
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Light Novel That Time One Class Summoned in the Another World ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan tinggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja termasuk komentar kok(。•̀ᴗ-)✧
_________________________________________
Sebuah ruangan luas berwarna putih, yang di keliling oleh tembok yang terukir, lampu yang menerangi seluruh ruangan serta pilar-pilar yang menjulang keatas.
Itu memberi kesan bahwa setiap pilar adalah pohon besar dengan tanaman merambat di sekitar batang pohonnya.
Pilar-pilar itu terpisah, dan meluas sampai ke langit-langit tiga puluh meter di atas. Tanahnya mulus tidak wajar, seolah-olah telah di aspal. Itu adalah penggambaran ruangan yang sangat megah.
Ditengah-tengah ruangan tersebut, di dalam dirinya, Rin berbisik pada dirinya sendiri kalau dia tidak ingin terus berdiam diri dan dirinya selalu hanya melihat ke bawah, dia ingin merubah semua itu dan terus melangkah.
“Aku takut. Saking takutnya, ini membuat tubuhku menggigil bahkan air mataku tak berhenti mengalir. Tapi aku harus kuat.”
Rin mengeratkan genggamannya pada pedang.
“Aku ingin berguna bagi orang lain. Oleh karena itulah, aku harus bertarung. Demi diriku, dan orang terdekatku!”
Menarik nafas panjang, Shin dan Rin maju ke depan secara bersamaan, mengangkat bilah pedang mereka dan menghantam kaki monster itu.
Pedang mereka dialiri oleh sihir Esensi Magis. Sihir ini seperti kemampuan yang dimiliki oleh Rin, yaitu Skill Pendukung. Akan tetapi, Esensi Magis bukan seperti Kemampuan atau Bakat, melainkan sesuatu yang harus dipelajari.
Terkadang orang salah kaprah, menilai bahwa antara Kemampuan/Bakat dan Sihir itu adalah harfiah yang sama. Justru keduanya adalah hal yang berbeda. Pada intinya, Sihir adalah sihir dan Kemampuan adalah kemampuan. Bakat bisa terlahir dari kemampuan, akan tetapi sihir bisa terlahir dari pembelajaran.
Monster Sentadu itu tumbang seolah tidak bisa bergerak karena sihir pada pedang mereka berdua membuat musuh kehilangan setengah dari kekuatannya.
"Sebelum dia menyerang, lumpuhkan kakinya dulu. Setelah itu kita hancurkan inti keberadaannya. Rin, ayo!"
"Oke."
Perasaan ngeri sebelumnya saat dia berada di bawah kerangka besar seukuran tidak normal itu kini telah lenyap.
Mereka cepat-cepat mengangkat pedang lurus secara vertikal dan mengarahkan ujung mata pedangnya ke arah Inti Keberadaan yang dimiliki si Sentadu itu.
"Kraa!"
"Ha!!"
Sebuah Inti Keberadaan yang terlihat seperti batu kristal itu retak ketika pedang mereka menembusnya secara bersamaan, cahaya kilat yang terpancar dan monster Sentadu itu berubah menjadi ledakan asap berwarna hitam, dan percikan api terbang ke udara tanpa sisa.
Seperti yang diprediksi oleh Shin, kelemahannya terdapat pada kakinya. Monster Sentadu itu tidak dapat mengarahkan sabitnya karena hilangnya keseimbangan.
"Kita berhasil!" sorak Rin.
Dia sangat senang, saking senangnya dia lupa bahwa tubuhnya mulai kelelahan dan berkeringat.
"Fii! Fii!"
Tampaknya Filo juga ikut senang.
"Ya, kita berhasil mengalahkannya." kata Shin, "tapi, apa ini benar-benar yang terakhir?" Tanyanya ragu sambil melihat ke arah langit-langit.
Mengingat mereka masih berada di dalam dungeon. Rin sesaat kehilangan kesenangannya. Dan berpikir kalau hal ini pasti belum berakhir begitu saja.
"Um," angguk Rin dengan melas. "Aku pikir ini tidak semudah dengan yang kita pikirkan."
Sebuah portal muncul di depan mereka, seolah menyuruh mereka untuk masuk ke sana.
"Ya, ini baru saja dimulai." kata Shin dan melotot ke arah portal di hadapannya.
Perjalanan mereka masih belum sampai di sini. Masih ada banyak perjalanan yang harus mereka lalui bersama, dan untuk itu... Mereka harus bertahan hidup di dalam Labirin Bawah Tanah, yang bahkan tidak ada seorang pun yang bisa keluar dari labirin tersebut secara hidup-hidup...........
\=\=⟩ *Setelah sekian lama, akhirnya aku ada kemauan untuk memulai menulis lagi, nantikan saja kelanjutannya...!!!