
Setelah kemarin berkunjung ke rumah orang tuanya, kini ara kembali bekerja menjadi sekretaris di AJ Corp.
"Mel, udah bangun belum?" tanyaku
"Udah bunda" jawabnya lalu turun sudah memakai seragam sekolahnya.
"Lho, bunda hari ini udah kerja masuk pagi?" tanyanya
"Iya sayang, bunda ada rapat pagi ini" ucapku
"Semangat bunda sayang" ucapnya sambil memelukku.
"Yuk, sarapan dulu" ajakku
Mel hanya mengangguk saja, dan duduk di sebelah kananku.
Setelah sarapan usai, aku dan Mel berangkat bersama dengan arah yang berbeda.
Sesampainya di kantor, aku langsung menuju tempat kerjaku. Tanpa kusadari pak Aldo baru saja datang dan langsung masuk lift bersamaku.
Harusnya kan dia masuk lift khusus CEO, kenapa malah ikut di lift karyawan sih. Untung masih pagi, jadi karyawan belum banyak yang datang, gerutuku dalam hati.
"Sudah mengumpat tentang saya" katanya
Aku tersentak kaget, kemudian menormalkan ekspresiku agar dia tidak tahu apa yang dikatakannya memang benar. Tanpa menjawab apa yang dikatakannya, aku langsung berpamitan saat lift sudah terbuka.
"Mari pak" ucapku seraya membungkukkan badanku
"Mau sampai kapan kamu slalu begini sama aku ara" gumamnya lirih namun masih ku dengar.
Sebenarnya aku mulai nyaman, namun aku tau posisiku. Aku tidak ingin orang lain memandangku sebelah mata dan berkata bahwa aku mencoba merayu CEO ku. Susah memang dengan statusku kini, tidak semua yang mempunyai status sepertiku harus dipandang remeh.
"Hah, lelah rasanya harus setiap hari mendengarnya merajuk seperti abg" keluhku setelah masuk skat dimana letaknya di depan ruangan orang menyebalkan itu.
...----------------...
"Ra, tolong bawakan berkas kemarin dari PT. Anugerah Jaya sekarang ke ruangan saya" perintahnya melalui interkom
Dasar, tukang maksa. Nyuruh seenak jidatnya aja. Nggak liat apa kerjaanku masih banyak. Gara-gara kemarin aku nggak masuk jadi numpuk. CEO durjana emang, umpatku dalam hati.
Setelah itu pun ku ketuk pintu ruangannya
Tok Tok Tok
"Masuk" sahut dari dalam
"Permisi pak, ini data yang bapak minta tadi. Ada yang bisa saya bantu lagi pak?" tanyaku
"Sudah berapa kali aku bilang, kalo lagi berdua jangan bicara formal denganku ra" protesnya
"Maaf pak" ucapku seraya menundukkan wajahku
"Haish, kamu memang minta ku cium. Manggil bapak terus.. kapan aku nikah sama ibumu" gerutunya
"Permisi, saya akan kembali karna bapak tidak membutuhkan apa-apa lagi" ucapku
Namun belum sampai aku membuka pintu, tanganku langsung ditarik olehnya. Dan dia mengunciku di dinding sebelah pintu. Degup jantungku begitu kencang dalam kungkungannya.
Apa yang akan dia lakukan, ku mohon jangan aneh-aneh Aldo gumamku dalam hati.
Entah berapa lama aku dan dia dalam posisi itu, dan tanpa ku menyadari wajahnya sudah dekat dengan wajahku.
"Ra, aku sangat mencintaimu. Kenapa kamu slalu menolakku ra. Apa salahku sama kamu. Aku akan mengobati luka dalam hatimu" katanya lirih
Segera ku sadar dengan posisiku dan berkata
"Maaf Al, tidak seharusnya kamu berkata demikian. Aku tidak ingin orang tuamu berfikir yang tidak-tidak tentangku. Sekali lagi maaf Al"
Setelah berkata seperti itu kemudian aku langsung pergi dari ruangannya, tanpa memperdulikannya lagi.
"Aaarrghh...." teriak Al dengar frustasi. Sudah lama dia mendekati Ambarawati yang lebih mudah dipanggil ara. Karna dari awal ara masuk kerja menjadi sekretarisnya, dia memang sangat cekatan dan teliti. Al suka kerjanya, walau dia tau ara itu janda dengan 1 anak. Al tidak mempermasalahkannya. Orang tua Al juga sudah beberapa kali menjodohkannya tapi Al selalu menolak karna wanita-wanita itu layaknya seperti ulat keket saja dengan lekukan tubuh yang selalu diperlihatkan. Beda dengan Ara, walau tidak berhijab namun pakaiannya selalu sopan dan santun.
...----------------...
"Ra, aku minta maaf soal tadi. Aku nggak tau harus ngomong gimana lagi sama kamu. Aku nerima kamu apa adanya ra, namun sepertinya kamu masih trauma dengan kejadian dulu. Aku tidak akan memaksamu lagi, sekali lagi aku minta maaf sama kamu ra" sesalnya
"I I iya pak" kataku tergagap.
