
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Light Novel That Time One Class Summoned in the Another World ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan tinggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja termasuk komentar kok(。•̀ᴗ-)✧
_________________________________________
Itu adalah sedikit lebih dari beberapa hari sejak mereka masih berada di dalam Kerajaan Nyctophiliac.
Mereka sekarang telah meninggalkan Ibukota dan sedang menuju untuk perbaikan lahan di sebuah desa terpencil yang terletak sangat jauh di ujung Benua Selatan Kerajaan Nyctophiliac, desa ini memiliki sekitar 300 penduduk yang dinamakan Desa Lush.
Setelah perjalanan sekitar dua hari sementara menciptakan alur baru pada jalanan yang kasar, jalan yang di depan terlihat lebih cerah. Sedikit bukit yang menanjak terlihat di depan setelah meninggalkan hutan penuh dengan pepohonan.
Pemandangan dalam sekejap terbuka setelah mencapai puncak dari bukit itu. Lurus ke arah timur terlihat permukaan biru dari Danau Ruhr. Dan rawa-rawa terbentang jauh di dalam itu.
Desa Lush terletak di ketinggian bukit kecil, yang dikelilingi oleh rerimbunan pohon, dikelilingi oleh pegunungan terjal dari utara, timur dan barat.
Mereka membutuhkan waktu lama untuk melihat pada pemandangan indah itu dengan kedua matanya.
Karena itu, penduduk desa hanya dapat memperluas ladang mereka ke selatan, tetapi arah ini diblokir oleh Faksi Kerajaan, yang menguras sumber daya daerah di ladang besar yang mengelilinginya.
Dengan menaiki kereta kuda ekspres, yang dikemudikan oleh Kusir Pribadi Kerajaan, mereka merasakan getaran saat kuda itu menarik gerbong tanpa suspensi untuk anak-anak dari zaman sekarang Bumi, dampaknya menimpa mereka jauh di dalam.
“Haru-chan, apakah kamu lelah? Tidak perlu menahan diri, kau tahu. Kita akan segera beristirahat, oke?” kata Kirisaki.
Teman-temannya juga merasakan kekhawatiran yang sama tentang guru mereka. Mereka tahu kalau Haruka sepanjang jalan tidak pernah tidur karena memikirkan nasib mereka semua.
“Tidak, Aku baik-baik saja, Risya-san. Sebaliknya, kami baru saja beristirahat beberapa saat yang lalu, kan? Aku tidak selemah itu.” Kata Haruka-sensei dengan senyuman masam.
"Risya tidak bisa berhenti mencemaskan Haruka-sensei. Haruka-sensei pasti tidak tidur setelah satu hari perjalanan beberapa waktu lalu... Saya juga begitu khawatir. Pastikan Haruka-sensei tidak menahan diri, mengerti?”
Haruka-sensei tersenyum kecut.
“Kalian sangat pengertian ya. Itu adalah pertama kalinya aku bepergian dengan kereta kuda... tapi aku sudah terbiasa sekarang. Terima kasih atas perhatianmu, Sugawara-san.”
"Tidak…"
Taichi menggaruk kepala karena malu.
Sugawara Taichi dikenal sebagai anak laki-laki yang sangat perhatian akan di sekitarnya. Meski penampilan seperti seorang Jamet dengan wajah dan matanya tertutup oleh rambut biru malamnya, akan tetapi hatinya selalu terbuka untuk siapapun.
Awalnya, Haruka menunjukkan perilaku aneh karena dia tidak terbiasa dengan bagaimana kereta kuda bergerak.
Sementara Kirisaki Risya adalah seorang gadis dengan rambut semi-panjang yang berwarna coklat muda. Dia memiliki fitur wajah yang tajam dan indah.
Pada saat mencapai jalan setelah melewati hutan dan ladang gandum, terlihat oleh beberapa penduduk desa. Tetapi, semua orang melihat mereka dengan terkejut dan curiga, dengan tidak ada seorangpun yang menyambut kedatangan mereka.
Itu adalah ketika mereka sampai di Desa Lush, dibangun di tempat ketinggian, dan pada saat mencoba untuk melewati pintu gerbang yang dibangun cukup besar.
—Tunggu, orang luar tidak dapat memasuki desa tanpa izin!
Sesampainya di depan pintu gerbang Desa Lush, mereka menemui beberapa orang di depan gerbang dengan ekspresi kurang menyenangkan, kuda pun berhenti berjalan.
"Kudanya… berhenti," tanya Risya. "Apa terjadi sesuatu di luar?"
Risya bertanya kebingungan dan melirik ke teman-temannya.
Kemudian Haruka berdiri dan sebelum itu, dia mengatakan bahwa dia akan memeriksa keadaan di luar dan menyuruh para muridnya tetap berada di dalam kereta kuda.
Para muridnya pun menuruti perintahnya dan memilih untuk tetap berada di dalam.
"Sebagai Kepala Desa Lush, saya tidak akan mengizinkan orang dari Kerajaan memasuki desa kami," kata Kepala Desa, Gigas Schuberg.
Melihat dari desain dan warna putih-biru kereta kuda ekspres, tentu para penduduk Desa Lush akan langsung mengetahui kalau mereka datang dari Kerajaan.
Kepala Desa Lush yang meneriakkan perkataan itu dengan tangannya berada pada pedang di pinggangnya seolah-olah memperlihatkan itu.
