
Hari ini hampa terasa, sudah 4 tahun usia pernikahanku dengan Mas Kris. Namun apalah dayaku, tak bisa hanya terus mengalah demi keutuhan rumah tanggaku. Suamiku yang begitu patuh dengan orang tuanya tega menggugat aku pergi dari rumah. Meski sudah bertahun-tahun terpendam namun rasa sakit itu masih saja ku rasakan.
Sekarang, aku berjuang bersama orang tuaku dan anakku. Tak terasa anakku semakin tumbuh menjadi anak yang cantik, namanya Melati Sekar Arum. Biasanya aku memanggilnya Mel.
"Mel, ayo bangun sayang. Udah siang kamu berangkat jam berapa?" tanyaku
"Iya bunda.." jawabnya yang masih dilanda kantuknya
"Buruan mandi, udah bunda siapin sarapannya" ucapku
Tanpa menjawab Mel langsung menuju kamar mandi dan bebersih. Setelah mandi dan memakai seragamnya Mel pun turun dan sarapan bersama bundanya.
"Bunda hari ini jadi ke rumah eyang?" tanyanya
"Jadi sayang, kamu mau ikut?" tanyaku
"Enggak bunda, Mel cuma tanya aja. Nanti Mel pulang terlambat karena ada tugas kelompok sama teman-teman Mel" ucapnya
"Iya, nanti hati-hati pulangnya. Jangan malam-malam nak" kataku
"Ih bunda kok mesti manggil Mel nak sih, Mel kan nggak suka" protesnya dengan bibir manyunnya
Aku hanya tersenyum, tak terasa anak gadisku sudah besar sekarang. Dan tak pernah bertanya padaku tentang ayahnya. Kadang aku merasa sedih, harusnya Mel punya keluarga yang utuh. Segera ku hapus tetes air mata yang tak sengaja keluar, agar Mel tak melihatku menangis.
"Bunda, Mel berangkat dulu assalamu'alaikum" pamitnya
"Wa alaikum salam sayang, hati-hati bawa motornya" ucapku.
...****************...
Sesampainya di sekolah...
"Mel, ntar siang jadikan ngerjain tugas kelompoknya sama Ana juga Mifta" kata Rindu
"Jadilah ndu, tadi aku udah ijin sama bundaku. Asal pulangnya jangan malam-malam" jawabku
"Siap bos" ucapnya
"Masuk kelas yuk, bentar lagi bel berbunyi" ajakku
Rindu hanya membalasnya dengan anggukan kepalanya.
Pelajaran pertama hingga ke tiga kini sudah selesai, waktunya jam istirahat tiba.
"Baik anak-anak jangan lupa tugas yang sudah ibu berikan, Besok kumpulkan di meja ibu" ucap Bu Meta
"Baik bu" jawab seluruh siswa.
Setelah Bu Meta keluar kelas, Mifta langsung berkata
"Huh, yang bener aja besok dikumpulin. Mana tugasnya seabrek" gerutunya
"Sudahlah Ta, ngapain sih kok dipikirin. Yang penting kan dikerjain tugasnya" kata Ana
"Eh, gimana kalo nanti sekalian abis ngerjain tugas kelompok diselesaikan sekalian tugas dari Bu Meta jadi besok tinggal santai" usul Rindu
"Boleh juga, kan biar ringan kalo dikerjain bersama" lanjutku
"Ok deh" jawab Ana dan Mifta
"Kantin yuk lapar" ajak Ana
Aku, Rindu, Ana dan Mifta menuju kantin sekolah. Hari ini kantin tidak terlalu ramai, jadi bisa sedikit santai kalo mau pesan makanan.
"Pesan apa nih guys?" tanya Mifta
"Samain aja deh semua gimana?" usulku
"Boleh deh" kata rindu
Sedang Ana hanya mengangguk saja tanda bahwa dia setuju.
Di rumah Ana...
