
Mohon maaf ya kakak-kakak, hari ini up nya telat. Masih Q time bersama anak saya...
Well... back to story...
...****************...
Rasanya sungguh menyesakkan setelah mendengar bahwa salah satu anakku harus pergi untuk selama-lamanya. Hancur, remuk, rasanay runtuh sudah duniaku. Kenapa Tuhan memberi ujian begitu berat, bahkan tanpa mengucapkan salam perpisahan atau sekedar basa basi pun tak ada. Ina... kenapa Ina jahat sama bunda, kenapa Ina ninggalin bunda sayang....
Ara terus terisak, bahkan sudah seminggu ini nafsu makannya kacau. Aldo sampai harus membawa pekerjaannya ke rumah untuk menemani istrinya. Dia tidak tega, namun dia harus mengatakannya saat itu meski Ina sudah dimakamkan. Aldo juga sudah mengajak Ara ke makam Ina. Pada saat disana Ara kembali pingsan, Aldo tak sanggup melihat ini kemudian dia membaringkan Ara dikursi dekat dengan pemakaman.
"Sayang.... sudah ya.. kasihan Ina, Ina sudah tenang disana. Jangan memberatkannya dengan menangisi seperti ini" ucap Aldo lirih
"Bagaimana mungkin mas, aku sebagai bundanya yang melahirkannya... slalu memberinya kasih sayang tanpa babibu Ina pergi ninggalin aku mas... Hancur duniaku...Kenapa ini terjadi di keluarga kita mas?? hiks hiks hiks" keluh Ara
Aldo mengelus surai Ara untuk menenangkannya, sungguh Aldo tak ingin terlalu larut dalam kesedihan. Masih banyak tanggung jawab yang dia pikul.
"Sekarang doakan saja ya Ina disana, wake up baby... I believed you can do it" ucap Al
Ara memandang Al dengan haru. Slalu ucapan semangat yang tak kenal lelah terucap di bibir Al. Tuhan Maha Adil, mengirimkan Aldo sebagai pengganti Kris. Ara bahagia, bahkan Aldo tak sesekali memperingatinya saat dia terlalu banyak melakukan aktifitas. Entah itu akan berujung dia cemberut atau tertawa karna tingkah konyol Aldo saat menegurnya.
"Terima kasih Al, sudah hadir dalam hidupku. Memberi warna dalam hidupku.. menghadirkan malaikat-malaikat yang cantik dan tampan. Meski sekarang aku harus mengikhlaskan salah satunya. Semoga kita slalu diberi kebahagiaan. Aku mencintaimu Al.. sangat mencintaimu"ucap Ara
Aldo yang mendengar ucapan Ara sungguh tak bisa menahan air matanya. Tanpa menjawab ucapan Ara, Aldo mendekatkan wajahnya dengan wajah Ara dan mencium kening, pipi, hidung tak lupa mencium bibir Ara begitu lama. Ara kaget dengan perlakuan Aldo yang tiba-tiba itu namun kemudian dia tersenyum. Sungguh bahagia dicintai seseorang dengan caranya sendiri tanpa harus mencontoh apa yang dilakukan orang lain. Aldo slalu mengungkapkannya tanpa tau tempat, entah mereka berdua saat jalan atau quality time di rumah. Romantis, dan sungguh sudahlah bingung mau bilang apa lagi. Intinya bahagia dicintai seseorang tanpa memandang bagaimana masa lalu kita. Tidak ingin tau bagaimana cara kita berada di titik ini. Perjuangan yang tidak mudah terbayarkan dengan kebahagiaan yang slalu menyertai.
"Yuk kita masuk ke dalam" ajak Al
"Ayo, hari ini aku ingin memasak sambal terong campur ikan salem" ucap Ara menahan air liurnya
"Waaah, aku sudah tidak sabar untuk menunggunya. Ingat jangan terlalu lelah sayang. Banyak istirahat, kan kamu baru saja pulih" ucap Al
"Siap bos" ucap Ara
Aldo mencubit pipi Ara dengan gemas, sungguh mood istrinya sudah kembali membaik. Memang tak mudah melupakan seorang anak yang begitu disayangi namun harus mengikhlaskan apa yang sudah terjadi. Semua di dunia hanyalah titipan saja, dan patut disyukuri jika memang sudah rezeki masing-masing.
