dengan wanita itu.


Setelah ada perawat, kondisi Rania drop, ia di diagnosa mengalami hiperemesis. Gejala utama hiperemesis gravidarum adalah mual dan muntah saat hamil, yang bisa terjadi hingga lebih dari 3–4 kali sehari. Kondisi ini bisa sampai mengakibatkannya hilang nafsu makan dan penurunan berat badan. Muntah yang berlebihan pusing, lemas, dan dehidrasi sering dialami Rania.


Tadinya Damaskus bersyukur untung saja sudah ada perawat saat Rania sakit-sakitan. Dokter kandungan juga bilang kalau Ada beberapa kondisi yang membuat ibu hamil lebih berisiko mengalami hiperemesis gravidarum yaitu mengalami hiperemesis gravidarum pada kehamilan sebelumnya. Hal inilah yang membuat Damaskus mengernyit. Karena saat hamil Ali, Rania tampak sehat dan ceria. Intinya dia baik-baik saja.


Setelah itu kata si perawat, kalau anak yang dikandung berjenis kelamin perempuan memang kerap terjadi mual dan muntah lebih banyak dari hamil anak laki-laki. Dan mereka percaya saja dengan hal itu.


Tapi di depan Widiyanti dan Damaskus, Rania tidak pernah menunjukkan kalau ia sakit. Bahkan Rania kerap bilang kalau “Buat apa sih pakai perawat, aku tidak sepayah itu koook,” begitu candanya. Dan benar saja, setelah melewati Trimester pertama, Rania kembali ceria.


Setidaknya, ia ceria di depan Damaskus.


Saat terakhir menjelang meninggalnya, dokter bahkan kaget kalau Damaskus tidak tahu, kalau Rania kerap bolak-balik diinfus untuk mengatasi dehidrasinya.


Tidak apa-apa sayang, orang hamil ya memang begini.


Kamu kerja saja yang serius biar bisa beli rumah untuk anak-anak kita. Masing-masing satu, okeee? Hehe


Astaga, suara tawa Rania, masih jelas terbayang di benaknya sampai sekarang.


Damaskus berdiri menghadap ke arah jendela, di bawahnya ada pemandangan kota Jakarta yang sumpek dan tak pernah tidur. Ia sebenarnya memiliki rumah di atas tanah di kawasan Kebayoran Lama, tapi sejak Nadine menikah dan pindah ke Eterny, ia tidak pernah lagi tinggal di sana.


Rumah itu membawa kenangan pahit baginya, anak pertamanya, Ali, ditembak oleh anak buah Widiyanti Ega. Kamar Ali dibiarkan apa adanya, di rumah itu.


Ali memang tak terlalu dekat dengannya. Anak itu seakan sibuk dengan urusannya sendiri. Damaskus lebih dekat ke Nadine. Tapi bagaimanapun, seorang ayah tetaplah ayah.


Saat Ali dikabarkan meninggal... hatinya hancur. Harus mengebumikan anak sendiri. Jungkir balik ia balas dendam. Bagaimana pun caranya, pun itu harus mengorbankan kariernya, Widiyanti harus dipenjara dalam jangka waktu yang lama.


Beruntung, menantunya yang seorang Raja Eterny, membantunya.


Sekarang di saat keadaan telah membaik... Contessa datang. Dengan Adiwilaga sebagai pemicunya.


Bisa jadi, karena Damaskus sebenarnya merasa tertolong dengan adanya Adiwilaga di saat ia berjuang sibuk dengan urusan Widiyanti, Adiwilaga berhasil membuat pundi-pundi uangnya bertambah lewat pasar bursa. Karena itu ia tidak terlalu keras menghukum Adiwilaga dan bersedia mencabut tuntutannya.


Tidak mungkin keperawanan dijual dengan harga 40 miliar, sementara ada banyak sekali wanita yang bersedia melepas keperawanan untuknya gratisan.


Tapi ia akui, Damaskus terpesona dengan Contessa dari awal. Karena kegigihan wanita itu, karena kecerdasannya, karena kecantikannya yang berbeda.


Bagaimana bisa gadis itu selalu wangi?!


“Rania...” Damaskus membelai syal favorit wanita itu. “Aku minta izin menikah lagi. Bukan demi anak-anak, tapi demi diriku sendiri. Calon istriku... tampaknya menghormatimu. Terlihat dari sikapnya saat memilih baju, ia lipat kembali dengan rapi, bahkan ia dry cleaning sendiri, seakan itu hartanya.”


Damaskus mengecup syal itu sambil memejamkan mata.


Bukan karena ia tidak lagi mencintai istrinya.


Namun saat ini, Tuhan sedang membolak-balikkan hatinya.


Damaskus mengernyit membaca layar ponselnya, bahkan ia harus mengenakan kacamatanya karena tak yakin akan kalimat yang diketik Contessa.


“Kok ‘Pak’ sih? Memang aku bapakmu?!” ketik Damaskus.


“Eh, maaf ... Mbah. #emoticon ketawa”.


Gemesin banget sih, sekaligus menyebalkan. Pikir Damaskus.


Lalu entah bagaimana... sayup-sayup ia mendengar suara tawa Rania yang renyah.


Ia menoleh ke belakang karena kaget.


Tapi di apartemen itu, tak ada siapa-siapa.


Hanya ada dirinya.


Sejenak bulu kuduknya meremang, tapi herannya, hatinya diliputi kehangatan


**


“Kamu mau beli apa?” Arini berjalan di koridor Mall sambil memeluk lengan Artemis yang melangkahkan kaki dengan ogah-ogahan.


Cowok itu menoleh ke samping, dan menatap wajah Arini.


Beneran lebih cantik kalau pakai kerudung... pikir cowok itu.


“Pilih aja ya Temmy, aku traktir hari ini, hihihi,”


Artemis mengernyit. Salah denger nggak sih gue?! Begitu pikirnya.


“Atau kita makan dulu aja? Atau nonton? Suka film apa? Pasti film action kan ya? Aku juga suka loh, film terakhir yang kutonton John Wick 4. Kenapa? Soalnya aksinya mengingatkan aku pada dirimuuuu, hihihihih,”


Seketika Artemis begidik. Berharap kencannya dengan Arini cepat berakhir.


Tapi ia memutuskan di jalan-jalan hari ini ia akan menuruti apa pun keinginan Arini. Demi bisa didampingi pedekate sama Ella.


Ya ampun, gede bener sih perjuangan gue ngejar-ngejar emak-emak seksi berdasteeeer! Begitu keluh Artemis dalam hati.


“Temmy, kamu suka cewek yang kayak apa?” tanya Arini.


“Yang bisa dimakan,” gumam Artemis.


“Aku nggak bisa dimakan, bisanya dirasakan, hihihihi,” lenjenya Arini.


“Jadi lu bukan tipe gue,” desis Artemis lagi.


“Ya udah demi kamu, aku bisa deh dimakan, hihihi,”


“Kupotong-potong dulu ya, muali dari tangan, kaki...”


“Loh? Ini dimakan dalam arti yang sebeannrya ya?!”


“Menurut lo gimana Narti?!” gerutu Artemis sambil kembali berjalan dengan malas-malasan. Udah spek sikopet saja saat ini dia, biar Arini menjauh darinya.


Tapi herannya wanita itu malah semakin mempererat pelukannya dan bilang, “Aku akan usahakan kamu mendapatkan korban yang sesuai sebagai ganti diriku.” Kata Arini.


Artemis menghentikan langkahnya dan menatap Arini. “Bercanda atau serius?” tanyanya.


“Aku serius,” kata Arini.


“Gue bercanda Narti.” Gerutu Artemis.