
Hari ini Vano tidak terlalu sibuk dengan pekerjaan di kantor, jadi berangkat pun juga santai tidak terburu-buru. Saat dijalan menuju kantor dia melihat gadis yang menabraknya kemarin di samping motor yang dipunyai. Tanpa sengaja dia berhenti di samping motor gadis itu lalu membuka kaca mobilnya.
"Kenapa dengan motormu?" tanya Vano
"Mogok pak motor saya" jawabnya tanpa menoleh siapa yang bertanya padanya.
"Lebih baik berangkat bersamaku saja, ini sudah siang" ajaknya
"Eh...." lalu gadis itu mendongak bertapa terkejutnya orang yang berbicara dengannya adalah CEO perusahaan dimana dia bekerja.
"Maafkan saya pak, saya tidak tahu jika bapak....." belum sempat gadis itu melanjutkan ucapannya sudah dipotong oleh Vano
"Tidak apa-apa, ayo.... biar motormu nanti diantar ke bengkel sama orangku" ucapnya
"Ta tapi pak"
"Sudah, saya tidak bisa menerima penolakan" ucap Vano
"Iii iya pak" jawabnya
Lalu gadis itu masuk ke mobil Vano duduk disebelahnya.
Untuk mengusir kecanggungan yang melanda mereka berdua akhirnya Vano memulai percakapan.
"Ehm... nama kamu siapa?"
"Saya Laura Anastasya Pak" jawabnya
"Emm... nama yang cantik... " gumamnya masih terdengar oleh Laura. Laura yang mendengar pujian orang disampingnya pun wajahnya merona serta degup jantungnya begitu kencang.
"Kkalo Anda pak?" tanya Laura
"Aku Vano, jangan memanggilku pak... Seperti aku sudah tua saja. Umurku masih 25 tahun" protesnya
"Emmm mmaaf ppak, eh mas... aduh saya bingung manggilnya gimana" ucapnya
"Seenaknya kamu aja manggilnya gimana" ucap Vano.
"Ehm... sudah sampai.. mau turun disini atau di parkiran Ra?" lanjutnya
"Ehmm eh anu di parkiran aja mas, nggak enak kalo dilhat yang lain" ucap Laura.
Vano hanya menganggukkan kepalanya sembari menuju parkiran kantor khusus CEO. Laura tidak tahu jika Vano adalah CEO perusahaan itu, dia menganggap Vano sebagai staf biasa.
"Eh, aku minta nomormu biar nanti kalo udah slesai motormu bisa langsung menghubungimu" ucap Vano.
Ya sedikit modus nggak apa ya, kan emang juga perlu banget. Daripada ntar nyarinya susah kan aku juga nggak tau dia bagian kerjanya di divisi mana.
"Eh bentar mas.. ini 081xxxxxxxxx" ucap Laura
"Ok aku miscall ya.." ucap Vano
Setelah hp Laura berdering, dia segera menyimpan nomor Vano.
"Udah aku save mas, skali lagi makasih atas tumpangan skaligus bantuannya" ucapnya seraya pergi meninggalkan Vano karna degup jantungnya tidak terkondisikan.
Sepertinya aku nanti pulang harus periksa jantung deh, kenapa tiba-tiba gini.. aneh... gumamnya dalam hati
Vano pun tak kalah canggungnya saat bersama Laura, padahal sebelumnya dia tidak pernah seperhatian itu terhadap karyawannya. Entah kenapa Laura begitu menarik perhatiannya.
Sepertinya aku harus periksa ke dokter jantung, biasanya nggak kayak gini deh. Apa jangan-jangan aku jatuh hati sama Laura.. Ish nggak mungkinlah kan baru kenal juga gumamnya dalam hati.
Vano kemudian kembali fokus dengan kerjaannya yang sudah menumpuk itu. Hari ini Helmi tidak ke kantor karna ada urusan keluarga jadi pekerjaan Helmi pun dia rangkap juga hari ini.
"Haaahhhh.... banyak sekali sih, tau gini Helmi nggak gue suruh ninggalin kerjaannya" keluhnya..
...****************...
Dering ponselnya pun berbunyi, lalu dia melihat ada nama bundanya disana.
"Halo, assalamu'alaikum bunda" sapanya
".................................."
"Iya, nanti mungkin Vano agak telat pulangnya, karna Helmi lagi cuti"
"...................................."
"Siap bos laksanakan, yaudah Vano mau lanjutin kerjaan dulu ya bunda. Assalamu'alaikum" pamitnya sambil menutup panggilan dari bundanya.
Papanya sekarang jarang ke kantor, karna semua sudah dihandel oleh Vano sendiri mungkin sesekali ke kantor hanya untuk mengecek kinerja karyawan serta laporan bulanan perusahaan.
Vano kembali berkutat dengan berkas-berkas kemarin yang masih harus dikoreksi, supaya tidak membuat perusahaan rugi akibat kurang ketelitiannya. Perusahaan yang dipegangnya kini sudah melebihi saat dulu masih dipegang papanya. Dia bersyukur, masih banyak orang yang menyayanginya dan menyemangatinya. Dia pun bertekad untuk tetap kompeten dalam menjalankan amanah papanya ini, karna Juna sudah mempunyai perusahaan sendiri. Meski perusahaan yang dipegang Vano sekarang masih ada 40% saham milik Melati justru Vano lebih menyukai pekerjaannya daripada harus berebut kepemilikan perusahaan. Melati pun juga tidak terlalu memusingkan dengan saham itu walau dia juga berhak tapi tetap saja itu dia serahkan pada Vano.