
"Bang Juna, kumohon bertahanlah. Apa kamu tega ninggalin aku sendiri disini hik hiks hiks" ucapnya lirih
"Sabar ya Mel, kita doakan semoga bang Juna bisa melewati ini semua. Semoga operasinya lancar" hibur Ana. Ana sendiri juga shock mendengar kabar bahwa abangnya tertembak saat menyelamatkan Mel. Begitupun orang tua Juna dan Ara, ingin sekali Ara marah karna Aldo tidak memberi tahunya tentang hal ini namun diurungkannya karna masih berada di rumah sakit.
Ara yang melihat anaknya bersedih sungguh membuat hatinya teriris. Ntah bagaimana rasanya jika dia sampai kehilangan suaminya saat menyelamatkan anaknya. Ara mendekati Mel dan memeluknya.
"Sabar ya sayang, kita doakan semoga Juna baik-baik saja" ucap Ara
"Iya bunda" ucap Mel
Aldo yang sudah selesai urusannya dengan Alexander pun ikut berkumpul di depan ruang operasi bersama dengan yang lain. Menanti dokter keluar dari ruangan operasi.
3 jam kemudian dokter keluar dari ruangan operasi. Dan menghampiri mereka seraya bertanya
"Mohon maaf, keluarga pasien Tuan Juna?"
"Saya orang tuanya dok" sahut Rey
"Alhamdulillah operasinya berjalan lancar, namun Tuan Juna masih harus dirawat intensif karna peluru nya bersarang hampir memecahkan bagian lambungnya. Untuk itu mohon bersabar, jikalau ada yang ingin membesuk ditunda dulu sebab kondisinya masih belum stabil benar" jelas dokter
"Baik dok, terima kasih" ucap Rey
"Kalo begitu saya permisi, mari" pamit dokter itu
Mereka hanya menganggukkan kepalanya mendengar ucapan dokter itu. Mel hanya bisa melihat Juna dari luar ruangan, yang di dalamnya Juna masih memakai banyak alat bantu untuk menopangnya. Sungguh Mel menyesal telah membuat Juna seperti ini. Jika waktu bisa diputar kembali Mel akan lebih hati-hati lagi. Sungguh sangat sakit melihat orang yang dicintainya terbaring lemah diatas sana karna sudah menolongnya.Tak henti-hentinya tetes air matanya membasahi wajah cantik itu.
...****************...
Setelah 3 hari dirawat di rumah sakit,akhirnya Juna dipindahkan ke ruang rawat VVIP sesuai perintah Aldo. Juna kemarin sudah sadar, dan memanggil-manggil nama Mel..
"Mel... Mel... Mel..." panggilnya lirih
"Abang... " ucap Mel yang melihat Juna kembali sadar
"Mel...." ucap Juna
"Alhamdulillah... sebentar bang Mel panggil dokter dulu..." ucap Mel
Setelah itupun dokter datang dan mengecek kondisi Juna.
"Baik dok, terima kasih" ucap Mel
Kemudian dokter itu pun berlalu dan pergi meninggalkan ruangan Juna dirawat.
"Abang mau minum kah?" tanya Mel
"Iya saayaang" ucapnya masih terbata
Mel mengambilkan minum untuk Juna dan membantunya untuk minum.Sungguh bahagia melihat Juna sudah sadar, tak lupa Mel juga memberi tahu kedua orang tuanya serta orang tua Juna jika sudah sadar.
Orang tuanya dan orang tua Juna pun datang setelah mendapat kabar dari Mel bahwa Juna sudah sadar dan dipindahkan di ruang VVIP. Kini di ruangan itu sudah terdengar tawa bahagia dan obrolan yang sesekali diselingi candaan tentang hubungan Mel dengan Juna. Kedua orang tua mereka sudah merencanakan bahwa 3 bulan dari sekarang adalah hari pernikahan Mel dan Juna. Mel sebenarnya ingin protes namun Juna mencegahnya. Juna juga tidak ingin menunda pernikahannya sebab dia akan lebih leluasa mengawasi Mel.
"Kak Mel, nanti Ina bobok sama kak Mel ya" pinta Ina
"Boleh kok dek... kakak kangen banget sama kamu" ucap Mel
"Huh... cuma Ina doang yang dikangenin... aku nggak" cebik Vano
"Uluh uluh... sini adek-adek kakak yang comel-comel.. gemes deh pengen nyubit" ucap Mel
Mereka pun berpelukan, Ina sangat khawatir mendengar Mel diculik dan Vano slalu saja membuatnya jengkel saat hendak ingin menolong Mel. Padahal Vano sudah bertindak lebih jauh dari perkiraan orang-orang dewasa seperti papanya dan Juna. Vano lebih banyak mengerjakan dibalik layar ketimbang menjadi pemimpin. Aldo pun tak mempermasalahkan jika Vano mempunyai kemampuan diatas usianya. Bahkan Vano sempat menghack akun milik perusahaan Alexander ketika mendengar bahwa kakaknya Mel diculik orang itu.
Alexander kini terbaring lemah di rumah sakit lain, Aldo menghajarnya tanpa memberi ampun.Entah jika Aldo tidak dihentikan oleh Vino pasti dia sudah meregang nyawa. Beruntung Aldo masih membuatnya hidup walau harus kehilangan salah satu kaki kanannya akibat dihantam besi oleh Aldo. Sungguh menakutkan jika Aldo sudah murka.Dia saat itupun sudah pasrah jika harus mati ditangan Aldo. Alexander sadar bahwa Ara memang pantas berdampingan dengan Aldo, obsesinya yang terlalu membuatnya kini hancur. Sudah cacat dan sekarang perusahaannya sudah diakuisisi oleh perusahaan milik Aldo. Dia tidak tahu siapa dalang dibalik peristiwa yang terjadi dengan perusahaannya, yang jelas kini dia harus membangun kembali perusahaan baru walau harus memulainya dari awal.
Masih ada sisa uang yang berada di bank miliknya, serta mansion yang ditempatinya pun dia jual dia ingin memulai hidup baru di negara lain. Tidak ingin kembali terpuruk di negara ini. Dia ingin menemukan seseorang yang benar-benar menerimanya walau keadaannya seperti ini. Sungguh miris nasibnya kini, itu bukan seberapa dibanding dengan perlakuannya dulu yang membuat Ara harus menjalani rumah tangga yang slalu membuat Ara menjadi orang yang bersalah.
Ingin sekali Alex meminta maaf pada keluarga Ara, namun Aldo sudah mengancamnya jika dia masih menampakkan wajahnya di depan keluarga Ara ataupun di depannya sudah dipastikan dia hanya akan tinggal nama saja.
"Hah...aku harus segera pergi dari sini agar aku bisa hidup lebih baik lagi. Aku ingin berterima kasih pada Aldo yang masih memberiku kesempatan untuk hidup. Entah aku tak tau jika kemarin aku sudah mati ditangannya, pasti semua orang akan menertawakan kematianku" gumamnya lirih.
"Tuan, Anda masih harus dirawat 3 hari disini dulu baru setelah itu kita bisa pergi ke Singapura" ucap Zen sekretaris sekaligus asisten pribadi Alex.
"Ya, kau atur saja Zen. Aku sudah menyerah" keluhnya
Zen yang melihat tuannya patah hati dan patah semangat pun slalu setia mendampingi tuannya. Dia tau tuannya itu sudah lama sekali memendam perasaan terhadap Ara, namun caranya saja yang salah sehingga membuat Ara menjauh darinya.