The Best Single Mom

The Best Single Mom
Berita Burung Eh Buruk



Ina sangat bahagia melihat kakaknya Mel baik-baik saja, kedua orang tuanya juga sangat mengkhawatirkan Ina sebab anak itu beberapa kali sudah masuk rumah sakit. Ada kelainan sedari bayi, namun dia selalu menutupi kekurangannya dengan slalu membuat kedua orang tua serta kakaknya bahagia agar tidak terlalu mengkhawatirkannya. Penyakitnya kini sudah stadium 3, meski sudah berbagai cara yang ditempuh kedua orang tuanya namun sakitnya tak kunjung mengalami pemulihan, justru semakin memburuk. Meski sekarang dia harus memakai wig karna rambutnya sudah mulai rontok dan sebagian kepalanya sudah botak. Ara yang melihat anak perempuannya murung pun menghampirinya.


"Sayang.. kenapa kok murung?" tanya Ara


"Bunda, apakah Ina tidak bisa seperti yang lainnya tanpa harus seperti ini" ucapnya lirih sambil menundukkan kepalanya menahan air matanya agar tak jatuh.


"Sayang... semua orang punya ujian masing-masing. Ina anak yang kuat, bunda sama papa bangga sama Ina... kita semua sayang sama Ina. Ina nggak boleh bilang begitu ya.. tetap disyukuri.. apapun itu pasti ada kebahagiaan kelak suatu saat nanti" hibur Ara meski hatinya sakit mendengar keluhan anaknya. Ibu mana yang tega melihat anaknya yang masih kecil harus mengalami hal ini. Sungguh tiada dia sangka dulu bayi mungil itu kini tumbuh besar dan cantik. Rasanya kadang dia dan Al sudah menyerah, sudah berbagai pengobatan dia lakukan bahkan sudah puluhan juta namun putrinya tak kunjung sembuh. Kadang saat Ina kambuh sakitnya dia hanya bisa menangis dalam diam.


"Ya sudah yuk, masuk dulu kan Ina harus terapi semangat sayang. Ina pasti bisa melalui semua ini" ucap Ara


Ina hanya menganggukkan kepalanya saja, Ara lalu mendorong kursi roda yang dinaiki Ina. Sungguh dia tidak ingin melihat anaknya kesakitan karna kemoterapi. Sakit sungguh sakit rasanya, kenapa Tuhan memberikan ujian yang begitu berat padanya. Setelah masuk ruangan itu, Ara pun berdiri agak jauh dari Ina karna efek kemoterapi itu bisa menjalar ke dirinya jika terlalu dekat.


"Aaarrrgggjhhhhh bunda sakiitt hiks hiks hiks" rintih Ina


Ara tak kuasa menahan tangisnya saat mendengar rintihan anaknya itu. Dia yang slalu mendampingi Ina saat terapi, sedang Aldo akan menyusul saat Ina sudah masuk ruangan. Aldo juga tidak tega melihat anak seceria Ina harus menderita seperti itu. Sebagai seorang papa, sungguh sangat sakit melihat anaknya seperti itu.


"Ssayang..." panggil Al lirih


"Maass hiks hiks hiks" ucap Ara seraya menghambur kepelukan suaminya, hanya itu yang Ara butuhkan sekarang dia tak sanggup melihat anaknya kesakitan.


"Sabar ya sayang, Ina anak yang kuat pasti Ina bisa melewati semua ini" hibur Aldo


Ara tak menjawab ucapan Aldo dia semakin terisak dalam pelukan suaminya.


Namun tanpa disangka Ina justru pingsan, itu membuat dokter serta suster yang menanganinya menjadi panik dan segera membawa Ina ke ruang ICU.


Melihat anaknya dibawa ke ruangan lain Ara dan Aldo pun mengikutinya dengan tergesa.


"Mohon maaf, bapak ibu tunggu diluar dulu kami akan memeriksa adik Ina" cegah suster saat Al dan Ara ingin masuk ke ruangan itu. Tanpa disangkanya saat melihat ruangan itu Aldo kaget kenapa sampai Ina dibawa keruang ICU. Ini pasti tidak ada hal yang beres. Setelah menunggu sekian lama, akhirnya dokter yang menangani Ina keluar ruangan. Dokter itu menghampiri Al dan Ara seraya berkata


"Mohon maaf bapak ibu, Ina sedang mengalami masa kritis hanya doa yang bisa kita lakukan saat ini semoga ada keajaiban datang" ucap dokter itu


"Iya dokter, terima kasih tolong lakukan yang terbaik untuk anak kami" ucap Al


Ara yang mendengar ucapan dokter itupun tak bisa menahan tubuhnya, dia pun pingsan di sebelah Al.


"Araaa" teriak Al


Dokter dan suster yang berada di depan mereka pun segera menolong untuk menuju ruangan sebelah. Aldo sungguh tidak menyangka Ara sampai pingsan, mungkin karna beberapa hari ini terlihat murung karna memikirkan Ina. Bahkan Ara tak jua makan dengan enak, entah hanya beberapa suap saja yang masuk ke dalam perutnya. Kini Ara terbaring diatas bed rumah sakit dengan selang infus ditangannya. Aldo sudah mengabari Mel dan Vano jika Ara pingsan. Aldo menunggu Ara siuman, entah sudah berapa lama dia pingsan.