"Eh guys, ganti baju sama baju-baju aku aja. Kemarin Abang Juna bawa banyak banget oleh-oleh bajunya" kata ana
"Wah, abang ganteng pulang An?" tanya Mifta
"Iye pulang, udah bang Juna kagak mau sama kamu mifta hahaha" ejek ana
Mifta kemudian memanyunkan bibirnya, aku dan rindu yang melihat tingkah mereka berdua hanya tersenyum. Ana dan Mifta memang tidak pernah akur, mesti ribut hal-hal kecil. Namun kami berempat saling menyayangi seperti keluarga sendiri.
"Na, bokap sama nyokap kemana?" tanyaku
"Biasa lagi jalan-jalan ngurus perusahaannya, katanya sih ada pertemuan sama koleganya papa. Soalnya abang belum mau pegang perusahaan papa" ucapnya
Aku hanya ber oh ria.
Namun tanpa sepengetahuan mereka berempat, Juna yang di lantai atas terus mengawasi adiknya juga teman-temannya. Jarang sekali Juna lihat Ana begitu manja dengan teman-temannya. Biasanya kalo ana lagi mode ngambek, pasti minta di jajanin ke mall. Tanpa sengaja pandangan mata Juna dan Mel bertemu, lalu dengan cepat mel memandang ke arah lain.
Cantik, gumam Juna dalam hati sambil tersenyum
" Udah-udah ayo, buruan dikerjain tugasnya. Abis itu lanjut tugas bu Meta" ajakku.
Tak terasa sudah 5 jam lamanya mereka berempat mengerjakan tugas.
"Akhirnya... selesai juga" lenguh mifta
"Alhamdulillah.. selesai" ucapku.
Ku lihat jam tanganku menunjukkan pukul 7 malam. Aku menelfon bundaku jika aku pulang agak malam, agar bunda tidak kepikiran yang nggak-nggak kalo aku belum mengabari bunda.
"Guys, aku pulang dulu ya. Udah malem ini, kasihan bunda nunggu di rumah sendirian" pamitku
"Ya udah hati-hati dijalan ya, kalo udah nyampek rumah kabarin ya" ucap ana
"Aku juga mau pulang, ini mama udah ngomel-ngomel anak gadisnya belum pulang-pulang" kata mifta
"Ta, nebeng sekalian ya" kata rindu
"Yuk" ucap mifta
"Hati-hati ya guys" ucap ana.
Setelah mengantar teman-temannya sampai gerbang depan, ana kembali ke dalam rumah. Mendapati abangnya duduk di sofa sambil nonton tv, lalu dia bertanya pada abangnya..
"Bang, kenapa abang nggak mau ngurusin perusahaan papa sih. Kan mama sama papa udah tua deh" ucap ana
"Abang masih belajar dari bawah dulu dek. Baru ntar gantiin papa. Kan biar ngerasain gimana mulai dari nol" terangnya
"Bang, adek perhatiin abang tadi senyum-senyum sambil mandangin hp emang ada apaan?" selidik ana
"Eh, gak apa-apa kok dek" sanggahnya
"Bang juna bohong deh" gerutunya sambil mengambil hp abangnya, betapa terkejutnya dia melihat foto mel di hp abangnya.
"Bang... ini..." ucap ana terpotong oleh sahutan juna
"Ngapain sih dek ganggu aja" gerutunya sambil mengambil hpnya dari tangan ana lalu menuju kamarnya.
Ana masih terbengong melihat foto mel yang ada di hp abangnya.
Apa jangan-jangan abang juna naksir sama mel, mel kan emang cantik juga manis ucapnya dalam hati.
"Ih, ana ganggu orang aja deh" gerutunya saat di kamarnya.
Emang kamu itu cantik, manis, sopan, baik pula. Gimana nggak paket lengkap deh Mel. Tapi.. suatu hari nanti aku janji, kamu cuma buat aku mel. Hanya milikku tekadnya dalam hati.
......................