Mendengar perkataan itu, Kusir sedikit lebih membungkuk dengan sopan dan berkata.
"Mohon maaf, saya hanyalah seorang Kusir yang menjalankan tugas untuk mengantarkan para Pahlawan ke Desa Lush ini."
Itu mungkin akan lebih baik untuk menamainya sebagai Pahlawan, tapi dia tidak dapat mendapati dirinya untuk melakukan itu.
Untungnya, nama itu sudah cukup populer saat wajah Kepala Desa itu dalam sekejap berubah menjadi agak terkejut sementara mulutnya terbuka dan tertutup berulang kali sebelum mengizinkan mereka masuk.
"...Pahlawan, katamu?" tanya Kepala Desa.
Tidak lama kemudian, Haruka menyusul dari kereta dan bertatapan dengan Kepala Desa, dengan seragam hitam-putih untuk seorang pengajar yang terlihat asing bagi mereka.
Mungkin Haruka telah mengawasi permasalahan dari belakang. Dan langsung menyimpulkan kalau di sini Kerajaan sangat dibenci di beberapa Desa.
Karena dia tidak ingin semuanya sia-sia, Haruka menundukkan kepalanya sedikit lebih rendah di depan Kepala Desa.
"Perkenalkan, aku Shinoaka Haruka. Salah satu orang yang bisa disebut Pahlawan. Aku mohon biarkan kami tinggal disini untuk sementara," kata Haruka dengan nada sopan.
Gigas terdiam. Hanya dengan merasakan aura nya sekali saja, membuat dirinya menilai bahwa orang ini bukan manusia biasa. Berbeda dengan orang yang disebut sebagai orang Kerajaan, justru dia menunjukkan sikap yang sopan dan ramah.
Meski begitu, Gigas tetap mempertahankan karakteristiknya untuk saling menghormati sebagai balasan salam Haruka. Meski ragu dia dan para penduduk membiarkan Haruka dan para muridnya masuk melalui pintu gerbang.
"B-baiklah, saya berperan sebagai kepala desa Lush yang memimpin saat ini, Gigas adalah namaku. Saya mengizinkan kalian masuk."
Haruka mengangkat kepalanya setelah mendengar jawaban itu, lalu tersenyum.
"Terima kasih banyak telah mengizinkan kami memasuki desa ini!"
Haruka kembali ke kereta kuda, bersama dengan Kurir yang mengemudikan kudanya. Saat Haruka masuk, murid-muridnya terus menatapnya memiliki ekspresi rumit seolah ingin ada yang dipertanyakan.
"Jangan khawatir, kita mendapat izin kok."
Mendengar perkataan itu, para muridnya tersenyum ria.
Mereka pun memasuki desa melalui pintu gerbang menuju alun-alun desa. Mereka berhentikan di sana, tepat setelah itu si Kurir meninggalkan para Pahlawan di Desa Lush.
Tetapi, seperti yang diharapkan dari keberaniannya, Gigas memperbaiki posisi tubuhnya, sebelum mengeluarkan pidato mengesankannya sekali lagi. Dan beberapa penduduk berkerumun mengeliling mereka, mengetahui kalau Pahlawan berkunjung di desa terpencil mereka.
"Ini adalah sebuah kehormatan dari Tuan Pahlawan, yang menjaga ketertiban di seluruh penjuru Dunia Axiys yang luas ini, untuk berkunjung ke desa kecil kami di daerah terpencil ini. Jika saya telah mengetahui waktu anda datang terlebih dahulu saya akan mempersiapkan sebuah jamuan penyambutan."
"Tidak, saya tidak dapat menerima hal tersebut. Anda sudah menerima kami saja untuk tinggal di desa ini sudah cukup."
Suara lembut Haruka itu mengatakan seperti itu, dan dengan senyuman di wajahnya seperti seorang dewi——dia melanjutkan.
"Selain itu, saya mendengar kabar kalau desa yang terletak di ujung benua selatan ini merupakan tanah terbaik di Kerajaan. Namun, setelah mengetahui apa yang terjadi dengan desa Lush ini pasti akan menyulitkan jika kerajaan terus mengambil sumber daya pangan serta rempah tanpa imbalan sedikitpun, sehingga membuat ekonomi desa ini semakin menurun. Apakah saya benar?"
"Y-ya… itu benar. Sebagai kepala desa, saya bertanggung jawab atas kerja keras para penduduk. Oleh karena itu, saya tidak akan mengizinkan sembarangan orang memasuki desa tanpa surat dari sang raja terlebih dahulu. Akan tetapi, kami semua orang desa tidak dapat melawan mereka, justru mereka akan menghancurkan lahan kami."
"Itu pasti ulah bangsawan… ya," bisik Haruka. "Sekali lagi saya ucapkan terima kasih karena sudah mengizinkan kami untuk tinggal di sini. Tentu sebagai balasan, saya akan membantu meningkatkan lahan dan ekonomi kalian." Lanjutnya.
"Saya, Gigas sebagai kepala desa Lush, mohon untuk bantuannya, para Pahlawan."
Haruka tersenyum dan menanggapi sebagai perwakilan kelompok pahlawan mereka.
"Saya juga mohon bantuannya."
Kepala desa mengangkat kepalanya, dan mengatakan bahwa mereka pasti kelelahan karena perjalanan jauh dan kemudian menawarkan mereka untuk beristirahat dan makan siang.