
"No, hari ini masih ada pertemuan sama klien nih. Lho kudu fokus, awas aja kalo sampek kayak kmaren lagi" tegur Helmi
"Iya iya bawel banget sih loe kayak emak-emak minta blanja bulanan" ucap Vano.
Tanpa sengaja saat berjalan beriringan dengan Helmi Vano ditabrak perempuan di depannya.
"Maaf pak maaf, saya tidak sengaja" ucap gadis itu sambil menundukkan wajahnya
Vano sebenarnya ingin marah tapi ketika hendak menegur Helmi sudah menjawabnya lebih dulu
"Iya tidak apa-apa Nona, lain kali Anda harus hati-hati"
"Te... terima kasih pak, permisi" ucap gadis itu seraya pergi meninggalkan Vano dan Helmi.
"Anak magang apa karyawan baru?" tanya Vano
"Kayaknya sih karyawan baru" ucap Helmi
Helmi dan Vano pun segera pergi meninggalkan gedung kantornya menuju resto XX untuk bertemu klien mereka.
...****************...
Sesampainya di resto XX...
"Mohon maaf pak, kami terlambat karna tadi macet serta ada sedikit problem" ucap Helmi
"Terima kasih" ucap Helmi
Helmi dan Vano duduk sembari membahas proyek yang akan mereka kembangkan bersama, sembari menunggu pesanan mereka datang diselingi dengan candaan supaya tidak terlalu tegang saat membahas proyek mereka.
"Apakah pak Vano sudah beristri?" tanya pak Tio tiba-tiba
"Ah belum pak, belum ketemu jodohnya" ucap Vano
"Waah andai putri saya tidak kabur mungkin saya mau menjadikan pak Vano menantu saya hihihi" ucapnya
"Ah bapak bisa saja" ucap Vano
"Ya, putri saya kabur dari rumah sudah setengah tahun ini tidak pulang. Saya sangat mencemaskannya, sampai sekarang pun saya belum menemukannya soalnya dia selalu berpindah-pindah. Haaahh" hela pak Tio...
"Ahh maaf saya jadi curhat hehehe" lanjutnya
"Tidak apa-apa pak...." ucap Helmi.
Setelah makanan datang mereka kemudian menyantap makanan pesanan mereka. Vano masih terbayang wajah gadis yang menabraknya tadi, wajah gadis itu dengan pak Tio memiliki kemiripan namun Vano tidak terlalu memikirkan hal itu.
Pak Tio memandang Vano kagum dengan wibawanya meski umurnya terpaut jauh, Vano sungguh seperti ayahnya pak Aldo. Dan sepak terjangnya dalam bisnis pun semakin diminati banyak perusahaan, Pak Tio juga pernah mendengar bahwa Vano juga sempat menolak mentah-mentah kerjasama dengan perusahaan saingannya karna mereka menyogok Vano dengan mengirimkan wanita seksi untuk kesuksesan bisnis yang akan mereka berikan pada perusahaan Vano. Sungguh sampai di berbagai perusahaan manapun menolak bekerja sama dengan mereka karna mendengar berita miring itu. Pak Tio mencoba bekerjasama dengan perusahaan Vano karna menurutnya memang perusahaannya juga butuh partner bisnis yang harus kompeten serta memiliki projek yang bagus. Pak Tio juga berharap agar putrinya segera kembali ke rumah, semenjak istrinya meninggal Laura tidak pernah pulang ke rumah. Lewat orang yang dia sewa pun akhirnya dia menemukan Laura putrinya itu sedang melamar kerja di daerah XX dekat dengan perusahaan Vano. Dia bahagia jika anaknya sehat dan bisa ceria seperti sebelumnya. Kadang jika mengingat kenangan mereka dulu pak Tio merasa sedih, sampai sekarang pun masih betah menduda karna tidak ada wanita yang bisa menggantikan posisi mendiang istrinya itu dihatinya. Mendiang istrinya itu adalah wanita yang sederhana dan tidak neko-neko, tidak pernah meminta hal-hal yang menyulitkan dirinya dan Laura. Mungkin Laura pergi dari rumah karna tidak ingin melihat kenangan yang begitu banyak terjadi di rumah itu. Bahkan Laura tak pernah mengabarinya bagaimana anak itu hidup diluar rumah meski pak Tio tau jika anaknya itu mempunyai penghasilan lewat online shopnya.