Seperti bau obat-obatan yang menusuk hidung, sungguh kepalaku pusing sekali. Apa yang telah terjadi pada anakku... Ina... ayo bangun sayang. Bunda disini nunggu Ina...ungkapnya dalam hati namun matanya masih terpejam.


"Bunda... Ina sangat sayang sama bunda, Bunda jangan nangis lagi ya... Ina udah nggak akan sakit lagi, Ina mau ketemu sama eyang uti dan eyang akung. Bunda yang sehat-sehat ya. Ingat bunda nggak boleh nangis.. Ina sedih kalo liat bunda menangis" ucap Ina


"Ina sayang... Ina nggak boleh ninggalin bunda sama yang lain. Ina anak yang kuat.. ayo sayang... Ina pasti bisa melewati semua ini. Ina anak yang baik" jawab Ara seraya mengulurkan tangan pada Ina namun Ina semakin menjauh dan menghilang membuat Ara semakin berteriak kencang


"Inaaaaaaaaaa" teriak Ara


"Sayang" ucap Aldo kaget mendengar teriakan istrinya itu.


"Mas, Ina mas.. Ina hiks hiks hiks" rintih Ara


"Sssstttt... Ina pasti baik-baik saja sayang. Kamu jangan begini, nanti Ina sedih melihatmu seperti ini" hibur Al


"Aku liat Ina mas, aku liat Ina... dia pamitan sama aku mas... dia katanya mau nyusul bapak sama ibu hiks hiks hiks" ungkapnya


"Sudah ya sayang... Ina nggak mungkin ninggalin kita... Kamu harus percaya itu" ucap Al. Namun dalam hatinya dia juga sakit melihat anaknya seperi itu. Jika memang Ina akan meninggalkan mereka semua, Aldo sudah ikhlas walau berat namun jika itu yang terbaik dia bisa apa.


Mel yang melihat Ina di dalam ruangan kejang-kejang segera memanggil dokter


"Dokter dokter... suster tolong..." teriak Mel


Dokter pun menghampiri dan melihat Ina di dalam ruangan itu. Tak berapa lama dokter itu pun keluar dengan wajah yang sulit diartikan.


"Mohon maaf, kami sudah berusaha semampu kami. Tapi Tuhan berkehendak lain" ucap dokter itu


Mel dan Vano yang mendengar itu pun tak kuasa menahan tangisnya. Vano biasanya slalu usil dengan Ina pun sungguh tidak percaya jika saudara kembarnya pergi meninggalkannya untuk selamanya.


Mel segera mengabari papanya, dan Aldo menghampiri Mel di depan ruangan rawat Ina. Aldo sebelumnya meminta izin pada Ara jika ada keperluan mendesak agar Ara tidak shock mendengar berita ini.


"Ina sayang... bangun sayang... kamu janji sama papa bakalan kuat. Ina kan pengen ke Singapura... Ayo sayang... kenapa ninggalin papa secepat ini. hiks hiks hiks..." sungguh hancur hati Aldo bahwa sekarang dia kehilangan anaknya yang slalu membuat hari-harinya berwarna dengan celotehan Ina walau kadang membuatnya jengkel karna anak itu tidak mau diam.


Kini dia harus kuat menghadapi semuanya, entah bagaimana dia harus bercerita pada Ara jika Ina pergi untuk selamanya. Dia harus menyiapkan mental untuk menghadapi kemarahan ataupun amukan Ara.


"Mel, papa ke ruangan bunda dulu. Jangan lupa Mel kabari Juna ya... Papa nggak ingin bundamu mendengar berita ini dulu. Karna dia masih lemah baru saja sadar" ucap Aldo.Mel hanya menganggukkan kepalanya dan masih terisak dengan tangisnya. Dia sungguh kehilangan adiknya yang paling cerewet dan menggemaskan itu. Mel dan Juna mengurus pemakaman Ina. Vano juga ikut Mel menuju pengistirahatan terakhir saudara kembarnya.


"Selamat jalan saudara kembarku... kami semua sangat menyayangimu. Namun Tuhan lebih menyayangimu... Tenanglah disana... Aku tau aku banyak salah padamu... Aku akan berjuang mewujudkan mimpi kita dan janji kita Ina" ucap Vano lirih. Vano enggan pergi dari pusara saudara kembarnya itu.Mel yang melihat itu pun ikut duduk dan mengelus pundak Vano seraya berkata


"Kita ikhlaskan Ina dek, Ina sudah tenang disana. Ina nggak akan ngerasa sakit lagi" ucapnya sambil sesenggukkan dengan tangisnya. Juna pun sama begitu kehilangan Ina meski dia bukan saudara kandung. Namun apapun yang Ina minta pasti Juna berikan entah itu nanti dia harus menghadapi kemarahan Mel. Sungguh Ina sudah seperti adiknya sendiri. Juna menghampiri Mel dan Vano untuk segera beranjak karna hari sudah mulai gelap.