
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Light Novel That Time One Class Summoned in the Another World ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan tinggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja termasuk komentar kok(。•̀ᴗ-)✧
_________________________________________
Di sisi lain, Ayuzawa sedang berduel pedang sungguhan dengan Kapten Karlstahl.
Kedua pedang mereka terbentur keras menghasilkan bunyi bergemerincing di setiap detiknya. Orang biasa mungkin tidak akan bisa melihat bagaimana Ayuzawa menyerang begitu cepat dengan katana miliknya.
Meskipun pergerakan Kapten Karlstahl lebih lambat daripada Ayuzawa, tetapi Karlstahl bisa bertahan tanpa tergores sedikitpun. Setiap pergerakan Ayuzawa seolah bahkan hampir terbaca oleh Karlstahl.
Sehingga Karlstahl berkomentar sambil menahan serangan Ayuzawa.
"Pergerakanmu memang cepat, tapi sangat mudah dibaca." Komentarnya. "Menyerang brutal tanpa strategi seperti itu tidak akan pernah menang melawan musuh!" tegas Karlstahl.
Mengingat kembali bahwa Leader Karlstahl adalah seorang pemimpin dari Pasukan Militer Nycto. Itu artinya dia bukan orang sembarangan yang dapat diremehkan oleh siapapun di kerajaan.
Dia sangat kuat. Bahkan orang-orang di kerajaan tidak ada yang bisa menyentuhnya ketika berduel pedang. Karena dia memiliki julukan di masa mudanya sebagai 'Kesatria Langit'.
Pedang yang digunakannya pun jenisnya berbeda dari yang lain. Wajah maskulin serta tubuhnya yang besar dan berotot itu mungkin cukup untuk menggambarkan pedangnya, yang dinamakan Pedang Penembus Waktu.
Pedang Penembus Waktu adalah pedang besar berwarna abu-abu gelap yang sedikit menghitam yang telah dipoles dengan cermat, meskipun ada beberapa bekas goresan yang tak terbatas, samar-samar tersisa di seluruh panjangnya, berkilauan dalam iluminasi. Itu menunjukkan bahwa pedangnya sudah berpengalaman dalam pertempuran.
"Kalau begitu, aku akan mengerahkan seluruh kekuatan yang kumiliki!" kata Ayuzawa.
Ayuzawa menyodorkan katana peraknya ke depan. Dan Ayuzawa diam-diam mengukur jarak lima meter di antara mereka saat mereka saling berhadapan.
Kilatan petir yang ganas menggaris bawahi kalau pertempuran mereka dimulai.
"Ha!!"
Saking cepatnya tebasan yang dihasilkan tidak dapat dilihat oleh mata manusia biasa, dan membelah udara dalam waktu 0,4 detik.
Dengan kecepatan tidak normal, Ayuzawa telah menambah jarak untuk menciptakan situasi agar kedua mata pedang mereka saling bergesekan.
Dia menahan.
"Luar biasa," kata Karlstahl. Dia mengeluarkan kata kekaguman seperti alami.
Mata birunya tertuju pada Ayuzawa. Sejenak! Mereka hanya saling menatap.
“Izinkan aku untuk menunjukkan kemampuan pedang yang sebenarnya.” kata Karlstahl, dengan itu, dia mengembalikan posisi awal. Ini adalah jarak pilihannya.
"Persiapkan dirimu."
Pada saat yang bersamaan, Ayuzawa melangkah maju ke depan lalu tiba-tiba berhenti.
"Rgh?!" Ayuzawa menjerit kebingungan.
Untuk beberapa alasan, Karlstahl tampak lebih jauh dari sebelumnya.
Apakah dia salah menilai jarak di antara mereka?
Itu pikiran pertamanya akan tetapi dia tahu dia tidak melakukannya. Tetap saja, sepertinya jarak di antara mereka semakin lebar.
Apa pun penyebab kebingungannya maka itu pasti menghentikannya. Dia mencoba memulai kembali. Dia mengatur ulang emosinya kemudian menyiapkan pedangnya dan melakukan tipuan sederhana.
"A—apa?!"
Ayuzawa menelan air liurnya dalam-dalam, sekali lagi dia tiba-tiba berhenti di jalurnya.
Dia mencondongkan tubuh ke belakang seolah-olah menghindari sesuatu lalu melompat mundur.
Dia telah melihat pedang itu. Dia telah melihat pedangnya. Karlstahl memotong lehernya. Namun, pedang Karlstahl yang sebenarnya tidak bergerak satu inci pun dari posisinya dan tentu saja, lehernya masih menempel di bahunya.
“Mengapa?”
Saat dia maju, dia melihat pedangnya dan kekuatan bersembunyi di dalamnya memotong kedua tangannya.
Dia pikir dia akan membacanya seperti buku dan dia akan melihat kekalahannya sendiri! Tidak, kematiannya. Namun, Karlstahl masih berdiri di
sana. Pedangnya bahkan belum disiapkan. Seolah-olah itu semua hanyalah ilusi.
Dia tidak bisa memahami apa yang baru saja terjadi.