"Hari ini tunda meetingnya, aku tidak ingin diganggu siapapun. Tolong makan siangku nanti antarkan ke ruanganku saja" ucapnya seraya kembali ke ruangannya.
"Baik pak" ucapku.
Haaah... beratnya ngadepin dia gitu, sebenarnya aku udah nyaman sama kamu tapi aku nggak berani untuk mengungkapkannya langsung. Kamu nggak pernah ngrepotin aku Al, namun aku takut di cap orang yang nggak punya adab jika aku mendekatimu, keluhku dalam hati.
...****************...
Setelah mengantar makan siang pak Al, aku segera kembali ke ruanganku. Tak berapa lama, ada perempuan datang..
"Hei, Aldo ada didalam nggak?" tanyanya
"Mohon maaf bu, hari ini pak Aldo berpesan untuk tidak menerima tamu" ucapku
"Kamu tau nggak saya itu siapa, saya calon istrinya yang dijodohkan orang tuanya. Dasar sekretaris nggak berguna" gerutunya
"Maaf bu tapi pak Aldo bilang..." belum sempat aku melanjutkan ucapanku perempuan itu main nyelonong masuk ruangan pak Aldo.
"Sudah ku bilang bahwa aku tidak ingin menerima tamu, apa kamu nggak tau" bentak Aldo
Aldo tau siapa yang datang, dari bau parfumnya bukan ara. Padahal sudah tau Aldo menolak perjodohan, masih saja ulat keket itu kekeh tidak mau mendengar penolakannya.
"Cepat keluar dari sini atau ku panggil satpam untuk menyeretmu keluar dari kantorku" ucapnya lantang
Tanpa babibu lagi Agnes langsung memucat wajahnya dan tergesa-gesa keluar menabrak ara yang hendak masuk ke ruangan Al.
Brukkk... ara terjatuh setelah ditabrak agnes.
Huh, nggak tau apa ada orang yang mau masuk. Ya ampun itu orang nggak ada sopan santunnya sama sekali. Pantas saja Aldo menolaknya, lha wong pakaian kurang bahan dipake, gerutuku dalam hati.
Aldo berlalu dari kursinya membantu ara berdiri
"Kamu nggak apa-apa kan ra?" tanyanya
"Eh, nggak apa-apa kok" ucapku, namun ketika hendak berdiri aku merasakan kakiku sebelah sakit
"Aauuuu" rintihku sambil memegang kaki kananku
"Sini aku bantu kamu berjalan, duduk di sofa dulu. Aku mau liat kakimu" ucapnya
Tanpa babibu lagi dia langsung melihat kakiku yang lebam bagian pergelangan. Mungkin kakiku terkilir, saat hendak berdiri tadi.
"Maaf ya, mungkin nanti agak sakit. Tapi biar bisa buat jalan lagi kamu harus tahan" ucapnya seraya memijat kakiku.
"Aah" pekikku, karna rasanya begitu sakit
"Sekarang coba gerakkan kakimu, udah mendingan apa belum" ucapnya
Lalu aku mencoba menggerakkan kakiku, ternyata sudah tidak sesakit tadi.
"Terima kasih Al" ucapku
Aldo hanya menjawabnya dengan senyuman. Lalu menyodorkan minuman kepadaku
"Ini minum dulu, biar nggak grogi"
"Ish kamu ini, mesti ngeledekin aku" grutuku
"Kalo kamu manyun kayak gitu jangan salahkan aku kalo aku khilaf menciummu" ucapnya
Langsung saja ku tutup mulutku dengan tanganku, namun apa yang dia lakukan setelah itu membuatku jengkel.
"Hahahaha Ara ara, kamu itu lucu sekali sih. Gemas banget aku liatnya" kata Al
Dasar, huh ini kenapa sih langsung reflek aja. Bikin malu aja deh gerutuku dalam hati. Tanpa ku sadari Al memperhatikan ekspresi wajahku dan langsung mencium bibirku tanpa persetujuanku.
Aku pun tersentak kaget melihat tindakannya itu, sampai ku menahan nafasku.
"Bernafas sayang" ucapnya lirih
Sadar ra, ini salah ucapku dalam hati
Kemudian aku bergegas berdiri dan memukul dadanya. Segera ku pergi dari ruangannya. Sungguh aku malu sekali, wajahku sampai memerah. Oh Tuhan, kenapa jadi begini sih.
Waaah, manis cherry bibirmu ra, sampai membuatku lupa hihihi, ucapnya dalam hati.
Setelah Al melihat ara pergi dan memukul dadanya, Al segera bangkit dan menyelesaikan kerjaannya.
Diruangan yang berbeda, Ara masih dengan degup jantungnya yang begitu cepat dan mukanya masih memerah.
Apa yang sudah terjadi tadi, kenapa Al mencium bibirku. Hah tapi sungguh rasanya, kenapa begitu nikmat sih, gerutunya dalam hati.
Meski sudah lama tak pernah ciuman tapi ara tau bagaimana Al tadi menciumnya sangat lembut. Bau parfum musk yang dipakai Al begitu memabukkan.