
"Bunda, kayaknya si Vano lagi pdkt deh sama karyawan baru" ucap Al
"Waah yang bener pa, akhirnya... bunda takut skali kalo Vano sampek nggak nikah-nikah" ucapnya sendu
"Tapi kayaknya dia nggak tau deh Nda, kalo si cewek itu anak partner bisnisnya hihihi" ucap Al
"Hah... masak sih pa" ucap Ara
Aldo dan Ara pun melanjutkan obrolan mereka, Al juga bercerita tentang Laura pada istrinya. Aldo hari ini memang akan berkunjung ke kantor, namun diurungkannya saat anak buahnya memberi laporan tentang Vano dan Laura. Dia ingin tau sejauh mana anaknya itu pdkt.
"Mas, nggak jadi ke kantor?" tanya Ara
"Nggak deh Nda, takut ganggu yang lagi pdkt hihihi" ucapnya
"Mending mumpung lagi berdua hayuk di kamar sayang" lanjutnya
"Ngapain mas? Ini masih pagi, aku mau masak dulu. Katanya nanti Mel sama Dita mau kesini" ucap Ara
"Sayaaaang....." rengek Al.
"Mas...." ucap Ara sambil memelototkan matanya melihat tangan suaminya mulai meraba kemana-mana. Untuk menghindari permintaan suaminya Ara segera bangkit dan meninggalkan suaminya yang memandangnya dengan muka cemberut.
"Yaaang...." rengek Al
Ara tidak peduli dengan Al yang sedang merengek seperti anak kecil. Dia hanya tersenyum melihat tingkah suaminya itu yang lupa dengan umurnya, padahal sudah punya cucu satu masih saja seperti anak kecil. Kemesraan Al dan Ara membuat pembantu-pembantu mereka iri. Al sama sekali tidak pernah menunjukkan kemarahannya, bahkan sering menggoda Ara ketika Ara sedang memasak. Itupun tak luput dari pandangan pembantu mereka. Di dalam hati pembantu mereka beruntung bosnya yang kaku itu menikah dengan Ara karna setelah menikah bosnya berubah 3600 derajat dari sebelumnya. Bahkan sekarang sudah punya cucu satu pun masih saja bucin dengan Ara. Terkadang pagi-pagi Al sudah berteriak mencari Ara saat dia bangun tidur tak melihat istrinya. Para pembantu pun hanya geleng-geleng kepala mendengar suara bos mereka.
Tapi jangan salah sangka, kelembutan Al hanya terjadi saat bersama keluarga di rumah ataupun saat keluar dengan keluarga saja. Al sangat perfeksionis saat menyangkut dengan perusahaannya. Sungguh mungkin karyawannya takut dengannya karna kedisiplinan Al tinggi serta tidak mentolelir kesalahan sekecil apapun. Karna itu sama saja merugikan perusahaan.
Saat sekarang perusahaannya sudah diserahkan pada Vano namun sifat Vano melebihi sifat Al saat mengelola perusahaan. Vano lebih sering membuat staf divisi tidak berkutik saat tau mereka bersalah, Vano hanya memberi satu kesempatan jika terulang kembali maka mereka siap-siap untuk meninggalkan perusahaaannya karna telat merugikan dan membocorkan privasi perusahaan.
...----------------...
Dering ponsel Vano berbunyi ada panggilan masuk tetera nama bengkel XX, lalu dia segera menjawab panggilan itu.
"Ya halo..."
"....................."
"..................."
"Ya, terima kasih"
"Hah... urusan kantor tinggal dikit lagi beres, trus motor Laura juga udah kelar. Emm... gimana kalo nanti kuajak makan sekalian aja ya sebelum ngambil motornya" gumamnya
Vano pun segera menghubungi Laura...
@Laura
Ra, nanti habis pulang kerja tunggu aku diparkiran aja. Sekalian ambil motor kamu di bengkel.
Ting.... Ada pesan masuk di ponsel Laura, lalu dia membuka pesan itu. Ternyata dari Vano..
@Pak Vano
Iya pak, motor saya sudah selesai diperbaikikah?
@Laura
Sudah kok, tadi pihak bengkel udah telfon aku
@Pak Vano
Siap pak nanti saya tunggu diparkiran saja. Terima kasih sudah membantu saya
@Laura
Sama-sama, lain kali kalo ada apa-apa kamu bisa menghubungi saya. Jangan panggil saya pak lagi Ra...
@Pak Vano
Hehehe... siap mas
Setelah berbalas pesan dengan Laura, Vano melanjutkan pekerjaannya yang tinggal beberapa lembar saja. Dan dia tidak sabar untuk makan berdua dengan Laura. Entah mengapa seperti dapat mood booster hari ini, jadi dia tidak terlalu jenuh meski Helmi cuti.