
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Light Novel That Time One Class Summoned in the Another World ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan tinggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja termasuk komentar kok(。•̀ᴗ-)✧
_________________________________________
Semuanya terlihat seperti makanan yang enak dan lezat, akan tetapi tidak memiliki rasa. Bukan berarti lidah mereka tidak memiliki indra pengecap, namun makanan yang dibuatkan oleh Shin dengan Skill Konversinya, tidak bekerja untuk itu.
Kemampuan Konversi miliknya mempunyai kekurangan yang dimana, Shin tidak dapat mengubah secara menyeluruh komponen dari suatu benda. Jika dia ingin membuat sebuah pizza dengan rasa pizza, Shin harus mengumpul semua bahan apa saja yang dibutuhkan untuk membuat pizza agar bisa menjadi pizza sungguhan.
Ketika orang-orang mendekripsikan kata 'fantasi' di sini, mungkin ini sama dengan 'kenyataan'. Segala yang berhubungan dengan hukum alam akan tetap terhubung. Kata itu tidak akan bisa mengubah kenyataan yang telah terjadi selama ini.
Jadi mereka harus terpaksa memakannya dengan rasa yang hambar. Meski setiap makanan yang dibuat Shin tidak memiliki rasa, mereka akan tetap merasa kekenyangan.
Namun, hanya Filo satu-satunya dari mereka yang tidak merasakan apapun. Dia adalah contoh yang baik, karena Filo tidak terlalu pilih-pilih dengan makanan yang ada di hadapannya.
Itu akan membuat pertumbuhannya semakin cepat. Ditambah lagi, sebelumnya Rin bernyanyi di dekat Filo. Tanpa ia sadari, dia memberikan semacam mempercepat pertumbuhannya dan sekarang Filo dengan cepat bertubuh agak besar. Menjadi seukuran dengan ayam pada umumnya.
Rin menggendong Filo dengan kedua tangannya karena tubuhnya berat daripada sebelumnya. Filo terlihat tumbuh lebih besar dan ia terlihat antusias. Shin menatap mereka heran.
"Kau … Sejak kapan dia tumbuh sebesar ini?"
Bahkan Rin terkejut dengan pertumbuhannya yang sangat cepat.
"Selama ini, Filo-chan makan cukup banyak sih. Bukankah itu bagus? Dia akan tumbuh besar nanti."
"Y-yah, justru itu masalahnya… Kita akan kerepotan saat dia besar nanti."
"Lagian, Filo-chan tidak terlalu pilih-pilih dengan makanan. Jadi kurasa, dia tidak akan menjadi masalah besar."
"Kau tidak mengerti maksudku…"
Filo merangkak sembari mengepakkan sayapnya, berjalan lebih cepat seolah ingin memimpin. Dia ingin bertanya apa yang dilakukan burung itu, tapi dia kelihatan lucu, jadi dia membiarkannya.
"Ini dia. Lokasi teleportasi kita."
Langkah kaki mereka terhenti saat sampai di lokasi teleportasi, yaitu Portal. Saat mereka sampai, Rin bisa merasakan kalau di dalam ruangan itu hangat. Tidak seperti ruangan sebelumnya yang dingin.
"Hangatnya…"
Di depan mereka sangat jelas terdapat sebuah portal yang ukurannya sebesar pintu rumah.
Sebelum memasukinya, Shin berpikir untuk memeriksa beberapa hal. Ada tempat lain yang belum ia jamah karena dia tidak diberi kesempatan karena dia terlalu mengkhawatirkan Rin. Hanya untuk memastikan, Shin menuju lagi ke arah perpustakaan dan menemukan sebuah rak yang berisikan beberapa ramuan.
Shin mengangguk sekali.
"Nice."
Kemudian ia berbalik, dan memanggil Rin.
"Rin, bisakah kau… mengembalikan blazer aku?"
"Uh? Tentu."
Rin meletakkan Filo ke lantai. Sembari berjalan, Rin melepaskan blazer yang dia pinjam, lau memberikannya.
Namun… saat Shin hendak mengambilnya, Rin memeluk blazernya itu. Dia seperti hendak mengatakan sesuatu.
"Kau kenapa?"
"Uhm, begini… Aku hanya ingin…"
Rin mengerutkan bibirnya.
Sebenarnya, ia sudah lama ingin mengatakan terima kasih padanya, karena telah meminjamkan blazer untuknya agar dia tidak kedinginan. Tapi, ia terlalu malu untuk mengatakan hal itu.
"Oi… wajahmu memerah tuh. Kau baik-baik aja 'kan? Jangan terlalu memaksakan diri—"
Tepat sebelum menyelesaikan kata-katanya, sebuah kain melayang ke wajahnya.
"Dasar tidak peka!!"
Rin berteriak. Melemparkan blazer itu tepat ke wajah Shin.
"Haah? Kau kenapa sih…" Shin bergumam, kemudian memutar tubuhnya sembilan puluh derajat menuju rak.
Di sebuah rak itu, Shin melihat berbagai macam botol berisi air berwarna pelangi yang diletakkan teratur di sana. Tampaknya, ramuan itu disediakan untuk para petualang yang telah sampai di lantai sembilan puluh lima.
Berbagai macam informasi ada di sana. Akan tetapi, tidak ada satu orang pun yang peduli dengan hal semacam itu.
Para petualang biasanya akan mengabaikannya dan cepat-cepat ingin menyelesaikan dungeon. Alasannya cukup mudah, karena kebanyakan petualang hanya mengincar harta tersembunyi yang memiliki nilai jual tinggi.
Namun, Shin memiliki pemikiran yang cukup dewasa, dimana dia sedang melakukan sebuah persiapan.
"Konversi!"
Shin mengubah blazer miliknya menjadi tas koper berwarna hitam, yang bisa digunakan untuk menyimpan beberapa botol di sana. Dengan harapan, suatu saat itu akan berguna.
"Kau sedang apa?"
Rin berjalan mendekatinya. Dan membungkuk lebih rendah untuk melihat apa yang sedang dilakukan oleh Shin.
Rin terkejut ketika melihatnya.
"Uh? Itu terlihat semacam ramuan, ya?"
"Hebat juga, kau bisa tahu kalau ini adalah ramuan. Apa kau sebelumnya pernah bermain video game?" tanya Shin.
"Y-yah… aku hanya menebaknya saja."
"Hmm…"
"Reaksi itu… Kau pasti tidak percaya 'kan?"
"Aku percaya," Shin menjeda, dan itu membuat Rin lega, namun. "Aku percaya kau pernah memainkannya."
"Sudah kubilang 'kan?! Aku tidak pernah bermain video game! Aku hanya meminjamnya sebentar dari Nens!"
"Bukannya itu sama saja … Nens? —Ah, Shirasaki-san. Justru dalam hal ini, aku tidak percaya kalau Shirasaki-san pernah bermain video game."
"Hah? Jangan bilang kalau selama ini kau tidak mengetahui apa-apa tentang Nens. Anak itu selalu berjuang keras demi orang— Ah! Ternyata benar. Kau ini aneh, kau pandai belajar. Tapi… kau tidak tahu apa-apa, atau bisa dibilang … kau ini sangat tidak peka."
"Aneh, aku? Kalau kau mungkin masuk akal…"
Saat Shin mengkritiknya. Rin mengeluarkan nafas berat, membuat ekspresinya memelas dan bergumam.
"Aku ingin tahu bagaimana kabar Nens sekarang? Mungkin, saat ini dia masih merasa sedih."
Tangannya terhenti seolah waktu telah berhenti.