Setelah memasuki rumah, Ara menuju dapur sedang Aldo menuju ruang kerjanya. Masih ada berkas-berkas yang harus di ceknya kembali agar tidak terjadi kesalahan dikemudian hari.
"Assalamu'alaikum" ucap Mel dan Vano
"Tumben jam segini udah pulang, barengan pula ada apa ini?" tanya Ara penuh selidik. Mel dan Vano pun saling berpandangan mendengar ucapan Ara, dan segera Vano menjawab pertanyaan bundanya itu.
"Bukannya hari ini hari sabtu bunda, jadi kita biasa ya pulang lebih awal" terang Vano
"Oh ya ampun.. bunda sampai lupa hari sayang. Maafkan bunda yang terlalu memikirkan Ina ya sayang" sesal Ara sambil memeluk kedua anaknya.
"Nggak apa bunda sayang... Mel dan dek Vano tahu gimana rasanya kehilangan orang yang kita sayangi" ucap Mel dan membalas pelukan Ara.
"Waah... pada lagi berpelukan papa nggak diajak nih" goda Al
"Ish papa merusak suasana deh" gerutu Vano
Kemudian mereka semua tertawa bersama, lalu menuju kamar masing-masing untuk mandi.
Setelah beberapa saat kemudian, kini semua sudah berkumpul di meja makan. Ara mengambilkan nasi untuk suaminya, Mel dan Vano.
Sebenarnya Mel dan Vano bisa mengambil sendiri, namun daripada nanti dapat ceramah dari bundanya mereka hanya diam. Bahaya jika bundanya sudah ngomel-ngomel nanti acara makan malam bisa kacau.Setelah semua piring terisi Aldo memimpin untuk membaca doa bersama dan memulai makan malam bersama keluarganya.
Acara makan malam ini pun masih sama dengan candaan ataupun cerita dari Vano dan Mel. Meski sekarang tidak ada Ina, namun kenangan yang indah sudah mereka simpan rapi dalam ingatan mereka.
"Bunda, papa Mel ke atas dulu ya. Tadi ada tugas dari kampus" pamit Mel
"Vano juga papa bunda mau ke kamar dulu" ucap Vano
"Yaudah, nanti jangan tidur malam-malam ya anak-anak bunda" ucap Ara
"Siap bos... laksanakan" ucap Vano dan Mel bersama.
"Hayooo... papa sama bunda mau pacaran lagi yaaa" goda Vano
"Ish mana ada sih dek, papa lagi banyak kerjaan ya... " sanggah Al
Ara hanya melirik Aldo dan mengangkat sebelah alisnya mendengar perkataan Aldo. Padahal tadi Aldo mau mengajaknya keluar, tapi apa yang barusan didengarnya sungguh membuatnya bingung. Aldo yang melihat Ara memandangnya bingung pun memberi kode padanya agar dia tenang. Karna nanti jika anak-anak mereka tau mereka akan keluar pacaran berdua pasti nanti digoda habis-habisan. Vano tidak lagi sekaku dulu namun itu hanya berlaku saat bersama keluarga dan orang-orang terdekatnya. Dia lebih terkesan dingin saat berada di sekolah, dia pun juga anak yang berprestasi. Banyak guru yang memuji kepandaiannya. Bahkan yang seharusnya di usianya ini masih duduk di bangkus SMP namun dia sudah duduk di bangku SMA kelas 1. Aldo dan Ara tidak mempermasalahkan selagi Vano tidak mengeluhkan apa yang sekarang ini dia jalani. Al dan Ara mendukung apapun yang terbaik untuk anak-anak mereka.
Juna hari ini tidak bisa mengantarkan Mel ke kampus karna ada urusan mendadak yang ahrus dia handle sendiri kesana. Tadi pagi saat hendak mengambil kunci mobilnya ada notif masuk dari sekretarisnya memberitahukan bahwa ada hal mendesak yang harus dihadiri oleh Juna langsung karna tidak ingin diwakilkan. Akibatnya mau tidak mau Juna terpaksa menghadiri pertemuan dengan koleganya itu.